Penulis: Manda Marindaa Masseleng
Kedatanganku disambut cuaca bersahabat yang menyelimuti Tirtonirmolo, Bantul. Tepat 6 Desember 2025, Galeri Lorong mendaulat dirinya sebagai lokasi pertunjukan yang telah dinanti. Sejak awal, sorot lampu di sana menyapa lebih dahulu, berbagi kesan hangat lewat cahayanya. Lahan parkir yang kupijak pertama kali juga bernafas dan teduh, ditemani bangunan gedung berornamen kayu, membuatku merasa tersambut dengan lembut. Permukaan tempat ini akrab, bahkan sebelum acaranya berlangsung.
Memasuki Galeri Lorong, tak ada titik kumpul yang jelas menandakan gelaran konser. Tapi tak apa, rasa tempatnya masih hangat. Hatiku meyakini ini ruang yang bersahabat. Sehabis menanyakan arah ke penghuni sekitar, aku mengikuti petunjuk kemudian mengikuti arah ruang gedung semakin dalam hingga menemukan meja reservasi. Titik tujuanku sudah jelas dan hanya perlu mengikuti panitia menaiki anak tangga yang akan membawaku ke lantai dua, tempat acara “Seleksi: Tali Resonansi” berlangsung.
Setiba di lantai atas, terdengar suara perempuan bersenandung pilu di depan mikrofon, sambil diterangi cahaya dari pintu yang mewangikan syahdu. Kursi-kursi masih kosong, sementara panitia berlalu lalang memastikan jalannya persiapan. Beberapa pemusik juga tampak berlatih di sudut ruang, jauh dari panggung. Aku datang lebih awal, saat persiapan di gladi resik sedang berlangsung, untuk menyaksikan sedikit proses persiapan sebelum acara dimulai.

Gelaran ini diselenggarakan oleh Dua Ketuk, yakni komunitas kolektif musik di Yogyakarta. Komunitas ini diprakarsai oleh musisi-musisi muda SMKN 2 Kasihan/ Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta ketika mereka berada di kelas dua belas. Hati Bening, salah satu anggota Dua Ketuk mengungkap bahwa mereka ingin membuka ruang apresiasi musik yang selama ini masih terhitung minim.
Dua Ketuk dirancang pada awal tahun 2025, hingga resmi meluncurkan komunitasnya di radar digital yakni instagram pada bulan Maret 2025. Mereka memulai debut acaranya dengan gelaran yang bertajuk “Seleksi: Karya Tersembunyi” diselenggarakan di bulan Mei 2025 lalu.
“Seleksi: Tali Resonansi” menjadi acara kedua dari segmen ‘Seleksi’, di mana melalui “Seleksi: Tali Resonansi”, Dua Ketuk ingin melanjutkan eksplorasi dan pertumbuhannya dengan menjalin kolaborasi bersama karya-karya komposer di sekitar mereka. Kolaborasi ini sekaligus menjadi tempat silaturahmi antar komposer lintas generasi. Karya Nadya Hatta, Alfian Emir, Dheva Clavinova, Theduardo Prasetyo, Theo AP, Gracia Dyo, dan Maigty Simatupang mengemuka dalam jalinan repertoar yang hendak ditampilkan.
Ketika gladi resik sementara berlangsung, esensi dari “Tali Resonansi” hadir dalam artian lebih luas dengan begitu natural lewat interaksi panitia dan pemusik di ruangan. Mereka menemui beberapa masalah terkait sound, kesiapan dan kehadiran pemusik, pengaturan cahaya, posisi kursi duduk, juga pemastian urutan repertoar. Pengambilan keputusan harus dilakukan dalam waktu yang singkat. Fungsi dari persiapan memang untuk melihat kendala yang akan terjadi. Dari situlah proses penanganan membentuk resonansi satu sama lain, merepresentasikan konser yang mereka usung bersama.
Mewawancarai Hati Bening lebih lanjut, ia mengutarakan bahwa tidak ada konsep hierarki kepanitiaan yang dilakukan di dalam proses kolektif ini. Karena adanya wadah yang menuntut kedekatan, membantu mereka untuk memahami tempat dari masing-masing individu dalam menyesuaikan kemampuannya dengan pekerjaan yang dibutuhkan. Kebersamaan ini yang menjadikan Dua Ketuk tidak hanya sekadar sebagai wadah untuk bekerja saja, namun justru melahirkan autentisitas dari konsep “Tali Resonansi” untuk semakin hidup.
Musik-musik yang diperdengarkan seperlunya dengan waktu yang tersisa, juga diskusi teknis tersisip di antara persiapan musik di panggung terus berlalu hingga tibalah pukul 19.00 WIB. Cahaya lampu lebih tenang, pemusik tak lagi terlihat di depan, bising di panggung terhenti, dan mulailah kursi diisi satu per satu disandingi percakapan hadirin. Gelaran “Seleksi: Tali Resonansi” mengedepankan konsep intimate untuk membuat apresiasi musik di ruang itu lebih dekat. Ada harapan bahwa hadirin yang datang menonton telah terkurasi lebih baik lewat penjualan tiket dan keterbatasan kursi yang ada, sehingga kedekatan musik yang akan hadir semakin terasa hangat dan personal.

Konser yang dinanti akhirnya dimulai kala audiens memadati kursi di dalam Galeri Lorong. Repertoar pertama dimulai, “Senandung Laut” karya Nadya Hatta, ditulis liriknya oleh Arum Dayu, membawakan spirit krisis lingkungan yang ada di laut. Karya ini menarasikan laut sebagai ibu yang sedang meninabobokan makhluk-makhluk laut yang sekarat dan terluka. Menampilkan senandung vokal dari Charis Minerva, diiringi musik yang telah terekam secara digital, ditemani suara plastik yang dibunyikan melalui rabaan tangan dari Yuka Narendra dan Ilalang Lembah.
Usai “Senandung Laut” diperdengarkan, panggung ditambahkan lagi dengan peralatan elektronik. Membawakan karya Alfian Emir bertajuk “Numpuk” dan karya Bayu Mahendra yakni “Nonsense Transmission”. Kedua karya ini disajikan lewat kolaborasi kecanggihan elektronik dan instrumen cello yang dimainkan oleh Bayu Mahendra. Repertoar “Numpuk” sendiri menjadi bentuk eksplorasi harmoni antara instrumen cello dan arus sonik, di mana setiap nada yang dibunyikan akan terekam dan dibentuk secara repetitif, sementara itu Bayu akan menambahkan sebuah melodi maupun harmoni satu per satu hingga selesai.
Setelah karya tersebut dimainkan, Bayu melanjutkan permainannya ke karyanya sendiri “Nonsense Transmission”. Sebuah karya yang menjadi siaran dari ruang hampa antara kegilaan dan pencerahan. Bagi Bayu, karya ini bukanlah sebuah karya musik melainkan residu dari bahasa. Menjadi bentuk dari ritual komunikasi yang gagal, dan di situlah Bayu sebagai pemilik karya menemukan keberadaan yang paling murni, ketika segala sesuatu tak bisa lagi ia jelaskan.
Berakhirnya karya eksperimental tersebut, menampakkan dua musisi membawa violin dan cello ke depan panggung. William Abinawa pada Biola dan Aloysius Veno pada Cello, mereka membawakan karya milik Dheva Clavinova bertajuk “Mood Swing”. Karya yang sejak dimulai penuh dengan kelincahan teknis, Dheva ingin mengadaptasi perubahan suasana hati secara tiba-tiba dalam musiknya. Sehingga musik yang dimainkan begitu kompleks untuk merepresentasikan maksud “Mood Swing”.
Bergerak ke repertoar berikutnya “Tiga Lagu Cinta” karya Theduardo Prasetyo, dalam format trio, terdapat biola yang dimainkan oleh Hati Bening, gitar oleh El Vatikan, dan cello oleh Maigty Simatupang. Komposisi ini dibagi dalam tiga bagian, “Dia dan Aku” dengan musikalisasi puisi dari Sitor Situmorang pada bagian pertama, “Pertemuan dan Perpisahan” pada bagian kedua—karya ini terinspirasi oleh karya “Encontros e Despedidas” milik Milton Nascimento dan Fernando Brant—, kemudian “Peace Upon Me” pada bagian ketiga. Kehadiran musik yang cukup berubah cukup signifikan dari karya-karya sebelumnya, alunan dawai gitar yang lebih tenang, dibersamai harmonisasi dari melodi biola dan cello, sekali lagi berhasil membuat tempat itu semakin teduh. Di antara keheningan dari berakhirnya repertoar ini, ada rasa yang mengembang di wajah penonton, bersiap untuk mendengar kelanjutan musik malam itu.
