Penulis: Luqman Wicaksono
Suasana intim terasa di area duduk penonton dalam konser Wind’s Recital oleh Ruang Tiup 25 pada Jumat, (17/05/2024). Beberapa puluh penonton duduk untuk menyaksikan sebuah pertunjukan musik tiup yang berlokasi di Concert Hall ISI Yogyakarta. Sebanyak empat musisi muda Yogyakarta menampilkan beberapa repertoar Klasik hingga Romantik. Mereka adalah Ferdinan Fajar (Flute), Yohanes Niko Murti Andreasta (Trombon), Timothy Panggabean (Trombon), Yedija Priwara Putra (Horn). Masing-masingnya tengah menempuh pendidikan tinggi di Program Studi Musik dan Penciptaan Musik, Institut Seni indonesia Yogyakarta.
Keempat penampil tersebut merupakan sebagian dari Ruang Tiup 25, sebuah komunitas independen yang menjadi ‘wadah’ penghubung kreativitas antar kelompok musisi tiup. Wadah yang menyediakan kanal-kanal kreatif baru, yang diharapkan dapat menjadi ruang eksperimen dan ekspresi bagi para musisi yang tergabung. Ruang Tiup 25 merupakan nama yang digagas berdasarkan hasil garapan diskusi antar individu pemain instrumen musik tiup yang masih produktif dan berdomisili di Yogyakarta. Hasil dari diskusi tersebut menyepakati penamaan Ruang Tiup 25, sebagai kolektif musisi instrumen tiup di Yogyakarta.

Sejuk dan temaram lampu kemudian bermula ketika pranatacara telah memasuki panggung. Penampilan pertama dibawakan oleh pemain french horn, Yedija Priwara Putra, dengan Nocturno, Op.7 dari Franz Strauss dan Concerto for Horn No.1, K. 412 dari Wolfgang Amadeus Mozart. Suasana musik malam hari dalam musik Nocturno ini membuka penampilan dengan laju yang cukup santai dan intim. Dalam penyajian melodi-melodi karya tersebut, instrumen french horn terasa memiliki kesan bunyi yang matang kala menyelimuti koridor akustik Concert Hall ISI Yogyakarta.
Penampilan kedua menghadirkan trombonis bernama Timothy Panggabean dengan satu repertoar saja yaitu Fantasy for Trombone dari James Curnow. Bukan tanpa alasan, Timothy memiliki intensi khusus pada penampilan repertoar di resital tersebut,”Aku berencana memilih satu repertoar saja agar bisa maksimal dalam penyajiannya, karena lama tidak melatih instrumennya (trombon)”.

Kemudian dilanjutkan dengan repertoar flute oleh flautist Ferdinan Fajar Ramadan dengan Flute Concerto No.2 in D Major, K.314 oleh Wolfgang Amadeus Mozart dan Entr’acte from “Carmen” dari Georges Bizet. Tampaknya repertoar-repertoar konserto Mozart cukup “disayangi” oleh pemain instrumen tiup mengingat banyak karya konserto selain melulu pada biola dan piano saja yang diciptakan oleh Mozart. Penyajian melodi pada Entr’acte from “Carmen” ini juga tak kalah menariknya dengan Mozart. Entr’acte sendiri dalam bahasa musik berarti “di antara tindakan” dimana permainan musik di antara jeda bagian pada opera untuk sesi aksi produksi teater opera dan biasanya juga dapat dijadikan penanda untuk masuk ke bagian babak baru dalam opera. Permainan liris dari flute membawa serta sinopsis cerita dalam opera Carmen ini ke dalam telinga pendengar.

Penampilan terakhir kembali diisi oleh permainan trombon. Kali ini trombonis bernama Yohanes Niko Murti Andreasta atau biasa dipanggil Niko membawa sebanyak tiga sajian repertoar yakni Concert Piece dari De La Nux, Romance dari Carl Maria von Weber, dan Bayerische Polka dari George Lohmann. Dua repertoar dengan suasana lirikal lembut membawa atmosfer penampilan yang lebih intim lagi. Keintiman ditutup oleh kemeriahan dengan repertoar terakhir berformat kuintet brass dengan Bayrische Polka. Suasana musik tarian polka yang melompat girang pada tiupan bass dan melodi pada solo trombon terasa cukup virtuosik.
Penampilan resital ini merupakan ajang yang dapat dikatakan “ibadah sakral” bagi para musisi. Kami mewawancarai Niko dan Timothy mengenai sebuah pertunjukan resital bagi musisi,”Resital itu ajang pembuktian, biasanya resital membawakan banyak repertoar untuk menguji kemampuan teknis dan musikalitas” ujar Niko yang kemudian senada dengan pendapatnya, Timothy bersuara,”Dalam pengalaman performanceship, perlu untuk melatih hal tersebut selain materi teknis saja, cara mengatasi kecemasan penyajian dan eksekusi musikal karya yang disajikan”.
Resital tidak terbatas pada suatu tempat dan aturan tertentu saja, kami sempat bertanya mengenai mengapa resital diadakan dalam lingkup kegiatan independen. ”Kalau bicara resital dalam lingkup akademik Jurusan Musik, acara kami sebetulnya merupakan sebuah keresahan mengenai terbatasnya kegiatan praktik dalam prodi kami serta seringnya resital itu dianggap hanya ada di Prodi Penyajian Musik”, lalu dilanjutkan lagi,”Kami yang dari prodi seperti Penciptaan, Pendidikan, dan Seni Musik perlu juga untuk melatih dalam penampilan musik, jadi kami berpikir untuk merancang sebuah acara di luar kegiatan akademik untuk mewadahi itu”.

Keresahan yang dirasakan oleh para penyaji pada Wind’s Recital ini adalah karena dalam lingkup akademik mereka, penyajian sebuah karya musik bukan menjadi sesuatu yang penting untuk dibahas, bahkan ada anggapan bahwa menyajikan musik cukup dengan seadanya saja. Hal tersebut cukup disayangkan karena bagi mereka – walaupun bukan akan menjadi penyaji musik, akar dari bidang seni musik yang dipahami adalah termasuk salah satunya menyajikan musik. Karena perlu sekali untuk melatih dan memahami performanceship dan olah musikalitas dari sebuah penyajian musik, dalam konteks ini lewat gelaran resital.
Seperti yang diutarakan Timothy sebelumnya mengenai konsep performanceship dalam penyajian sebuah karya musik, dengan melakukan sebuah resital atau pertunjukan musik, kemampuan-kemampuan musikal dan nonmusikal muncul hanya pada kegiatan tersebut. Toh, sebagai musisi, penyajian sebuah karya musik bukan kegiatan yang mengalienasi diri mereka. Proses latihan juga turut penting mengingat resital bukan merupakan proses yang instan. Butuh beberapa waktu untuk mengolah musik secara serius dan dapat dinikmati bunyinya oleh pendengar. Serta pengalaman merasakan akustik ruangan menjadi proses yang tidak bisa dilucuti dalam sebuah penyajian karya musik.
Selaku seorang instrumentalis biola yang juga menempuh pendidikan tinggi di Jurusan Musik ISI Yogyakarta, penulis juga turut merasakan hal tersebut. Berbagai keresahan mengenai mengapa kita kurang difasilitasi betul dalam pengembangan kemampuan “pertukangan” kita daripada hal-hal lain yang sifatnya komplementer. Karena menurut penulis, akar ke-musisi-an tetap pada proses membunyikan instrumen musik. Proses hardship dari asah sensitivitas terhadap fenomena bunyi kiranya wajib menjadi sebuah pengalaman berharga akan kehidupan musisi dan bunyinya.
Editor : Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: PDD Wind Recital
