ULASAN

Berkawan dengan Alam dan Menuai Benih Baru dalam Tur Kenduri Rara Sekar

Kembali mengingat perjalanan mudik saya pasca idul fitri, Album Kenduri dari hara menjadi teman terbaik. Ada kalanya kita ingin membunuh waktu. Ada kalanya ia terbunuh tanpa diminta.  Selain novel fiksi sejarah yang saya simpan di pangkuan, Rara Sekar dan project tunggalnya menjadi sang penakluk waktu paling ajaib. Tidak riuh dan masif, mini album bertajuk ‘Kenduri’ menghadirkan musik yang selaras dengan alam, membuatnya subur dan mekar sebagai pemberi nafas kehidupan.

Diksi “hara” melekat dengan kebutuhan hampir semua makhluk hidup di muka bumi. Seperti air, musik juga membawa alirannya sendiri. Sebagai penghalau resah. Sebagai pengusir gundah dan penghasil jawaban atas segala pertanyaan.

Kami Layak Berbunyi: Menjajaki Jiwa Performanceship Musisi Tiup Yogyakarta dalam Keintiman Wind Recital

Suasana intim terasa di area duduk penonton dalam konser Wind’s Recital oleh Ruang Tiup 25 pada Jumat, (17/05/2024). Beberapa puluh penonton duduk untuk menyaksikan sebuah pertunjukan musik tiup yang berlokasi di Concert Hall ISI Yogyakarta. Sebanyak empat musisi muda Yogyakarta menampilkan beberapa repertoar Klasik hingga Romantik. Mereka adalah Ferdinan Fajar (Flute), Yohanes Niko Murti Andreasta (Trombon), Timothy Panggabean (Trombon), Yedija Priwara Putra (Horn). Masing-masingnya tengah menempuh pendidikan tinggi di Program Studi Musik dan Penciptaan Musik, Institut Seni indonesia Yogyakarta.

Wind Recital yang Menyudahi Kerinduan Musisi Tiup akan Panggung Pentas

Kembali menghimpun langkah demi langkah di jalanan yang gelap dan tidak rata menuju Concert Hall ISI Yogyakarta. Hari ini 17 Mei 2024 pukul 18.59 aku berlari dengan tergesa menuju tempat tujuan untuk menyambangi Wind Recital yang diselenggarakan Ruang Tiup 25, wadah yang diciptakan bocah-bocah musisi tiup untuk menjadi ruang eksperimen. Setelah sukses besar dengan penyelenggaraan Wind’s Day 21 Januari lalu, mereka kembali muncul menghadirkan sajian pentas instrumen tiup ke hadapan khalayak ramai. Keterbatasan ruang menjadi bara api yang tak pernah padam bagi para peniup ini. Angkat topi untuk semua usaha-usaha yang dilakukan.

Dari Rongsokan menjadi Sarana Bermusik dan Permainan Anak: Bertualang Menemukan Harmoni dan Melodi bersama Svarabala

Penulis: Alif Amin Arrofah

Menyusuri Jalan Glagahsari Kampung Warungboto, kendaraan yang saya tumpangi perlahan mengurangi kecepatan. Mendekati gedung Kantor Kemantren Umbulharjo, terlihat keramaian mengenakan baju kaos berwarna putih dengan logo khas milik kelompok proyek MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) Prodi Pendidikan Musik Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Svarabala.

Sengatan terik matahari pada siang itu tak melunturkan sedikitpun semangat Tim Svarabala, pasalnya ujung pekan itu – tepatnya tanggal 4 Mei 2024 – merupakan puncak dari proyek MBKM Svarabala yang telah bersinergi menyerukan andil pada masyarakat beberapa bulan terakhir.

Gema Suara Anak-anak dalam Festival Svarabala

Drama musikal “Harmoni Terlupakan” mengisahkan seorang anak yang memiliki ketertarikan dengan musik, tetapi tidak mendapat dukungan dari sang ibu, dikarenakan masa lalu yang buruk mengenai musik. Anak itu selalu mendapatkan ketenangan tatkala diperdengarkan nyanyian ibunya semenjak bayi, yang menyebabkan musik begitu melekat di hatinya. Anak itu menemukan musik pada setiap sudut kehidupannya, seperti hentakan kaki, ketukan tongkat, dan tepukan tangan. Dampak musik yang berjangka panjang tersebutlah yang ingin ditunjukkan melalui drama musikal tersebut, sekaligus menjadi outcome dari seluruh kegiatan Svarabala.

Quart of Life: Meniti Lembaran Hidup Manusia Bersama GEMA

Di bawah cahaya remang yang melukis bayang-bayang di dinding, sebuah panggung dipenuhi oleh alunan gitar klasik yang gemulai. Gedung Auditorium musik ISI Yogyakarta tak lagi sunyi. Gitar Ekstra Mahasiswa atau GEMA kembali menghidupkan ruang itu dengan gelaran tak terlupakan yang bertajuk “Quart of Life”. 

Symphonic Treasure “Euforia Symphonic Band yang Sesungguhnya”

Judul “Symphonic Treasure” Nissi pilih karena kesadarannya tentang fenomena musik dalam hidupnya yang terasa berharga, layaknya sebuah harta karun. Pengalaman para musisi yang berproses di Studsy menjadi sesuatu yang bermakna luas untuk mengutamakan kebersamaan, membangun kegiatan yang positif, dan serta lebih bersinar di berbagai konser yang berikutnya. Dari konser ini, Nissi berharap audiens dapat menikmati “treasure” nya dan Symphonic Band semakin digemari oleh lintas kalangan.