Nusantara Svaraloka: Merayakan Kekayaan Musik Tradisional dalam Aransemen Jazz

Penulis: Grace Immanuela Simanungkalit

Matahari baru saja tenggelam ketika para penonton mulai berdatangan memadati Auditorium Musik Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Pada hari Jumat (25/10/2024) pukul 18.30 WIB, diselanggarakan sebuah konser bertajuk “Nusantara Svaraloka”. Konser ini menjadi agenda tahunan dari Kelompok Kreativitas Mahasiswa bernama Kompazz, sebuah unit kegiatan yang bergelut di ranah musik pop dan jazz. Malam itu konser diselenggarakan untuk meresmikan diterimanya anggota baru yang berasal dari angkatan 2023.

“Kebetulan konsep ini diambil dari teman-teman angkatan 2023, mereka yang menentukan langsung. Saya hanya membimbing mereka.  Kenapa mereka ambilnya Nusantara, mereka bilangnya karna mereka pengen beda, kami kan komunitas pop jazz basisnya jazz. Jadi, kenapa nggak lagu Nusantara dibikin dengan aransemen-aransemen jazz, leak jazz, dan nuansa jazz supaya beda aja musiknya” ucap Erwin selaku ketua Kompazz.

Konser “Nusantara Svaraloka” terbuka untuk ditonton khalayak umum. Selain diramaikan oleh mahasiswa, hadir juga beberapa dosen sebagai tamu undangan. Kursi terisi penuh, beruntung saya masih mendapatkan tempat duduk.

Kemunculan Lampu-lampu berwarna menjadi konsep pembuka penampilan. Tak lama setelahnya, ditampilkan video persiapan untuk konser dari setiap pemain serta kebersamaan mereka. Video yang menyentuh itu menjadi pembuka yang manis karena penonton bisa mengetahui bahwa Kompazz penuh perjuangan untuk konser ini dan membuktikan kesolidan mereka di konser itu. Malam itu, konser dipandu dua orang MC yang dengan penuh semangat mengucapkan selamat datang kepada seluruh penonton yang telah memadati gedung auditorium. Keduanya memberikan kalimat-kalimat lucu sehingga ruangan penuh dengan suara teriakan penonton.

Penampulan Combo Daki Tirex (dok. PDD Kompazz)

Ramainya penonton menandakan bebunyian harus dimulai. Dibuka oleh alunan musik jazz dengan keyboard, gitar, drum, serta saksofon sebagai pemberi kenikmatan. Penampilan pertama dari Combo “Daki Tirex”dengan empat orang pemain musik dan satu penyanyi perempuan.  Gemuruh tepuk tangan memenuhi gedung saat selesai menampilkan Bengawan Solo. Penyanyi mengeluarkan skill scat singing-nya. Teriakan heboh muncul saat si penyanyi mengeluarkan Teknik head voice-nya.

Penampilan Combo Pasutri  Rangkaian Melati (dok. PDD Kompazz)

Pertunjukan terus berjalan, sesi berikutnya ditandai lewat layar yang menampilkan video wawancara pemain dan penjelasan tentang Mahating yakni simbol kesucian dan ketulusan mengajarkan kita tentang cinta yang murni dan pengorbanan yang tulus. Dalam setiap rangkaiannya tersimpan nama – nama dari sebuah ikatan, harapan, dan cinta kasih. Muncullah penampilan kedua Combo Pasutri, mereka menampilkan kisah indah itu dengan sebuah lagu yang melambangkan kelembutan, keanggunan dan cinta. Rangkaian Melati lagu yang lembut dinyanyikan oleh sepasang penyanyi perempuan dan laki-laki melambangkan pasangan yang romantis. Suara mereka yang menyatu membuat saya tersentuh. Perasaan saya seperti ditumbuhi bunga-bunga karna keromantisan penampilan mereka.

Penampilan Combo Jumat Tenggatnya (dok. PDD Kompazz)

Rangkaian selesai, sesi selanjutnya menampilkan pengantar mengenai lagu Betawi melalui tayangan video. Suara gitar alunan musik jazz menjadi pembuka penampilan mereka lalu dilanjutkan drum serta keyboard. Combo Jumat Tenggatnya menjadi penampilan ketiga dalam konser ini. Mereka membawakan lagu ondel-ondel.  Dua orang penyanyi tersebut adalah perempuan yang mengagumkan. Mereka menunjukkan skil scat singging-nya. Seketika riuhnya teriakan muncul ketika sang drummer, Bagaskara, menunjukkan kebolehannya. Sebagai mahasiswi vokal yang sebenarnya tidak terlalu mahir,  saya begitu mengerti sulitnya menyanyikan nada tinggi. Terekam jelas suara dari penyanyi saat mengambil nada tinggi seperti masih terjepit di leher. Sejauh yang saya pelajari, seharusnya sang penyanyi menggunakan suara dari diafragma. Kekuatan suaranya sendiri terasa kurang maksimal.

Penampilan Combo Cah Cilik (dok. PDD Kompazz)

Setelah penampilan dari Jumat Tenggatnya, dua orang MC muncul dan mengatakan bahwa sehabis penampilan Combo Cah Cilik akan ada istirahat 15 menit. Sebuah video wawancara dengan para pemain ditayangkan, disertai penjelasan mengenai permainan tradisional Jawa yang berkaitan dengan makna lagu Cublak-cublak Suweng. Berdasarkan wawancaranya, mereka memilih lagu yang vokalnya sedikit dan liriknya berulang-ulang. Disisi lain saya bertanya-tanya ketika mendengar suara  penyanyinya. Bagaimana caranya ia mengontrol nafasnya sehingga terlihat tidak ngos-ngosan? Saya kemudian langsung mewawancarainya.

“Caranya latihan sih. Emang jawaban basic tapi cuma itu kuncinya. Awal-awal latihan mungkin bisa dipelankan dulu temponya, baru pelan-pelan meningkat sampai sesuai dengan tujuannya. lalu diulangi sampai terbiasa notenya, jangan lupa buat dengerin temponya, sesuaiin dan jangan latihan ngasal” ucap Florence Josi Vania selaku vokalis.

Penampilan Patang Puluh Patang (dok. PDD Kompazz)

Pertunjukan dilanjutkan dengan menampilkan video wawancara pemain dan penjelasan tentang arti Nusantara, bahwa alam memberi lebih dari cukup bagi mereka yang percaya kekuatan dan keindahannya. Alunanya menyejukkan jiwa karena di tanah Indonesia ada anugerah yang mengalir dan tak pernah kering.

Pengusungan konsep Nusantara yang dipadukan dengan idiom pop-jazz bukanlah sekadar upaya superfisial dalam memilih repertoar lagu daerah Indonesia. Lebih dari itu, perpaduan ini merupakan manifestasi dari dialog kultural yang mendalam – di mana kekayaan musikal Nusantara dengan kompleksitas melodinya, keunikan tangga nadanya, serta kedalaman filosofisnya bertemu dengan kebebasan berekspresi dan improvisasi yang menjadi ruh dari musik jazz, serta kedekatan dengan massa yang dimiliki musik pop.

Munculnya dua orang penyanyi perempuan berhasil menciptakan suasana yang riang gembira. Ada lima orang keyboardist saat itu,tidak seperti combo lainnya. Saya terkagum karena mereka berhasil mengaransemen ini dengan baik.

Penampilan keenam Combo Keys Max (dok. PDD Kompazz)

Jarum jam analog menunjuk di angka delapan, masuknya tarian Bali kemudian dilanjutkan dengan para penampil yang memainkan instrumen masing-masing. Menarik sekali melihat memakai bunga khas Bali di telinga masing-masing.  Selanjutnya dari Combo Keys Max dengan alunan musik Bali menjadikan jazz yang unik sama dan sekali belum pernah saya dengar. Combo ini tidak ada penyanyinya. Meskipun begitu, tidak mengurangi epiknya penampilan mereka. Terbukti dari riuhnya tepuk tangan dan hebohnya teriakan penonton.

Penampilan Combo  One Night Sing (dok. PDD Kompazz)

Seperti sesi sebelumnya, tampil video pengantar terlebih dahulu yang mewakili lanskap geografis tiap daerah dan musik yang dibawakan, kali ini Sumatera Utara. Masuknya semua pemain Combo One Night Sing menjadi penampilan selanjutnya. Dengan harmoni yang mencengangkan dibawakan enam orang vokalis. Menariknya combo ini memakai ulos batak dan membawakan lagu Sik Sik Sibatubanikam. Sebagai orang Batak, saya terkesan. Tanpa sadar, saya ikut manortor dari kursi tempat saya duduk.

Penampilan Combo Medley Maniax (dok. PDD Kompazz)

Penampilan kedelapan dari Combo Medley Maniax membawakan lagu Yamko Yamko Rambe Yamko. Adanya improvisasi serta Teknik whistle dibawakan oleh vokalis perempuan. Di tengah tengah dimainkan musiknya, vokalis laki-laki pun beraksi. Ia menciptakan suasana seru. Semua penonton berjoget ria. Mereka pun membuat medley disambung dengan lagu Sajojo yang semakin meriah. Vokalis perempuan bernyanyi kata sajojo dan langsung disaut oleh pasangan vokalisnya.

Penampilan Combo Kawan Si Rantau (dok. PDD Kompazz)

Penampilan kesembilan dari Combo Kawan Si Rantau membawakan lagu Si Patokaan. Dari penglihatan saya, mereka sudah menampilkan yang baik, tapi tidak ada rasa semangat dan terbakar jiwa dikarenakan saya melihat mereka tidak mengajak berpartisipas, atau membangun situasi riang gembira. Berikutnya, alunan gitar dilanjutkan drum dan dipadukan saksofon muncul.

Sesi dilanjutkan penampilan Combo Romusah yang membawakan lagu Enggo Lari. Mereka sangat luar biasa membuat taktik bernyanyi sambil mengajak penonton. Dua orang vokalis itu maju ke depan panggung dengan pembawaan yang asyik sembari berjoget. Sepertinya mereka sudah biasa tampil dan jam terbangnya sudah jauh. Setiap area panggung mereka kuasai.

Penampilan Combo Romusah (dok. PDD Kompazz)

Dua orang MC muncul kembali, mengatakan bahwa konser sudah di ujung acara. Selanjutnya giliran penampilan dari combo Pisang Kocok.  Ini combo yang konsepnya jauh berbeda dari combo sebelumnya. Combo ini menggunakan ensambel gitar lalu dipadukan keyboard dan drum tanpa vokalis, menjadi taktik mereka untuk menutup rangkaian acara hangat Kompazz malam ini. Semua penonton tepuk tangan, satu gedung berisik. Menurut saya, ini menjadi penampilan puncak mereka. Nampaknya teriakan pujian dari penonton memberi efek kenaikan suhu gedung Auditorium Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Ensambel Combo Pisang (dok. PDD Kompazz)

Pada puncaknya, penempatan kolaborasi lagu lagu daerah Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Semua pemain berkumpul dan setiap combo menggunakan kostum daerah ; Bali, Papua, Kalimantan, Sulawesi, juga Sumatera. Semuanya berjoget ria seperti sudah lega dan bahagia sudah konser. Suasana tampak berubah dan saya dibuat merinding.

Akhir acara KOMPAZZ 2023 Nusantara Svaraloka (dok. PDD Kompazz)

Bahkan saat seluruh karya sudah habis dimainkan penonton tetap riuh tepuk tangan dan masih tetap di dalam gedung seperti menagih penampilan berikutnya. Hari itu menjadi malam yang fenomenal dan luar biasa. Penonton pulang dengan membawa kegirangan.

Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tidak ada persembahan yang sempurna. Ada beberapa hal yang menjadi bahan kritik dikritik selama pertunjukan berlangsung, seperti teknik vokalnya, interpretasinya, juga cara mereka menghidupkan. Dari beberapa kritik di atas, rupanya didasari oleh kendala selama proses persiapannya. Penulis mewawancarai Ketua Kompazz, Erwin Govalo Samosir, “Sebenarnya, masalah gak ada ya dari teman teman angkatan 23. Yang lumayan jadi catatan itu beberapa dari mereka ada yang berasal dari musik klasik, sedangkan kami basicnya jazz. Jadi, penyesuaian itulah yang menjadi kendala”.

Kalimat yang terucap sekilas mengindikasikan inkonsistensi. Semula, ia mengatakan bahwa tidak terdapat masalah. Namun, setelah itu disusul dengan ucapan yang membandingkan dua preferensi musik yang berbeda. Sejauh yang saya refleksikan, perbedaan antara kebiasaan menekuni musik klasik dan musik jazz tentu menjadi persoalan serius. Ada banyak aspek yang penyesuaiannya memakan waktu dan menguras pikiran. Penyesuaian bukanlah hal yang dapat dianggap sepele dalam proses berlatih yang singkat, maupun penyajian yang maksimal di atas panggung.

Meski demikian respon dari penonton tidak seburuk yang dikira. Mereka menikmati konser dengan nyaman tanpa keluhan. Ada satu penampilan yang menurut menjadi favorit mereka.

“Penampilan terfavorit aku sih dari combo sesi kedua penampilan kedua itu keren banget sih bawa lagu maluku yakni Combo Medley Maniax” Ujar Josen selaku penonton.

“Kalau aku sih aku suka banget dengan penampilan sesi pertama Combo Patang Puluh Patang”. Ujar Della selaku penonton.

“Ya dari sudut pandang penonton, sih, oke-oke saja. Jujur kita tidak peduli dengan miss-miss. Soalnya, overall mainnya rapi banget. Biasa, manusiawi” ujar Della juga selaku penonton yang sama.

Walaupun penonton menyatakan bagus, diperlukan evaluasi dan menyadari kekurangannya jika ingin berkembang dan beruntungnya itu dimiliki Kompazz. Jika mengikuti mereka dilihat dari belakang, mereka berkumpul melakukan evaluasi ekstra. Dari sudut pandang saya, lewat konser ini banyak orang yang mengenali lagu-lagu daerah. Kesuksesan konser ini menegaskan bahwa upaya pelestarian budaya tidak harus terpaku pada bentuk-bentuk konvensional. Sebagaimana yang diterapkan oleh Kompazz melalui konsep tematik yang diusung.

Kadangkala, pelibatan unsur musik tradisi bisa terjebak untuk menjadi sekadar pemanis atau tempelan. Maka dari itu, perlu pendalaman yang serius dengan menelaah seluk beluk lagu yang dimainkan, baik dari aspek tangga nada, maupun konteks budaya yang berlangsung di setiap lanskap geografis. Terlepas dari itu semua, terjadi dialog yang meruntuhkan sekat antara musik barat dan musik tradisi. Harapannya, dapat terwujud kesetaraan bunyi lewat perpaduan kedua bahasa musik di berbagai kesempatan lain yang menanti.

Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: PDD Kompazz Nusantara Svaraloka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *