Candramawa: Kilauan Kerinduan untuk Berpentas

Penulis: Rindu Sangmesih Wijayanti

Saya rasa selalu ada kerinduan alamiah yang tak terlihat kerinduan yang mewujud dalam raga dan sanubari setiap musisi untuk berpentas. Menunjukkan sesuatu kepada khalayak. Memberikan apapun yang dipunya. Menumpahkan asa untuk menjadi sumber kebahagiaan bagi penontonnya. Kompas tersebut menavigasi menuju arah mata angin yang mampu membawa mereka mengutarakan apa yang menjadi kehendak. Saya menyadari fenomena unik ini ketika malam-malam berbincang dengan salah satu kawan baik saya, yang kebetulan menjadi Ketua Pelaksana MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) Prodi Musik, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta angkatan 2022, Muhammad Dika Aldhiansyah.

Sebelumnya, izinkan saya menjelaskan dulu apa program MBKM Proyek Independen yang diikuti mahasiswa Prodi Musik angkatan 2022. Mereka beratasnamakan Ritmadaya, “ritma” berarti ritme atau pola, “daya” berarti kekuatan. Harapannya, mereka dapat memiliki kekuatan, keseimbangan, dan kreativitas dalam pola-pola kehidupan. Kegiatan mereka unik. Latar belakang rekan-rekan Ritmadaya yang merupakan mahasiswa musik, dengan minat utama musikologi, berkegiatan dalam lingkup sanggar tari, tepatnya Sanggar Seni Kinanti Sekar.

Alasan mereka memilih Sanggar Seni Kinanti Sekar untuk berkolaborasi dibentuk oleh kesadaran tentang kapasitas mereka sebagai mahasiswa perguruan tinggi seni yang seyogyanya bisa turut mengembangkan kesenian tradisional dan mengenal komunitas-komunitas seni. Saya bertanya, “Terus ngapain di sana?” “Banyak. Rasanya seperti kuliah tapi bukan di kelas. Kita belajar soal tata kelola pentas, tari juga pastinya, ada juga workshop soal DAW (Digital Audio Workstation, perangkat lunak yang digunakan untuk memproduksi audio) Belajar manajemen pertunjukan kalau bisa disimpulkan. Mungkin pertama kali dengar agak aneh ya, ‘anak musik kok di sanggar tari?’ tapi ada banyak hal yang didapatkan.” Pembelajaran di luar kurikulum perkuliahan tersebut nyatanya memang dibutuhkan oleh rekan-rekan Ritmadaya. Kembali lagi, kerinduan untuk berpentas adalah pondasinya.

Kerinduan tersebut akhirnya akan diutarakan dalam satu kata saja, Candramawa. Sebuah pentas yang akan digubah dalam bentuk drama musikal dengan turut mengajak teman kolaborasi Sanggar Seni Kinanti Sekar. Candramawa bermakna hitam bercampur putih, kiasan tentang keseimbangan dalam hidup. Dika menjelaskan bahwa garis besar cerita Candramawa adalah coming of age, “Cerita yang dekat-dekat saja dengan kita,” katanya. Teman-teman Ritmadaya yang selama ini di bangku perkuliahan lebih banyak membicarakan musik secara teoritis akan menunjukkan diri mereka sebagai seorang penampil. “Sajian musik yang ditampilkan akan banyak mengusung format band serta akan disajikan original composition dari teman kami, Rado, namanya.” jelas Dika. Layak ditunggu mengingat bagaimana selama ini di Prodi Musik mereka lebih banyak dipandu untuk mengusung musik-musik klasik. 

Tentu tidak mudah mempersiapkan pentas Candramawa ini. “Menyatukan 14 kepala yang punya hasrat dan ekspektasi masing-masing itu susah banget. Yang satu pengen begini, yang satu lagi pengen begitu. Banyak hal yang kita perdebatkan berhari-hari juga. Mungkin itu ya kesulitannya. Tapi landasan kami tetap pada keinginan untuk berpentas sih. Dari awal ngobrol dengan teman-teman memang alasan mereka mau ikut MBKM Proyek Independen ini karena ingin konser.” cerita Dika. Pengalaman ini juga menjadi hal menarik untuk teman-teman mengingat pada tahun ajaran selanjutnya, MBKM akan diganti menjadi Magang Berdampak yang diluncurkan 2 Mei kemarin, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional.

Bagi teman-teman Ritmadaya, kehadiran panggung pentas memang sebuah kemewahan yang tak terperi. Kesempatan ini akhirnya datang, mereka sambut dan layani habis-habisan. Kerinduan tersebut menggelora sehingga akan ditumpahkan dalam rupa Candramawa nanti. Keseriusan mereka dalam berlatih bersama di tengah kesibukan masing-masing menjadi bukti bahwa nyala itu selalu menerangi sanubari terdalam mereka, utamanya sebagai seorang musisi. 

Obrolan saya dengan Dika saat itu adalah sepenggal kisah dari Ritmadaya, yang merindukan tempat mereka untuk tumbuh dan merasa hidup. Pelajaran mereka dalam bulan-bulan di Sanggar Seni Kinanti Sekar semoga akan berbuah dan berkilau dalam Candramawa yang diadakan Kamis ini, 15 Mei 2025 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Mari hadir dan alami bersama bagaimana musisi-musisi ini melanggengkan kekayaan yang mereka punya, kerinduan akan panggung pentas. 

Selamat berpentas dan menuntaskan rindu kalian, Ritmadaya. 

Poster Candramawa (Dok. Ritmadaya)

Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: Ritmadaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *