Penulis: Gilbert Natanael Pardosi
Sabtu, (20/7/2024), menjadi hari pertama dimulainya perhelatan dari sebuah komunitas sastra bernama Jejak Imaji, bertempat di Sekretariat Jejak Imaji, Wirokerten, Yogyakarta. Perhelatan ini bertajuk Langgeng: Perayaan 1 Dekade Jejak Imaji.
“Ini merupakan ungkapan syukur dan harapan yang ditujukan kepada kelompok belajar sastra Jejak Imaji untuk tetap melanjutkan perjalanan yang telah digagas oleh para punggawa sejak sepuluh tahun yang lalu. Juga ditujukan sebagai bentuk penanda perjalanan panjang seorang sastrawan yang kiprahnya teramat penting bagi khazanah sastra Indonesia, serta membersamai rasa hormat terhadap kepulangan Joko Pinurbo kepada Tuhan YME,” bunyi dalam press release yang saya dapatkan.
Acara hari itu diramaikan dengan beragam aktivitas, seperti pembukaan Pameran: Membaca Jokpin, peluncuran buku antologi puisi Jejak Imaji berjudul Avontur, Orasi Budaya, dan dilanjutkan dengan peluncuran album musik puisi Juga Waktu oleh komunitas Jejak Imaji.
Namun, tulisan ini hanya akan menyoroti kegiatan peluncuran album musik puisi saja, sebagai bentuk rasa semangat saya–selaku jemaat ekosistem musik. Setelah melihat dan mendengarkan karya-karya yang dibawakan, saya akan coba berikan penilaian berdasarkan sedikit kemampuan dan pengetahuan yang saya miliki. Tapi yang pasti, saya akan lakukan dengan semangat dan sedikit kritis.
Mengupas Pertunjukan Album Musik Puisi Juga Waktu
Sebelum sampai di tempat acara, saya disambut oleh pohon-pohon bambu yang menyerupai gapura selamat datang. Gapura yang amat tinggi, terbuat secara alami, dan rasanya agak menyeramkan saat melintas di malam hari. Ditambah jalanan yang sedikit menurun, kemudian sedikit menanjak, membuat saya berpikir, “unik juga jalur perhelatan ini”. Hal itu mengingatkan saya pada Ngayogjazz 2023.
Melanjutkan perjalanan, saya melihat kursi merah telah berbaris bersama yang mendudukinya, menghadap panggung yang dandanannya cukup sederhana, dan akan menjadi saksi meluncurnya album musik puisi yang garapannya sudah masak dan siap dibagikan. Bebunyian pun mulai keluar dari pori-pori pengeras suara dan mulai mencuri sorot mata pengunjung. Saya melihat sekeliling dan menangkap raut muka semua orang penuh dengan antusias.

“Kangen”, menjadi lagu pertama yang dibawakan. Tercipta dari puisi W.S. Rendra yang disulap dengan rangkaian nada, melodi, dan harmoni. Lagu ini dipenuhi dengan nuansa kelam dan sangat-sangat menyedihkan. Padahal, saya sedang tidak galau ketika datang ke acara ini.
Tapi berkat perpaduan antara suara piano, gitar, violin, cello, bass, dan perkusi, musik yang ditumpahkan malam itu membuat saya merasakan kegalauan, kepedihan, kesedihan, dan kesepian. Secara musikal, memilih membangun musik melalui nada-nada minor adalah hal yang tepat untuk menguatkan lirik-lirik kerinduan. Apalagi di bagian akhir, saat pola nada yang mendayu-dayu dari cello bergumam. Saya kena telak.
Kalau kata sang vokalis yang mengaku sebagai penyanyi cadangan, lagu ini menjadi salah satu lagu yang dibuat untuk dibawa ke dalam perlombaan. Lomba yang tujuannya meraih cuan untuk pengadaan alat musik demi kebutuhan pengkaryaan. Bagi saya, lagu ini sudah seharusnya masuk ke dalam skena musik Indonesia. Bukan hanya di kalangan keluarga Jejak Imaji, lagu ini sudah siap diperdengarkan lebih banyak orang lagi. Sayangnya, lagu ini belum beredar di platform musik digital kesayangan anda. Semoga segera.
Setelah berhasil mencuri perhatian lewat lagu pertamanya, lagu kedua hadir dengan karakter yang cukup progresif. Saya pikir kelompok musik ini punya keberanian untuk mengadakan eksplorasi dan mengeksploitasi musik yang terkenal dengan label “kebebasannya”. Yang saya maksud “bebas” adalah mendobrak pakem umum dalam mencipta sebuah lagu, namun tidak lupa dengan esensinya (menyampaikan perasaan).
Dalam lagu kedua, “Kau Telah Berubah Menjadi Abadi”, bagian awal punya akor pemberhentian yang terasa tak umum dan muncul gaya bossa nova pada pertengahan lagu. Lagu ini cukup unik. Lirik per lirik punya kisah tragedi, tapi mereka bungkus dengan bossa nova yang joget-able. Nuansa bossa nova itu buat saya jadi teringat Payung Teduh. Walaupun agak ironi, sih. Lirik sedih tapi musiknya dansa. Memang betul, ironi. Tapi rasanya malam itu saya akan bilang, “peduli setan, ini sebuah perayaan!”.
Sorakan dan tepukan tangan penonton merespon kenikmatan yang telah mereka tampilkan. Saya rasa panggung ini memang sudah dinantikan banyak orang. Penonton yang tak kebagian kursi pun memilih duduk di manapun yang bisa diduduki. Wajah antusias masih melekat erat-erat. Apresiasi banyak berhamburan. Sapaan dan godaan dari teman-teman masuk ke dalam panggung. Bagi yang tak punya kenalan, nyimak aja, ya.

Di bawah sorot lampu putih, mekar senyuman bangga dari para pemain musik yang bisa mempresentasikan album musik puisi ini. Dikatakan oleh sang vokalis bahwa ada delapan lagu yang akan dibawakan. Lima lagu dibuat pada tahun 2006-an, dan tiga diantaranya dibuat pada tahun 2018-an. Lagu selanjutnya menjadi salah satu dari tiga lagu yang umurnya lebih muda dan diambil dari antologi puisi 100 Puisi Pilihan karya Yuliani Kumudaswari, yakni “Kres Satu”.
Nuansa yang terjadi dalam lagu ini terasa berbeda dari lagu sebelumnya. Pengakuan sang vokalis, lagu ini akan tampil lebih kekinian. Saya pun merasakan komposisi dan arransemennya yang berbeda dari lagu sebelumnya. Kemungkinan penyebabnya adalah mood, referensi, dan selera pada masa pembuatannya. Menurut saya, perbedaan tersebutlah yang membikin lagu ini jadi lebih enak. Bahkan, saya lebih relate dengan lagu ini.
Didahulukan oleh gitar, kemudian disambut hangat oleh melodi piano yang manis. Ah, baru intro saja saya sudah hanyut. Masuk ke bagian chorus, saya tenggelam, dan hilang. Saat chorus dimulai, semua bernyanyi bersama. Agak menyebalkan karena saya tidak tahu liriknya. Rasa gloomy menguasai lagu ini berkat perpaduan melodi yang berlari-lari oleh piano, membersamai cello dan violin. Penggalan kalimat kudengar angin berhenti bertiup // api melahap padang ilalang ini bila dilafalkan seakan biasa saja. Tapi kalau sudah dengar melodi dan musiknya seperti apa, tamatlah riwayat hati anda.
Vokal dari sang penyanyi yang mengaku cadangan inipun buat saya ragu. Katanya cadangan, tapi kok bisa menenggelamkan. Suaranya sangat unik, menjual, berkarakter, dan punya magis. Gaya musik folk dalam lagu ini sangat jodoh dengan vokal unik miliknya. Lagu ini berhasil bikin saya tidak bernafas sepanjang dimainkan. Di akhir lagu, teman sebelah saya pun tak kuat menahan rasa kagumnya. Dia bilang, “keren anj*r”. Saya pun bilang, “ini jadi lagu favorit guaanj*r”. “Anj*r”. Sudah, cukup!.
Di bawah bulan penuh, dengan cuaca yang sedang dingin-dinginnya, lantunan melodi tragis dari piano membunyi. Suasana kembali berganti, begitu pula sang vokalis. Kali ini Amirah Ahlamiah mengambil alih panggung dengan membawakan lagu “Obituari Ingatan”. Sebuah lagu yang punya nuansa dreamy, dan lirik yang agak rapat dari sebelum-sebelumnya. Dari awal sampai akhir lagu, semua berjalan lancar, sampai saya tak sadar kalau yang berada di panggung saat itu sudah berganti menjadi Cahya.

Cahya, disapa Aya, membawakan lagu “Sunyi Cintaku” yang menjadi pengisi track kelima. Lagu ini punya lirik yang sudah pasti puitis, tapi diksi dalam penggalan lirik lagu ini bikin saya terheran-heran dan amaze. Rindu yang piatu didera derita. Lagu ini juga diselimuti gaya pop 2000-an awal dengan iringan musik ala-ala sinetron ftv yang episode akhirnya tak kunjung dapat kepastian. Bahkan, saat violin bermain, saya semakin yakin kalau lagu ini cocok jadi backsound sinetron azab. Maaf. Percintaan, maksud saya.
Sule Subaweh, telah kembali. Di awal, saya sempat lupa nama beliau–makanya saya ganti dengan “si vokalis”. Selesai para dara benyanyi, Sule kembali lagi. Celotehan, ejekan jenaka, dan ketawa kecil, mulai kembali hidup. Interaksi dua arah ada lagi. Nampaknya, sang vokalis cadangan ini tidak benar-benar cadangan. Ia menguasai panggung. Juga menguasai emosional kami. Hormat!
Selain itu, lagu sing along juga kembali. Judulnya “Juga Waktu”. Inilah lagu yang menjadi judul album musik puisi Jejak Imaji. Intro tampil dengan suasana mencekam yang sangat berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya. Vibesnya macam lagu horror. Tapi ketika violin dan cello masuk, entah kenapa saya merasa suasananya berubah seperti lagu religi yang ada adegan azabnya. Maafkan interpretasi saya. Tapi dari segi musikal–pattern bass dan piano di bagian intro sudah kawin. Transisi masuknya para string pun berhasil smooth. Tanpa disadari, bagian staccato pun, macam ingin dibawa ke aliran dangdut. Eksplorasi nya kental. Sip!
Saya cukup senang dengan bagian flowing vokal yang berwacana, mengucapkan mantra-mantra dengan nada-nada berseru. Kalau saya boleh bilang, ini menjadi signature dari musik puisi. “Juga Waktu” pun punya ruang untuk setiap kami ber-sing along di bagian chorusnya. Dan sekali lagi, warna vokal Sule sangat diberkahi sekali.
Malam semakin larut, tapi tak ada kursi yang tak terisi. Hanya saja, barisan mulai nampak tak lagi rapih–miring ke kanan dan ke kiri. Itu tandanya, tidak ada. Tak ada apa-apa. Saya hanya berbasa-basi sedikit. Sebelum lagu “Un Recquerdo” dinyanyikan. Sule menceritakan sedikit fun fact tentang lagu ini dan Jejak Imaji. Katanya, “Un Recquerdo” diciptakan dari sebuah puisi perpisahan yang dibuat oleh anggota Jejak Imaji. Tim musik Jejak Imaji saat ini pun kebanyakan adalah session player, sedangkan para pemain aslinya sudah terpencar karena pekerjaan.
Lagi-lagi musik progresif dihadirkan kembali. Akor dan struktur di lagu ini mendobrak pakem musik pada kebiasaannya. Juga, aksi pembacaan puisi, turut mengambil peran. Dengan gemetar jemari seorang itu memegang naskah puisi, ia mampu menyampaikannya begitu lantang, gagah, dan garang, sampai bikin saya merinding sejadi-jadinya. Saya menyukai bagian ini. Hal inilah yang membuat album musik puisi ini menarik didengarkan.

Akhirnya, sampailah pada nomor urut delapan, “Surat Buat Emak”. Sebuah lagu yang menurut pengakuan Sule adalah cikal bakal dari gaya musikalisasi Jejak Imaji. Lagu ini langsung menarik perhatian saya ketika sedang bengong akibat pembacaan puisi sebelumnya. Lirik yang melodius, catchy, dan menyentuh, dibarengi dengan sound strings yang penuh–dari voice effect sang pianis. Menghanyutkan.
Lagu ini pun menyisakan ruang untuk membersamai penampilan membaca puisi. Puisi yang menceritakan pesan untuk ibu. Ibu Bumi. Sambil merinding, saya coba menginterpretasi puisi itu. Kira-kira begini saya menangkapnya, bahwa “kita banyak mengambil dari Ibu Bumi, tapi sedikit mengembalikannya. Ekosistem mulai tak seimbang. Cuaca mulai ekstrim. Semua terjadi karena kita yang mulai”. Kalau boleh saya katakan, dari kesadaran itulah puisi ini lahir.
Puisi ditunaikan, semua sing along. Rasanya saya ingin ikut bernyanyi, tapi tak tahu lirik. Ya sudah, saya menikmati saja, sambil membuang pikiran, “bagaimana caranya saya menyampaikan perasaan kagum sekaligus mencengangkan ini ke dalam tulisan nanti”.
Semua yang terjadi pada malam pertama perayaan satu dekade komunitas Jejak Imaji sangat memorable. Semua tracknya punya keunikan, ekspresif, enerjik, menarik, dan yang tak kalah penting, inklusif. Namun, tetap perlu menjadi bahan perhatian untuk lebih memperhatikan kenyamanan vokal ketika bernyanyi. Rasanya, di beberapa lagu, para vokalis tidak menikmati apa yang mereka nyanyikan. Entah karena kurang latihan atau karena nada yang ketinggian. Hal ini juga sempat dikeluhkan oleh Sule di awal-awal pertunjukan. Kemudian, membebaskan permainan para pemain violin atau cello tanpa partitur rasanya agak beresiko. Meraba, mengawang, dan perasaan ragu menjadi kelihatan, kecuali di bagian yang memang sudah menjadi tema dari lagu.
Ada baiknya mengkonsentrasikan bagian string ke dalam partitur agar tampil lebih rapi, nikmat, dan keharmonisan dalam membawakannya tampil serasi. Juga, turut memperhatikan kelayakan instrumen agar tidak terjadi dentuman liar yang nyaring dari tuts piano. Saya rasa dari semuanya, bagian terakhir ini yang paling banyak disadari semua orang. Walaupun, dengan segala keterbatasannya, perayaan malam itu terasa menyenangkan. Barangkali sedikit keresahan saya ini bisa membuat perayaan berikutnya terasa lebih gempar menggelegar.
Editor: Aqilah Mumtaza
Foto Sampul: Jejak Imaji
