Penulis : Arinii Ilmal Haqqi
Petang itu tanah masih basah, menandakan usai tersiram oleh air hujan. Semerbak petrikor tercium di sepanjang jalan menuju gedung Concert Hall ISI Yogyakarta. Cuaca kian membaik, beranjak sejuk dan mendukung di kala sebuah pertunjukan orkestra menjelang dilangsungkan, tepat pada Jum’at, 22 November 2024. Konser Nostradamus 2024 menyambut hangat serta menyapa manis para hadirin yang duduk memenuhi kursi Concert Hall ISI Yogyakarta. Sajian tak hanya dibalut dengan pertunjukan musik sebagaimana yang sudah dijanjikan. Sebelum memasuki ruangan konser, hadirin dihidangkan beragam kue manis serta camilan ringan, lengkap ditemani teh dan kopi yang dapat diambil secara prasmanan. Selepas menikmati hidangan, para hadirin dipersilakan untuk masuk ke dalam ruang pertunjukan. Kala itu Concert Hall terlihat penuh dan ramai dari lantai bawah hingga lantai atas.

Tajuk “ Nostradamus” merupakan akronim dari beberapa kata yaitu neo yang berarti baru, strada berarti jalan, serta mus diambil dari kata musik. Tajuk konser ini juga memiliki makna yang selaras dengan tujuannya, yakni diambil dari tokoh sang peramal, Nostradamus dengan kecakapan dapat membaca masa depan. Menjadikan harapan dalam proses mahasiswa prodi musik, dalam meraih masa depan yang gemilang. Nostradamus terdengar tak asing dalam lingkup prodi musik Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Faktanya, kegiatan ini diselenggarakan secara rutin setiap tahunnya. Konser ini merupakan luaran konkrit dari hasil pembelajaran studi instrumen praktik baik secara individu maupun ansambel. Penyelenggaraan konser ini menjadi wadah pembelajaran dan aktualisasi dalam studi instrumen di prodi musik ISI Yogyakarta. Biasanya, konser disajikan dengan format ansambel kelompok yang terpisah, seperti kelompok vokal, gesek, perkusi, tiup, serta piano. Dikemas secara istimewa, Nostradamus 2024 menyajikan pertunjukan dengan format full orchestra dan berkolaborasi dengan paduan suara vokal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan.
Konser dibuka dengan megah oleh repertoar gubahan komponis Italia, Gioachino Rossini bertajuk Overture : Barber of Seville. Pembuka tutti gesek, tiup dan perkusi yang menggema selaras di bawah baton sang konduktor, Pipin Garibaldi. Seisi ruangan sangatlah hikmat menikmati sajian karya pembuka, alunan melodi gesek yang bersautan dengan tiup, pizzicato cello yang kontras menjadikan pembuka yang sangat manis. Perubahan tempo terjadi pada bagian menjelang akhir karya, penonton berdecak kagum, selepas karya selesai gemuruh tepuk tangan menyusul memenuhi seisi ruangan.

Selanjutnya, masih dipimpin oleh konduktor Pipin Garibaldi. Repertoar Symphony No. 1 in C Mayor Op. 21 oleh Ludwig van Beethoven disajikan dengan apik. Bagian pertama adagio terdengar lembut di mana melodi gesek seirama dengan melodi tiup. Disusul dengan bagian allegro pada karya ini, terlihat perubahan pusat tonal serta penggunaan instrumen tiup yang lebih menonjol. Karya ini memiliki nuansa simfoni tradisional yang dipengaruhi oleh komposer musik era klasik pendahulu yakni Joseph Haydn dan Wolfgang Amadeus Mozart. Karya ini menyimpan memori yang melekat di hati sang penulis. Pasalnya, repertoar ini merupakan karya yang dipilih juga oleh sang konduktor Pipin Garibaldi sebagai bahan uji mata kuliah kondakting di tahun ajaran 2024-2025 yang diikuti oleh penulis. Pengalaman aneh sekaligus menyentuh ketika mendengarkan karya ini bergema secara langsung, mengingatkan memori lalu sang penulis di atas panggung auditorium dengan baton di tangan kanan memimpin ansambel gesek untuk memainkan repertoar yang sama yaitu Symphony No 1 In C Mayor Op. 21 movement pertama. Terasa aneh, saya sedikit bergidik merinding. Hal ini menerbitkan pengalaman baru dalam menikmati sebuah konser, terutama berhadapan dengan sajian komposisi yang sebelumnya telah dihafal dan dipelajari secara mendetail oleh penulis melalui analisis kondakting.

Beralih pada karya berikutnya, orchestra menampilkan Concerto In C Major Op. 56 “Triple Concerto” oleh Ludwig van Beethoven. Komposisi ini merupakan satu-satunya karya gubahan Beethoven yang menghadirkan lebih dari satu solois. Karya ini menggabungkan tiga instrumen solo yaitu, violin, cello, dan piano dengan iringan orkestra yang menjadikannya seperti concerto untuk piano trio. Repertoar ini dimainkan di bawah gerakan baton Eki Satria. Penampilan dibuka dengan bagian melodi cello, lalu disusul seluruh instrumen yang menyapa. Gerakan lincah jemari Farel selaku solois cello pada malam hari itu memanjakan telinga. Frase tanya jawab antar violin dan cello membuat karya semakin hidup, disusul oleh jemari gesit Brian, sang solois piano. Ketiganya saling bersinergi, dengan mahir menghidupkan suasana melalui repertoar ini. Selain itu permainan nada-nada tinggi yang dilantunkan Timothy, sang solois violin yang bersinar dan memberi warna pada jalannya sajian triple concerto.

Tak henti-hentinya memanjakan telinga serta memuaskan hati, tibalah saatnya pertunjukan orkestra dengan kolaborasi paduan suara vokal. Karya Tom Fettke – The Majesty and Glory of Your Name digaungkan dengan indah di Concert Hall ISI Yogyakarta, seraya memanjatkan syukur kepada Sang Kuasa akan segala nikmat dan keberkahan-Nya. Karya selanjutnya ialah Carl Orf – Carmina Burana : O Fortuna yang dibuka dengan musik perlahan dan pukulan drum dan paduan suara perlahan meredup lalu dibangun kembali oleh crescendo dari string, tiup dan drum. Selanjutnya, disajikan permainan repetoar dari Bizet – March of The Toreadors yang membawa suasana gembira pada konser malam itu.
Kemegahan konser Nostradamus ditutup oleh repetoar karya Gioachino Rossini – William Tell Overture. Harmoni dalam orkestra berpadu dengan paduan suara memegahkan pertunjukan musik Nostradamus. Gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai penonton tak henti-hentinya bersautan memenuhi seisi ruangan pertunjukan. Nostradamus sukses memukau penonton. Tak heran banyak penonton memberikan standing applause untuk mengapresiasinya.
Nostradamus, menutup manis masa purnabakti Pipin Garibaldi D.M., M. Hum. Pengalaman bermusik beliau sangatlah tidak diragukan, menekuni biola dan kondakting hingga berdedikasi dalam proses mengajar di ISI Yogyakarta selama lebih dari 20 tahun lamanya. Prodi Musik memberikan kesempatan penuh kepada beliau untuk menyelenggarakan pertunjukan orkestra dan paduan suara vokal. Beliau mengakui bahwasannya pada persiapan konser kali ini, beliau menjadi lebih dekat kepada mahasiswa. Sehingga datangnya kebahagiaan terpancar pada pertunjukan konser Nostradamus 2024. “Saya salut dengan anak muda sekarang semangatnya luar biasa, kalian bisa merasakan hasilnya kan ya. Saya kepingin memberikan itu semua, seperti pak Eki contohnya saya beri kesempatan, sebelumnya diandil keseluruhan oleh saya. Karena pak Eki akan menggantikan saya di prodi musik saya beri kesempatan pada beliau karena beliau potensial dan sedang naik daun. Jadi meskipun prosesnya dengan susah payah tapi hasilnya temen-temen seneng kok ya? Makanya saya tanya tadi, kalian seneng ngga hasilnya, seneng to? Nah itu jawabannya, saya rasa begitu.” Sang Konduktor Pipin Garibaldi mengungkapkan segenap perasaan terkait selama proses persiapan dan selepas konser Nostradamus 2024.
Konser Nostradamus 2024 kali ini berhasil meninggalkan bekas yang mendalam di hati para penonton. Tak hanya mahasiswa yang ikut berpartisipasi dalam penampilan orkestra dan paduan suara pada penampilan kali ini, Wahyudi, S.Sn., M.A. selaku dosen pengampu instrumen horn juga ikut memainkan horn mendukung pertunjukan Nostradamus 2024. Mengingat keseluruhan penampilan luar biasa dari pemain Nostradamus 2024, tentunya akan selalu ada peningkatan dan pengembangannya sesuai dengan karakter kuat yang ditonjolkan Nostradamus. Namun demikian, sangatlah disayangkan bahwa konser Nostradamus yang dikenal sebagai acara hajatan besar di prodi musik ISI Yogyakarta, tidak sepenuhnya bermakna seperti itu. Alangkah baiknya, jika konser Nostradamus menjadikan wadah yang mengapresiasi para pemain yang berasal dari sebagian besar mahasiswa prodi musik. Komposisi pemain juga diisi oleh mahasiswa dari Prodi Penyajian Musik, Pendidikan Musik, dan Penciptaan Musik. Setidaknya jika standar tinggi yang diperlukan itu menjadi sebuah hambatan di lingkungan Prodi Musik, maka seyogyanya diadakan seleksi ketat sebelum diadakannya latihan untuk konser, menjadikan jalan tengah yang cukup adil bagi mahasiswa Prodi Musik serta penyelenggara konser.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Titis Setyono Adi Nugroho M.Sn selaku ketua pelaksana, “Kami sadar dari panitia maupun dari pemain sendiri ataupun semua kru yang bertugas di sini banyak sekali kekurangan kelemahan, pada intinya kami memang menyadari kami manusia yang tidak sempurna. Jadi kami segenap panitia, pemain, memohon maaf sebesar-besarnya jika ada suatu kekurangan dalam menyajikan suatu pertunjukan dalam segi apapun baik fasilitas, dan sebagainya. Kami berharap para hadirin, pemain panitia, kru artv, semua menikmati acara ini dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Semoga acara yang akan berlangsung dari pergelaran pertunjukan musik paduan suara dan orkestra Nostradamus 2024 dapat memberikan kesan yang mendalam dan bisa diceritakan nanti ke teman-teman di luar.” Harapnya, konser Nostradamus menjadi terus berkembang lebih baik pada masa yang akan datang, serta betul-betul menjadikan kegiatan ini sebagai sarana pembelajaran bagi mahasiswa prodi musik ISI Yogyakarta.
Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: PDD Nostradamus
