Ritmadaya merupakan nama proyek yang diusung oleh tim MBKM dari Program Studi Musik angkatan 2022 yang menggabungkan dua unsur, yaitu ritma yang berasal dari kata ritme, menggambarkan pola teratur dalam musik, gerak, maupun kehidupan dan daya yang berarti kekuatan atau energi. Jika digabungkan, Ritmadaya mencerminkan semangat akan kekuatan ritmis dan energi yang mengalir harmonis dalam keteraturan. Nama ini merepresentasikan keseimbangan, kreativitas, serta daya tahan yang hadir dalam perjalanan bermusik dan menjalani kehidupan. Tajuk konser malam ini pun melingkupi esensi yang sama, “Candramawa” memiliki makna hitam bercampur putih, simbol harmoni dan keseimbangan dalam kehidupan.
ULASAN
Warisan yang Ditabuh: Perayaan Satu Dekade Bekereng Percussion #10 “Journey with Harmony”
Bekereng Percussion adalah sebuah kelompok musik instrumen perkusi yang berdiri di bawah naungan SMK Negeri 2 Kasihan atau Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta. Setiap tahun, Bekereng Percussion menyelenggarakan konser yang telah menjadi tradisi. Konser ini lebih dari sekadar pertunjukan musik, melainkan juga momen pembelajaran dan apresiasi.
Hakikat Sangga Praja : Sebuah Catatan untuk Hajatan F-Hole Concert ke-13
Sebuah adagium besar menggema, terucap “Adat sebagai penopang Nusantara” selaku tajuk konser F-Hole String Orchestra yang ke-13. Malam itu hari terakhir di bulan Februari tahun 2025. Concert Hall ISI Yogyakarta terpantau ramai. Teman-teman pemain violin, viola, cello dan double bass tampak mengamplifikasi pesona itu karena atribut di busananya. Baik terletak di penghias kepala, begitu pun di bagian tubuh yang lain.
Ulasan Video Klip “Mencekik Doksa”: Rilisan Termutakhir dari Vortex of Hatred
Tanpa memilih diksi-diksi frontal yang agresif, Vortex of Hatred justru memilih menunjukan amarah, pesimisme, dan gugatan lewat agresivitas di ruang performatifnya. Vocal scream dan musiknya yang terlampau garang tampil sebagai sintesis atas apa yang ditampilkan lewat idiom visual maupun penggunaan bahasanya. Di sisi lain, imaji frontal yang barangkali sudah menjadi kekhasan bagi band-band metal tampak diingkari dan didandani dengan narasi implisit yang butuh ditelaah secara semiotis. Maka menjadi penting untuk melihat bahwa ada varian artikulasi yang perlu dinegosiasikan dan diterima. Bahwa ruang bagi resistensi dan suara perlawanan juga boleh mewakili kalangan intelektual, begitu juga mereka yang bersetia pada nilai-nilai artistik.
Karya Ibu Soed dan Paradigma Nasionalisme di tengah Fenomena #KaburAjaDulu
Tanah Airku oleh Ibu Soed di masa reformasi ini bagi saya adalah sebuah pengingat. Menjadi diaspora berarti menjadi pahlawan devisa bangsa ini, dengan itu mereka juga terus berjuang melanggengkan Indonesia agar lebih baik. Memilih untuk tetap tinggal di Indonesia tidak akan mematahkan perjuangan untuk terus bersuara dan hanya berpasrah dengan kerusakan yang terlalu sistematis. Selalu mencintai Indonesia dengan menghargai keluhan rakyat. Tidak pernah melupakan Indonesia dengan membanggakan hak demokrasi yang rakyat punya.
Meraih Ruang Hidup dan Berterima Kasih Kepada Pohon: Kolaborasi hara & Nosstress dalam Single “Raih Tanahmu”
Di sebuah pagi sendu yang tak terlalu cerah, jemari saya langsung ternavigasi untuk membuka pemutar musik. Ia sudah tahu lagu apa yang harus dimainkan. Detik pertama, “Raih Tanahmu” memperdengarkan petikan gitar yang mengalun merdu. Spontan saya langsung bergumam, “Ini Nosstress banget”. Ada juga sejumlah fragmen musikal dari album Kenduri milik hara yang mengemuka di sepanjang lagu. Para pendengar setia hara mungkin bisa merasakannya.
Ketika Punk Enerjik Dipaksa Kawin Dengan Melodi Melayu: Melahirkan “Pulau Bintan” ala Minorways
Saya tahu bagaimana cinta dan persahabatan selalu jadi tema utama dalam karya-karya musik pop punk. Kerinduan itu mulai saya tunaikan melalui EP-nya yang berjudul My Mother is Stronger Than Godzilla. Saya tidak benar-benar menyukai mini album ini, namun saya apresiasi beberapa lagu di dalamnya, seperti “Kamu dan Anganku”, ” Maju untuk Menang” dan ” My Mother is Stronger Than Godzilla”. Setidaknya, tiga lagu itulah yang sering saya putar.
Mengasah Kreativitas Musikal Lewat Meditasi Transendental; Satu Jam Jelajah Kemampuan Otak Ditemani Professor Travis
Ruangan mulai dipenuhi dengan energi baru saat peserta merasakan perubahan dalam suasana. Mereka mulai berinteraksi, tertawa, dan berdiskusi, seolah-olah pintu kreativitas yang semula tertutup kini mulai terbuka lebar. Pertanyaan baru mulai bermunculan, Dr. Travis menjawabnya dengan beranalogi, menyampaikan hal yang sebenarnya rumit menjadi mudah untuk dicerna. Dengan setiap analogi yang diungkapkan, suasana ruangan semakin hidup, dan peserta merasakan dorongan untuk mengeksplorasi lebih jauh. Dr. Travis berhasil mengubah hal yang kompleks menjadi mudah dipahami, menyulut semangat dan rasa ingin tahu di hati setiap individu yang hadir.
Gagasan Mulia di Balik Pra Acara Sewon Screening, Layar Fakultas Seni Pertunjukan; Performa Dalam Desak Irama
Jelang larut malam, bagai memasuki lahan layar tancap pada zaman dahulu, sebuah layar proyektor berdiri kokoh dan tikar-tikar digelar di Boulevard Institut Seni Indonesia Yogyakarta (30/08/2024). Tikar-tikar yang tak seberapa banyak itu ternyata tidak cukup untuk menampung sekitar empat ratus orang yang memadati area tersebut, menunjukan bahwa festival film merupakan sebuah kegiatan yang inklusif. Orang-orang berbondong-bondong hendak menyaksikan serangkaian film yang telah dirajut dengan saksama oleh para programer, sehingga menghadirkan sebuah judul program pra acara Sewon Screening yang terdengar selaras satu sama lain, yakni “Layar Fakultas Seni Pertunjukan: Performa Dalam Desak Irama.”
Ketika Sastra Bernyanyi: Sebuah Catatan Dari Perhelatan Jejak Imaji
Sebelum sampai di tempat acara, saya disambut oleh pohon-pohon bambu yang menyerupai gapura selamat datang. Gapura yang amat tinggi, terbuat secara alami, dan rasanya agak menyeramkan saat melintas di malam hari. Ditambah jalanan yang sedikit menurun, kemudian sedikit menanjak, membuat saya berpikir, “unik juga jalur perhelatan ini”. Hal itu mengingatkan saya pada Ngayogjazz 2023.
Melanjutkan perjalanan, saya melihat kursi merah telah berbaris bersama yang mendudukinya, menghadap panggung yang dandanannya cukup sederhana, dan akan menjadi saksi meluncurnya album musik puisi yang garapannya sudah masak dan siap dibagikan. Bebunyian pun mulai keluar dari pori-pori pengeras suara dan mulai mencuri sorot mata pengunjung. Saya melihat sekeliling dan menangkap raut muka semua orang penuh dengan antusias.
