Ketika Punk Enerjik Dipaksa Kawin Dengan Melodi Melayu: Melahirkan “Pulau Bintan” ala Minorways

Penulis: Gilbert Natanael Pardosi

Setelah setahun meluncurkan EP yang mempresentasikan POV anak remaja muda dengan segala konflik kehidupannya sebagai mahasiswa, kini unit pop punk dari gedung musik ISI Yogyakarta itu meluncurkan single terbarunya yang bernyawa melayu.

Minorways adalah band yang terbentuk pada tahun 2021, pada awalnya bernama Not Found. Digawangi mahasiswa aktif dari jurusan Penciptaan Musik 2021; Hadi Moekti Widjaya (Vokal), M. Farand Ilalang (Gitar), Risang Rajulungsungsang (Bass), dan Seni Musik 2022; Yazid Fauzan Ath Thaariq (Drum). Bergabungnya Yazid menjadi awal bergantinya era Not Found menjadi Minorways.

Ketika tahu bahwa gedung kuliah yang bangunannya sudah setua dosen senior ini menyimpan unit pop punk di dalamnya, saya terpanggil untuk bernostalgia dengan musik yang jadi teman semasa duduk di bangku menengah pertama. Saat itu, dalam masa cinta monyet, saya sering berobat jalan pada band-band pinggiran Jabodetabek, seperti Our Story, Remember of Today, Killing Me Inside, Pee Wee Gaskins.

Saya tahu bagaimana cinta dan persahabatan selalu jadi tema utama dalam karya-karya musik pop punk. Kerinduan itu mulai saya tunaikan melalui EP-nya yang berjudul My Mother is Stronger Than Godzilla. Saya tidak benar-benar menyukai mini album ini, namun saya apresiasi beberapa lagu di dalamnya, seperti “Kamu dan Anganku”, ” Maju untuk Menang” dan ” My Mother is Stronger Than Godzilla”. Setidaknya, tiga lagu itulah yang sering saya putar.

Dalam penjelajahan saya menemukan musik-musik baru, saya melihat bagaimana orang-orang yang mencoba berlayar dalam musik macam ini sering terjebak ke dalam lirik-lirik yang lemah dan cheesy. Makanya, alasan saya tidak benar-benar menyukai EP mereka karena beberapa nomor di dalamnya masih terasa lemah dalam songwriting-nya. Terkadang punya melodi dan struktur yang catchy, namun liriknya menye-menye, dan atau sebaliknya. “Kamu dan Anganku”, misalnya. Mungkin alasan yang membuat saya masih memutar “Kamu dan Anganku” karena adanya transisi saat vokal laki-laki dan perempuan yang saling merespon dalam lagu tersebut. Inilah karakter musik pop punk yang saya rindukan.

Apakah ada yang lebih menarik dariku // Tak perlu jawabmu // Kucoba ikhlas kalau begitu // Arsip WA-mu kubaca selalu // Tanda ku rindu padamu ya rindu akan dirimu

Perlu keberhati-hatian dalam menuliskan cerita yang ingin disampaikan. Jangan sampai terjebak dengan adrenalin patah hati. Cobalah membuat lirik-lirik yang elegan, dibuat deskriptif tanpa harus menjadi cemen dan lemah. Saya punya dua nama kesukaan perihal referensi penulisan lirik; Jimi Multhazam atau Baskara Putra.

Sampul EP Pulau Bintan (dok. Minorways)

Melihat bagaimana visual single barunya–bernuansa fantasi, imajiner dan atau dreamy–yang alih-alih merepresentasikan maksud dari lagu ini justru membuat saya teringat dengan dua band yang melekat dengan found object pantai dan laut. Dua band itu, yakni The Panturas dan Flourish–punya musik dan visual yang saling beririsan antara surf rock dan nuansa laut. Saya pikir Minorways akan putar haluan mengikuti arus dua band itu. Tapi ya sudahlah, mereka juga sudah berani menaiki hiu itu.

Setelah setahun berlalu, nampaknya “Pulau Bintan” diluncurkan sebagai penanda keberlanjutan mereka dalam berkarya. Lagu ini bercerita tentang kerinduan kepada seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ingatan tentang dia yang dibumbui dengan latar keindahan lautan biru yang dimiliki Pulau Bintan itu meresahkan hati dan pikiran.

Keheranan saya melihat perjalanan ben-benan mereka adalah bagaimana bisa, tahun lalu debut EP, tahun ini hanya merilis cover lagu daerah. Sudah begitu, memaksakan roh punk ke dalam syair yang mendayu-dayu. Padahal, proses kreatif yang ditunjukkan melalui perilisan mini album itu tidaklah buruk. Buktinya, beberapa lagu di dalamnya bikin saya nostalgia, penasaran dengan band mereka, sampai akhirnya tergelitik untuk menulis ini.

Awal mendengar lagu ini saya terheran-heran. Saya berpikir, ‘ah, terlalu melayu, menye-menye banget’. Lalu saya melakukan pencarian dan mendapati kalau Pulau Bintan adalah sebuah pulau dari Kepulauan Riau yang mempunyai lagu daerah dengan nama yang sama, yaitu “Pulau Bintan”.

Bahasa Melayu menjadi alat komunikasi daerah-daerah pesisir—termasuk Pulau Bintan— karena kebanyakan dari mereka adalah pendatang. Walaupun mungkin ada yang berbahasa Indonesia, namun logat Melayunya tak bisa bisa dihilangkan. Bentuk kesenian musik Melayu juga tidak bisa dipisahkan dari nyanyian musik gambus atau rebana yang beririsan dengan lagu-lagu rohis.

Itulah yang membuat lagu ini sangat kental dengan nuansa sendu, lembut, mengalun, dan menenangkan. Karakter itu yang diadaptasi oleh musik non-religi, menjadi nyanyian patah hati atau syair pengusir rindu yang akhirnya membuat orang merasa ‘ini lagu gue banget, nih’. Saya jadi teringat dengan lagu Efek Rumah Kaca yang liriknya lagu cinta melulu / kita memang benar-benar melayu / suka mendayu-dayu.

Apakah sudah kehabisan ide untuk membuat karya original? Entahlah, saya tak tahu. Barangkali cover lagu daerah ini menjadi propaganda mereka untuk menyatakan kerinduan kepada seseorang. Walaupun, akan lebih membanggakan ketika melagukannya melalui karya original.

Namun, pergerakan mereka yang membawakan ulang “Pulau Bintan” dengan musik yang cadas bisa menjadi alternatif untuk memperkenalkan Pulau Bintan dan keindahan alamnya.

Editor : Aqilah Mumtaza
Foto Sampul : Minorways

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *