Kali ini saya berkesempatan mewawancarai seorang alumni Jurusan Musik, ISI Yogyakarta, Pauline Christina Mooy, yang awal tahun ini merilis lagu berjudul “Beranjak”. Pada Sabtu malam, 15/2/2025, saya iseng mengirim DM Instagram untuk memintanya menceritakan tentang proses kreatif single perdananya malam itu juga. Saya tak yakin responnya akan sesuai harapan, tapi untungnya ia menyambut dengan antusias dan menyetujuinya.
Melihat Pauline yang saat ini menetap di Jakarta, sementara saya di Jogja, saya pun mengajaknya untuk bergeser ke ruang bincang virtual Google Meet. Saya membuat janji dengannya bertemu di ruang virtual pada pukul 20.00–kurang lebih sejam setelah saya mengirim permintaan dadakan itu.
Sadar atau tidak, selalu ada hal-hal baik dalam 12 bulan ini, namun kadang terlupakan atau sembunyi di balik rutinitas sehari-hari. Oleh karena itu, Aksaratala ingin merayakan tutup tahun 2024 dengan melihat kembali, memutar memori, dan mengapresiasi mereka yang telah berani menciptakan dan menyebarkan karya-karyanya melalui musik. Perayaan tersebut dinyatakan melalui aktivasi perdana kami, yaitu Svara dari Selatan. Ini merupakan kompilasi yang merangkum aktivitas tahunan mereka yang dari ISI Yogyakarta, yang berkarya dalam koridor musik populer, baik solo maupun kelompok. Svara dari Selatan akan menjadi proyek inisiatif tahunan Aksaratala yang kiranya dapat menyimpan informasi tentang riwayat proses berkarya mereka. Dicatatnya jejak mereka niscaya menjadi penular semangat baik untuk teman-teman agar ikut bergerak dan terus berkarya lewat musik.
Saya tahu bagaimana cinta dan persahabatan selalu jadi tema utama dalam karya-karya musik pop punk. Kerinduan itu mulai saya tunaikan melalui EP-nya yang berjudul My Mother is Stronger Than Godzilla. Saya tidak benar-benar menyukai mini album ini, namun saya apresiasi beberapa lagu di dalamnya, seperti “Kamu dan Anganku”, ” Maju untuk Menang” dan ” My Mother is Stronger Than Godzilla”. Setidaknya, tiga lagu itulah yang sering saya putar.
Sebelum sampai di tempat acara, saya disambut oleh pohon-pohon bambu yang menyerupai gapura selamat datang. Gapura yang amat tinggi, terbuat secara alami, dan rasanya agak menyeramkan saat melintas di malam hari. Ditambah jalanan yang sedikit menurun, kemudian sedikit menanjak, membuat saya berpikir, “unik juga jalur perhelatan ini”. Hal itu mengingatkan saya pada Ngayogjazz 2023.
Melanjutkan perjalanan, saya melihat kursi merah telah berbaris bersama yang mendudukinya, menghadap panggung yang dandanannya cukup sederhana, dan akan menjadi saksi meluncurnya album musik puisi yang garapannya sudah masak dan siap dibagikan. Bebunyian pun mulai keluar dari pori-pori pengeras suara dan mulai mencuri sorot mata pengunjung. Saya melihat sekeliling dan menangkap raut muka semua orang penuh dengan antusias.
Melihat rekam jejak Steven Simanungkalit di tiga tahun belakang, ia sudah banyak mengantongi empat belas single seperti “Telat”, “Sampai”, “Vivid”, “Sunshine”, “She Got Me”, dan lainnya. Setiap tahunnya, Steven tak pernah absen untuk meluncurkan karya-karyanya. Pada semester awal ini, Steven telah merilis single terbarunya berjudul “Kira-kira”.
Afifah Shafa Haura, biasa disapa Afi Haura, adalah wanita kelahiran Jakarta yang telah memulai perjalanan musiknya sejak tahun 2012. Saat itu, ia duduk di bangku sekolah dasar, dan terlibat sebagai anggota girlband dalam naungan manajemen Star Media Nusantara, sampai merilis dua single di bawah label Nagaswara.
Penulis : Gilbert Natanael Pardosi Mendatangi pertunjukan musik Welcome Party Concert di Auditorium Musik ISI Yogyakarta, mestinya sudah tertanam dalam benak bahwa akan bertemu dengan […]
Penulis : Gilbert Natanael Pardosi Saat ini, Synchronize Festival 2023 memasuki edisi kedelapan dalam skena festival musik tanah air. Synchronize akan menghadirkan sederet penampilan spesial […]
“Konser ini berangkat dari kerinduan salah seorang anggota dari kelompok musik format chamber, namun tidak memiliki wadah untuk menampilkan hasil latihan,” ucap Timothy selaku ketua pelaksana dalam sambutan pembukaannya. Hal tersebut menjadi pemicu lahirnya ide untuk mengajak musisi-musisi muda lainnya yang memiliki kelompok chamber musik, agar dapat berpartisipasi menjadi bagian dari konser “String Chamber Night”. Oleh karena itu, acara ini diisi oleh beberapa remaja dan pemuda yang memiliki kelompok chamber musik dari sekolah musik, seperti Institut Seni Indonesia Yogyakarta, SMKN 2 Kasihan (SMM Yogyakarta), lembaga pendidikan informal, maupun organisasi di masyarakat.
Penulis : Gilbert Natanael Pardosi Baru-baru ini Joyland Festival tuntas menyelenggarakan pertunjukan musik selama tiga hari pada 17 – 19 Maret 2023, di Peninsula Island, […]