Penulis : Arinii ‘Ilmal Haqqi
Alunan kuartet woodwind memenuhi seisi ruangan café, petang hari suasana terlihat ramai namun terasa sejuk. Alunan itu terdengar asing akan tetapi penonton menikmatinya sembari menyesap teh maupun kopi. Bak sang punakawan, para personil Yudha & Punokawan dengan terampil memainkan instrumennya. Bagaimana tak terdengar asing, karya tersebut merupakan karya orisinil mahasiswa ISI Yogyakarta yang ditampilkan secara perdana pada pembukaan acara Wind’s Day pada Minggu (21/01/2024) di Café Ada Sarang. Menariknya, nama grup tersebut terinspirasi oleh kisah wayang Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang mewakili harapan apik pada kekeluargaan sang Punakawan itu sendiri. Sebelum menampilkan karyanya, Yudha selaku komposer dari grup Yudha & Punokawan menyampaikan sedikit tentang latar belakang karyanya yaitu Woodwind Quartet No. 1.
Karya ini merupakan karya format kuartet pertama yang diciptakan oleh Yudha, dan merupakan musik absolut yang diciptakan tanpa adanya latar belakang peristiwa, suasana, benda, atau pun seseorang yang mewakili sifat tertentu. Yudha mengaku ingin menantang dan mempertanyakan dirinya, bisakah ia berhasil menciptakan karya absolutnya sendiri. Lika – liku proses pembuatan karya kuartet ini berjalan selama satu minggu. “Lagu ini menggunakan struktur sonata form yang disonan, itu ada di penghubung antara development satu ke development dua. Disonan itu aku bikin penghubung dari satu tonal ke tonal lainnya.” Tutur sang komposer.
Di balik apiknya komposisi Woodwind Quartet No 1 yang disajikan, Yudha mengakui terdapat sedikit kesulitan dalam proses pembuatannya. Yudha mengatakan, “Agak kesulitannya kemarin itu misal aku dapat satu motif atau tema, yang susah itu bayanginnya, ini enaknya dimainin sama apa ya, misal oh ini dimainin buat oboe, aku pingin suara yang kaya gimana, apa yang pingin aku tuangkan ke tulisan ini, terus kalau dimainkan di clarinet ketinggian gak ya, berarti ada kendala di range nya. Ketika menciptakan karya ini aku masih memikirkan teknis”. Begitulah panjang lebar sang komposer mengemukakan tantangan yang dihadapinya.

Woodwind Quartet No. 1 menjadi pembuka yang menyejukkan dengan suasana klasik Mozart yang menghiasi sebagian karya ini. Sang komposer juga mengakui bahwa ia sedikit ter-influence oleh karya – karya Wolfgang Amadeus Mozart. “ Di tengah – tengah bikin ternyata ada influence sendiri dari Mozart, ingin ada beberapa bagian yang ada interpretasi Mozart. Karyanya ada nada – nada disonan di letter c, emang aku sengaja bikin disonan karena menurutku disitu kayak ada pergulatan ketika digambarkan pada musik. Sengaja aku bikin disonan sebagai jembatan”, lanjut pria yang masih berstatus mahasiswa ISI Yogyakarta ini. Walaupun merupakan karya absolut, sebagai pendengar yang turut meliput alunan dominan dari woodwind tersebut membuat seakan – akan penulis sedang meresap kopi di sebuah taman penuh bunga, lengkap dengan rintih deruh air sungai yang menggambarkan pergulatan nada disonan yang terdengar sangat membius rasa. Dan hingga selesai karya dibawakan, spontan gemuruh tepuk tangan terdengar memenuhi seluruh ruangan Cafe Ada Sarang, membuat penulis kembali tersadar setelah demikian terlarut dalam imajinasi alunannya. Kesuksesan gema komposisi Woodwind Quartet No .1 ini membuat Yuda pada akhirnya dapat membuktikan dan menjawab pertanyaannya sendiri.
Tak hanya Yudha & Punokawan saja yang menampilkan karya orisinilnya, Elephant Clarinet juga membawakan karya orisinil mereka secara perdana bertajuk Theme for Clarinet dan Serenade No II in Eb Major K375. Berbeda dengan Yudha, Yedija sang komposer Elephant Clarinet ini mengakui, fakta unik yang lucu bahwa inspirasi yang ia dapatkan datang sendiri ketika sedang di kamar mandi. Selain itu, ketika di kamar mandi ia sering kali membawa handphone untuk merekam sebuah melodi. Karya ini diproses dengan memakan waktu sekitar tiga minggu. Komposisi ini tidak memiliki latar belakang yang spesifik, “Karena merupakan musik absolut serta tercipta dari diri sendiri tanpa terpicu dari suatu inspirasi” jawab Yedija. Meskipun tidak memiliki latar belakang, musik absolut tetap bisa dinikmati, karena terkadang nada – nada yang terukir indah tercipta secara spontan tanpa sang komposer ingin berbahasa melalui karyanya.

Salah satu anggota Elephant Clarinet bernama Ferdi menyampaikan perasaan serta pengalamannya sebagai pemain pertama dalam memainkan karya dari teman sendiri. “Sangat senang bisa memainkan karya living composer, kalaupun ada kesulitan mungkin ada di beberapa motif musikal yang menjadi tantangan tersendiri bagi aku dan teman – teman lainnya”. Fakta unik lainnya juga dilanturkan oleh salah satu anggota bahwa Elephant berawal dari terbentuknya grup dengan format quintet plus 1 bass clarinet dengan 4 klarinet in Bb. Elephant Clarinet memiliki makna nama grup yang sangat mendalam yaitu menggambarkan sesuatu yang kuat dan besar serta selalu berharap akan kebaikan untuk ke depannya

Semakin petang suasana café semakin ramai, untungnya hujan pada saat itu tidak turun. Penampilan Wind’s Day juga diramaikan oleh Gunch n Brass yang membawakan Quinted no 2 Op for Brasss Quinted oleh Victor Ewald dan karya Quintet in Eb K407 Mov ement 1 oleh Mozart. Slider, Jogja Trumpet Foundation, Nissi and friends penampilannya. Kala itu atmosfer jazz pun turut memenuhi Café Ada Sarang. Disajikannya karya Stars Fell on Alabana is a 1954 jazz standard composed by Frank Perkius serta Low Brass Quinted no 1 oleh Yedi & Sugar Slider. Serta tampilan memukau dari Nissi and Friends yang membawakan Latency- corto alto (2023), Sticology – Phil K Jones II & Wilson (2015). Penonton yang hadir juga disuguhi oleh suara merdu pipa – pipa logam yang membawakan, karya populer seperti Medley Disney, Mr. Sandmand, serta Skyfal yang dibawakan oleh Pipa Organa Terbuka. Pipa Organa Terbuka merupakan salah satu kelompok instrumen flute yang ikut meramaikan acara Wind’s Day kali ini.


Jogja Trumpet Fondation turut pula hadir dalam acara ini dengan membawakan Medley The Legend of Zelda dan Pirates of Carribean. Format kuartet ini dibawakan dengan piccolo yang masih satu rumpun, namun memiliki range suara lebih tinggi daripada trumpet, dan fluglehorn berada pada range bawah. Jogja Trumpet Fondation ini terdiri dari beragam rentang usia dari SMA, bahkan yang sudah tidak berkuliah. “Range umur anggota ini berbeda – beda dengan pola pikir, budaya berbeda, acara yang berbeda, untungnya selama latihan satu pikiran semua meskipun ada gap yang cukup jauh dari anak SMA, umur kelahiran 96 ketika ada kesulitan mencari solusi bersama, di sini juga ada anak UGM GMCO. Menaungi semua anak trompet yang ada di Jogja yang mau belajar, latihan bisa bergabung”. Jelas Stefine Iswandana, anggota grup Jogja Trumpet Fondation.

Berbeda dengan grup lainnya, Kasepuhan, merupakan kelompok grup lintas generasi yang ikut meramaikan dan mewarnai acara Wind’s Day. Sesuai dengan namanya, grup ini memiliki anggota yang lebih sepuh daripada grup – grup lain yang mayoritas anggotanya adalah anak muda. Kasepuhan membawakan karya Bengawan Solo, Night Tunisia dan Stolen Momen. Kompilasi karya yang disuguhkan menimbulkan suasana nostalgia yang hangat bagi penonton. Semangat dan skill yang ditunjukkan oleh para anggota Kasepuhan dalam memainkan setiap instrumen menginspirasi kaum muda untuk menggandrungi musik-musik dari berbagai genre, entah itu blues, keroncong, begitu juga jazz.

Acara Wind’s Day ini terselenggara dinaungi oleh Ruang Tiup 25, merupakan wujud wadah kreativitas bagi para masyarakat maupun pemuda yang menekuni atau ingin mempelajari instrumen tiup. Ruang Tiup 25 terbentuk di tanggal 25 november tahun 2023. “Untuk program pertama agak bingung karena sebelumnya Wood’s Day sudah dikelola oleh 3 orang, namun karena tidak berjalan dengan efektif dan konsisten akhirnya Wood’s Day kembali diadaptasi oleh Ruang Tiup dan akan berkelanjutan menjadi program Ruang Tiup”, tutur Adi Kurniawan sang ketua pelaksana.
Wind’s Day bertempat di Cafe Ada Sarang. Suasananya yang sejuk dikelilingi pepohonan dan tumbuh-tumbuhan, memiliki area yang cukup luas serta di lantai dua terdapat tempat yang mumpuni untuk diadakan sebuah live music atau konser kecil.” Menurut pengalaman beberapa teman – teman café ini memiliki ruang pertunjukan yang mumpuni. Selain itu alasan kami memilih di café Ada Sarang ialah setidaknya ada efek bagi UMKM terdekat serta teman – teman penikmat acara Wood’s Day pun dapat mengikuti acara dengan tidak terlalu tegang karena bisa sambal membeli camilan, kopi ataupun teh.” Jelas Adi mengenai alasan memilih lokasi konser Wind’s Day.
Kerap kali kota Yogyakarta mengadakan pertunjukan seni serta pameran. Tak heran jika Yogyakarta seringkali disebut dengan kota yang kental akan kesenian dan budayanya. Sebagai contoh seperti, hadirnya konser orkestra Singgih Sanjaya yang diadakan di Taman Budaya Yogyakarta, adanya Yogyakarta Royal Orchestra, Festival Film Dokumenter, Yogyakarta Gamelan Festival, Festival Film Dokumenter, Festival Kesenian Yogyakarta, Bioskop Museum Sonobudoyo yang kerap kali menayangkan karya – karya lokal, dan masih banyak lagi event lain yang tak kalah menarik dilaksanakan di Kota Yogyakarta. Wood’s Day hadir sebagai salah satu event yang mencoba sedikit berbeda, dengan mendukung para seniman khususnya komposer muda dan musisi instrumen tiup. Wind’s Day sebagai pelopor membangkitkan semangat para komposer dan musisi tiup serta membantu mengekspresikan kemampuan mereka. Adanya Ruang Tiup ini membuka juga memberikan tempat belajar bersama berbagi motivasi satu sama lain untuk mereka berkarya dan bermain musik tiup. Selanjutnya harapnya Wood’s Day dapat mengedukasi masyarakat perihal perkembangan musik tiup dan musik-musik lainnya.
Tidak hanya menjadi media bermain yang asik, para pemain dan penonton yang tertarik dan memiliki potensi untuk menulis juga dapat bergabung dengan Ruang Tiup 25 . Hal ini juga disampaikan oleh Adi selaku ketua pelaksana.bahwa penampilan – penampilan yang memukau dan karya – karya baru yang disajikan, menjadikan sebuah kesempatan emas bagi komposer – komposer muda serta para musisi untuk belajar menuangkan karyanya. “Wind’s day ini keren, dan harus tetap berlanjut kedepannya untuk jadi wadah bagi orang tiup juga edukasi pada masyarakat bahwa musik klasik gak mahal dan bisa dinikmati oleh semua orang”. Demikian harapan Yedijah bagi Ruang Tiup 25 untuk proses serta perkembangan kedepannya.

Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: Ruang Tiup 25
