Penulis: Arinii ‘Ilmal Haqqi
Rinai bulan menghangatkan cuaca malam itu. Tepat pada hari Selasa, 3 Juni 2025, bertempat di Auditorium Sekolah Musik Kawai, Jl. Supadi No.9, Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, konser bertajuk Varichiavi diadakan dengan suasana yang intim. Pasalnya, auditorium tersebut hanya dapat menampung 102 orang saja. Para penonton perlu melakukan reservasi terlebih dahulu untuk menonton pertunjukan konser piano yang digelar oleh para anggota KKM Clavier angkatan 24 tersebut.
Piano diletakkan di tengah sisi, menghiasi panggung minimalis. Sejak pukul 18.00, penonton sudah mulai memenuhi kursi yang tersedia pada baris ketiga hingga baris terakhir. Tepat pada pukul 19.00 acara pun dimulai, MC membuka acara dan menyambut hangat para penonton.
Konser ini merupakan konser yang diadakan rutin oleh Kelompok Kreatif Mahasiswa (KKM) Clavier setiap tahunnya. KKM Clavier beranggotakan mahasiswa ISI Yogyakarta dengan mayor studi piano. Tak hanya berfungsi sebagai ruang pembelajaran musik piano, namun Clavier juga merupakan sarana belajar untuk berorganisasi, salah satu contohnya ialah pada konser pertunjukan Varichiavi sebagai salah hasil pembelajaran dari KKM Clavier angkatan 2024. Pada konser ini, tak hanya angkatan 2024, terdapat perwakilan pada tiap angkatan 2021, 2022 dan 2023 untuk berpartisipasi menjadi penampil.

(Gambar 1.1 MC membuka acara konser)
Varichiavi itu sendiri merupakan gabungan kata dalam bahasa italia yaitu vari dan chiavi. Vari berarti berbagai atau beragam dan chiavi yang memiliki arti kunci-kunci. Konser Varichiavi mengangkat konsep independen dimana para pianis ingin menunjukkan pandangan dari setiap karakter individu lewat karya yang disajikan. Selain itu, Varichiavi terinspirasi dari konsep sinestesia, di mana warna tidak hanya muncul dari apa yang kita lihat namun juga dari apa yang dapat dirasakan melalui indera pendengaran. Dengan membawa aspek pluralitas indera, Varichiavi menyajikan visualisasi warna melalui musik. Perpaduan antara konsep independen dan sinestesia membuat Varichiavi seolah-olah menjadi kunci untuk membuka pintu imajinasi. “Karena kekaguman kami pada synesthesia music, maka dari itu pada kesempatan debut konser kali ini bertajuk Varichiavi: Finding Colors Trough Music.” Papar Valen sebagai ketua pelaksana.
Penonton turut hikmat menikmati jalannya pertunjukan, dibuka dengan permainan dari Bryan Christoper dengan karya yang dibawakan yakni Prelude and Fugue in C Major, BWV 846 oleh J.S Bach. Cahaya hijau terpancar dibalik piano yang dimainkan oleh Bryan, terlihat tenang pada awal permainan lalu perlahan muncul melodi yang ramai pada bagian akhir, melodi kontrapung yang berlawanan namun terdengar harmonis. Selanjutnya melompat dari era Barok, karya Rondo Alla Turca atau Turkish March oleh Wolfgang Amadeus Mozart sang komposer mereplika suara terompet yang terinspirasi dari marching band Turki yang sempat dimainkan di Vienna. Karya dibawakan dengan manis dengan pancaran warna hijau masih terpancar di balik piano dan sang pianis, Eduardo Oktovianda.

(Gambar 1.2 Roma Riandini memainkan karya Frederic Chopin)
Karya ketiga yang dimainkan merupakan karya era Romantik dari Frederic Chopin yakni Nocturne in C Minor No. 21. Nocturne berartikan musik malam. Jari jemari Roma Riandini si pianis, melukiskan melodi yang lembut memanjakan telinga para penonton. Pianis seakan menggambarkan keindahan malam, dengan kostum putih yang bercahaya kekuning-kuningan dan cahaya biru dibalik ia dan pianonya.Nocturne ini bak senandung seorang gadis yang tengah menari di bawah cahaya bulan yang terang.

(Gambar 1.3 Dimainkan format fourhands karya Tchaiskovsky – Swan Lake)
Masih pada karya dari era romantik, karya Swan Lake gubahan Pyotr Ilyich Tchaikovsky dibawakan dengan format four hands. Karya ini berkisah tentang dunia romansa yang tak hanya memiliki keindahan namun juga terdapat kilasan duka yang turut menghiasi. Kedua pianis, Harmony Aulia Keisha dan Nadia Fibriani membawakan karya ini terlihat lebih berwarna selain hitam dan putih pada kostum yang mereka kenakan, pantulan cahaya di balik piano seakan memperlihatkan permainan warna pada setiap sentuhan melodi yang dibawakan.
Selanjutnya karya opera era Klasik Queen of The Night Aria gubahan Wolfgang Amadeus Mozart dimainkan dengan format piano solo oleh David Cristian. Menggambarkan kemurkaan sang ratu dengan latar malam bulan purnama. Setelah itu, ketenangan tercipta melalui permainan Najwan Ra’if dengan karya Waltz Op. 64, No. 2 in C-sharp Minor gubahan Frédéric François Chopin. Romansa, ketenangan terlihat seperti warna hijau yang terpancar dibalik piano.
Konsep independen pada konser ini membawa kembali pada era Barok, dibawakannya karya Invention No. 8 in F Major, BWV 779 – Johann Sebastian Bach melalui jemari Benediktus Loverty. Melodi yang berlawanan menggambarkan adanya keseimbangan dikarenakan keharmonisannya. Lalu karya Impromptu Op. 31, No. 2 in F gubahan Gabriel Fauré dibawakan dengan elegan oleh Adelia. Emosi lirih disampaikan melalui permainannya, seperti senja yang mengaburkan batas terang dan gelap cahaya biru dan putih terpancar pada tiap melodi.
Setelah berkelana melompati berbagai era, karya modern gubahan komposer asal Jepang, Yiruma bertajuk I’m Just A dibawakan oleh Diany Alexandra. Pada karya ini komposer ingin mengajak para pendengarnya untuk menyusuri perjalanan batin tentang seseorang yang sedang mencari makna keberadaan dirinya. Melodi manis yang sederhana melambangkan penerimaan keadaan diri, mencari kebebasan untuk menjadi apa saja atau bahkan tidak menjadi apa-apa. Putih dan biru seakan-akan terpancar menemani tiap tuts yang menari membentuk keselarasan melodi.
Di tengah ketenangan penonton, segaris cahaya biru menemani tiap dentingan dari sentuhan Ester Tifanifilinia. Melalui penampilannya karya Sonatine : Third Movement. Animé gubahan Maurice Ravel modulasi dimainkan dengan lembut setenang cahaya biru dibalik piano.
Warna merah terpancarkan bak teriakan kemarahan, Marche Slave karya Pyotr Ilych Tchaikovsky dimainkan dengan format fourhands oleh Benediktus loverty dan Achmad Afriz. Karya ini diaransemen ulang oleh Benediktus Loverty. Karya gubahan Tchaiskovsky ini diambil dari lagu-lagu rakyat Serbia, untuk menggambarkan perlawanan.
Selanjutnya, warna kemarahan berubah kembali tenang, karya terkenal Johann Pachelbel- Canon in D dibawakan dan diaransemen ulang oleh pianis Debora Fransiska menjadi Canon in C into A Minor. Menggambarkan perjalanan sebuah hubungan, modulasi tercipta menggambarkan dinamika kompleks dari kisah sebuah hubungan. Lalu dimainkannya Nuvole Bianche -Ludovico Einaudi oleh Jeunessa melodi terlihat menari dengan rapih dan menenangkan. Ketenangan melompat menjadi melodi-melodi kontras dari karya Fragmen yang digubah oleh Jaya Suprana. Valencia Laprita, memainkan dengan lincah. Melodi-melodi pentatonis terdengar jelas.
Keanggunan harmoni terwujud pada penampilan fourhands dari Puan Biru dan Leticia Novanna. Primavera, Pièce Romantique Op. 55 No. 1 karya gubahan komponis perempuan, Cécile Chaminade membawa penonton larut kedalam permainan duet piano yang dibawakan. Seakan-akan terhipnotis, terlihat anggun, dan harmonis. Primo yakni bagian melodi nada tinggi dan seccondo bagian melodi nada rendah terdengar selaras dan saling melengkapi.
Konser Varichiavi ditutup oleh Jehoshua Amadeus dengan karya Sonata Op.2, No. 1 in F Minor – Ludwig Van Beethoven. Seakan menuai seluruh emosi, cahaya merah di balik pianis dan pianonya.
Imaji seakan-akan tercipta, konsep sinestesia yang dijelaskan saat sebelum konser dimulai secara tidak langsung mengajak penulis untuk berimajinasi selama konser berlangsung. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh penulis, dilansir dari Goenawan,Leonardi Armando (2025) pada artikel dengan judul “Mengenal Synesthesia, Ketika Suara Memiliki Warna”, sinestesia merupakan fenomena neurologis. Otak dapat mengolah data dalam bentuk beberapa indera sekaligus. Salah satu contoh ialah, sinestesia suara ke warna atau dapat disebut juga dengan chromesthesia. Penulis mencoba mengaitkan konsep warna dengan permainan yang disajikan pada tiap repertoarnya. Penulis berimajinasi seakan dapat melihat warna yang tercipta pada tiap-tiap repertoar yang disajikan.

(Gambar 1.4 Dokumentasi para penampil, MC serta Dosen yang hadir pada acara konser Varichiavi)
Beragam karya yang ditampilkan merupakan wujud konsep independen, yakni menampilkan pancawarna tiap pianis. “Konsep independen ini tidak mengelompokkan karya berdasarkan tema, namun sesuai dengan pribadi anggota. Konser Varichiavi merupakan konser debut, banyak dari kami yang pemula dan sedikit mengalami kesulitan dalam persiapan ini. Maka dari itu masing-masing dari kami memilih karya sesuai dengan yang mereka mampu. Selain itu, mereka juga membawakan sesuai dengan warna-warna yang mereka suka”. Jelas Valen sebagai ketua pelaksana konser Varichiavi.
Meskipun kurasi repertoar yang dilakukan tidak berdasarkan dengan satu tema, alangkah lebih baik jika pada tiap penampilan diurutkan berdasar era repertoar tersebut. Penampilan-penampilan pada konser Varichiavi terlihat sangat acak, sehingga kurasi repertoar perlu diperhatikan kembali agar jalannya pertunjukan menjadi lebih rapih dan runtut. Serta lebih dimunculkannya benang merah antara repertoar dan tema, akan menyempurnakan penrtunjukan konser. Karena terbatasnya fasilitas, konsep sinestesia kurang tersampaikan kepada penonton. Ketua pelaksana menceritakan terkait persiapan Konser Varichiavi, bahwa kekurangan konser dilatar belakangi oleh keterbatasan fasilitas ruang. Sehingga yang pada awalnya mereka ingin mencoba menggambarkan konsep imaji sinestesia dengan menggunakan videotron menjadi digambarkan melalui paparan narasi dari si MC serta lighting yang terletak di belakang pianis dan piano.
Hal yang patut diapresiasi bahwa keterbatasan fasilitas ruang tak menjadi penghalang bagi para anggota Clavier angkatan 2024 untuk tetap berkreativitas. Konsep unik yang dibawakan menjadikan referensi baru bagi penonton juga penulis. Sinestesia yang merupakan sebuah fenomena neurologis, dikemas menjadi konsep yang mengajak penonton untuk berimajinasi. Pancawarna berhasil tercipta, para pianis memiliki karakter warna mereka masing-masing, dalam memainkan musik. Varichiavi harapnya menjadikan langkah awal bagi Clavier Angkatan 2024 dalam proses pembelajaran dan meningkatkan kreativitas.
Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: Clavier Student
