Sesuai dengan tajuknya, .“Jacquarie : Harmony Of The Unheard” mengangkat latar belakang revolusi Perancis di tahun 1789-1799. Periode pergolakan politik, runtuhnya kekuasaan monarki absolut dan feodalisme. Konser SKSO #8 mencoba mengemas kisah penderitaan rakyat jelata dan kaum borjuis pada periode tersebut. Serta dikaitkannya pula latar “Jacquarie”, yaitu pemberontakan petani yang terjadi di daerah utara Perancis. Istilah “Jacquarie” digunakan sebagai lontaran cemooh bangsawan kepada petani yang mereka anggap sebagai kaum rendahan. Tema ini dilatarbelakangi oleh fenomena kontroversial dan menarik dalam pelajaran sejarah musik yang mereka pelajari.
Author: Arinii ‘Ilmal Haqqi
Pancawarna Tersirat Melalui Denting Piano Konser Varichiavi : Menuai Imaji Sinestesia Musik
Konser Varichiavi mengangkat konsep independen dimana para pianis ingin menunjukkan pandangan dari setiap karakter individu lewat karya yang disajikan. Selain itu, Varichiavi terinspirasi dari konsep sinestesia, di mana warna tidak hanya muncul dari apa yang kita lihat namun juga dari apa yang dapat dirasakan melalui indera pendengaran. Dengan membawa aspek pluralitas indera, Varichiavi menyajikan visualisasi warna melalui musik. Perpaduan antara konsep independen dan sinestesia membuat Varichiavi seolah-olah menjadi kunci untuk membuka pintu imajinasi. “Karena kekaguman kami pada synesthesia music, maka dari itu pada kesempatan debut konser kali ini bertajuk Varichiavi: Finding Colors Trough Music.” Papar Valen sebagai ketua pelaksana.
Harsa Terpancar Melalui Konser Nostradamus : Sebuah Persembahan Manis yang Menutup Purna Tugasnya Sang Konduktor
Petang itu tanah masih basah, menandakan usai tersiram oleh air hujan. Semerbak petrikor tercium di sepanjang jalan menuju gedung Concert Hall ISI Yogyakarta. Cuaca kian membaik, beranjak sejuk dan mendukung di kala sebuah pertunjukan orkestra menjelang dilangsungkan, tepat pada Jum’at, 22 November 2024. Konser Nostradamus 2024 menyambut hangat serta menyapa manis para hadirin yang duduk memenuhi kursi Concert Hall ISI Yogyakarta. Sajian tak hanya dibalut dengan pertunjukan musik sebagaimana yang sudah dijanjikan. Sebelum memasuki ruangan konser, hadirin dihidangkan beragam kue manis serta camilan ringan, lengkap ditemani teh dan kopi yang dapat diambil secara prasmanan. Selepas menikmati hidangan, para hadirin dipersilakan untuk masuk ke dalam ruang pertunjukan. Kala itu Concert Hall terlihat penuh dan ramai dari lantai bawah hingga lantai atas.
Ciptakan Suasana Baru, F- Hole Menyelenggarakan Welcome Concert Angkatan 2023 Bertajuk “ELEFTERIA: The Beginning of Us”
Kebebasan, sebuah kata yang bermakna tanpa batas bak terbang jauh mengelilingi langit. F-Hole dalam konsernya “ELEFTERIA” dengan subjudul “The Beginning of Us”, ingin menyuarakan perubahan, dan melangkah memulai sesuatu yang baru.
Mewadahi Musisi Tiup serta Komposer Muda,Wind’s Day Hadir Menyapa
Alunan kuartet woodwind memenuhi seisi ruangan café, petang hari suasana terlihat ramai namun terasa sejuk. Alunan itu terdengar asing akan tetapi penonton menikmatinya sembari menyesap teh maupun kopi. Bak sang punakawan, para personil Yudha & Punokawan dengan terampil memainkan instrumennya. Bagaimana tak terdengar asing, karya tersebut merupakan karya orisinil mahasiswa ISI Yogyakarta yang ditampilkan secara perdana pada pembukaan acara Wind’s Day pada Minggu (21/01/2024) di Café Ada Sarang. Menariknya, nama grup tersebut terinspirasi oleh kisah wayang Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang mewakili harapan apik pada kekeluargaan sang Punakawan itu sendiri. Sebelum menampilkan karyanya, Yudha selaku komposer dari grup Yudha & Punokawan menyampaikan sedikit tentang latar belakang karyanya yaitu Woodwind Quartet No. 1.
