Penulis: Miftakhul Nur Rozak
Di bawah cahaya remang yang melukis bayang-bayang di dinding, sebuah panggung dipenuhi oleh alunan gitar klasik yang gemulai. Gedung Auditorium musik ISI Yogyakarta tak lagi sunyi. Gitar Ekstra Mahasiswa atau GEMA kembali menghidupkan ruang itu dengan gelaran tak terlupakan yang bertajuk “Quart of Life”.
Gelaran ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan dari sekumpulan musisi muda, sesuai dengan tajuknya Quart of life, yang berarti perjalanan empat fase kehidupan manusia dari sudut pandang budaya. GEMA mengajak para penonton untuk bernostalgia sekaligus berefleksi diri atas hidup yang kita jalani sebagai manusia, mulai dari fase bayi, kanak-kanak, remaja hingga dewasa. Keempat fase tersebut diceritakan melalui sederet repertoar yang berjumlah tiga belas judul, dengan rincian tiga repertoar untuk fase bayi, tiga untuk fase kanak-kanak, tiga lagi untuk fase remaja, dan lima repertoar untuk fase dewasa. Tidak berhenti di sana, di tengah gema senandung gitar, hadir pula teater musikal yang menyatu dalam harmoni, disertai dekorasi utama berupa jam dinding analog dengan empat jarum berupa lampu neon sebagai penanda fase apa yang sedang berlangsung.

Di tengah keheningan penonton, jarum jam analog menyala di angka dua belas, Nina Bobo dari Anneke Gronloh dan Wieteke Van Dort yang diaransemen oleh Ali Rizky menyelinap masuk sebagai penampilan pembuka di fase bayi. Tempo Adagio yang kemudian dilanjutkan Moderato mengalir di bagian awal lagu sebagai upaya untuk membangun nuansa teduh nan tenang sebagaimana manusia semasa bayi hidup di pangkuan sosok ibu dengan penuh cinta kasih. Hal itu diperkokoh oleh keberadaan kereta bayi di sisi kanan panggung, juga masuknya seorang aktor yang berperan sebagai ibu beserta bayinya dengan diiringi suara ambience bayi yang terdengar seperti sedang menggumam nyaman. Suasana berubah seketika saat tempo beralih ke Andante sekilas yang kemudian dilanjutkan Allegretto. Sontak kesan haru nan syahdu muncul disini, mengantarkan suara ambience bayi yang berubah menjadi tangisan. Ketika sampai pada bagian Swing yang merupakan bagian terunik pada lagu ini, suasana lagu menjadi ceria hingga lagu berakhir, dengan suara tangis ambience bayi justru masih berlanjut. Hal ini kemudian membuat siapapun yang menonton merasa janggal dan bertanya-tanya, mengapa ada kontras disitu? Apa maksud di baliknya?
Fase bayi masih berlangsung, lantunan Always With Me dari Joe Hisaishi dan The Gaelic Movement 1, 2 & 4 dari Andy Forest mengudara sebagai suguhan selanjutnya di fase ini. Always With Me dibawakan dalam format quintet dengan masih mempertahankan nuansa teduh yang ditinggalkan oleh lagu Nina Bobo di bagian awal, sedangkan The Gaelic Collection dibawakan dalam format duo dengan pembawaan suasana yang lebih variatif seperti lagu Nina Bobo.


Jarum jam analog menunjuk di angka tiga, dekorasi kereta bayi kini digantikan oleh keberadaan beberapa mainan anak-anak seperti balon udara dan bola sepak di sebelah kiri panggung, menandakan bahwa fase bayi telah usai dan tiba saatnya manusia memasuki fase kanak-kanak. Fase ketika seseorang masih belum dibebani persoalan hidup yang kompleks. Ketika manusia menjalani kesehariannya atas dasar rasa senang atau tidak senang. Hal itu disampaikan dengan baik oleh tiga repertoar meliputi Rag Time Dance dari Scott Joplin dalam format trio, Morenito do Brasil dari Gyuseppo Farauto dalam format quartet, dan Samba de Orfeu dari Luiz Bonfa dalam format ensembel besar yang dibawakan oleh para tunas muda GEMA angkatan 2023. Untuk sesaat, para penonton sepertinya ditarik untuk bernostalgia berkat penampilan mereka, mengingat-ngingat betapa indahnya masa-masa itu.

Bersamaan dengan melangkahnya jarum jam analog ke angka enam, Rapsodi dari JKT48 yang dire-aransemen oleh Farand Ilalang mengalun gemulai sebagai tanda masuknya fase remaja. Dibawakan dalam format trio dengan berisikan dua gitar dan satu cello, suara petikan dan gesekannya seolah-olah mampu membangkitkan kenangan semasa remaja penonton yang konon katanya merupakan masa-masa terindah. Hal itu bisa dilihat dari keheningan total yang ada di antara kursi penonton saat repertoar tengah bercerita. Tidak hanya itu, seperti halnya fase bayi, terdapat juga dua aktor yang berperan sebagai sepasang remaja SMA. Bersama-sama, keduanya masuk ke panggung dari sisi kanan sambil menuntun sepeda ontel yang menghadirkan nuansa klasik. Mereka berakting dengan apik selayaknya sepasang kekasih yang tengah memadu asmara, sehingga memperkuat pesan dari lagu yang tengah bersenandung. Dilanjutkan dengan Belle e sebastian dari Cosino Rosetti dalam format trio yang dibawakan oleh tiga gitaris wanita, suasana romantis yang sudah dibangun sebelumnya dapat terjaga dengan apik berkat penyajian mereka. Sampai pada Rain dari Ryuchi Sakamoto yang diaransemen ulang oleh Ikrom El Qudsy, atmosfer berubah seketika menjadi sedikit tegang, tapi tidak dengan maknanya. Lagu tersebut dire-interpretasi saat diaransemen ulang sehingga masih masuk dalam tema romansa dengan makna kelekatan cinta yang tidak bisa dilunturkan meski ada banyak batu sandungan yang membuat sepasang kekasih jatuh dan terpeleset. Sama seperti Samba de Orfeu, repertoar yang satu ini dibawakan oleh anggota baru GEMA dari angkatan 2023.
Beranjak dari fase remaja, Akad dari Payung Teduh yang diaransemen ulang oleh Risang Rajulungsungsang untuk ansambel gitar dalam jumlah besar mengawali fase dewasa di saat jam analog menunjuk angka sembilan. Tidak lupa, dekorasi sekunder yang sebelumnya berupa sepeda ontel, kini diganti oleh sebuah meja dengan dua figura berisi foto sepasang kekasih di atasnya, serta karangan bunga dan lilin. Dari segi pembangunan suasana, tidak ada perubahan sama sekali dari fase sebelumnya. Namun dari segi cerita yang hendak disampaikan tentu ada perubahan sedikit, masih seputar romansa hanya saja kali ini cara bagaimana manusia dewasa menjalaninya digambarkan tidak senaif saat masih remaja. Begitu pun dengan dua repertoar yang menyusulnya, Capricho Arabe dari Francisco Tarrega dalam format solo yang dibawakan oleh Ahmad Fahmi, dan Autumn: Dream Song on November dari Takashi Yoshimatsu dalam format trio yang dibawakan oleh tiga gitaris muda dari angkatan 2023.

Mendekati berakhirnya fase dewasa, suguhan terakhir yang dibawakan tentunya haruslah sebuah repertoar yang menceritakan usainya kehidupan dari seorang manusia. Pemilihan lagu Black Parade dari My Chemical Romance sangat tepat untuk menggambarkan pesan tersebut. Pasalnya, sesuai dengan konsep yang dirancang, pada bagian repertoar akhir mereka ingin menepis stigma bahwa kematian harus diiringi dengan duka. Repertoar yang tidak begitu suram namun masih tetap menggambarkan kematian diperlukan di sini. Bisa diperhatikan hasil dari aransemen Farand Ilalang pada lagu ini menghasilkan nuansa yang tidak terlalu gelap, ditambah para penyaji dari seluruh anggota GEMA yang tampil dengan bebas tanpa beban, mereka berupaya mengangkat sisi lain dari kematian sebagai cerita akhir yang perlu disampaikan, yaitu kematian dimana seorang manusia merasa puas karena sudah menulis ceritanya hingga bab akhir, dengan kata lain kematian tanpa penyesalan. Meski demikian, nuansa suram tidak dibuang begitu saja, keberadaan Grim reaper yang diperankan seorang aktor menjadi pengingat bahwa mau bagaimanapun kematian memang menakutkan.
Seiring dengan lembaran waktu yang terlipat, perlu dipaparkan pula mengapa repertoar yang terpilih ini menggema di antara seka-seka telinga masa. Di balik layar, Farand Ilalang, sebagai kurator utama, memilih repertoar dengan jumlah sebanyak itu atas dasar eksplorasi mendalam yang dilakukan oleh seluruh anggota GEMA terhadap kisah-kisah yang ingin diceritakan melalui senandung gitar. Proses di balik pemilihan semua repertoar itu bukanlah tanpa tantangan, namun berkat ketekunan para penyelenggara, mereka berhasil membawa cerita kehidupan manusia dari mimpi ke nyata.

Sementara cerita berbicara melalui melodi, tak terelakkan untuk mengulas performa pemain yang mengisi panggung dengan keterampilan yang luar biasa. Dalam sorotan panggung, mereka bukan sekadar pemain, melainkan pelukis yang menghias ruang dengan keindahan bunyi. Sayangnya tidak ada persembahan yang sempurna. Ada beberapa hal yang dapat dikritik selama pertunjukan berlangsung, seperti beberapa kali terdengar melesetnya nada untuk repertoar-repertoar tertentu yang mungkin disebabkan oleh kondisi demam panggung. Maka dari itu dalam sebuah konser, kesiapan mental benar-benar perlu diperhatikan. Suara langkah kaki crew yang terdengar nyaring dan tergesa-gesa dikarenakan para player merangkap crew tidak memenuhi standar pertunjukan. Volume suara ambience bayi di repertoar awal terasa cukup mendistraksi meskipun harus diakui itu ide yang bagus. Akan tetapi dari beberapa kritik diatas, ada beberapa poin yang dapat dimaklumi, karena selama prosesnya ternyata mereka menemui kendala-kendala yang cukup berarti. “Kendala utama itu soal dana sebenarnya. Kami udah nyari sponsor kemana-mana tapi enggak dapet. Makanya kami sebagai player merangkap jadi crew, dan jujur itu bener-bener bikin performa kami enggak maksimal. Dekorasi dibuat minimalis juga karena alasan yang sama. Kendala lainnya, ya, sinergi antar pemain enggak kebentuk, karena selama latihan kesadaran anak-anaknya kurang,” papar Risang selaku ketua pelaksana acara.
Meski demikian respon dari penonton tidak seburuk yang dikira. Mereka menikmati pertunjukan dengan nyaman tanpa ada keluhan.
“Udah bagus itu. Meski aku liat masih jauh dari maksimal, tapi seenggaknya bisa bikin penonton terhibur. Dan terus terang aku agak ngrasa merinding pas bagian lagu terakhir,” ujar Dhanar selaku penonton.
“Ya, kalo dari sudut pandang penonton, sih, oke-oke aja. Enggak ada masalah, tuh. Ya, miss-miss dikit enggak ngaruh, lah. Biasa, manusiawi,” ungkap Aji selaku penonton lain.
Mengakui kekurangan merupakan hal yang patut diapresiasi, sebuah kualitas yang sepatutnya diperlukan jika seseorang ingin berkembang, dan beruntungnya itu dimiliki oleh para player GEMA pada konser kali ini. Jika pergi ke belakang panggung seusai mereka tampil, bisa dilihat banyak player yang merutuk karena menurut mereka performa yang mereka tampilkan jauh dari kata maksimal.
Dari sudut pandang penulis selaku seorang panitia sekaligus pemain, lewat persembahan ini kisah mengenai perjalanan hidup kita sebagai manusia menjadi lebih dekat dan terasa hidup. Dengan segala keterbatasan dan kendala yang ada, semangat untuk memberikan yang terbaik tak pernah luntur. Meski dalam kekurangan, respons hangat dari penonton menjadi bukti bahwa keindahan itu bukanlah hasil sempurna, melainkan proses yang terus berkembang.
Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: Panitia GEMA Quart of Life Concert
