Dari Rongsokan menjadi Sarana Bermusik dan Permainan Anak: Bertualang Menemukan Harmoni dan Melodi bersama Svarabala

Penulis: Alif Amin Arrofah 

Menyusuri Jalan Glagahsari Kampung Warungboto, kendaraan yang saya tumpangi perlahan mengurangi kecepatan. Mendekati gedung Kantor Kemantren Umbulharjo, terlihat keramaian mengenakan baju kaos berwarna putih dengan logo khas milik kelompok proyek MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) Prodi Pendidikan Musik Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Svarabala.

Sengatan terik matahari pada siang itu tak melunturkan sedikitpun semangat Tim Svarabala, pasalnya ujung pekan itu – tepatnya tanggal 4 Mei 2024 – merupakan puncak dari proyek MBKM Svarabala yang telah bersinergi menyerukan andil pada masyarakat beberapa bulan terakhir. 

Svarabala lahir melalui abdi Mahasiswa jurusan Pendidikan Musik terhadap masyarakat untuk menyuarakan kegembiraan anak-anak melalui harmoni. Di luar bangku pendidikan, masa kanak-kanak dipenuhi dengan petualangan dan rasa penasaran. Di samping itu, Svarabala sendiri yang berakar dari Prodi Pendidikan Musik yang lazimnya bergerak di lingkungan pendidikan konvensional, melihat adanya potensi anak-anak untuk tumbuh dan mengalir lebih deras dalam bermusik meskipun hanya dengan basis pendidikan non-konvensional. Dilansir dari akun instagram @svarabala, anak-anak juga ikut dilibatkan dalam proses kreatif semasa proyek ini berlangsung. Hal ini selaras dengan pemilihan kata Svarabala sebagai nama untuk kelompok proyek MBKM ini. 

Dipaparkan di akun instagram yang sama, pemilihan kata Svarabala erat kaitannya dengan objek pada proyek ini, yaitu anak-anak. Kata Svarabala diambil dari bahasa Sansekerta yaitu svara dan balah. Svara merujuk pada nada atau suara, sedangkan balah artinya merujuk pada anak dalam bentuk jamak. Maka Svarabala memiliki arti kegembiraan anak melalui harmoni kebudayaan.

Memasuki kawasan Gedung Kemantren Umbulharjo, saya disambut ramah oleh tim dan diarahkan menuju stand registrasi untuk memindai barcode yang berisikan link attending list dan booklet acara. Di halaman gedung, berjejer sejumlah stand yang menjajakan aneka jajanan hingga area berfoto. Sedangkan teras gedung disulap menjadi pentas yang dihadapkan dengan tiga baris kursi buat penonton, baris paling depan diisi oleh tamu undangan. Namun sangat disayangkan, hingga acara dimulai, kursi pengunjung tampak sepi sekali, sehingga Tim Svarabala memenuhi kekosongan dengan duduk pada kursi pengunjung yang banyak kosongnya itu.

Acara dimulai dengan pembukaan dari moderator, dan kata sambutan dari Ketua Kelompok Proyek Svarabala yang menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam proyek ini.

Selanjutnya, ucapan terima kasih tersebut langsung disambut oleh Kepala Koordinator Kampung Wisata Warungboto yang juga menyampaikan apresiasinya kepada Svarabala. Pasalnya, dengan mengangkat tema ‘Recycle Me’, Svarabala menjadikan barang bekas daur ulang sebagai objek eksekusi ide dan inovasi pelaksanaan musik. Hal ini selaras dengan prinsip dan prospek Kampung Wisata Warungboto yang giat dalam program daur ulang sampah sebagai program unggulan yang membawa Desa Warungboto masuk dalam nominasi 300 besar Desa Wisata Indonesia pada tahun sebelumnya. Hasilnya, Svarabala disokong oleh pihak Kampung Wisata Warungboto, membuat sejumlah prototipe alat musik melalui proses daur ulang menggunakan barang bekas yang familiar di kehidupan sehari-hari. 

Kata sambutan dari Ketua Koordinator Kampung Wisata Warungboto (dok. Alif Amin Arrofah)

Dengan bangga, Bapak Purnomo selaku Ketua Koordinator Kampung Wisata Warungboto menyampaikan bahwa hasil prodak prototipe alat musik yang berbahan dasar sampah daur ulang tersebut telah dipromosikan melalui Jaringan Anugrah Desa Wisata Indonesia. Dalam pidatonya, beliau juga menyebutkan harapannya untuk Kampung Wisata Warungboto agar bisa naik ke level selanjutnya dalam event Anugrah Desa Wisata Indonesia dengan gerakan daur ulang sampah menjadi prodak musik yang merupakan proyek persembahan dari Svarabala untuk Desa Warungboto.

Sesi lokakarya Svarabala bersama Kesper (dok. Alif Amin Arrofah)

Pada sesi selanjutnya, perwakilan dari Kelompok Studi Perkusi (Kesper) ISI Yogyakarta juga turut mengisi sebagai pembicara dalam kegiatan lokakarya siang hari itu. Kesper dengan ide perkusinya ternyata juga menemukan inovasi memainkan perkusi dengan cara yang unik, namun masih sangat bisa untuk dinikmati. Mereka memanfaatkan barang-barang bekas tak terpakai sebagai alternatif untuk membuat instrumen perkusi. Ide dan gagasan ini menjadi demikian selaras dengan apa yang diproyeksikan oleh Svarabala di Desa Warungboto.

Tercatat sebelum tanggal 4 Mei 2024, Kesper sempat diundang untuk tampil di Titik Nol memperingati Hari Bumi dengan alat-alat perkusi dari barang-barang bekas. “Respon masyarakat justru lebih antusias, karena mungkin alat-alat yang kami gunakan lebih familiar dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Harapannya dengan munculnya inovasi ini, Masyarakat bisa membuka mata dan melihat sampah bukan lagi sebagai sekedar benda yang tidak berguna, melainkan juga bisa dijadikan sebagai sarana penunjang kreativitas dan hiburan.” Ujar salah satu perwakilan Kesper yang ikut berbicara dalam lokakarya bersama Svarabala.

Acara lokakarya siang hari itu juga turut dihadiri oleh Bapak Susanto Budi Hartono selaku Ketua Komisi D, DPRD Kota Yogyakarta. Melalui sudut pandangnya, Beliau melihat adanya potensi dari prodak hasil garapan mahasiswa kelompok proyek MBKM Svarabala ini sebagai ‘kemasan’ untuk kemudian pendatang melihat Kota Yogyakarta sebagai Kota Event dengan adanya pameran alat musik berbahan dasar bahan daur ulang ini.

Pemberian arahan dan ucapan apresiasi dari Anggota DPRD Kota Yogyakarta (dok. Alif Amin Arrofah)

Beranjak dari sesi pidato yang panjang, tepat di sebelah kanan pentas berjejer tiga booth yang memamerkan karya prototipe garapan dari Tim Svarabala. 

Booth pertama memperagakan tiga prototipe, di antaranya terdapat Pipe Flute yang memiliki ciri khas suara mirip seperti oboe namun demonstrasinya mirip seperti memainkan flute. Anatomi penghasil suaranya yang berasal dari balon karet terlihat di paling ujung atas Pipe Flute, membuat saya sedikit bernostalgia dengan mainan masa kecil ketika perayaan tahun baru, terompet cempreng berkepala naga.  

Ada pula String Canjo yang dimainkan dengan cara dipukul dengan stik, terbuat dari kaleng susu bekas yang disambungkan dengan senar gitar dan disetem dengan nada do, re, mi, sol, si dan do. Anatomi dan cara memainkannya mirip dengan Ghuzheng, alat musik tradisional China. Terakhir yaitu Flairdrum yang terbuat dari botol plastik bekas yang dengan ajaib bisa berbunyi sesuai dengan nada seteman slang do. Berbeda dengan String Canjo yang disetem dengan tuner gitar, Flairdrum disetem dengan cara memodifikasi tutup botol dengan menambahkan pentil ban dan direkatkan menggunakan lem lilin bening, sehingga alat ini disetem dengan cara dipompa, hingga tekanan udara di dalam botol bisa menghasilkan nada yang diinginkan ketika dipukul dengan stik. 

Siapa sangka pipa bekas ini disulap jadi flute bersuara oboe? (dok. Alif Amin Arrofah) 

String Canjo (dok. Alif Amin Arrofah) 

Tim mengaku bahwa lamanya pembuatan masing-masing instrumen cenderung berbeda. Proses menemukan bahan yang tepat juga memakan waktu yang tidak sedikit, terutama Flairdrum yang mana botol yang digunakan haruslah botol dari merek tertentu.

Di booth selanjutnya terdapat Kincir Berbunyi, modifikasi dari pipa bekas dan beberapa batang nada tertentu di xylophone yang kemudian berbunyi melalui kincir yang diputar dengan tenaga aliran air. Tim yang berada di booth ini menyampaikan bahwa nada yang dipilih merupakan nada acak yang sekiranya membentuk melodi gembira dengan ritme dari pukulan stik yang digerakkan oleh kincir. Sayangnya prototipe ini belum memiliki fungsi yang jelas, secara alat ini tidak untuk dimainkan dengan motorik manusia, melainkan dimainkan secara otomatis dengan pompa air, sehingga tidak ada fungsi lain selain untuk pajangan.

Kincir Berbunyi (dok. Alif Amin Arrofah)

Booth terakhir menyuguhkan pengalaman belajar musik yang menyenangkan bagi anak-anak, yaitu prototipe aplikasi sederhana untuk belajar membaca not balok. Dikarenakan target pasar dari prototipe ini adalah anak-anak, maka aplikasi ini dibuat dengan menghubungkan keyboard elektrik yang memiliki tuts berwarna-warni dengan layar yang kemudian menampilkan notasi sesuai dengan warna yang tertera di keyboard. Kebetulan pada jenjang pendidikan sebelumnya, saya sempat mempelajari coding dan sempat menemukan satu prototipe yang menggunakan sistem sama seperti aplikasi sederhana ini. Meskipun saya tidak terlalu mendalami bidang coding maupun HTML seperti yang digunakan pada prototipe aplikasi sederhana ini, namun saya paham, pembuatan aplikasi ini tidak sesederhana kelihatannya. Diprediksi untuk building code berikutnya akan jauh lebih rumit. “Simulasi seperti ini cenderung lebih diminati oleh anak-anak dibandingkan dengan belajar membaca not balok biasanya. Anak-anak ketika memainkan prototipe seperti ini akan merasa seperti memainkan game, sehingga tampak lebih menantang dan secara tidak langsung di saat bersamaan mereka sebenarnya sedang belajar membaca not balok.” 

Di akhir sesi wawancara dengan Ketua Proyek Svarabala, rekan warta saya sempat menanyakan perihal siapa yang ditergatkan menjadi pengunjung pada event ini. “Sebenarnya yang menjadi target kita untuk pengunjung yang hadir dalam acara ini, ya, masyarakat umum aja,” jawabnya. Sayangnya pada mula sesi dimulai, sedikit sekali masyarakat yang hadir dan menyaksikan lokakarya serta pameran musik tersebut. Diharapkan pada lain kesempatan, hal ini dapat diatasi dengan baik oleh anggota rekan dan anggota tim Svarabala.

Ujung pekan itu menjadi masa perayaan untuk hasil kerja keras dari tim Svarabala di tiga purnama terakhir ini. Sabtu, 4 Mei 2024 merupakan hari di mana Kampung Wisata Warungboto mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Svarabala dan menggantungkan harapannya kepada Svarabala dengan hasil karya dan ilmu yang telah diberikan kepada masyarakat dan sarana belajar yang menyenangkan bagi anak-anak. Saatnya tutup buku, melanjutkan perjalanan menyusuri malam, menyelesaikan tulisan, laporan dan pertanggung jawaban lainnya yang setelah ini membayang-bayang di kepala, meniti kata hingga mengerti panjangnya malam.

Editor: Lintang Pramudia Swara

Foto Sampul: PDD Svarabala

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *