Wind Recital yang Menyudahi Kerinduan Musisi Tiup akan Panggung Pentas

Penulis: Rindu Sangmesih Wijayanti

Kembali menghimpun langkah demi langkah di jalanan yang gelap dan tidak rata menuju Concert Hall ISI Yogyakarta. Hari ini 17 Mei 2024 pukul 18.59 aku berlari dengan tergesa menuju tempat tujuan untuk menyambangi Wind Recital yang diselenggarakan Ruang Tiup 25, wadah yang diciptakan bocah-bocah musisi tiup untuk menjadi ruang eksperimen. Setelah sukses besar dengan penyelenggaraan Wind’s Day 21 Januari lalu, mereka kembali muncul menghadirkan sajian pentas instrumen tiup ke hadapan khalayak ramai. Keterbatasan ruang menjadi bara api yang tak pernah padam bagi para peniup ini. Angkat topi untuk semua usaha-usaha yang dilakukan. Sesuai jadwal, konser dimulai satu menit lagi. Sampai pada bagian sayap gedung konser samar-samar aku mendengar tiupan horn yang secara tak langsung memberi isyarat bahwa aku belum terlambat. Leganya, resital belum dimulai sehingga aku tak perlu menunggu terlalu lama di depan pintu dan melewatkan penampil pertama.

Sejujurnya tak semua kursi di gedung konser terisi. Terlepas sang pemilik acara sudah begitu baik menawarkan nol rupiah untuk bisa menonton pertunjukan ini. Kepada siapakah aku harus mempertanyakan ini? Sang antusiasme ‘kah? Aku memilih bangku baris tiga dari depan, antusiasmeku lumayan tinggi. Aku membuka-buka pamflet yang diberikan di awal, fasilitas yang berguna untuk mengikis waktu. Kertas kecil ini menceritakan profil kegiatan Wind Recital yang berawal dari keresahan musisi tiup akan sedikitnya ruang di Yogyakarta untuk membuat pertunjukan solo guna menyajikan hasil belajar mereka. Ketika kita tak segera memiliki ruang, maka buatlah ruang itu sendiri. Inisiatif yang begitu indah dari Ruang Tiup 25. Pembawa acara masuk. Tata tertib dibacakan. Konser akan dimulai. Beginilah ceritaku.

Pembuka penampilan WInd Recital (dok. Arinii Ilmal Haqqi)

Ruang Tiup 25 memercayai Yedija Priwara Putra sang pemain horn untuk menjadi pembuka. Sebagai penampil nomor satu, dapat dipahami bahwa perasaan gugup hinggap dalam langkah demi langkah menuju stand partitur yang telah dipasang di muka. Bersama Taradita Kalyana Yasmin, Yedija membuka penampilannya dengan Nocturne, Op. 7 karya Franz Strauss. Kegugupan terekam jelas pada wajahnya namun ini adalah tahun kedelapan bagi dirinya dalam menjajaki hutan belantara instrumen french horn. Terbukti rumitnya teknik pada karya Horn Concerto No. 1, K.412 milik Mozart, repertoar kedua yang dibawakannya, mampu dilalui dengan matang berkat jam terbang. Satu atau dua kesalahan tak menjadi soal. Namun ada sesuatu yang memberhentikanku memberi nilai sempurna bagi penampilan ini, apa ya? Aku masih belum menemukan jawabannya.

Timothy Panggabean penampil kedua yang mengawali nafas bermusiknya melalui pelayanan gereja. Dengan membawa trombone kebanggaannya ia melangkah dengan mantap mengenakan setelan kemeja biru, vest hitam, dan celana kain hitam bersama pengiringnya Ayu Sarah Pasaribu menuju panggung. Repertoar Fantasy for Trombone karya James Curnow dibawakannya dengan begitu hati-hati. Bisa dimengerti gugup menjadi alasannya menciptakan kesalahan-kesalahan kecil. Namun sama sekali tidak mengurangi riuh tepuk tangan penonton pada penampilannya. Senyuman lega terpancar dari wajah Timothy. Di sisi lain, aku merasa wajahku mengerut bertanya-tanya, entah apa yang membuatku kurang puas dengan penampilan apik Timothy ini. 

Mungkin pada penampilan ketiga oleh Ferdinan Fajar Ramadan sang flutist aku dapat menemukan jawaban kegundahan ini. Repertoar bermandikan teknik pada Flute Concerto in D major, K. 314: I. Allegro gubahan Mozart. Repertoar dengan warisan zaman Barok yang kental, basso continuo, Flute Sonata in E Minor, BMV 1034: I. Adagio ma non tanto karya Bach. Repertoar yang memiliki frase mematikan bagi pemain flute Entr’acte from “Carmen” karya Bizet. Menjadi taktik pilihan Ferdinan untuk memenangkan hati penonton malam ini. Sepertinya Ferdinan adalah jenderal yang handal, terbukti riuh tepuk tangan penonton tak berhenti memenuhi gedung. Aku tersenyum, sepertinya gelisahku akan memiliki suatu jawab.

Sajian penutup dari Yohanes dan ansambel tiup pengiring (dok. Arinii Ilmal Haqqi)

Yohanes Niko Murti Andreanta menjadi halaman terakhir pada buku dongeng Wind Recital oleh Ruang Tiup 25. Membawakan tiga buah repertoar; Concert Piece gubahan P. V. De La Nux, Romance karya Weber, dan Bayrische Polka milik Georg Lohmann. Sebagai pamungkas, Niko membawa serta Brian Farant sebagai pengiring piano dan Brass Quintet untuk membersamainya menutup rangkaian penampilan manis Wind Recital malam ini. Niko mengaku puas dengan penampilannya dan ingin terus mengembangkan lagi kemampuannya agar kepuasan terus terjadi pada setiap penampilan yang Niko bawakan. Aku juga puas, gelisah yang menahanku sejak awal sudah menemukan jawabannya. Inilah jawaban itu.

Empat penyaji telah menampilkan apapun yang sudah mereka latih. Baik atau buruk biarkan mereka sendiri yang mengevaluasinya, yang jelas penampilan sudah berakhir dengan perasaan melegakan. Kotak memori dalam otakku tersusun atas berbagai kalimat tanya. Bagaimana bisa suara besar trombone begitu terdengar kecil? Bagaimana mungkin kualitas suara megah dari horn terdengar begitu lemah? Bukankah mustahil rasanya suara lengkingan flute yang menusuk sama sekali menumpul? Aku sangat menyayangkan kelihaian para solois terdengar begitu ranum tertutup oleh suatu musuh yang tak kasat mata bernama ‘kurangnya kualitas akustik’. Begitu kejamnya akustik yang dimiliki Concert Hall ISI Yogyakarta ini menjauhkan nilai sempurna solois dari hati yang terdalam. Alih-alih memberikan pengalaman estetis yang mumpuni, akustik Concert Hall ISI Yogyakarta justru membawa suara naik ke atas dan terbang di antara plafon-plafon yang terpasang. Di mana seharusnya suara para penampil dapat dikirim dengan sempurna ke gendang telinga penonton namun kualitas akustik yang buruk seakan membentuk suatu dinding kaca yang memisahkan. Selayaknya akuarium yang menahan gelembung-gelembung oksigen untuk ikan agar tak keluar, akustik Concert Hall ISI Yogyakarta seakan menahan gelombang-gelombang suara yang diproduksi para solois untuk mencapai penonton. Harus aku sebut dengan apa fenomena ini? Akuakustik ‘kah? Memang permasalahan kualitas akustik gedung konser tak pernah beres di kota ini, Yogyakarta. Begitu banyak musisi, khususnya klasik, yang dibentuk di sini mengeluhkan betapa tak nyamannya akustik yang tak kunjung menemukan solusi. Entah siapa yang harus bertanggung jawab namun yang pasti fasilitas gedung konser dengan akustik yang memadahi adalah faktor eksternal yang menunjang kelahiran antusiasme musik klasik di Yogyakarta. Panggung konser tak boleh menjadi akuarium.

Sebagai pemain flute yang sebenarnya tak jago-jago amat, aku begitu mengerti sulitnya memiliki ruang kreatif yang mendukung segala jenis kegiatan meniupku. Kualitas akustik gedung-gedung konser di Yogyakarta yang mengkhawatirkan menjadi tali kuat yang begitu mengikat akan keberlangsungan kegiatan kreatif yang aku coba genggam. Terekam jelas bagaimana beberapa konser yang telah aku lewati di Concert Hall ISI Yogyakarta yang paling hangat adalah saat konser Tugas Akhir Mahasiswa Penciptaan Musik tepat tiga hari sebelum berlangsungnya Wind Recital. Suara instrumen lain yang terlambat datang sampai ke telingaku. Suara solois yang tak terdengar jelas. Kendala-kendala ini menciptakan keragu-raguan untuk menyampaikan sebuah musik yang apik. Namun harus aku akui hadirnya Ruang Tiup 25 menjadi suatu cahaya yang menyinari sanubari harapanku juga akan keberlangsungan proses kreatif musisi-musisi tiup di Yogyakarta. Inisiatif sudah berada dalam genggaman. Harapan selanjutnya, kualitas gedung konser agar terus membaik akan selalu aku panjatkan. Kiranya doa-doa baik selalu mengiringi pergumulan musisi tiup Yogyakarta. 

Dalam perjalanan pulang, aku berdoa semoga selamat sampai ke rumah dan semoga agenda yang direncanakan Ruang Tiup 25 untuk hari-hari depan mendapat kesuksesan yang lebih besar.

Foto Sampul: Arinii Ilmal Haqqi

Editor: Lintang Pramudia Swara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *