Penulis: Alif Amin Arrofah
Matahari bulan Mei baru saja meninggi ketika sebuah kabar dari Dekanat Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta sampai ke telinga kami. Sebuah undangan, lebih tepatnya sebuah tantangan mendarat di meja Kelompok Kreativitas Mahasiswa (KKM) Vokal Serenata. Pihak kampus memberi kami tawaran untuk sebuah kolaborasi di panggung, ArtJog, terjadwal pentas pada 19 Juni 2026.
Saat itu, bayangan kami masih sangat sederhana, hadir di panggung untuk membawakan sebuah komposisi musik kontemporer. Namun, mengumpulkan kepala di tengah kesibukan mahasiswa di akhir semester bukanlah perkara mudah. Pintu pendaftaran dibuka, tetapi sunyi merespons. Anggota Serenata tidak banyak, dan waktu-waktu itu dipenuhi oleh jadwal dan agenda yang saling berbenturan. Pada hari-hari awal, jumlah penyanyi yang terkumpul bisa dihitung dengan jari, membuat ruang latihan kami sempat diselimuti kesunyian tanpa kepastian.
Namun, perlahan tapi pasti, semesta seperti menyusun jalannya sendiri. Satu demi satu suara mulai bergabung, melengkapi potongan teka-teki yang rumpang hingga akhirnya terbentuklah sebuah barisan utuh berkekuatan 24 penyanyi. Struktur itu berdiri kokoh dengan formasi 8 sopran, 5 alto, 7 tenor, dan 4 bas. Kami mendapat direksi langsung dari Gabriel Syeda, selaku Ketua Serenata di program terkahir masa jabatannya ini, dan dipengabai oleh Septina Layan. Ketika kalender berpindah ke minggu kedua Juni, babak baru pun dimulai. Kami mulai dipertemukan dalam sesi latihan bersama dua komposer di balik proyek ini yakni Monica Lim dan Morgan May.

Di momen ini kejutan benar-benar dimulai. Lembar-lembar kertas yang dibagikan ke tangan kami sama sekali tidak memperlihatkan apa yang selama ini menjadi makanan sehari-hari sebagai mahasiswa musik klasik.
Sebagai sekumpulan orang yang dibesarkan oleh disiplin ketat notasi balok tradisional, kami mendadak gagap. Pada komposisi pertama yang kami terima, matamu tidak akan menemukan satu pun paranada atau bulatan hitam berpaut ekor. Alih-alih melodi yang siap disuarakan, lembaran itu hanya berisi catatan-catatan instruktif tentang apa yang harus kami lakukan dan bagaimana kami harus bergerak di atas panggung.
Ruang latihan seketika digelayuti kerutan di dahi dan bisik-bisik kebingungan para penyanyi. Kami dituntut untuk menanggalkan zona nyaman ragam musik Barat yang kaku demi mengeksplorasi kedalaman diri yang belum pernah kami sentuh sebelumnya. Kami dipaksa “melupakan” sejenak apa yang kami tahu untuk mempelajari sesuatu yang sepenuhnya baru.

Kebingungan itu mencapai puncaknya saat kami beranjak ke karya kedua, pada sebuah bagian yang secara harfiah dinamai Pecah. Aku ingat betul bagaimana jantung ini berdesir agak aneh saat melihat lembar pembuka pada movement yang kedua. Alih-alih instruksi musik, yang terpampang di sana hanyalah coretan sketsa murni. Dalam hati aku sempat membatin, “Ini pasti bukan untuk dinyanyikan, ini hanya ilustrasi.” Namun, logika klasikku langsung runtuh begitu tahu bahwa selembar sketsa visual itulah yang justru harus kami ubah menjadi bunyi dan suara. Bagian Pecah ini menyimpan dua sketsa misterius yang menanti untuk dihidupkan.
Belakangan dalam sebuah obrolan, Morgan sempat terkekeh dan berbagi cerita kepadaku, mengaku bahwa dia sebenarnya ingin memasukkan jauh lebih banyak sketsa ke dalam karyanya. Baginya, notasi tradisional itu terlalu membatasi, seolah-olah musik hanya milik manusia berkulit putih abad lampau yang kaku. Skor grafis berupa sketsa adalah caranya membebaskan musik agar lebih mengutamakan rasa dan interpretasi, karena dia tahu tidak semua orang di dunia ini bisa membaca notasi balok.
Mendengar itu, aku tersenyum dan menyanggahnya dengan jujur. Aku katakan padanya bahwa bagi kami, mahasiswa musik Institut Seni Indonesia Yogyakarta, notasi balok tradisional justru adalah bahasa ibu yang paling kami pahami. Menatap sketsa visual miliknya justru menjadi sebuah lompatan iman yang asing bagi kami. Namun, di situlah letak sihirnya. Keasingan yang dibawa oleh komposisi Morgan tidak membuat kami mundur; alih-alih menolak, aku dan kawan-kawan justru merasa ditarik masuk ke dalam sebuah labirin eksperimental yang luar biasa memikat. Di bawah tajuk GUILTY, rasa bingung itu perlahan melebur menjadi sebuah harmoni baru, sebuah jembatan yang mempertemukan ketukan presisi musik klasik dengan liarnya rasa bersalah yang personal di atas panggung ArtJog 2026.

Menelusuri Labirin GUILTY: Dari Lembar Sketsa hingga Pekik Perlawanan
Karya yang kami bawakan ini bertajuk GUILTY (Bersalah). Sebuah judul yang tidak main-main, sebab ia lahir dari refleksi mendalam—sebuah catatan program (program note) yang puitis sekaligus menampar nurani. Monica Lim sempat merenungkan sebuah pertanyaan pemantik, “Apa yang terjadi ketika kita berbuat salah? Sesuatu di dalam diri kita terbangun, berkelip, lalu menderu hidup hingga memecah kita menjadi beberapa bagian. Manusia kerap mencoba mengubur atau membenarkan kesalahan itu, tetapi rasa bersalah justru menertawakan kita kembali.” Monica percaya bahwa dunia hari ini dipenuhi oleh kehancuran justru karena banyak orang yang telah menemukan cara untuk memaklumi kesalahan mereka sendiri. Melalui kolaborasi intensif selama satu minggu menjelang pementasan di ArtJog 2026 ini, kami diajak untuk melakukan satu hal yang ‘pekat’, turun dan menyelami tumpukan sampah dari hati nurani kami sendiri.
Penyelaman itu tidak dilakukan melalui kidung-kidung reguler yang manis, melainkan lewat sebuah narasi teatrikal yang terbagi ke dalam enam movement plus coda yang penuh dinamika. Perjalanan psikologis ini dimulai dari Awakening (Terbangun), fase awal di mana kesadaran itu pertama kali berkedip. Dari sana, kami langsung dihempaskan ke dalam movement kedua yang bertajuk Pecah, sebuah bagian yang digubah oleh Morgan May untuk menggambarkan konflik batin yang berkecamuk ketika seseorang menyadari sisi baik dan buruk di dalam dirinya. Setelah melewati badai internal itu, kebingungan menuntun kami menuju Did’nt sebagai movement ketiga yang mengintrogasi keadaan, dan Colapse sebagai movement keempat, yang menghambur baurkan segala kecamuk dalam diri.
Memasuki bagian kelima, struktur karya membelah menjadi dua sisi koin yang kontras namun saling mengikat: Movement 5A: Minanur yang mistis dan sarat akan ‘nyawa’ yang tertiup kembali selepas ‘mati’ nya, serta Movement 5B: TUrning yang dingin dan membakar semangat untuk kembali memulai dari sedia kala. Ketegangan itu kemudian mulai bergeser sebelum akhirnya mencapai titik kesadaran akan apa yang terjadi pada Movement 6: Clearing.
Sepanjang pertunjukan, tubuh kami tidak dibiarkan statis berdiri di atas panggung menghadap dirigen. Kami bergerak, merespons ruang, dan melakukan gestur-gestur teatrikal yang dirancang khusus untuk menunjang sekaligus mempertebal makna dari komposisi musiknya. Setiap pergerakan adalah simbol dari beban psikologis yang sedang kami suarakan.
Titik didih dari seluruh pertunjukan ini meledak pada bagian Didn’t. Di sinilah batasan antara seni kontemporer dan realitas sosial benar-benar melebur menjadi satu. Di bawah sorot lampu ArtJog–sebuah ruang pameran seni yang belakangan menuai kontroversi hangat di masyarakat–kam para tidak lagi sekadar bernyanyi. Kami melampiaskan seluruh unek-unek, kemarahan, dan kegelisahan yang menyumbat dada mengenai apa yang sedang terjadi di negeri ini. Kata demi kata dilontarkan seperti peluru yang menuntut pertanggungjawaban atas segala ketidakadilan yang kasat mata. Panggung ArtJog seketika berubah menjadi mimbar katarsis massal, tempat di mana seni kontemporer bergesekan langsung dengan realitas politik yang personal.
Ketika ketegangan memuncak dan energi kemarahan itu perlahan surut, pertunjukan memasuki babak akhir yang penuh dengan simbolisme: Coda. Di bagian penutup ini, suasana panggung mendadak riuh oleh sebuah kejar-kejaran yang ganjil. Kami semua bergerak, saling memburu dan mengejar sebuah objek yang asing. Sebuah benda berbentuk bola kubus yang di dalamnya menyembunyikan sebuah mikrofon. Objek itu berpindah tangan, diperebutkan seolah-olah menjadi satu-satunya suara yang tersisa di tengah kehampaan. Dan di tengah visualisasi kejar-kejaran yang repetitif itu, dari tenggorokan 24 penyanyi, mengalirlah sebuah nada C yang panjang, lurus, dan tanpa putus. Bunyi vokal ‘aaa…’ yang monoton namun magis itu terus mendengung di udara, mengunci ruang pertunjukan, meninggalkan gema rasa bersalah yang panjang di benak setiap penonton yang hadir malam itu.
Karya Hebat yang Lahir dari Luka Hebat
Mendengar penuturan Monica Lim malam itu menyuntikkan rasa takjub sekaligus keprihatinan yang mendalam ke dalam dadaku. Ada desir kagum yang tak bisa dipungkiri ketika menyadari bagaimana keresahan sosiopolitis yang begitu pekat mampu ditenun menjadi sebuah karya seni pertunjukan yang megah. Namun di saat yang sama, hatiku terasa miris dan koyak. Monica dengan jujur mengakui bahwa GUILTY lahir dari refleksinya atas situasi di Indonesia saat ini; sebuah realitas pahit di mana orang-orang yang melakukan kesalahan besar di negeri ini justru melenggang tanpa beban, sementara rasa bersalah itu justru membebani pundak orang-orang biasa yang tidak berdaya. Mengangkat ironi moral ini ke atas panggung ArtJog bukan lagi sekadar perkara estetika musik kontemporer bagi kami, melainkan sebuah cara paling jujur bagi kami, para mahasiswa musik, untuk menyajikan seni sebagai cermin retak dari realitas yang sebenarnya sedang terjadi.
Kekagumanku tidak berhenti di situ;, obrolan hangat bersama Morgan May di balik panggung melahirkan sebuah sudut pandang baru yang sangat menyentuh. Dengan nada yang begitu kasual tanpa sedikit pun keluhan, Morgan bercerita bahwa ia hidup dengan kondisi ADHD dan autisme. Alih-alih meratapi kondisinya sebagai sebuah hambatan, ia justru merayakannya dengan rasa syukur yang luar biasa. Morgan merasa beruntung karena autisme membuat cara berpikir dan cara kerja otaknya berbeda dari kebanyakan orang, sebuah keunikan yang justru menuntunnya melahirkan karya-karya eksperimental yang luar biasa indah. Menyaksikan bagaimana ia merangkul keterbatasan dan mengubahnya menjadi bahan bakar kreativitas yang jenius membuatku tersadar, bahwa di dalam ruang-ruang kontemporer yang kami selami ini, musik telah berhasil menjadi tempat paling aman bagi siapa saja untuk mengekspresikan diri melampaui segala batas kemampuan fisik dan mental. Ia bersyukur bisa menjadikan musiknya sendiri sebagai wadah terapi baginya.“It has to go somewhere, you know. Otherwise, I’ll go crazy and I’ll be in jail maybe.” ujarnya.
Sayang sekali saat itu aku belum dapat kesempatan untuk mewawancarai Patrick Hartono secara langsung. Ia memegang peranan yang tidak kalah penting, mengingat visual dan lighting yang digubahnya dengan sangat ciamik untuk pentas kami itu. Ah, sungguh. Mereka adalah orang-orang keren!
Sekiranya bunyi adalah instrumen kita, kukira tidak ada salahnya untuk mencoba membunyikan semua suara. Mulai saat itu, aku percaya, setiap suara punya fungsinya. Tinggal kapa dan bagaimana kita menghadirkannya.
“You go through phases in life where maybe you feel like you’re classical. But actually you will come back to it. It’s like a cycle. Be open. And be experimental. Try different things.” – Monica Lim
Editor : Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul : Dokumentasi KKM Vokal Serenata
Penyelaras Akhir : Rindu Sangmesih Wijayanti