Karya selanjutnya bertajuk “Jivana Series” milik Theo AP, yang mengangkat Jivana, berarti kehidupan dalam bahasa Sansekerta sebagai tema utama dari karyanya. “Jivana Series” disajikan dalam format kuintet gesek, menampilkan Jennyfer Basya di Biola 1, Wira Shakti di Biola 2, Christophorus Ragawilpa di Viola, Aloysius Veno di Cello, dan Damar Bonang di Kontrabas. Di dalam karya ini penggambaran perjalanan hidup diwakili oleh 5 angka Jawa: Sewelas (awal kasih), Selikur (dunia kerja), Selawe (pernikahan), Seket (pendalaman spiritual), dan Sewidak (kesadaran akan akhir hidup).
Karya berikutnya bertajuk “Laksita Cahaya” karya Gracia Dyo, di mana komponis dipengaruhi oleh dua latar belakang yang menginspirasi karya ini. Ia mengangkat soal perjalanan cahaya lilin ketika mulai menyala hingga padam. Bersamaan dengan itu, cahaya yang dimaksudkan tidak hanya sekadar pada cahaya lilin saja, namun juga seorang yang dikasihi oleh komponis bernama Cahaya. Dibawakan dalam tiga fase yakni Percikan, Suluh, dan Padam. Karya ini menampilkan Hizkia AW pada Flute, Wijaksana Andoyo pada Klarinet, Theo Armando Pranata pada Oboe, Christelyke Emmanuela pada Horn, Pinkan Kenyo pada Basoon, dan Damar Bonang pada Kontrabas. Karya yang terasa begitu personal menjajaki perjalanan lilin yang selaras dengan perjalanan hidup Cahaya. Berakhirlah “Laksita Cahaya” dengan tiupan angin dari flute menandakan fase Padam telah usai.
Hingga tibalah pada karya terakhir “Bagaimana Tahu Apa Tentang Siapa” milik Maigty Simatupang, dibagi menjadi empat bagian yakni Kognitif, Berkaca, Doa, dan Nadir. Diangkat dari kisah personal komponis ketika ia mengalami krisis eksistensi. Dibawakan oleh Ilalang Lembah pada Perkusi, William Abinawa pada Biola 1, Hati Bening pada Biola 2, Dhani Ahmad pada Viola, Maigty Simatupang pada Cello. Diperdengarkannya karya ini seharusnya mampu membenangmerahkan kehidupan para hadirin yang datang untuk merefleksikan atau bahkan mengingat lagi perjalanan eksistensinya. Sebuah persoalan hidup yang sangat universal dialami umat manusia. Di dalam karyanya Maigty menyisipkan pesan dari prosesnya bahwa diantara kebingungan yang dialami Tuhan terus hadir, dan hal tersebut membuatnya menyadari akan kekecilan dan kerapuhan seorang manusia.

Setelah seluruh repertoar tersaji, sesi diskusi dimulai dengan perkenalan diri komposer dan membahas sekilas sinopsis karyanya. Sesi diskusi dimulai dengan membahas emosi marah, tenang, dan sedih yang ingin dikedepankan Dheva Clavinova dalam karya “Mood Swing”nya. Kemudian Nadya Hatta yang membahas inspirasi penggunaan daur ulang plastik pada “Senandung Laut”, terkait dengan realitas kehidupannya yang banyak bertemu dengan plastik sehingga memberinya ide untuk mencoba menggunakan plastik sebagai media untuk membuat suara ombak dari laut. Bayu Mahendra dalam karya “Nonsense Transmission” juga membahas bahwa ia menggunakan pendekatan improvisasi sehingga sajian karya ini memang akan banyak berubah di tiap panggung. Kemudian pertanyaan terakhir bagi repertoar Maigty Simatupang yang membahas tentang kekesalannya pada perjalanan pencarian jati dirinya yang cukup berat, ketika ia harus mengalami proses berulang-ulang dari perjalanan eksistensinya.
“Seleksi: Tali Resonansi” di hari itu memberikan rasa baru bahwa musik tak hanya hadir untuk memberi jawaban, namun juga menjadi tempat berefleksi bagi pendengar. Kejujuran yang hadir di dalam karya komposer dibersamai proses berkolektif yang dekat, memberi ruang untuk merasa dan membangun kembali narasi dari pendengar sendiri. Hari itu kejujuran mengemuka dan mengembang di Galeri Lorong, Di tempat yang hangat dan teduh, kejujuran mewangi kembali.
Setelah ini, menghitung hari menuju tanggal 28 Februari, Dua Ketuk akan kembali naik panggung untuk konser bertajuk “Kasih Bersua” yang bertempat di Tembi Rumah Budaya. Mari kembali merayakan apresiasi musik bersama Kolektif Musik Dua Ketuk di selatan Jogja.

Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto sampul: Dokumentasi Dua Ketuk “Seleksi: Tali Resonansi”
