Carta Sonare: Deck of Sounds – Permainan Kartu  Berbentuk Alunan Piano dari Clavier Student

Penulis: Azzahra Qurrata A’yun Adindya Irbah Ramadhani 

Fase bulan penuh pada hari Selasa, 31 Maret 2026, bersinar begitu terang, sejalan dengan malam yang tenang. Malam itu bersamaan dengan konser penyambutan anggota baru KKM Clavier yang terletak di Concert Hall Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Acara yang bertajuk “Carta Sonare” bertemakan permainan kartu yang begitu elegan. Terbalut dengan warna utama hitam dan merah membuat pertunjukan semakin berkesan, megah juga elegan. Acara ini  ditujukan untuk menyambut calon anggota baru KKM Clavier tahun 2025. Adapun KKM  Clavier merupakan unit beranggotakan mahasiswa piano dari lintas jurusan musik yang setiap tahunnya rutinn mengadakan apresiasi musik, begitu pun penyambutan anggota baru. 

Diri yang menanti pertunjukan ini pula tak hanya segelintir. Penulis mengmati 500 kursi yang disediakan masih kurang untuk menampung seluruhnya, memaksa mereka yang  tidak mendapat kursi untuk duduk di lantai demi tetap menonton acara ini. “Saya sampai pukul 6 sore sudah tidak kebagian kursi.” Ucap salah satu pengunjung. Open gate yang dijadwalkan pukul 17.30 ini rupanya tidak menyisakan untuk mereka yang datang 30 menit setelahnya, cukup untuk membuktikan apresiasi pengunjung terhadap “Carta Sonare”. 

Selaras dengan judul, 17 repertoar yang disajikan benar-benar ‘diacak’ berdasarkan kartu yang muncul, mempermainkan suasana dan emosi pendengar dengan karya-karya yang kontras satu sama lain. Contohnya terdapat pada sesi 1 yang menyajikan penampilan solo karya Beethoven yakni Piano Sonata in G Major op. 49 no. 2 1st movement oleh Benediktus Loverty Aradira dengan penanda 2♧ bernuansa hangat, ringan, dan komunikatif dalam bentuk sonata-allegro sederhana dilanjut dengan karya Franz Liszt berjudul Mephisto Waltz No.1,  S.154 oleh Josen Mitchel Santra, yakni musik yang penuh energi dan imajinasi, ekstrem, dan  begitu ekspresif. Alur yang terasa acak karena mengusung konsep permainan kartu sehingga audiens tetap terpacu untuk menikmati naik-turunnya suasana dalam bungkus permainan  piano. 

Mephisto Waltz No.1, S.154 oleh Josen Mitchel Santra. (Dok. Pribadi)

Meski terdapat berbagai kartu yang ditampilkan di booklet berisi daftar repertoar, ada beberapa kartu ‘Joker’ misterius yang tidak ditampilkan, salah satunya ‘Balinese Ceremonial Music: III. Taboeh Teloe’ karya Colin McPhee yang dibawakan Jehoshua Amadeus Samuel Amanta dan Adelia Naftali Andryanti. Karya ini disajikan sebagai pertunjukan dua piano. Repertoar yang menjadi bagian penutup dari tiga gerakan ‘Balinese Ceremonial Music’ ini, diaransemen pada 1934 dan 1938. ‘Taboeh  Teloe’ berasal dari musik masyarakat yang dimainkan gamelan gong gedé, merupakan gaya gamelan yang paling tua dan keras. Kartu joker yang dilekatan pada karya ini dan tanpa sinopsis dalam booklet semakin menambah kesan acak dalam “Carta Sonare”. 

Balinese Ceremonial Music: III.TaboehTeloe (Dok. Pribadi) 

Adanya musik Bali yang diaransemen untuk piano ini bagai kesegaran di tengah belasan karya piano klasik yang berkiblat Barat, menyajikan cita rasa Nusantara dalam  kemeriahan pesta “Carta Sonare” yang penuh warna berupa nada. Pakaian yang dikenakan oleh pemain juga semakin mendukung kehadiran Bali dalam musik yang tengah dibawakan. 

Keunikan lain yang disuguhkan dalam acara ini adalah sambutan baik dari ketua serta dosen pembimbing KKM Clavier ISI Yogyakarta berada di tengah dan akhir acara. Prisca Nada, M.Sn. selaku dosen pembimbing KKM Clavier ISI Yogyakarta mengungkapkan bahwa “Carta Sonare” bukan hanya mengenai pertunjukan, tapi juga hasil dari pembelajaran teman-teman Clavier selama berproses di KKM Clavier. Ia menyampaikan bahwa hal yang esensial adalah mengetahui acara dapat terealisasi hingga menghasilkan pelajaran bagi teman-teman yang berlatih dan mengupayakan semua ini hingga terlaksana. Malam itu berhasil bukan semata karena proses latihan saja, namun juga bentuk kerja keras, dedikasi, dan persiapan para pianis Clavier, terutama tunas muda yang kini resmi menjadi bagian dari keluarganya. Mereka siap bertumbuh bersama Clavier Student, mempersembahkan karya-karya yang menginspirasi di kemudian hari.  

Sambutan oleh dosen pembimbing KKM Clavier Prisca Nada, M.Sn. (Dok. Pribadi)

Tak selesai di situ, terdapat sesi tanya jawab dengan hadiah menarik seperti produk kecantikan dan parfum yang membuat kemeriahan acara tak berakhir begitu pertunjukan selesai. Hal ini pula yang membuat audiens semakin mengingat “Carta Sonare” dalam benak seusai acara. Keadaan panggung begitu penuh, ketika keluarga, teman, serta kolega dari  pemain berhamburan menghampiri untuk mengucapkan selamat maupun berfoto bersama. Senyum dan tawa memenuhi ruangan sampai-sampai baru disadari sudah pukul 22.30 dan penulis segera kembali pulang untuk menulis liputan ini. 

Di balik kemeriahan tersebut, tetap ada beberapa hal yang perlu dijadikan evaluasi,  terutama pada peraturan selama pertunjukan. Di tengah permainan Mephisto Waltz No.1  yang sudah disinggung sebelumnya, terdapat seorang anak kecil yang menangis cukup  kencang, mengalihkan perhatian sebagian besar penonton. Walau begitu, panitia dengan tanggap menambah peraturan untuk minimal usia penonton adalah 5 tahun.  

Serta menengok konser Clavier untuk angkatan baru tahun lalu, venuenya mengalami perubahan, pun kuratorial yang diusung. Dalam artikel Arini (2025), Clavier saat itu menggelar konser bertema sinestesia dan di ruang kecil yakni Audiotrium Sekolah Musik Kawai. Ada eksplorasi baru melihat warna-warni spektrum warna dapat dibahasakan lewat musik yang representatif, menyimpan pesan mendalam dan juga personal bagi tiap pianisnya. Berbeda dengan tahun ini, Clavier mencoba lebih sederhana sebagaimana melangsungkan resital biasa. Belum ada sesuatu yang begitu kuat untuk dibawa pulang melebihi sekadar pelaksanaan konser yang ditunaikan. Barangkali ini bisa menjadi catatan untuk ke depannya. Namun begitu, konser ini tetap menjadi kenangan bagi para pianis yang baru bergabung, juga membawa kehangatan melihat kerja sama tim yang terjadi.

Sebagai penutup, “Carta Sonare” tak hanya menampilkan pertunjukan piano klasik  oleh mahasiswa KKM Clavier ISI Yogyakarta untuk audiens, tapi juga mejelma sebagai  tempat anggotanya untuk bertumbuh bersama, menyiapkan konser sebagai salah satu hasil pembelajaran yang bermanfaat bagi semua.

Editor: Lintang Pramudia Swara

Foto sampul: Dokumentasi Clavier

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *