Penulis: Hati Bening Asy Syahiidah
Manusia telah menabuh belulang, kulit, kayu dan logam untuk mengekspresikan diri melalui ritme sebelum notasi musik diciptakan. Bahasa purbakala itu sudah dikembangkan di Afrika, Asia juga nusantara hingga kemudian dikodifikasikan dalam sistem musik Eropa. Dalam konser Bekereng #11 berjudul “Mahitala” pada tanggal 14 Februari 2026 lalu di auditorium SMKN 2 Kasihan atau SMM Yogyakarta, sejarah panjang itu seakan diputar balikkan. Malam itu, instrumen-instrumen yang biasa mereka pakai untuk memainkan musik romantik dalam orkestra didentingkan untuk menuturkan lanskap Jawa.
Bekereng sendiri adalah sebuah komunitas perkusi yang bertumbuh SMM Yogyakarta sejak tahun 2015. Berbagai tema segar diangkat tiap tahunnya, sehingga bagaimana konser kesebelas ini mengeksekusi konsepnya juga kian ditunggu-tunggu semenjak penonton memasuki lobi auditorium yang sudah dipenuhi dengan kain-kain batik dan seperangkat gamelan.
Kegelapan perlahan-lahan dipecah oleh komposisi “The Overture of Mahitala” karya Marzello Putra yang juga merupakan penata musik dalam konser ini. Karya ini menjadi pembuka yang magis, dengan teknik kontemporer dimana busur senar digesekkan pada bilah vibraphone sebelum beberapa pemain snare drum berjalan masuk dari arah penonton memainkan ritme ikonik dari “Bolero” karya Maurice Ravel. Di belakang mereka, empat penari berpakaian serba-Jawa mengikuti dengan anggun. Setelah semuanya sudah sampai di atas panggung, instrumen-instrumen perkusi lainnya meledakkan melodi mistis gending gamelan yang temponya semakin lama semakin cepat dan penuh. Sementara ritme dari Ravel sang komponis Prancis masih dapat terdengar di bawahnya, sebelum ditenggelamkan oleh riuhnya kendang. Seakan menunjukan bahwa peralihan budaya akan dimulai.

Setelah rangkaian sambutan, lagu untuk solo piano “Fragmen” karya Jaya Suprana yang diaransemen oleh pembimbing Bekereng, Bidara Silsi Anjani yang dalam karya ini juga memainkan instrumen marimba. Penggambaran emosi-emosi manusia pada karya ini ditunjukkan oleh titi nada pentatonis Sunda dalam keragaman suasana. Awal yang stabil dan tenang kemudian dimeriahkan dengan kendang dan drum set. Kemudian, suara gong yang menggelegar mengakhiri dengan gagah.
Penampilan berikutnya dimulai seperti dentuman yang menyenangkan, dengan detakan bongo dan dentingan triangle yang terdengar seperti tetes-tetes gerimis di atas atap, sesuai dengan judul “Hujan-Hujanan”. Karya ini merupakan komposisi dari guru perkusi lainnya, bernama Ridhlo Gusti. Kegembiraan dan kesenduan ditunjukkan melalui perubahan tempo dan tekstur yang kontras.
Elemen kebudayaan Jawa tidak lagi hanya menjadi unsur musikal pada karya berikutnya, namun juga latar belakang karya. “Jayanegara” oleh Ignatius Noven Alfaro mengisahkan peperangan antara pasukan Jawa dengan pasukan Mongol pada tahun 1293 yang dipimpin oleh Raden Wijaya. Bisikan simbal dan pukulan mallet membangun suasana tegang. Tangga nada pentatonik Jawa menjadi unsur utama dalam pembangunan melodi-melodi karya ini yang saling bersahutan di antara gemuruh kendang. Harmoni-harmoni disonan yang seringkali terselip seakan menggambarkan tentara Mongol dan Jawa yang saling menghunuskan senjata.
Pada karya berikutnya yang berjudul “Pasawitra”, pendengar dibawa ke sebuah pengalaman absurditas yang mengasyikkan oleh kedua pengkarya yang bernama Imanuel Widan Pranata dan Lorensius Aquila Mahesa. Seusai judulnya yang berarti ikatan persaudaraan, karya ini dipenuhi melodi-melodi pentatonis yang berbeda dan terus berkembang tanpa memiliki tema melodi utama. Dengan formasi perkusi yang masif, karya ini begitu meriah. Terutama pada bagian solo kendang yang dipenuhi sorak sorai pemain lainnya.

Percampuran budaya juga diperdengarkan pada lagu “Hyang Giri” oleh Dewa Budjana dan Soimah yang diaransemen oleh Revel Hansel. Solo vokalis Cyntia Manurung dalam kebaya merah menyanyikan lirik tentang kuasa pegunungan Jawa dengan anggun pun kuat. Di atas pukulan drum yang berapi-api, marimba menjelma gambang, xylophone menjelma saron dan glockenspiel menjelma bonang. Dengan lincah mereka membunyikan melodi-melodi riang yang kaya modulasi dan disonansi. Bagian solo drum pun dihajar secara ganas di antara lembutnya nada-nada slendro.
Kemudian, nyanyian buaian “Lelo Lelo Ledung” yang sederhana disulap oleh Ryoma Fransdiarra menjadi rangkaian tekstur yang melimpah, seperti sebuah mimpi indah pada malam yang berbintang. Pada karya ini, unsur-unsur musikal Jawa terasa lebih samar. Terkadang bunyian pentatonik terdengar di antara kilauan denting mallet dan ketukan drum. Bahkan melodi utama dari lagu ini tak sempat diperdengarkan secara penuh, melainkan dikembangkan dengan cantik.
Masih mengangkat lagu tradisional yang sudah ada, lagu “Jaranan” yang biasanya digunakan untuk mengiringi pertunjukan kuda lumping kini berderap dengan gagah di atas panggung. Karya ini dibuka dengan melodi dari bass elektrik beserta kendang yang sangat khas dengan musik pertunjukan keliling itu. Kemudian gemerincing khas gamelan kembali dimainkan, semakin lama semakin kisruh. Instrumen-instrumen melodik bergantian memainkan dan memvariasikan penggalan lagu yang sudah akrab di telinga pendengar. Penampilan ini bertambah semarak ketika salah satu siswa perkusi maju ke depan untuk menari dengan kuda dari anyaman bambu itu.
Keagungan kebudayaan Jawa pada konser Mahitala ditunjukan melalui lagu “Anoman Obong”, sebuah lagu Jawa rancak atau berirama cepat yang mulanya diciptakan oleh Ranto Edi Gudel. Oleh Gabriel Penumbra, karya ini diaransemen ulang ke dalam formasi perkusi yang masif, lengkap dengan bas elektrik, sequencer dan Cyntia sebagai vokalis yang melantunkan kisah Ramayana. Sosok Anoman, Dewi Shinta dan Rahwana dihidupkan melalui musik dan tiga penari berkostum lengkap yang berakting di atas panggung. Pun gempuran perkusi tetap tak terbenamkan oleh visualisasi. Drum terus menerus menyulut api dan percikan dari mallet juga tak henti-hentinya terdengar.

Setelah serangkaian acara penutupan seremonial, Mahitala ditutup dengan lagu “Pathways” karya Marzello Putra. Tertulis pada buku program bahwa lagu ini menyuarakan sebuah perjalanan kehidupan, yang detak waktunya dibunyikan melalui gending marimba, lelahnya digelegarkan melalui simbal, dan sukacitanya disorakkan dengan getaran tremolo. Berbeda dengan lagu lainnya, “Pathways” tidak memiliki aksen Jawa. Pun rupanya hal ini disengajakan oleh Penumbra sebagai pimpinan produksi dan Marzello sebagai penata musik, untuk menunjukkan waktu yang bagaimanapun akan terus berkembang. Menurut mereka, memang begitulah alam bekerja.

Rangkaian konser Mahitala pun membuat saya merefleksikan perjalanan musik yang panjang. Mungkin musik memang akan selalu berpindah, diserap, dikembangkan, diubah lalu dapat kembali lagi dengan bentuk yang berbeda. Perlu diingat bahwa sebelum hentakan modern di panggung gemerlap dan sebelum notasi membawa dentuman yang megah di katedral, perkusi merupakan sebuah denyut yang lahir dari manusia dan tanah ia berpijak. Kali ini, Mahitala membawa denyutan itu ke rumah mereka di Yogyakarta, sehingga mengantarkan getaran yang akrab nan hangat.
Editor: Rindu Sangmesih Wijayanti
Foto sampul: Dokumentasi Bekereng
