Mengasah Kreativitas Musikal Lewat Meditasi Transendental; Satu Jam Jelajah Kemampuan Otak Ditemani Professor Travis

Penulis: Vinda Angguna Alya Hawa Cinta

Sinar mentari menyorot terik, sekumpulan manusia memadati Teater Arena Kampus ISI Yogyakarta di hangatnya Kamis pagi. Mereka tampak bersemangat mengantre untuk hadir dalam  kegiatan seminar internasional bertajuk “Creative Inventiveness Based on Brain Intelligence”. Seminar ini diselenggarakan oleh Program Studi Penciptaan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta.

Seminar yang dibuka untuk umum ini dihadiri oleh berbagai kalangan dengan jumlah kurang lebih 178 peserta sebagaimana yang tercatat pada buku registrasi. Mulai dari Dekanat, Kepala Program Studi, Rekan Pejabat Akademik, Dosen, Mahasiswa, bahkan murid SMA berbaur menjadi satu dan mengantre dengan tertib. Disambut oleh among tamu, mempersilakan para hadirin untuk mengisi data diri dan membekali peserta dengan sebuah booklet berisi informasi seminar yang lengkap disertai profil narasumber.

Antre partisipan seminar (dok. pribadi)

Di dalam gedung arena, suasana hangat meliputi setiap peserta yang duduk rapi menanti acara dimulai. Kami segera menempatkan diri di posisi strategis guna mendapatkan pemandangan paling jelas. Ketersediaan bantal – bantal kecil yang ditata rapi menjadi alas duduk cukup untuk tamu undangan. Walaupun beberapa masih tampak kosong, para peserta sepertinya segan untuk menempati alas duduk tersebut. Dari balik tirai terdengar suara MC menggema, memberikan arahan tata tertib serta protokol keamanan dengan jelas memastikan setiap peserta merasa nyaman dan aman selama acara berlangsung.

Suasana di dalam gedung seminar (dok. pribadi)

Tak lama setelahnya, dua orang MC muncul dari kanan panggung, menyapa hadirin dengan senyum, memberi salam dan ucapan terimakasih atas kehadiran dan partisipasi yang luar biasa. Keduanya mengajak semua peserta untuk berdiri menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Melodi yang menggugah semangat pun menggema, mengikat hati seisi ruangan dalam jiwa nasionalisme. Tak lupa dilanjutkan dengan berdoa sesuai kepercayaan masing – masing secara khidmat, berharap agar seminar ini berjalan lancar dan memberi manfaat bagi semua. Rasa persatuan dan harapan meliputi ruangan, menandakan bahwa perjalanan seminar yang penuh makna akan segera dimulai.

”Rembulan Kalangan” sebuah karya musik gubahan Dr. IGN. Wiryawan Budhiana, M.Hum., dipersembahkan sebagai pengantar acara. Karya dimainkan dalam format Duet piano dan violin oleh Atanasia Pasakalya Primanta dan Bonfilio Shyallom Rezandy Bangun. Karya ini bercerita tentang terjadinya lingkaran sinar ketika langit cerah dan bulan purnama di tengah malam. Lagu Rembulan Kalangan bertepatan dengan beberapa malam di Jogja yang belakangan ini dihiasi indahnya bulan purnama. Karya yang dimainkan begitu menyentuh hati pendengar, membawa atmosfir syahdu yang kuat.

Pertunjukan pengantar (dok. pribadi)

Acara dibuka dengan sambutan dari dekan dan kepala program studi. Kala dilaksanakan penandatanganan dokumen kemitraan antara pihak ISI Yogyakarta khususnya Program Studi Penciptaan Musik dengan Yayasan Satu Wellness Indonesia yang menghadirkan Dr. Fred Travis sebagai narasumber. Penyerahan buah tangan juga dilakukan sebagai bentuk apresiasi. Kemitraan ini menandai kolaborasi akademik yang disadari penuh oleh kedua belah pihak dalam upaya penyebarluasan dan pengembangan ilmu pengetahuan di lingkup pendidikan tinggi.

Sesi foto usai tanda tangan kerja sama (dok. Prodi Penciptaan Musik)

Dr. Frederick Travis adalah seorang profesor di bidang Sains, Dekan Sekolah Pascasarjana, Direktur Pusat Otak Kesadaran dan Kognisi. Memperoleh gelar Magister Sains (MS), Doctor of Philosophy (PhD) di bidang Psikologi dari Maharishi Internasional University, serta Bachelor of Sience (BS) di bidang desain, psikologi, dan Analisis Lingkungan dari Cornell University.

Tepukan tangan mulai terdengar riuh ketika Dr. Travis naik keatas panggung beserta dengan seorang penerjemah. Hal pertama yang Dr. Travis lakukan adalah memperlihatkan gambar dengan 9 titik yang membentuk sebuah kotak. Beliau bertanya berapa jumlah garis paling sedikit yang bisa ditarik tanpa mengangkat pena untuk menghubungkan titik tersebut. Sebagian peserta menjawab 5 atau 4 garis. Hal ini dirancang agar memberikan Dr. Travis gambaran tentang cara berpikir kita dalam memecahkan suatu masalah.

Jawaban Dr. Travis sangat di luar dugaan. Beliau membuat 1 garis tebal yang menutupi 9 titik tersebut. Dalam hal ini, Dr. Travis mengajak kita untuk berpikir di luar kotak atau melihat dari sudut pandang lain yang akan mengasah kreativitas. “Ini bagian otak yang membuat kita melihat segala hal secara lebih luas” menerjemahkan perkataan Dr. Travis, sang penerjemah menyampaikan dengan sederhana dan mudah dipahami. Dr. Travis juga menggambarkan bagian-bagian otak dengan fungsinya. Seperti otak depan (lobus frontal), belakang, kanan dan kiri beserta perannya masing – masing.

Kondisi tubuh sangat memengaruhi kinerja otak, kelelahan dapat mematikan sirkuit dalam otak. Dr. Travis memaparkan hal yang terjadi dalam otak jika  kita kekurangan tidur. ”Bagian otak kita digunakan sepanjang hari, kemudian terurai dan menciptakan ‘debu tidur’ sebanyak 7 gram setiap hari sehingga menghambat fungsi otak dan terakumulasi” Biasanya jam tidur menentukan tingkat kewaspadaan seseorang dan kreativitas tidak mengalir jika kita kekurangan tidur.

Dr. Travis sangat melibatkan peserta dalam penyampaian materi. Beliau membiarkan peserta berinteraksi satu sama lain dan aktif dalam bertanya. Bahkan, Dr. Travis memberi waktu sekitar 5 menit untuk mengamati apakah orang di samping mendapat cukup jam tidur dari raut wajah atau cara mereka berkomunikasi. Seketika semua melempar tawa, tahu bahwa hampir dari 50%  peserta tidak mendapat waktu tidur yang cukup sebanyak 7 jam mulai dari jam 9 malam sampai dengan 4 pagi.

Semua peserta nampak memperhatikan materi dengan seksama, dibuktikan dengan beberapa pertanyaan yang langsung diajukan begitu sesi tanya jawab dibuka. ”Apakah logika kebanyakan tidur akan meningkatkan kreativitas?” beberapa peserta tertawa terlepas begitu mendengar pertanyaan ini. Dibalut dengan candaan, Dr.Travis menjawab pertanyaan dengan baik. “Pertanyaan bagus, Anda dapat tidur sebanyak mungkin” Dr. Travis tertawa kecil, “Namun perhatikan, jika Anda tidur di malam hari dengan di pagi hari akan terasa beda dampaknya. Sehingga, bukan seberapa banyak. Namun, waktu yang berkualitas.”

Selain kekurangan tidur, stres juga menjadi masalah otak yang tidak kalah penting. Bayangkan otak kita sebagai pusat kegiatan yang aktif. Ketika dihadapkan pada tantangan, semua bagian otak kita terbangun, siap untuk memikirkan dan mengolah informasi. Namun, jika tantangan itu terlalu banyak, beban yang berlebihan dapat menyebabkan stres dan menurunkan fungsi otak. Dalam keadaan seperti ini, emosi yang meluap-luap dapat muncul, mengakibatkan tindakan dan ucapan yang keluar tanpa mempertimbangkan pikiran dengan jernih. Sehingga tingkat kreativitas juga menurun. “Coba perhatikan rekan di samping, bagaimana stres mempengaruhi kreativitas Anda?” Dr. Travis berdiri di depan ruang seminar, dengan sorotan cahaya lembut menyinari wajahnya yang penuh semangat. ”3 menit, harusnya riuh ruangan ini” Peserta mulai saling melirik, sebagian tertawa, sementara yang lain tampak tersenyum.

Ruangan mulai dipenuhi dengan energi baru saat peserta merasakan perubahan dalam suasana. Mereka mulai berinteraksi, tertawa, dan berdiskusi, seolah-olah pintu kreativitas yang semula tertutup kini mulai terbuka lebar. Pertanyaan baru mulai bermunculan, Dr. Travis menjawabnya dengan beranalogi, menyampaikan hal yang sebenarnya rumit menjadi mudah untuk dicerna. Dengan setiap analogi yang diungkapkan, suasana ruangan semakin hidup, dan peserta merasakan dorongan untuk mengeksplorasi lebih jauh. Dr. Travis berhasil mengubah hal yang kompleks menjadi mudah dipahami, menyulut semangat dan rasa ingin tahu di hati setiap individu yang hadir.

Ini mengantarkan kita kepada poin selanjutnya, bagaimana menghadapi stres dengan meditasi transedental. Meditasi ada berbagai macam jangkauannya dari yang sulit sampai paling mudah. Di sini, Dr. Travis menjelaskan tiga jenis meditasi. Yang pertama adalah meditasi Focussed Attention Gamma dengan gelombang 20 – 50 Hz per detik, di mana kita perlu mengarahkan pikiran pada satu hal. Meditasi ini memerlukan banyak usaha dan energi. Seperti perumpamaan bergerak kesana-kemari, mengendap-endap, dan melompat dengan usaha yang besar untuk menangkap seekor kera. Inilah yang sering membuat orang berpikir bahwa meditasi itu sulit.

Meditasi yang kedua adalah open monitoring. Meditasi ini hanya mengamati yang terjadi dalam tubuh dan alam pikrian. Jenis meditasi ini yang paling umum disebut mindfullness atau tipe kontemplasi dengan gelombang 5 – 8 Hz per detik. Kategori yang ketiga disebut Transcedental Meditation (TM). Dimulai dari tingkatan berpikir sampai tahap Silent atau ketenangan. Kegiatan ini membantu untuk sampai kepada proses kognisi dan memperluas kesadaran kita. Jika diperumpamakan seperti kera tadi, TM ini justru membuat kita berpikir apa yang disukai kera, kemudian menempatkan pisang  di depan rumah untuk menangkap kera tersebut. Latihan TM ini mengajak kita untuk berpikir sederhana dan memahami apa yang pikiran kita inginkan. Untuk memberikan penjelasan yang lebih jelas, Dr. Travis menggunakan perumpamaan lain. Beliau mengatakan bahwa meditasi itu seperti menggunakan pisau, sementara TM adalah proses mengasah pisau tersebut.

Dalam meditasi Transcedental terdapat 3 tahapan; yang pertama mempersiapkan diri dan mempelajari apa yang harus dilakukan. Selanjutnya, justru kita harus melepaskan atau berhenti berpikir. Tahap ini disebut dengan masa inkubasi. Kemudian ketenangan membiarkan otak kita bernafas sehingga ide ide kreatif datang secara alami. Saat kita melakukan TM, bayangkan gelombang air, pikiran kita seperti ombak di permukaan. Dengan TM, kita akan belajar untuk menyelami pikiran ke tingkat yang lebih dalam. Saat ini terjadi, pikiran tidak lagi mengekang alam bawah sadar dan kita bisa mengakses tahap silent atau keheningan, sehingga otak dapat berpikir jernih dan memunculkan kreativitas.

Sebelum beralih ke materi selanjutnya, Dr. Travis kembali membuka sesi tanya jawab yang langsung disambut dengan antusias. Beberapa peserta mulai mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan yang sangat menarik. “Apakah meditasi memerlukan bimbingan seorang guru?”

“Jawabanya, ya. Berlatih TM sama halnya dengan belajar mengendarai sepeda. Anda akan diarahkan untuk melakukan ini atau itu, tetapi pada akhirnya, Anda sendiri yang menemukan jawaban secara alami. Guru tidak akan memberikan penjelasan teoritis secara mendalam.”

Materi yang disampaikan Dr. Travis terasa seperti pemanas otak yang efektif, membangkitkan semangat peserta dengan ide – ide segar dan inspiratif. Beliau mengumumkan waktu istirahat selama 10 menit. Peserta mulai berbincang satu sama lain, menikmati momen untuk merefleksikan apa yang baru saja mereka pelajari. Sementara itu, Dr. Travis sibuk menyiapkan alat untuk demonstrasi yang akan memberikan gambaran nyata tentang cara kerja otak. Di tengah suasana santai ini, sebuah karya musik yang digubah oleh Puput Pramuditya berjudul “Uyel – Uyelan” mulai dimainkan untuk menemani seluruh audiens di dalam Arena.

“Uyel-Uyelan” merupakan komposisi musik dengan formasi duet antara violin dan contrabass. Bunyi dari kedua instrumen merupakan manifestasi dalam sebuah kehidupan rumah tangga oleh sepasang suami istri. Istilah uyel-uyelan dalam bahasa Jawa artinya saling berdekatan hingga menimbulkan situasi berdesakan. Konsep ini diterjemahkan ke dalam bunyi interlocking antara violin dan contrabass menggunakan notasi spasial untuk  menggambarkan kondisi saling pengertian dan saling merespon dalam hubungan rumah tangga. Penyusunan konsep ini didasarkan atas kesadaran sebuah ensemble dalam berkomunikasi secara musikal-emosional antar instrument dengan saling memahami proporsinya masing-masing. Karya akan dimainkan dengan instrumentasi violin oleh Dheva Clavinova Lauree dan Contrabass oleh Dista Wisnu Pratanda.

Penampilan karya Uyel-uyelan (dok. Lintang Pramudia Swara)

Waktu istirahat telah usai, kini saatnya memfokuskan kembali pikiran agar dapat menyimak materi dengan baik. Di depan, layar proyektor menampilkan gambar otak bagian dalam. Terdapat beberapa garis kecil melengkung yang menunjukkan koherensi antara bagian otak yang bersebelahan, sedangkan garis yang melintang merupakan koherensi otak secara menyeluruh. Dr. Travis memasangkan sebuah alat berbentuk helm yang bernama EEG (Electroencephalogram.) kepada seorang relawan. Helm EEG tersebut dilengkapi dengan sensor yang ditempel ke kulit kepala dan akan mendeteksi pergerakan gelombang tersebut ketika relawan membuka mata, menutup mata, atau bermeditasi.

Demonstrasi EEG (dok. Lintang Pramudia Swara)

Salah satu hal yang menarik perhatian peserta adalah busa di bagian atas helm, yang menempel langsung pada kulit kepala relawan. Air garam dimasukkan kedalam busa tersebut, sebuah elemen penting yang berfungsi menghantarkan listrik. Namun, tantangannya adalah rambut relawan tidak boleh menyentuh sensor, karena hal itu dapat mengganggu sinyal yang diperlukan untuk pengukuran yang akurat. Kecermatan menjadi kunci agar perangkat ini berfungsi dengan baik. Sama seperti contoh tadi, gambar otak bagian dalam langsung terlihat menampilkan garis – garis yang sedang aktif secara menyeluruh. Pergerakan garis – garis tersebut terlihat acak dan cepat. Seperti mesin yang sedang bekerja dengan keras bagai pusat komando yang sibuk.

Kemudian, Dr. Travis meminta relawan untuk memejamkan mata dan mulai bermeditasi. Seketika, pergerakan garis-garis pada layar melambat dan jumlahnya berkurang, Garis tertentu memiliki warna yang berbeda menandakan seberapa tinggi koherensi. Menunjukkan bahwa hanya beberapa bagian otak yang aktif saat relawan memasuki keadaan tenang dan fokus. Tak lama, relawan Kembali membuka matanya. Hal ini berdampak pada aktivitas otak yang terlihat dari layar. Garis – garis tadi hilang sekejap lalu Kembali muncul dengan gelombang pergerakan yang normal. Jika kita mengambil waktu untuk bermeditasi selama beberapa menit dalam sehari dapat membawa perubahan baik untuk kondisi otak kita.

Demonstrasi aktivitas otak itu berlangsung singkat, tetapi meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Ruangan dipenuhi dengan suasana takjub, semua mata terpaku pada layar yang masih menampilkan gambaran dinamis dari otak yang bekerja. Tepukan tangan meriah menggema, mengiringi langkah relawan yang kembali ke tempat duduknya, menandakan apresiasi yang tulus dari semua yang hadir.

Dengan senyum lebar di wajahnya, Dr. Travis mengamati reaksi para peserta. beliau berhasil mengubah momen pembelajaran yang biasa menjadi sebuah pengalaman yang menarik dan seru. Dr. Travis mampu membangkitkan rasa ingin tahu dan antusias di dalam diri setiap peserta. Diskusi dan tanya jawab pun mulai mengalir, mengisi ruangan dengan energi positif dan semangat eksplorasi yang baru.

Salah satu peserta bertanya mengenai pengalaman mati suri dan mempertanyakan ”Apa yang terjadi di dalam otak? Apakah itu halusinasi?” Sambil menyeruput minuman hangatnya, Dr.Travis menjawab dengan tenang, “itu bukan halusinasi seperti suatu konten di luar diri kita. Namun, ini adalah pengalaman batin yang terhubung dengan spiritual” ini menandakan bahwa psikologi, sains, dan spiritual berhubungan. Karena psikologi dapat menjelaskan bagaimana pengalaman spiritual dapat memengaruhi pikiran dan emosi, sementara sains dapat memberi bukti dari pengalaman tersebut.

Suasana ruangan dipenuhi dengan tepukan tangan meriah. seolah-olah mengucapkan terima kasih atas pengetahuan dan wawasan yang telah dibagikan oleh Dr. Travis. Acara diserahkan Kembali pada MC dan moderator yang menyimpulkan isi dari seminar tadi bahwa salah satu bagian dalam tubuh kita penting sebagaimana perannya masing masing, dalam hal ini otak kita. Otak setiap manusia berbeda baik kapasitas maupun kemampuan, namun bagaimana cara kita mempergunakannya dengan bijak, mengatur porsi kapasitas otak dengan menjaga pola hidup yang sehat, seperti tidur selama 7-9 jam agar memberikan waktu untuk tubuh mendekontaminasi debu tidur. Kita cenderung mendorong otak kita untuk bekerja keras lebih cepat yang dapat menyebabkan stress. Dengan metode meditasi TM dapat membantu otak kita melalui beberapa proses menuju ketenangan secara alamiah yang dapat mengurangi stress dan kecemasan, meningkatkan Kesehatan mental  dan memunculkan ide ide baru. Sehingga TM bisa menjadi alat agar dapat meningkatkan kreativitas sehingga mengantarkan kepada kesukesan. 

Kebiasaan berlatih meditasi otak merupakan praktik efektif sebagai alat untuk meningkatkan kapasitas otak secara kognitif. Hal ini juga sangat bermanfaat untuk penulis sebagai mahasiswa aktif dari Program Studi Musikologi, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta yang mengintegrasikan ilmu musik murni, metodologi penelitian, dan analisis hubungan musik dengan berbagai disiplin ilmu lainnya, seperti psikologi, sosiologi, antropologi, filsafat, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, hal ini dapat dijadikan acuan bagi Program Studi untuk lebih sering mengadakan acara serupa, yang memiliki dampak langsung dan signifikan dalam membantu Civitas Akademika.

Sesi foto bersama (dok. Prodi Penciptaan Musik)

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat, dan kini acara seminar telah tiba di penghujungnya. Acara ditutup dengan pengambilan foto bersama. Pihak penyelenggara acara berterimakasih kepada para peserta yang sudah berkontribusi dari awal hingga akhir acara. Harapannya, kerja sama dapat terus terjalin, dan materi yang dipaparkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa dalam penerapannya sehari-hari. Seperti penulis dengan gemuruh petir dalam otaknya. Berjalan meninggalkan gedung, merasakan perubahan signifikan dalam diri, seperti individu yang berbeda dibandingkan saat memasuki ruang seminar. Menyadari bahwa meskipun kecemasan mungkin akan selalu ada, penulis kini memiliki alat untuk menghadapinya. Dengan senyuman di bibir, bersiap menyambut hari baru, penuh harapan dan keyakinan.

Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto sampul: Lintang Pramudia Swara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *