Semarak Maulid Nabi SAW oleh KMI ISI Yogyakarta: Muhammadiyah yang Pro Sholawat dan Peringatan Maulid

Penulis: Alif Amin Arrofah 

“Siapa yang tertarik menghadiri acara tahunan Maulid Nabi SAW? Paling yang hadir hanya mahasiswa baru, itu pun terpaksa karena ditagih absen oleh dosen mata kuliah keagamaan.”

Lontaran kalimat di atas saya pastikan untuk tidak terucap lagi setelah kita hadir dan duduk di tengah majelis acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Islam Institut Seni Indonesia Yogyakarta (KMI ISI Yogyakarta) pada 20 September 2024 kemarin.

Berawal dari menerima tawaran untuk menjadi pengisi acara dalam kegiatan tersebut, saya pun akhirnya enggan berpaling dari kegiatan ini. Awalnya saya tidak terlalu antusias. Saya berniat hadir hanya untuk mengusaikan hajat sebagai pengisi acara. Namun sembari mempersiapkan diri, entah mengapa saya merasa tertarik dengan pamflet yang dipromosikan oleh teman-teman KMI.

Poster Acara Peringatan Maulid Nabi KMI ISI Yogyakarta (dok. KMI ISI Yogyakarta)

Dalam poster, tersemat nama Kyai Kusen. Bersamaan dengan itu, tertulis keterangan “Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya PP Muhammadiyah.” Saya pikir beberapa orang pasti akan sadar akan kejanggalan yang terpampang ini. Namun bagi yang belum familiar, saya akan coba jelaskan sedikit gambaran. Muhammadiyah adalah sebuah organisasi masyarakat yang mewadahi gerakan dakwah islam yang anti bid’ah. Sedangkan bid’ah merupakan pembaruan ajaran dalam hal ibadah tanpa berpedoman langsung dari Qur’an dan Sunnah. Salah satu ibadah yang dianggap bid’ah dan seringkali memunculkan kontroversi di kalangan ulama antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama adalah sholawatan serta acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kyai Kusen, seorang Pengurus Pusat Pimpinan Muhammadiyah menghadiri acara Peringatan Maulid Nabi SAW sebagai pembicara. Sekali lagi, sebagai pembicara. Saya menganggap hal tersebut sebagai lelucon pada saat itu. Tapi tidak lucu juga kalau akhirnya terjadi ketegangan karena pembicara yang diundang tidak sepaham dengan konsep acara yang akan diadakan. Ditambah lagi beberapa waktu lalu saya melihat story di media sosial teman-teman angota KMI, mereka terlihat sedang berlatih hadroh untuk tampil di acara Maulid Nabi tersebut. Saya sama sekali tidak salah tangkap, acara peringatan Maulid Nabi SAW ini juga menampilkan hadroh berisi sholawat pujian kepada Nabi SAW. Cukup menegangkan untuk dihadiri oleh petinggi Muhammadiyah. 

Saya semakin overthinking, menerka-nerka apa yang akan terjadi pada hari pelaksanaan dengan combo yang begitu panas bila disatukan, sudah seperti api dan bensin saja. Tapi di sisi lain, saya melihat adanya celah untuk menjadikannya tercatat dalam sebuah artikel.

Sore, pukul 18:26 saya berjalan meninggalkan gedung Jurusan Musik beserta atribut perkuliahan yang masih disandang dan dijinjing sebelah tangan, berkejar-kejaran dengan waktu Maghrib yang singkat, berlari kecil menuju Masjid Al Muhtar ISI Yogyakarta. 

Setelah Isya’ kelompok hadroh KMI tampil di teras Masjid, menghadap majelis seolah memberikan sambutan kepada majelis yang baru hadir dan mengambil tempat. Acara pun dibuka oleh moderator, diikuti oleh pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dan sambutaan dari Ketua DKM beserta Rektor (dalam hal ini diwakili oleh Wakil Rektor III, Bapak Kholid Arif Rozaq).

Setelah rentetan sambutan, tibalah acara inti yang ditunggu-tunggu. Saya mulai was-was di sini. Bagaimana tidak, kelompok hadroh kembali menabuh dan menyanyikan senandung kerinduan untuk Nabi SAW di depan Pengurus Pusat Muhammadiyah. Suasana semakin meriah dengan ramainya lantunan sholawat yang terujar, namun saya yang duduk di barisan terdepan mulai menajamkan mata, takut kelewatan detail-detail krusial dan rekaman ekspresi dalam acara ini.

Sampai akhirnya Kyai Kusen naik ke atas mimbar, dengan latar suasana dari Sholawat Badar yang masih menggema. Lantunan sholawat terdengar semakin keras dan diikuti oleh massa yang lebih ramai lagi. Suasana yang amat saya rindukan terobati dalam acara setahun sekali ini.

Usai Sholawat, Kyai memperkenalkan diri yang nyatanya benar sebagai seorang pengurus PP Muhammadiyah sekaligus anggota Lembaga Seni Budaya & Peradaban Islam MUI Pusat. Beliau juga menjelaskan latar belakang pendidikan yang mana sebelumnya sempat menempuh pendidikan S3 di Rusia dan sebelumnya juga sempat mengajar di sebuah kampung pelacur, mengajar anak-anak di sana, mengalihkan pandangan anak-anak di sana untuk mengerjakan hal-hal yang lebih bermanfaat dibandingkan sekedar mangkal di amperan dan mabuk ciu, katanya. 

Dalam ceramahnya, Kyai menjawab apa yang sebelumnya mengganggu pikiran saya, tentang kontroversi bid’ah ibadah yang sampai saat ini terdengar di lingkungan masyarakat. Kyai menyampaikan bahwa bid’ah hanya berlaku untuk ibadah wajib yang dimodifikasi, sedangkan sholawat dan peringatan kelahiran Nabi SAW bukanlah bagian dari ibadah wajib, sehingga ini harusnya bukanlah sebagai hal yang harus diperdebatkan lagi. Bahkan Kyai juga menyampaikan bahwa beliau pernah mengadakan acara Muhammadiyah Bersholawat dan mendapatkan persetujuan dari para petinggi lain atas keberaniannya.

“Mustahil apabila Agama dipisahkan dari Budaya. Kita diwajibkan menutup aurat, sedangkan baju ini, kain ini adalah produk budaya. Kita diwajibkan melaksanakan Haji, sedangkan pesawat adalah produk budaya. Maka dari itu, mustahil apabila agama dipisahkan dari budaya” tegas Kyai Kusen.

Tiba di penjelasan yang sedari tadi saya tunggu-tunggu. Sebagai pengantar, Kyai menyampaikan, bahwa kesalahan awam yang menganggap budaya hanya sekedar seni, musik dan puisi. Padahal ada budaya dalam cakupan bidang lainnya, di antaranya ada budaya pertanian, budaya perdangangan, budaya pendidikan, dan lain sebagainya. Dalam memaknai tradisi, khususunya dalam islamisasi, Nabi SAW bukan semerta-merta merubah budaya yang sudah ada, melainkan hanya mengganti isi tradisinya ke dalam bentuk konten agama. Contohnya ketika dahulu sebelum dakwah Nabi SAW, aqiqah adalah tradisi orang arab, yang mana ketika seorang anak lahir, maka disembelihlah seekor domba dan darah domba tersebut diteteskan ke atas kepala bayi. Ketika hadir dakwah Nabi SAW, tradisi tersebut tetap ada. Hanya saja do’a-do’a yang diucapkan dirubah dan penggunaan darah digantikan oleh minyak wangi yang diusap ke kepala bayi.

“Hal yang sama juga dilakukan oleh Wali Songo ketika menghadapi tradisi kejawen, yang mana apabila ada seseorang meninggal, maka setiap hari ke-tujuh, empat puluh, seratus hingga keseribu sejak orang itu meninggal, keluarga yang ditinggalkan berdo’a untuk roh agar rohnya tenang di sana, melihat keluarganya tidak lagi bersedih dan mendo’akan arwah. Wali songo hanya mengganti do’a-do’a yang dilantunkan, dari mantra-mantra kejawen menjadi ‘Allaahummagh firlahu’ dan lain sebagainya. Maka dari itu, tahlilan itu boleh,” ucap Kyai kusen dalam ceramahnya, menjelaskan alasan yang sebenarnya sekaligus sudah menjawab sebuah tanda tanya besar dalam benak saya.

Kyai Kusen menutup penjelasannya dengan pernyataan bahwa sholawatan merupakan salah satu produk budaya yang pada masanya digunakan untuk sarana islamisasi, begitu pula dengan perayaan maulid. Jawaban ini bagitu memuaskan bagi saya, menghilangkan tanda tanya besar dalam benak saya terkait argumen yang saling menggesek selama ini.

Saya yang sudah merasa terpuaskan dengan penjelasan Kyai Kusen dibuat lebih terkesan lagi dengan dua puisi gubahannya yang ditampilkan pula oleh beliau sendiri. Salah satunya berjudul ‘Kakekku Pahlawan, Aku Cucunya’ yang bercerita tentang kritik beliau terhadap pemegang kuasa yang menepikan rakyat kecil, dan ‘kakek pahlawan’ dalam puisi ini berpesan, agar sang cucu dapat menjalankan amanah kelak ketika dipercaya dalam memegang alih kuasa.

Saya terpukau berkali-kali dan tidak mengisakan tanda tanya lagi. Setelah selesai membacakan puisi, moderator kemudian mengambil alih dan acara pun ditutup dengan pemberian cenderamata diiringi lantunan sholawat dari tim hadroh KMI. 

Uniknya, ketika saya berkesempatan mewawancarai salah seorang teman yang juga merupakan panitia acara Maulidan dari KMI, sebelum saya sempat melontarkan pertanyaan, dia terlebih dahulu berkata, “Saya tahu sekali apa yang kamu cari,” kemudian kami sama-sama tertawa dan memahami maksud satu sama lain. Saya memutuskan untuk tidak melanjutkan wawancara, karena semua yang ingin saya pertanyakan sudah cukup terjawab dalam majelis malam ini.

Sebagai mahasiswa yang menempuh pendidikan di Jurusan Musik, saya punya kepercayaan bahwa kelak masyarakat luas bisa mencapai konsensus yang sama. Melihat agama dan kebudayaan bukan sebagai dua elemen yang terpolarisasi, melainkan bisa saling terintegrasi, memperkuat spiritualitas dan menuntun kita untuk semakin dekat kepada sang Maha Pencipta.

Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: Wikipedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *