Penulis: Latifah Arlita Wirawan
Jelang larut malam, bagai memasuki lahan layar tancap pada zaman dahulu, sebuah layar proyektor berdiri kokoh dan tikar-tikar digelar di Boulevard Institut Seni Indonesia Yogyakarta (30/08/2024). Tikar-tikar yang tak seberapa banyak itu ternyata tidak cukup untuk menampung sekitar empat ratus orang yang memadati area tersebut, menunjukan bahwa festival film merupakan sebuah kegiatan yang inklusif. Orang-orang berbondong-bondong hendak menyaksikan serangkaian film yang telah dirajut dengan saksama oleh para programer, sehingga menghadirkan sebuah judul program pra acara Sewon Screening yang terdengar selaras satu sama lain, yakni “Layar Fakultas Seni Pertunjukan: Performa Dalam Desak Irama.”
Poster Layar Fakultas Seni Pertunjukan (dok. Sewon Screening)
PERFORMA DALAM DESAK IRAMA
Sub-judul program yang disajikan dalam pra acara Sewon Screening di Fakultas Seni Pertunjukan kali ini adalah Performa Dalam Desak Irama. Catatan program yang dibacakan pada malam itu menerangkan bahwa keberagaman yang dipolarisasi secara sakral dan tertanam dalam jiwa secara turun-temurun tak jarang dapat menyebabkan terjadinya konflik, opresi dan separasi. Namun ketika keberagaman tersebut melebur menjadi satu, kebebasan serta perspektif baru dapat dihadirkan sehingga lingkungan yang aman dan damai dapat terwujud. Pra-acara Sewon Screening 10: Layar Fakultas Seni Pertunjukan kali ini, bersungguh- sungguh dalam menyuguhkan empat tayangan yang mencerminkan gagasan-gagasan tersebut.

Acara dibuka dengan munculnya para penari wanita berkostum merah dari balik layar proyektor. Melenggak-lenggok dengan indah dan lincah, menarikan sebuah tarian yang berjudul Wanodya, diambil dari bahasa Jawa yang berarti ‘wanita’. Bercerita tentang para wanita yang terdesak serta harus bersusah payah melawan stereotipe di masyarakat. Kelak, wanita itu menepis stereotipe, dipenuhi terang dan harapan yang besar untuk merasakan gairah hidup yang sesungguhnya. “Memangnya kenapa kalau aku wanita?” teriak salah seorang penari—yang merupakan bagian dari pertunjukan. Menunjukan gejolak di dalam diri para wanita, serta begitu baik dalam mewakilkan amarah para wanita yang sesungguhnya begitu sulit untuk merdeka dalam huru-hara dan gerutu para moralis yang berpikiran sempit. Sebuah pembukaan yang memiliki peran kuat dalam membangun suasana serta sangat mendukung gagasan dari program itu sendiri.
All Eyes On Me sebagai film pembuka juga menguatkan gagasan yang disuguhkan dalam program ini. Film eksperimental yang berdurasi selama tujuh menit tersebut mengisahkan bagaimana seorang wanita menjalani kehidupannya di tengah standar-standar yang senantiasa menyudutkan mereka–pengalaman itu digambarkan melalui teknik sinematografi serta teknik penyuntingan yang digunakan dalam film tersebut. Pada malam penayangan, Sarahdiva Rinaldy sebagai sutradara tak dapat hadir dan diwakilkan oleh kawannya selaku penyunting film tersebut. Sang penyunting film mengatakan bahwa film All Eyes On Me awalnya merupakan sebuah ‘film main-main’ yang berawal dari tugas film eksperimental mereka dan “Pada saat itu kebetulan semua anggota kelompoknya perempuan.” ujarnya. Dengan dana yang tak banyak, mereka memutar otak untuk melaksanakan tugas tersebut, dan cita-cita itu terwujud. Hal ini diperlihatkan melalui visual keseluruhan film yang dibuat agar para penonton seolah sedang menonton sebuah pertunjukan wayang kulit di balik layar berkelir putih.

Di balik layar berkelir putih itu, bayangan dari wujud wayang yang mula-mula muncul pada permulaan film berubah menjadi sesosok wanita. Wanita itu menari-nari, melenggak-lenggok menyampaikan gejolak-gejolak yang dirasakannya mulai dari amarah hingga penerimaan, dengan handal dan indah sehingga gejolak-gejolak yang dirasakannya dapat tersampaikan dengan baik. Dibantu dengan musik elektronik yang diracik dengan sempurna dalam setiap babaknya oleh seorang musisi elektronik kawakan yakni Ali Azca atau yang biasa dikenal dengan moniker Bahtera—serta olahan warna-warna cahaya yang muncul di balik layar berkelir putih itu; seperti warna merah yang menunjukan amarah serta warna biru yang menunjukan penerimaan. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa film ini mampu menyampaikan gagasannya secara sederhana namun begitu kuat dan konseptual.
Behind The Stage menjadi suguhan kedua setelah All Eyes On Me yang menunjukan sebuah pergulatan satu individu yang begitu personal. Behind the Stage merupakan sebuah film berdurasi dua puluh tujuh menit garapan Adith Ath-Thaariq dan kawan-kawan. Behind The Stage menyuguhkan perspektif baru melalui lingkup yang lebih besar yakni dalam kerja tim di balik panggung.

Diterangkan pada permulaan film, bahwa film ini dibuat berdasarkan performance art “Karam di Darat” tahun 2023. Film dibuka dengan adegan long take yang diambil dengan lihai oleh sutradara yang ternyata juga merangkap sebagai DOP (Director of Photography) —menunjukan permasalahan yang telah tampak di permukaan; seorang perempuan yang merupakan pemimpin produksi pertunjukan, dengan tergesa dan kesal mencari si tokoh utama yang bernama ‘Zain’ sebab ia tengah menghilang dan dianggap lari dari tanggung jawabnya sebagai seorang stage manager. Perempuan itu bertanya ke sana ke mari namun tak ada seorang pun yang tahu di mana keberadaan Zain. Semua orang di balik panggung membenci Zain, bahkan ketika ia telah hadir untuk memenuhi tanggung jawabnya. Mereka tetap membenci Zain tanpa tahu apa alasan yang membuat Zain bertingkah demikian. Pada sesi diskusi Adith Ath-Thaariq menerangkan bahwa film ini bertema perspektif. Seperti ketika ia ingin melihat Mahabarata dari perspektif yang terbalik, melihat dari perspektif Sengkuni dan Gandari. Maka begitu mengejutkan untuk menyaksikan adegan akhir dari film ini, dengan napas pendeknya tetap memiliki kemampuan untuk menimbulkan berbagai makna dan pesan yang membuat kita berkontemplasi dan menjadi refleksi bagaimana manusia sering kali berselisih paham karena sesuatu yang sesungguhnya hanya nampak di permukaan saja.

Beralih ke tayangan berikutnya, film ketiga menunjukan harmoni merdu yang dihasilkan apabila manusia dapat saling bergandeng tangan dan meramu mesra. Film dokumenter It’s Wijilan yang didireksi oleh Alexander Sinaga ini menampilkan perjalanan dan lika-liku dari sebuah kolektif hiphop bernama Hellhouse—yang tumbuh dan berkembang dari sebuah jalan di daerah Kraton Yogyakarta bernama Wijilan—dalam membentuk sebuah program bernama “Kids On the Beat”. Program tersebut, bertujuan untuk meregenerasi musisi hiphop, khususnya di daerah Wijilan. Kids On the Beat berbentuk workshop pembuatan musik hiphop dengan output perekaman menggunakan alat-alat yang memadai serta pertunjukan di panggung yang diikuti oleh anak-anak di Wijilan tanpa dipungut biaya sama sekali. Program yang diadakan oleh Hellhouse tersebut disetujui dan didukung oleh masyarakat setempat termasuk para orangtua dari peserta program “Kids On the Beat”. Sebuah gerakan yang sehat dan positif, menyentuh hati melihat bahwa anak-anak didikan dari para musisi Hellhouse dapat tampil di panggung dengan percaya diri, membawakan karya-karya mereka sendiri dan pada akhirnya semakin naik pamor dan diundang ke berbagai acara. Menunjukan bahwasanya hubungan antar manusia dapat menjadi sesuatu yang menyejukan hati apabila kita saling bergandeng tangan dan menghapus ‘batas-batas biner’ yang seringkali dijadikan sebagai alasan untuk mempolarisasi sesuatu hal.
Para perempuan remaja Minahasa yang beranjak dewasa dalam film surealis; Garden Amidst the Flame juga bergandeng tangan dan berpetualang melintasi berbagai waktu. Gadis-gadis itu menantang hipermaskulinitas dalam sebuah ritual atau upacara adat Minahasa yang disebut ‘Karai’ dalam sebuah lingkungan yang bersifat heteronormatif. Petualangan ini bermula pada suatu malam, ketika Virsay mencukur seluruh alisnya dan adiknya mengingatkan bahwa mencukur alis bisa membuat manusia melihat makhluk halus. Di kemudian hari ketika Virsay kembali ke kamarnya, ia disambut oleh leluhurnya, yakni seorang monster ikan. Kejadian itu membawa Virsay berpetualang bersama sekelompok gadis (termasuk Mikha, adiknya) yang mempraktikkan ajaran-ajaran kuno Minahasa hingga menantang hipermaskulinitas dalam ritual Karai; sebuah ritual yang diikuti oleh para remaja Minahasa sebagai penanda akil baligh, namun dalam situasi Minahasa kontemporer ritual ini sering kali didominasi oleh laki-laki.

Natasha Tontey sebagai pembuat film tak dapat hadir pada malam itu namun titipan pesan yang disampaikan Natasha Tontey mengenai film buatannya telah disampaikan oleh moderator acara—Tontey mengungkapkan bahwa Garden Amidst the Flame merupakan sebuah karya yang memperluas penelitian artistiknya dalam kosmologi Minahasa. Natasha Tontey ingin mengeksplorasi dan menarasikan perasaannya ketika ia mengikuti ritual di Minahasa dengan bentuk fiksi spekulatif. Ia juga memiliki gagasan untuk mengkonfigurasi ulang asumsi Karai dan kaitannya “Untuk gagasan kepedulian dan kasih. Dan bukan melulu hanya kekebalan, agresi dan maskulinitas.”
Warna-warni yang meriah serta situasi psikedelik yang senantiasa bermunculan membuat film ini terasa semakin surealis—memiliki kemampuan untuk membuat penonton hilang di dalamnya dan terhanyut, lantas tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi kepada Virsay dan kawan-kawannya. “I’d rather people feel a film before understanding it.” demikian ujar seorang sutradara Prancis, Robert Bresson—menunjukan bahwa gagasan Natasha Tontey dalam membuat sebuah karya fiksi spekulatif telah terwujud dengan baik dalam film fantasi buatannya ini. Sebuah penutup yang manis dan unik dalam sajian Performa Dalam Desak Irama.

Sewon Screening telah berhasil mewujudkan gagasan salah satu programnya dengan begitu manis. Program menuju acara inti ini begitu menjanjikan. Ardi, selaku festival director mengatakan bahwasannya “Kami memang berfokus kepada bagaimana medium pertunjukan dan identitas yang lepas dari batas-batas biner pada dasarnya memang saling bertaut. Kerap kali, kedua elemen tersebut ‘didesak’ atau dipengaruhi oleh tekanan eksternal yang hadir dalam berbagai manifestasi, kicauan dan dinamika sikap masyarakat terhadap kehadiran identitas yang tidak biner itu sendiri—sebagaimana halnya didefinisikan oleh kata ‘irama’. Akan tetapi dalam program ini, kami berusaha menghadirkan ruang untuk identitas tersebut menampakan diri dan bersuara dengan merdu—” . Dengan keterangan tersebut, kita dapat menilai bahwa program screening lintas fakultas ini bukan hanya sekadar program pra acara biasa, namun menunjukan bahwa kedua medium seni yang berbeda ternyata saling bertaut selama ini.
Sebagaimana seni media rekam yang berperan dalam bidang alih wahana dan pengarsipan telah mengabadikan kesenian tradisi, seni lakon dan seni musik—bersatu padu merekam tragedi, komedi dan kemujuran dalam kebudayaan yang beragam. Sehingga pada akhirnya fragmen-fragmen yang telah dipersatukan dengan apik tersebut dapat menggema panjang, tak berhenti di ruang fisik. Perkawinan antara dua media seni yang berbeda terkadang dapat memberikan faedah yang tidak terduga—sebagaimana pendekatan sinematik dalam sinema dapat memperluas ruang tafsir serta elemen estetis dari seni pertunjukan oleh sebab spektrum visual dan auditifnya yang mendapatkan polesan artistik berkat sentuhan para pembuat film. Oleh karena itu, upaya Sewon Screening dalam menampilkan dinamika yang menembus batas-batas biner telah berhasil menghadirkan harmoni yang serasi dan merdu, menjadi penawar racun dan pengiring yang sempurna dalam desak irama, di Pra Acara Sewon Screening: Layar Fakultas Seni Pertunjukan.
Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: Sewon Screening
