Penulis: Vinda Angguna Alya Hawa Cinta
Suara bukan lagi sekadar getaran, ia berubah menjadi ledakan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata. Malam minggu itu, langkahku perlahan menuju Mardawa Mandala. Setiap langkah terasa seperti jejak kenangan yang kembali hidup. Udara yang menyentuh kulitku membawa serta nostalgia yang lama terpendam. Setibanya di Auditorium Besar SMM Yogyakarta, aku disambut oleh sepuluh poster konser Bekereng Percussion yang menggantung penuh makna, Sembilan diantaranya adalah poster konser terdahulu. Konser Bekereng Percussion satu dekade dengan tajuk “Journey with Harmony’” bukan sekadar membuka lembaran baru, tetapi juga menjadi pembuluh rindu.
Bekereng Percussion adalah sebuah kelompok musik instrumen perkusi yang berdiri di bawah naungan SMK Negeri 2 Kasihan atau Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta. Setiap tahun, Bekereng Percussion menyelenggarakan konser yang telah menjadi tradisi, di mana para murid kelas tiga mengambil peran sebagai pemimpin acara seraya membimbing adik-adik kelas dua dan kelas satu dengan penuh tanggung jawab, sehingga konser ini lebih dari sekadar pertunjukan musik, melainkan juga momen pembelajaran dan apresiasi. Menginjak dua belas tahun perjalanan Bekereng Percussion, konser ini menjadi penanda satu dekade yang tertunda—dua tahun sunyi karena badai pandemi. Kini, dalam konser yang ke sepuluh, sebuah konsep dicetus untuk merayakan jejak waktu dengan menampilkan karya-karya terbaik dari konser #1 hingga #9.
Ada suara yang menggema dari kejauhan, narasi pembawa acara menyusup ke telinga seperti bisikan rahasia, “Overture of Bekereng Percussion” ditampilkan sebagai pembuka acara. Karya ini diciptakan pada tahun 2013 dan pertama kali dipersembahkan sebagai lagu pembuka dalam konser Bekereng Percussion #1. Panggung itu menyala, menciptakan siluet para penampil yang berdiri gagah. Komposisi ini memadukan instrumen perkusi modern dan sentuhan tradisional jawa. Tabuhan kendang bergetar sebagai nadi yang menggerakan sinden untuk melantunkan tembang, sementara penari melenggang dengan anggun dan memperkuat setiap ketuk irama. Sebuah eksplorasi yang bebas mengajak kita untuk hanyut dalam perjalanan musikal selama tiga jam ke depan.
Acara baru benar-benar dimulai saat kata sambutan selesai diucapkan. “Inilah Bekereng, Inilah Keluarga.” Yuka —Pimpinan produksi konser satu dekade Bekereng Percussion menyerukan sebuah kalimat yang menyulut antusias para penonton. Seruan tepuk tangan mengantarkan kita ke repertoar selanjutnya, “Spain” karya legendaris dari Chick Corea ini berhasil dieksekusi teman teman bekereng Percussion dengan berani. Tutti-nya dilahap sampai habis. Sesaat, aku lupa kalau mereka ini masih duduk di bangku SMK, karena apa yang terdengar di panggung adalah permainan perkusi yang jauh melampaui ekspektasi untuk pelajar seusia mereka. Karya ini pernah dibawakan dalam konser Bekereng Percussion #2.
“Mahabarata” karya Tohpati kembali hadir dengan energi baru, Bukan lagi petikan gitar yang mengalun, melainkan dentuman perkusi yang mengguncang ruang. Mengisahkan cerita para ksatria; konflik yang membara, perjuangan, serta renungan. Solo Drum menggelegar, irama “dung dung tak dung” disambut sorak serempak “Hey!” pemain melompat ringan, tangan-tangannya mengibas angin, mengundang penonton untuk berseru bersama, hanyut dalam gelora. Kini giliran kendang yang mencuri pusat perhatian, jemarinya menari dengan lihai memainkan pola ritmis yang bervariasi. Lalu keduanya berpadu, drum dan kendang ditabuh serentak, menggaungkan semangat yang tak terbendung.
Proses konser ini dimulai sejak Desember 2024. Tetapi, pada bulan Januari hanya empat repertoar yang baru tergarap. Tertunda sejenak oleh Uji Kompetensi Keahlian bagi siswa kelas 3 dan Praktek Kerja Lapangan bagi siswa kelas 2. Namun, semangat tak padam. “Kami pakai sistem kebut, tapi gimana caranya tetep maksimal,” Revel selaku Music Director, menggambarkan tantangan yang dihadapi dalam menaklukkan setiap repertoar dengan tekad dan dedikasi.
Karya selanjutnya, “Daerahku” diaransemen oleh Didim Salasa untuk konser Bekereng Percussion #4 kini direkonstruksi oleh Rhein Nabeel menjadi repertoar paling menantang, karena memiliki teknik dan ritmis yang kompleks, serta dikemas sebagai medley berdurasi panjang, di mana setiap bagian memiliki ciri khas berbeda. Menariknya, transisi menuju lagu daerah selanjutnya mengalir dengan mulus, layaknya kepingan mozaik. Intro dimulai dengan teknik yang langka, vibraphone alat musik logam yang biasanya dimainkan dengan dipukul kini digesek dengan bow string atau dalam bahasa indonesia busur senar, ia mengeluarkan suara lembut yang panjang. Nadanya yang lirih perlahan muncul dan menggantung di udara. Teknik ini jarang digunakan karena bow string dan vibraphone berasal dari keluarga alat musik yang berbeda. Mereka memang tidak diciptakan untuk satu sama lain, tapi saat dipertemukan, lahirlah bunyi yang tak biasa. Suasana pun diselimuti misteri, mengundang penonton menebak arah cerita, serta menanti kejutan apa lagi yang diam-diam tengah disiapkan.
Seperti riuh yang mulai mereda, kita kini menyelami kisah ‘Perang Tanding’ yang menunggu untuk diceritakan. Sebuah karya gubahan Gilang Rabbana untuk konser Bekereng percussion #5 menampilkan dua pemain kendang — Ilalang dan Vano merepresentasikan pertarungan dua saudara kembar yang memperebutkan tahta. Namun, akhirnya mereka memilih persatuan, terbawa arus kenangan masa kecil yang penuh kebersamaan. Karya ini mengangkat kekuatan kenangan persaudaraan yang tak lekang oleh waktu, meski teruji oleh ambisi dan konflik. Fokus utamanya adalah interaksi pemain kendang, namun peran pemain perkusi lainnya juga tidak kalah penting. Musik iringan menciptakan tensi yang sengit.
Setelah sebelumnya kita disuguhi musik semangat perjuangan serta musik budaya Nusantara, kali ini berbelok ke barat laut menuju Timur Tengah. “Dwellers of The Desert” karya Juan Arief dimulai dengan dentingan glockenspiel yang menandai awal sebuah perang, mengundang satu persatu penampil naik ke atas panggung dalam balutan jubah putih dan sorban. Menghadirkan suasana khas gurun. Vibraphone serta marimba menyambut dengan nada-nada yang membentang lanskap padang pasir di antara ancaman yang mengendap. Karya ini mengisahkan seorang prajurit yang meninggalkan gemuruh perang, melangkah dalam sunyi untuk mencari arti kebebasan, dan kedamaian yang tak ditemukan di tengah hiruk dan amarah. Perjalanan batin itu diwujudkan oleh soloist berjubah hitam dengan menabuh alat musik darbuka yang menjelma resah dan harapan sang prajurit. Juan selaku komposer hadir langsung untuk membimbing adik-adiknya dengan harapan agar semangat belajar tak pernah padam dan rasa ingin tahu terus tumbuh.
“Freecussion” sebuah repertoar garapan Aria Rifqi, menampilkan eksplorasi ritmis yang intens dan ekspresif. Karya ini pernah menjadi penutup yang mengesankan di konser virtual Bekereng Percussion #7. Kini, kembali hadir dengan bentuk yang nyaris identik. Mulai dari kostum, lalu lintas panggung, hingga gimmick visual, semua terasa seperti membuka kembali rekaman yang dulu. Waktu seolah mundur sesaat, membawa kami kembali menonton konser yang pernah dirindukan.
“Salve” baru mulai digarap satu minggu sebelum hari konser karena waktu yang terbagi antara karya lain dan kesibukan sang komposer. Karya ini dibuat oleh Cahaya Gemilang sebagai penutup konser Bekereng Percussion #8 yang bertajuk “Exploring Genre” sebuah konser yang menampilkan beragam genre musik. “Salve” menyampaikan pesan perpisahan dengan nuansa reflektif dan emosional, mengajak kita merenungi arti kebersamaan dan perjalanan yang tetap berlanjut meski harus berpamitan. Karya ini dikemas ulang dengan sentuhan beat reggae dan latin—menjadi bentuk eksplorasi genre yang belum sempat dihadirkan pada konser sebelumnya.
Setelah repertoar kedelapan usai dimainkan, riuh tepuk tangan dan sorak sorai mengiringi kembalinya pembawa acara ke atas panggung. Suasana pun kembali mencair, pembawa acara sempat berbincang ringan ke sana ke mari, menciptakan atmosfer yang santai dan hangat. Mungkin ini bagian dari upaya untuk melepas kesan formal yang biasa melekat pada acara di SMM Yogyakarta. Namun dalam suasana santai, penting untuk tetap mengingat bahwa Bekereng Percussion adalah sorotan utama malam ini, bintang panggung yang patut dijaga kilau dan fokusnya. Pandangan mataku kembali jatuh pada booklet yang sejak awal berada di pangkuan. Terus saja dibuat terkesima oleh desain yang menampilkan potret Ilalang, Tia, Mahsa, Revel, Arya, dan Yuka, enam siswa kelas tiga yang menjadi sosok sentral malam ini. Untuk menambah semarak acara, dibagikan juga doorprize kepada sepuluh penonton yang sudah mengikuti akun media sosial Bekereng Percussion.
’
Karya selanjutnya hadir dengan warna yang segar dan tak biasa. “At Ayahab Kag OL-OL-OL” ciptaan murid-murid perkusi angkatan 2021, terinspirasi dari kalimat viral yang menghibur “Lo-Lo-Lo, gak bahaya ta?” Komposisi ini menawarkan sajian musikal yang penuh kejutan, dibalut humor ringan dan ritme yang lincah. Pertunjukan dibuka dengan aksi tak terduga, beberapa pemain muncul dari berbagai penjuru area penonton, memancing tawa lewat tingkah dan penampilan mereka yang kocak dan spontan. Sebuah bentuk ekspresi yang spontan, tapi meninggalkan kesan yang tak mudah dilupakan.
Sejak awal hingga akhir, senyum tak pernah lepas dari wajah para penonton. Lagi dan lagi, apresiasi menggema ke seluruh penjuru ruangan, tepuk tangan pun sudah terdengar bahkan sebelum nada terakhir benar-benar berhenti. Suasana haru dan bangga terasa ketika pembawa acara mengundang Kepala Sekolah, para pembimbing, seluruh pimpinan produksi konser Bekereng Percussion #1 hingga #10, komposer, dan arranger untuk naik ke atas panggung. Satu per satu menerima buket bunga sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi mereka. Sayangnya, di tengah momen langka ketika para alumni dan penampil akhirnya berkumpul di satu panggung yang sama, berjabat tangan, saling menyapa, dan memberi apresiasi, pembawa acara justru terlalu larut dalam obrolan pribadi. Padahal, kehangatan yang tercipta di atas panggung saat itu layak menjadi sorotan utama, sebuah peristiwa penuh makna yang seharusnya mendapat ruang lebih untuk dirayakan bersama.
Last but not least, “Journey With Love” hadir di penghujung acara sebagai penutup konser yang sarat emosi dan kasih sayang. Setelah rangkaian karya megah yang penuh euforia, Revel Hansel, sang komposer, menciptakan nuansa haru lewat melodi marimba, vibraphone, xylophone, serta glockenspiel yang lembut dan menyentuh menggambarkan perjalanan tiga tahun kebersamaan, tantangan, dan pertumbuhan bersama. Pada bagian modulasi seolah mencerminkan momen kelulusan, ketika masing-masing harus melangkah ke jalan hidupnya sendiri. Lewat karya ini, Revel menitipkan harapan semoga setiap langkah yang ditempuh membawa kesuksesan di jalan masing-masing. Di atas panggung, para penampil melambaikan tangan, sebuah gestur perpisahan yang hangat. Tak lama, beberapa panitia dan orang-orang yang terlibat dalam konser ini turut naik ke panggung. Mereka berdiri di sayap panggung, membalas lambaian dengan senyum, lalu duduk di sana, seolah turut menjadi bagian dari kenangan yang tengah dipentaskan. Alunan musik masih terus berjalan, mengiringi penonton yang perlahan larut dalam renungan akan perjalanan yang telah dilalui, tentang tawa, kerja keras, dan waktu yang berjalan tanpa terasa. Begitulah hidup, yang datang suatu saat akan pergi. Namun, perpisahan ini bukanlah akhir, melainkan jeda dalam sebuah pertemuan yang akan datang kembali dalam bentuk yang lebih indah.
Lampu-lampu mulai dinyalakan, perlahan menyingkap wajah-wajah yang familiar. Senyum yang tak bisa disembunyikan setelah sebuah malam yang luar biasa. Konser ini layak disebut sukses karena setiap elemen dieksekusi dengan penuh semangat dan ketelitian. Kostum yang dikenakan bukan sekadarnya, mereka mewakili suasana dan ingatan yang pernah mengisi panggung-panggung Bekereng Percussion di masa lalu. Memang, semua lagu terasa dipenuhi solo, hingga sesekali memudarkan kesan ansambelnya. Tapi tak mengapa, karena inilah waktunya setiap individu bersinar. Menariknya, setiap kali ada solo dari instrumen apa pun, Yuka selalu jadi yang pertama bertepuk tangan, memancing penonton untuk ikut memberi apresiasi. Ah, rasanya ruangan sebesar ini pun tak cukup menampung euforia yang tercipta. Andai tak duduk, mungkin seluruh penonton sudah bersorak dan melompat bersama sejak tadi.
Aksaratala berkesempatan mewawancarai beberapa senior Bekereng Percussion usai konser berakhir. Raut wajah mereka menyiratkan haru, bangga, sekaligus rasa syukur yang dalam, “Vibesnya seru, ciri khas Bekereng dengan berbagai macam gebrakan gimmicknya. Muka-muka bahagia slengekan nya itu nurun banget.” Mereka tak menyangka, hal-hal sederhana yang dulu mereka ajarkan pada adik kelas ternyata memberi dampak besar. Nilai-nilai itu kini diturunkan lagi oleh generasi selanjutnya, menjadi warisan yang hidup dan terus bergerak maju. Bagi mereka, menjadi bagian dari konser ini bukan hanya sebuah kehormatan, tapi juga bukti bahwa perjalanan tak pernah benar-benar usai. Pesan dan doa terbaik tak lupa selalu mereka harapkan untuk adik-adiknya semoga sukses menapaki jalan masing-masing, mampu menjaga semangat dan tradisi Bekereng Percussion, bahkan membawanya ke arah yang lebih luas dan membanggakan. Dalam perayaan musik malam itu, bukan sekadar tampil di atas panggung, mereka sedang pulang ke hati para pendengar yang tumbuh bersama musik-musiknya.
Foto Sampul: Bekereng Percussion
Editor: Rindu Sangmesih Wijayanti
