Gema Suara Anak-anak dalam Festival Svarabala

Penulis: Aqilah Mumtaza

Secercah kebanggaan terpancar dari mata para orang tua yang menyaksikan buah hatinya tampil memainkan sebuah drama musikal. Pertunjukan tersebut merupakan puncak acara sekaligus akhir program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) yang diadakan oleh mahasiswa Pendidikan Musik ISI Yogyakarta angkatan 2021. Sesuai dengan jurusan mereka, para peserta MBKM menyoroti implementasi pendidikan musik, khususnya bagi anak-anak dalam proyek yang diberi tajuk Svarabala. Tajuk yang secara harfiah berarti suara anak-anak, mengandung makna mendalam menyangkut suka cita anak-anak dalam kancah kebudayaan. 

Tim Produksi Svarabala dan anak-anak yang terlibat (dok. Alif Amin Arrofah)

Kampung wisata Warungboto yang berada di Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta dipilih menjadi lokasi pelaksanaan program tersebut. Beberapa kegiatan kesenian yang sudah ataupun pernah berjalan di kampung tersebut, seperti karawitan dan angklung, menjadi sumbu bagi para peserta MBKM untuk semakin menyalakan api berkesenian di desa tersebut, dengan berfokus pada musik kreatif. Proyek yang berjalan selama beberapa bulan tersebut banyak melibatkan anak-anak dalam prosesnya. Tidak hanya memberikan pendidikan musik melalui drama musikal, para mahasiswa juga mengajak anak-anak untuk merakit alat musik dari barang bekas. 

Siang menuju sore pada 4 Mei 2024 yang lalu menjadi puncak dari program tersebut. Di Gedung Kemantren Umbulharjo, mahasiswa MBKM Pendidikan Musik angkatan 2021 menunjukkan hasil kerja keras mereka selama berbulan-bulan. Dengan konsep festival, beberapa agenda dilangsukan pada hari yang cerah tersebut, seperti Lokakarya “Harmoni Berkreasi”, Bincang Warungboto, Pertunjukan Musik Lokal, Pameran Musik “Resonansi Revolusioner”, dan Drama Musikal “Harmoni Terlupakan”. Jajaran tenant makanan dan minuman yang dijual oleh warga Warungboto sendiri juga turut meramaikan venue. 

Anak-anak dalam keceriaan drama musikal (dok. Alif Amin Arrofah)

Drama musikal “Harmoni Terlupakan” mengisahkan seorang anak yang memiliki ketertarikan dengan musik, tetapi tidak mendapat dukungan dari sang ibu, dikarenakan masa lalu yang buruk mengenai musik. Anak itu selalu mendapatkan ketenangan tatkala diperdengarkan nyanyian ibunya semenjak bayi, yang menyebabkan musik begitu melekat di hatinya. Anak itu menemukan musik pada setiap sudut kehidupannya, seperti hentakan kaki, ketukan tongkat, dan tepukan tangan. Dampak musik yang berjangka panjang tersebutlah yang ingin ditunjukkan melalui drama musikal tersebut, sekaligus menjadi outcome dari seluruh kegiatan Svarabala.

“Kita belajar musik sekarang mungkin dampaknya bukan besok, tapi di masa yang akan datang. Kayak yang di drama kita, seorang ibu ngasih ketenangan dari musik sejak kecil, dan itu terbawa sampai besar secara gak sadar,” terang Ocha selaku ketua pelaksana.

Selayaknya drama musikal, nyanyian dan musik berpadu di sela-sela dialog para pemain. Anak-anak yang terlibat dalam drama tersebut tampak percaya diri bersenandung sambil menampilkan koreografi yang kompak. Dapat terlihat mereka dapat menyerap unsur-unsur musikal dalam drama tersebut, seperti ketika adegan bermain Rangku Alu di taman dengan nyanyian Ampar-ampar Pisang yang diiringi irama tongkat yang dibenturkan satu sama lain, serta ketika adegan memainkan variasi ritmis dengan menghentakan tongkat ke tanah, menghentakan kaki, serta menepuk tangan. Anak-anak memegang perannya dengan fokus, sehingga kumpulan ritmis itu dimainkan dengan keteraturan tempo dan harmonisasi yang baik.

Meskipun begitu, beberapa hal penulis anggap dapat menjadi bahan evaluasi bagi pementasan drama musikal yang telah berlangsung. Beberapa scene dalam drama tersebut dirasa memiliki dialog terlalu singkat. Hal ini menyebabkan ketidaknyamanan dari sudut pandang penonton yang harus melihat kru berlalu lalang mengganti dekorasi. Kondisi panggung yang terbuka dan terang juga membuat para kru nampak sangat jelas dari kursi penonton. Alangkah baiknya jika penulis naskah dapat mengembangkan dialog dengan durasi yang lebiih panjang dengan tetap memadatkan isinya, atau justru menghilangkan adegan yang tidak diperlukan.

Alternatif lain yang dapat dilakukan untuk meminimalisir ulang-alik para kru dapat dilakukan dengan membagi satu panggung menjadi dua latar tempat yang berbeda. Penempatan dekorasi semacam itu agaknya sudah cukup umum dalam pementasan drama di masa kini. Cara tersebut dapat meringankan kerja para kru yang harus berulang kali menata dekorasi, serta menghindari momen sunyi yang cukup lama.

Kesibukan di balik layar Svarabala (dok. Alif Amin Arrofah)

Drama musikal sekaligus keseluruhan acara pada hari itu ditutup dengan senandung dan tarian ceria anak-anak. Keceriaan itu kemudian menggema pada orang-orang di sekitar, menyalurkan semangat untuk terus meluaskan nyala api kesenian kepada anak-anak lainnya. Sebagai pendidik yang kebetulan berkiprah untuk mengajar di jalur non formal, penulis menyadari kedekatan yang dibangun antara mahasiswa dan anak-anak. Tiadanya gap antara tenaga pengajar dan murid patut dicontoh dalam proses pembelajaran musik di jalur formal. Begitu pula konsep musik kreatif yang dipilih sebagai metode pengajaran dapat menjadi inspirasi bagi para pendidik musik untuk melakukan pendekatan terhadap peserta didik dengan cara yang menyenangkan. Dengan begitu pembelajaran musik tidak terasa begitu rumit dan kaku, terlebih bila peserta didiknya masih anak-anak yang lekat dengan kegiatan-kegiatan menyenangkan. 

Editor: Lintang Pramudia Swara

Foto Sampul: Alif Amin Arrofah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *