Candramawa: Setiap Kita Punya Ritma Tuk Tumbuh Lebih Baik

Penulis: Vinda Angguna Alya Hawa Cinta

Sore itu menguncup, Jogja sedang rajin hujan akhir-akhir ini, seolah langit ingin bercerita lewat tiap rintikannya. Namun, deras itu tak jua melunturkan niatku untuk tetap melangkah menuju Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta—menyambut malam yang akan dipersembahkan oleh kakak-kakak tingkatku dalam sebuah panggung yang penuh oleh cahaya, kenangan, dan cerita. 

Aku datang sedikit terlambat. Di dalam, suasana telah tenang, dan saat aku duduk, terdengar suara Kinanti Sekar, pemilik sanggar, mengalir lembut memberi sambutan. Ucapannya penuh kasih, seperti pelukan pertama setelah perjalanan jauh. Membersamai sesi sambutan, terhampar sebuah dunia kecil yang begitu akrab—dekorasi pohon-pohon mungil, rumah-rumahan sederhana, kursi kayu, hingga boneka. Semua tampak seolah diambil langsung dari kanvas lukisan anak-anak.

“Candramawa” adalah sebuah pentas seni yang lahir dari kolaborasi hangat antara “Ritmadaya” mahasiswa Prodi Musik ISI Yogyakarta semester 6 Angkatan 2022 melalui Program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) Proyek Independen bersama Sanggar Seni Kinanti Sekar. Kolaborasi yang menandai pertemuan kreatif dan sinergi yang tak sekadar menampilkan karya, tapi juga merayakan proses, pertemanan, dan cinta pada seni. 

Ritmadaya merupakan nama proyek yang diusung oleh tim MBKM dari Program Studi Musik angkatan 2022 yang menggabungkan dua unsur, yaitu ritma yang berasal dari kata ritme, menggambarkan pola teratur dalam musik, gerak, maupun kehidupan dan daya yang berarti kekuatan atau energi. Jika digabungkan, Ritmadaya mencerminkan semangat akan kekuatan ritmis dan energi yang mengalir harmonis dalam keteraturan. Nama ini merepresentasikan keseimbangan, kreativitas, serta daya tahan yang hadir dalam perjalanan bermusik dan menjalani kehidupan. Tajuk konser malam ini pun melingkupi esensi yang sama, “Candramawa” memiliki makna hitam bercampur putih, simbol harmoni dan keseimbangan dalam kehidupan.

Lampu-lampu mulai dimatikan, acara dimulai dengan suara lembut yang terdengar dari kejauhan. Narasi itu sesekali disampaikan dari sudut pandang orang pertama dengan kata “aku” dan terkadang berganti menjadi sudut pandang orang ketiga, membingkai cerita dengan warna yang berbeda. Pentas ini menghadirkan kisah perjalanan seorang gadis bernama Ritma dari masa kecil hingga beranjak dewasa lewat perpaduan yang selaras antara seni musik, tari, dan teater. 

Adegan pertama dibuka oleh ayah dan ibu yang tengah menggendong Ritma, mengantarkannya untuk melihat dunia pertama kali. Kian berjalannya waktu, Ritma tumbuh menjadi gadis kecil yang riang gembira, disambut oleh teman-temannya dengan semangat menari dan bermain diatas panggung diiringi lagu “Sahabat Anak” gubahan bapak pardiman Djoyonegoro Guntur Nur Puspito yang malam itu turut hadir menyaksikan pertunjukan dari bangku penonton. 

Ritma dikelilingi oleh teman-teman sepermainan yang ceria. Hari-harinya selalu diisi dengan tawa dan permainan bersama, dari “Cublak-Cublak Suweng” hingga “Padhang Bulan.” Adegan ini menampilkan anak-anak sanggar yang menari dengan lincah, dibalut pakaian daerah yang semarak, menciptakan suasana riang penuh warna khas masa kanak-kanak.

Senja mulai merayap. Ayah datang menjemput Ritma pulang. Dengan tawa yang lepas, Ritma melompat naik ke punggung ayah, seolah sedang menunggang motor, membelah angin sore dalam pelukan yang paling aman di dunia. Tampak pemain musik dari tim MBKM Ritmadaya perlahan naik ke atas panggung dengan instrumen digenggaman masing-masing, seperti flute, clarinet, violin, cello, gitar electric, bass electric, keyboard, dan Drum. Sementara itu, di sudut panggung, Ritma duduk bersama ayah dan ibu di atas bangku kayu sederhana. Obrolan kecil mereka mengalir hangat, ringan, penuh keintiman yang tak selalu butuh kata-kata.

Musik mulai mengalun. Suara violin membuka suasana, lembut dan menyentuh, mengisi intro lagu “Harta yang Paling Berharga” memeluk pendengar dengan melodi penuh harap dan kenangan. Dinyanyikan oleh sepasang suara, Lazer dan binandari, yang saling bersahutan seperti gema hati dan ingatan. Momen ini seperti bingkai dari masa yang paling indah, kebersamaan dan kasih yang sederhana. 

Suara tepuk tangan mengantarkan ibu kembali ke atas panggung, ia duduk di kursi kayu, tenggelam dalam bacaannya. Tak lama, Ritma muncul. Seragam sekolah masih melekat, tapi semangatnya sudah meloncat ke halaman, ingin bermain bersama teman-teman. Namun, tak selamanya pelangi menghiasi langit, Ritma diolok karena boneka nya berbeda dengan yang teman-teman lain miliki. Katanya, “Bonekanya lusuh, jelek, dan keras.” Tapi Ritma berusaha menguatkan diri, ini boneka kesayangannya, hadiah ulang tahun dari ayah dan ibu. Tawa teman-teman kian menjauh, meninggalkan Ritma sendirian. Ada sedih yang mengendap di dadanya, Ritma menunduk dan berjalan pulang sambil memeluk bonekanya lebih erat.

Di rumah, Ritma bercerita pada Ibu tentang teman-teman yang mengolok-olok bonekanya. Ibu terdiam sejenak, alisnya menaut, matanya ikut merunduk dalam sedih. Dengan suara pelan, Ibu meminta maaf karena belum bisa membelikan boneka baru yang lebih cantik. Tapi Ritma menggeleng, lalu mendongak menatap Ibu. Tidak perlu. Baginya, boneka itu sudah lebih dari cukup. Itu hadiah dari Ayah dan Ibu, dan ia tahu betul perjuangan mereka. Meski masih kecil, Ritma mengerti bahwa cinta tak selalu dibungkus dengan yang baru atau yang mewah. 

Suara cello menelisik masuk, diikuti violin dan keyboard. Mengantarkan lagu “Lihatlah Lebih Dekat” bersenandung diudara seperti bisikan hati yang terluka namun penuh harap, mengurai kesedihan perlahan, sambil membalutnya dengan kelembutan cinta yang tak terlihat. Ritma berdiri di tengah ruang, ia mulai menari. Lirik itu menyusup, menyatu dengan gerak. Ritma menatap bonekanya, langkah ringan mengikuti irama. Putaran kecil, lompatan halus, seolah dunia mengecil, hanya dia dan boneka kesayangannya. 

Narasi kembali menggema, menandakan waktu yang terus berjalan. Ritma yang dahulu kecil beranjak tumbuh menjadi gadis remaja. Di tengah ruang yang hening, gadis kecil berseragam putih merah itu berhadapan dengan sosok remajanya yang terbalut seragam putih abu-abu. Keduanya berdiri berdampingan sejenak, sebuah jembatan antara masa lalu dan masa depan, sebelum Ritma kecil perlahan menghilang, meninggalkan Ritma remaja yang kini berdiri sendiri.

Semakin dewasa, langkah terasa semakin berat, karena beban pun ikut tumbuh bersama usia. Ayah dan Ibu tampak gelisah. Suara mereka pelan, tapi nadanya tajam, terbata, sesekali meninggi. Ayah mondar-mandir sedangkan ibu berusaha menenangkan. Wajah mereka penuh tanda tanya yang tak sempat dijelaskan. Ritma berdiri di ambang pintu, memandang dari jauh. Ia tak sepenuhnya mengerti, tapi tahu bahwa ada sesuatu yang tidak benar. Jantungnya ikut berpacu. “Pindah ke luar kota?” ia tidak siap pindah sekolah. Dunia Ritma yang selama ini ia kenal terasa goyah. Bayangan ruang kelas, teman-teman, bahkan sudut rumah yang selama ini terasa aman, tiba-tiba tampak asing.

Awan kelabu hinggap dalam hati Ritma. Lewat lagu “Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat” Audina bernyanyi seperti rintik hujan yang semakin deras. Segalanya berubah terlalu cepat. Ritma belum siap, belum sempat bernapas, belum selesai berpamitan dengan masa kecilnya. Kakinya ikut berlari, tapi jiwanya tertinggal. Tanpa sadar, aku menitikkan air mata. lagu itu terus berderu, seperti kereta yang tak bisa dihentikan. Dan aku yang duduk terpaku di bangku penonton ikut terbawa pergi bersamanya.

Ritma berjalan gontai, Seragam putih abu-abunya tampak rapi, tapi tak bisa menyembunyikan kegugupan yang diam-diam menggulung di dalam dada. Ia sudah benar-benar pindah sekolah. Asing, dan penuh wajah yang belum ia kenal. Tiba-tiba terdengar suara bisikan dari sudut ruangan. “Itu kan anak kampung yang pindah karena bapaknya bangkrut.” Ritma menoleh. Beberapa siswi menatapnya sambil mencibir. Mereka berjalan mendekat, bukan untuk menyapa, tapi untuk memamerkan tas bermerek dan ponsel terbaru. 

“Eh, ikut yuk, kita mau pergi ke mall.” Nada suara mereka terdengar ramah di permukaan, tapi ada geliat lain di baliknya. Ritma ragu, tapi akhirnya memutuskan untuk ikut walau hatinya dipenuhi seribu tanya. Di dalam mall, mereka melenggang dengan percaya diri masuk ke butik-butik mahal. Baju demi baju mereka coba, sesekali menoleh ke arah Ritma, yang berdiri kaku, merasa terpinggirkan. Mereka tahu, mereka sengaja. karena Ritma tidak akan mampu membeli apa pun. 

Setibanya di rumah, ayah marah karena Ritma pulang terlalu larut. Tapi Ritma sudah terlanjur penuh. Hari yang melelahkan, ejekan yang membekas, dan rasa asing yang menumpuk di dada. Amarah ayah jadi percikan yang menyulut ledakan. Semua yang selama ini ia pendam akhirnya membuncah. Rasa kesal karena tak pernah dimengerti, kecewa karena hidupnya tak pernah seperti orang lain. Kenapa ia harus selalu menyesuaikan diri? Kenapa ia harus terus bersabar?

Emosi ayah makin meluap, tangannya mengepal, dan rahangnya mengeras, “Berani ngelawan ya kamu sekarang sama ayah, ibu. Coba ngertiin sedikit keadaan keluarga kita sekarang, Ritma.” Emosi keduanya tersulut dengan cepat. Suara meninggi, nada menajam, kata-kata meluncur lebih dulu sebelum sempat dipertimbangkan. Hanya benturan ego, luka lama, dan harapan yang tidak pernah sama. Ayah menunjuk arah yang ia anggap benar, tetapi Ritma hanya melihat tuduhan, sedangkan Ritma mencoba menjelaskan perasaannya, tapi yang terdengar di telinga ayah hanya pembangkangan. Tanpa aba-aba, Ritma berbalik. Memilih untuk pergi, meninggalkan ayah dengan suaranya yang menggantung di udara dan tidak pernah sampai ke telinga anaknya. “Ritma! Jangan kurang ajar, ayah belum selesai bicara.”

Usai pertengkaran itu, ayah duduk di kursi dengan pikirannya yang masih bergaduh. Ibu menggenggam tangan ayah, sembari menenangkannya. Mereka heran mengapa semenjak pindah, Ritma jadi berubah, sering meminta ini-itu, dan bermain hingga larut malam.    

Ritma terduduk sendirian di ruang yang remang. Tubuhnya membungkuk, kedua lengannya memeluk diri sendiri. Matanya tertutup rapat. Namun, di dalam kepalanya, dunia tetap riuh. Suara-suara datang serempak, saling tindih dan tak beraturan. Ejekan teman, bentakan ayah, dan bayang-bayang ketidakpastian terus menghantui. Semuanya membentuk pusaran yang tak kunjung reda, menghantam dinding pikirannya berulang kali. Kepalanya berdenyut. Dadanya terasa sesak. Seolah segalanya bisa meledak kapan saja.

Di antara kekacauan itu, alunan musik menyambar. Lagu “Takut Tambah Dewasa” menyelinap dan menyayat tubuh Ritma. Ia mulai bergerak tak beraturan, seolah terjebak dalam ruang sempit yang perlahan mengecil. Sejak keadaannya berubah, Ritma tumbuh menjadi pribadi yang melankolis, jiwanya mudah tersentuh dan hatinya mudah goyah oleh ucapan orang-orang di sekitarnya. 

Lewat tariannya, Ritma menjerit dalam diam. Tangannya menari tak bebas, kadang seperti terbentur dinding tak kasat mata. Kakinya menyeret, lalu melompat dalam keterpaksaan, seakan hendak melarikan diri namun terikat oleh rantai yang tak terlihat. Musik berakhir dengan pekikan tajam dari Ritma, teriakan yang pecah seperti retakan dalam keheningan. Suasana menegang, udara terasa padat oleh emosi yang meluap. Perlahan, cahaya panggung meredup, menunduk pada kepedihan yang baru saja ditumpahkan.

Ada jeda sesaat setelah pertunjukan yang memukau itu berakhir, seperti helaan napas panjang yang menandai akhir dari sebuah mimpi buruk. Lalu, perlahan, gemuruh tepuk tangan pun pecah memenuhi ruang konser. lalu terdengar lagu “lukisan waktu” Tercipta khusus dari Rado untuk Ritmadaya, sebagai pimpinan produksi konser “Candramawa” Rado berkontribusi besar dalam mengaransemen lagu yang disajikan pada malam itu.  

“Lukisan Waktu” hadir sebagai alunan yang mengiringi jalannya pertunjukan. Isinya merangkum keseluruhan cerita yang dikisahkan, tentang perjalanan hidup seseorang dari masa kecil hingga dewasa. Nuansa kerinduan akan pelukan masa lalu berpadu dengan cermin-cermin refleksi diri, menjadikan lagu ini semacam perjalanan batin yang lirih dan dalam. Dalam bait-baitnya, Arini menulis kisah tunas yang mekar: tentang bagaimana jiwa diuji, tentang pentingnya bertahan kala badai datang, dan tentang menerima lembaran-lembaran yang telah usang tanpa menyesali tinta yang pernah tumpah. 

Seiring musik berdesir, Ritma berjalan sambil membawa sebuah kotak berisi boneka dan kenangan lama nya. Ia menatap dan bermain dengan bonekanya. Ingatan-ingatan indah bersama teman teman semasa kecil kembali muncul, hangatnya suasana dan kasih ayah ibu membuatnya mengingat betapa waktu telah berjalan. Rasanya seperti menyaksikan hujan yang jatuh di bawah cahaya matahari: langit yang menangis namun tetap bersinar. Sebuah momen yang mengingatkan bahwa setelah gelap, selalu ada terang.

Di tengah panggung yang mulai hening, Ritma duduk seorang diri, masih memandangi bonekanya, seolah berbicara dalam diam kepada masa kecil yang perlahan menjauh. Lalu, dari sisi panggung, kedua orang tuanya perlahan menghampiri. Langkah mereka tenang, namun penuh arti, seperti waktu yang datang menjemput dengan lembut.

Ayah menatap Ritma dengan mata teduh, sementara Ibu tersenyum, menyimpan haru di balik ketenangan wajahnya. Ibu meminta maaf karena belum bisa mengerti Ritma, ibu selalu berusaha dan masih belajar menjadi seorang ibu yang baik. Di sampingnya, Ayah turut hadir membawa beban rasa bersalah yang mendalam. Ia menyadari belum mampu mengendalikan amarah dan terlalu sering menekan Ritma dengan ekspektasi yang tinggi. Dalam keheningan yang penuh arti, Ritma pun ikut mengakui kesalahannya sendiri. Dengan hati terbuka, ia berjanji untuk menjadi anak yang lebih pengertian dan berusaha lebih baik. Di tengah pelukan yang hangat, mereka bertiga menyatukan hati, saling memaafkan, dan membuka lembaran baru dalam perjalanan bersama.

Lalu, suara yang hangat itu kembali terdengar. Narasi kembali dibacakan mengiringi jejak langkah Ritma yang tengah menapaki pencarian jati diri, yang kadang masih goyah tertiup angin.  Perjalanan hidup penuh dengan tantangan dan tidak selalu berjalan mulus seperti yang diharapkan. Hidup terkait erat dengan waktu—masa lalu, masa kini, dan masa depan, terkadang membawa kesedihan, namun juga ketenangan. Meski dipenuhi berbagai kesulitan, kita harus terus melangkah dan menjalani hidup dengan penuh kasih agar bisa berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Serta kalimat terakhir yang masih tertanam dihatiku dan para penonton, “Kendati terasa penuh akan hiruk pikuk. Tetaplah merapah masa penuh akan kasih, tuk tumbuh lebih baik.”

Seluruh pemain musik, yang juga merupakan bagian dari tim MBKM Ritmadaya, naik ke atas panggung dengan penuh keyakinan. Di bawah sorot lampu, mereka menyuguhkan lagu “Nina” sebuah komposisi yang sejak awal sudah mencuri perhatian, bahkan sebelum tirai konser ini terbuka. Lagu yang kerap hadir dalam unggahan media sosial Ritmadaya itu, perlahan tumbuh akrab di telinga ku dan semakin lekat di hati.

Annabel Kayla membawakan lagu ini dengan kekuatan vokal yang megah, namun tetap sarat makna. Suaranya menembus ruang dan menyentuh nurani, menyampaikan semangat dan emosi yang mengalir jujur dari setiap bait. Seisi ruangan seakan ikut larut, seperti ditarik kembali menelusuri jejak-jejak perjalanan Ritma; jalan yang tak selalu mudah, namun dipenuhi keberanian untuk terus tumbuh. Lagu ini menjadi semacam pengingat, bahwa dari rintangan yang menggores pun, seseorang tetap bisa tumbuh dengan indah.

Sebagai penutup, lagu “Melompat Lebih Tinggi” meledak di udara. Lagu ini menjadi momen puncak, bukan hanya menutup cerita, tapi juga merayakan kebersamaan, pertumbuhan, dan keberanian untuk terus melangkah. Seluruh vokalis tampil bersama, saling menyambut dalam nyanyian yang penuh energi. Interaksi di atas panggung terasa hangat dan menghidupkan suasana, membuat penonton ikut terbawa dalam semangat yang dibagikan dari panggung.

Lagu ini seperti simbol bahwa setelah semua perjuangan, ada harapan baru yang menanti. Musiknya penuh ritme dan semangat, mencerminkan bagaimana Ritma akhirnya bisa menerima perjalanannya dan siap menatap ke depan. Menjelang akhir, para pemain dan penari dari Sanggar Seni Kinanti Sekar naik ke atas panggung. Mereka ikut menari, melompat, dan merayakan.

Secara musikal, konser ini memadukan kekuatan komposisi dan aransemen dengan emosi yang terjaga. Setiap instrumen mengisi ruang narasi tanpa mendominasi. Puan Biru dan Tiara di balik piano mengalirkan harmoni yang halus namun dalam, sementara Rizka dan Herjuno menghadirkan melodi dan rhythm gitar elektrik. Rado di bass elektrik menopang ketukan, dan Julian di drum memberi denyut kehidupan yang konstan dan kuat. Pada sisi string, Sharikha, Arini, dan Arwina menciptakan lapisan suara yang melankolis dan menyentuh. Dika dan Annabel dari tiup kayu membawa nuansa lembut yang nyaris seperti bisikan angin. Sementara vokal, Lazer, Dea, Annabel, Audi, dan Binandari menyuarakan kisah Ritma dengan warna dan energi yang berbeda-beda, saling bersahutan dan saling melengkapi, menciptakan resonansi yang tidak hanya terdengar, tetapi juga terasa.

Kekuatan pertunjukan ini justru terletak pada keintiman yang berhasil dibangu. Penonton tidak hanya menyaksikan cerita Ritma, tapi ikut merasakannya. Alur yang dibangun “Candramawa” terstruktur dengan baik, membawa penonton menyelami lapisan-lapisan perjalanan emosional Ritma tanpa terasa terburu-buru. Pergantian antara teater dan musikal memang tampak memberi sedikit ruang jeda. Hal ini wajar, mengingat para pemain musik menangani pengaturan audio mereka secara mandiri, tanpa dukungan teknis dari kru khusus.

Para penari Sanggar Kinanti Sekar adalah anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah, tampil dengan kemampuan yang mengesankan. Meski usia mereka masih belia, setiap gerak yang dibawakan sarat akan ketulusan dan kepekaan emosional. Tak satu pun gerakan atau ekspresi terasa kaku. Penonton pun dibuat larut, ikut merasakan apa yang coba mereka sampaikan melalui tarian. 

Hagia berperan sebagai Ritma kecil ternyata masih duduk di bangku kelas 4 SD tampil begitu menggemaskan sekaligus memukau. Di balik tubuh mungilnya, tersimpan keberanian dan ketulusan yang jarang dijumpai. Sebuah kejutan manis yang membuat banyak mata tak ingin lepas memandang. 

Tokoh Ritma remaja begitu pas diwujudkan oleh Gendhis. Lewat tariannya yang lembut dan memesona, ia seolah menjelma menjadi peri yang menghidupkan panggung. Meski penuh tantangan, Gendhis mampu menerjemahkan makna dengan begitu halus, hingga tiap geraknya terasa sampai ke hati mereka yang menyaksikan. 

Gendhis, Hagia dan anak-anak lainnya memiliki kedekatan yang hangat dengan tim MBKM Ritmadaya. Keduanya mengaku banyak terbantu dan dibimbing sepanjang proses pertunjukan. Momen perpisahan pun terasa haru terutama bagi Hagia, yang tampak menyimpan kesedihan saat mengetahui bahwa para kakak dari MBKM tidak lagi akan bersama mereka di sanggar selepas konser. Meski demikian, terselip harapan semoga jejak pertemuan ini membuka jalan untuk perjumpaan kembali di lain waktu.

Di balik kegelapan, transisi menuju encore sempat tersendat. Persiapan di balik panggung belum rampung, menciptakan jeda yang terlalu panjang bagi penonton. Beberapa penampil masih bersiap. Penonton terpaksa menunggu dalam ketidakpastian. Momen ini, yang seharusnya mengantarkan antusiasme menuju klimaks terakhir, justru menjadi ruang hampa.  Waktu pun terasa berjalan lambat, membiarkan energi yang sudah dibangun perlahan mereda. Ini menjadi catatan penting: transisi, sekecil apa pun, menyimpan daya untuk menjaga atau justru mengganggu ritme keseluruhan. Koordinasi yang lebih presisi di momen ini akan sangat mendukung kesinambungan dramaturgi pertunjukan.

Acara ditutup dengan encore penuh kejutan dari tim MBKM Ritmadaya, yang membawakan tarian-tarian daerah dalam balutan kain tradisional yang beragam. Iringan medley lagu-lagu daerah menghidupkan suasana, sementara gerak penuh semangat para penari menyulut tepuk tangan hangat dari penonton. Para dosen tampak bangga, bahkan terkesima, siapa sangka, para mahasiswa dari jurusan musik pun mampu menari dengan begitu luwes dan penuh semangat.

Dalam dunia pertunjukan, drama musikal merupakan bentuk seni lintas medium yang menuntut kerja kolaboratif dan harmonisasi antar disiplin: teks, musik, akting, dan tari bersatu membentuk satu narasi utuh. Ia bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman total yang menggugah indera sekaligus merawat imajinasi.

Di tengah ruang kreatif yang terus berubah, gagasan untuk mewujudkan drama musikal muncul dari Mahasiswa Prodi Musik ISI Yogyakarta Angkatan 2022 yang ingin mencoba hal baru, kolaborasi dengan sanggar tari ini bisa menjadi pintu untuk menjelajah hal-hal yang lain diluar musik dan juga sebagai wujud keikutsertaan mahasiswa dalam pelestarian seni. Dengan menambahkan narasi ke dalam pertunjukan, pesan yang ingin dibagikan dapat lebih mudah diterima dan menyentuh penonton secara langsung, terutama anak-anak yang menjadi fokus utama dalam pertunjukan ini. Lewat tarian yang dibawakan oleh anak-anak, alur cerita yang sesuai usia, serta iringan musik yang menyatu. Drama musikal menjadi wahana untuk menyampaikan nilai-nilai untuk tumbuh lebih baik.

Tak dapat dipungkiri, dalam proses ini muncul berbagai tantangan teknis. Namun justru di situlah letak keberaniannya, dengan pengalaman teknis panggung yang terbatas, para mahasiswa memilih bertanggung jawab atas produksinya. Alih-alih menjadikan keterbatasan sebagai penghalang, mereka menjadikannya sebagai ruang belajar bersama, menyatukan semangat eksperimentasi dan kepedulian terhadap bentuk seni pertunjukan yang kini kian jarang muncul.

Semua ini merupakan hasil kerja kolektif yang tidak lepas dari kontribusi tiga peran utama di balik layar: Arini ‘Ilmal Haqqi sebagai penulis naskah yang menyusun alur cerita yang relevan, Rado Jaya sebagai penata musik yang mengatur iringan serta aransemen secara menyatu dengan adegan, dan Annabel Kayla sebagai sutradara yang mengarahkan jalannya pertunjukan agar setiap elemen berjalan selaras. 

“Candramawa” berjalan berdampingan di setiap fragmen hidup yang dipentaskan. Ruang bersama tempat luka, harap, dan cinta dirayakan tanpa takut dihakimi. Ia menghadirkan kisah-kisah yang dekat dengan kita, tentang pencarian, kehilangan, dan keberanian untuk kembali berdiri. Ketika tirai akhirnya ditutup dan lampu panggung padam, satu hal tetap menyala di hati bahwa setiap kita punya “Ritma” dalam diri, yang terus belajar berdamai, tumbuh lebih baik, dan melompat lebih tinggi. Malam itu, Yogyakarta kembali membuktikan bahwa seni adalah bahasa yang paling manusiawi untuk saling memahami.

Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: Tim Dokumentasi Ritmadaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *