Ulasan Video Klip “Mencekik Doksa”: Rilisan Termutakhir dari Vortex of Hatred

Penulis: Lintang Pramudia Swara

Menggarisbawahi musik metal sebagai sebuah ruang artikulasi, saya rasa selalu ada tawaran lebih besar yang sedang diperjuangkan dan dinarasikan. Belum berlangsung sepekan, sebuah unit metal dari Yogyakarta, Vortex of Hatred, merilis video klip “Mencekik Doksa” di kanal youtube mereka. Karya ini menjadi bagian dari album bertajuk “Galat” yang direncanakan akan rilis di pertengahan tahun 2025 mendatang. Vortex of Hatred saat ini digawangi oleh Kurniaji Satoto (vokal), Tan Defri (gitar), Evany Noei (bass & clean vokal) dan Algi Dilanuar (drum). Melihat promosi dan perilisan video klip mereka, saya teringat perjumpaan tak disengaja dengan Aji dan Algi di Sewon Raya, sekitar 2 bulan lalu di salah satu warmindo yang letaknya tak jauh dari kampus ISI Yogyakarta. 

Ada bocoran cerita bahwa mereka sedang mengerjakan rekaman album yang ternyata melibatkan teman-teman dari kampus saya juga. Aji sempat menyebut nama “Aksaratala” kala itu, menjadi angin segar bagi mereka berdua yang mengetahui bahwa masih ada geliat pencatatan karya musik yang produktif di selatan Jogja. Mengingat pertemuan tersebut, begitu juga amatan terhadap arsip video berisi pergerakan mereka yang berseliweran di sosial media, ada bagian diri saya yang tergerak untuk coba membuat tulisan.

Dalam kamus maupun ruang dengar saya, musik metal belum menjadi daftar teratas. Tapi setidaknya saya pernah intens mendengar Album “Laras Perlaya” dari Forgotten, unit metal asal Ujungberung, Kota Bandung, pernah juga tergila-gila dengan single “Tiga Titik Hitam” dari Burgerkill yang direkam ulang bersama Killchestra. Melihat rekam jejak Vortex of Hatred, mereka menawarkan premis yang punya kesamaan tendensi untuk mewakili skenanya. Sebagaimana telaah dari Oki Sutopo – sosiolog dari UGM, musik metal lekat dengan peminggiran berbasis ruang. Artinya ada marjinalisasi dan lingkaran di luar arus yang menjadi arena mereka berkarya. Apabila meminjam kacamata kajian budaya, di sana terdapat kontestasi kuasa. Artinya terjadi pertarungan kelas antara pihak yang memegang kapital dan duduk di bangku kekuasaan dengan pihak yang termarjinalisasi. Sebelum menelaah ke sana, saya tertarik untuk menaruh perhatian pada video klipnya. Perkara idiom estetis, ada kematangan artistik dan kesan yang megah. Hal itu tampil dari pencahayaan dan kualitas produksi yang menolak untuk menjadi minimalis. Ketika kesadaran artistik dipegang kuat, semakin jelas bahwa muncul upaya untuk mengaksentuasi wacana yang termuat pada jalinan lirik hingga ke judul.

Menandai menit ke 2.26, saya diperdengarkan tembang yang melodius, menjadi bagian kontras yang menambah sakralitas dari unsur teatrikal yang dibangun dalam video klipnya. Wajah-wajah berperban, nyala sekumpulan lilin di ruangan gelap, seperti sebuah kultus yang menuhankan entitas humanoid-potret relevan yang banyak mengemuka hari ini. Saya rasa itu menjadi bentuk kritik terhadap kekuasaan maupun rezim semena-mena yang menjadi makanan pokok kita hari ini. Kehadiran perempuan sebagai tokoh utama dalam video klip tak ubahnya bentuk personifikasi dari para korban penindasan. Merepresentasikan mereka yang mengalami trauma atas belenggu dan pengekangan tiada akhir di negeri yang konon gemah ripah loh jinawi ini. 

Ilustrasi Video Klip “Mencekik Doksa” (Dok. Vortex of Hatred)

Memasuki pembacaan liriknya, kesadaran artistik kembali muncul lewat estetika kebahasaan. Sebagai penulis lirik dan vokalis, Aji tampak berupaya untuk menjaga zona artikulasinya. Artinya begini, di sana ada kehati-hatian yang menavigasi tiap diksinya agar tetap konfrontatif, akan tetapi diolah dengan halus, seperti membentuk bait puisi. Imaji pemberontakannya muncul ketika diksi-diksi halus itu diartikulasikan dengan vocal scream yang dinyanyikan. Berikut ini cuplikan lirik dari bagian refrain.

Pijaklah rapuh keyakinan

Dalam altar keberkatan

Di ujung waktu yang temaram

Tenanglah dalam pelukan

Jari jari muskil mencengkram

Tandai sebagai penyucian

Atas nama makam tak bertuan

Atas takut dan kehilangan

Tanpa memilih diksi-diksi frontal yang agresif, Vortex of Hatred justru memilih menunjukan amarah, pesimisme, dan gugatan lewat agresivitas di ruang performatifnya. Vocal scream dan musiknya yang terlampau garang tampil sebagai sintesis atas apa yang ditampilkan lewat idiom visual maupun penggunaan bahasanya. Di sisi lain, imaji frontal yang barangkali sudah menjadi kekhasan bagi band-band metal tampak diingkari dan didandani dengan narasi implisit yang butuh ditelaah secara semiotis. Maka menjadi penting untuk melihat bahwa ada varian artikulasi yang perlu dinegosiasikan dan diterima. Bahwa ruang bagi resistensi dan suara perlawanan juga boleh mewakili kalangan intelektual, begitu juga mereka yang bersetia pada nilai-nilai artistik.

Melalui judulnya “Mencekik Doksa” saja sudah jelas bahwa yang mau diceritakan bukan perkara sederhana. Ada perlawanan terhadap pandangan dominan. Terdengar rumit. Apabila boleh memberi komparasi, tidak di level yang seblak-blakan “Hajar Jalanan” atau “Tuhan Telah Mati” yang menjadi materi dari Forgotten. Tapi tentu itu bentuk ekspresi di ruang kultural dan era yang berbeda. Ada perlawanan simbolik dan gaung resistensi yang sesungguhnya sah untuk termanifestasi lewat berbagai cara.

Bisa dikemas dengan berkualitas dan melibatkan kapital, saya rasa itu bentuk keberanian dari Vortex of Hatred. Di tengah keterbatasan modal produksi yang banyak dialami unit metal, mereka punya langkah besar untuk menggelar “ekshibisi” yang sakral dan memikat. “Mencekik Doksa” nantinya akan menjadi narasi yang lebih utuh. Perilisan album penuh dengan kumpulan materi yang belum diperdengarkan akan melengkapi sajian Album “Galat” (semoga) dengan sebaik-baiknya. Mari kita tunggu dengan setia.

Tautan video klip Mencekik Doksa:

Editor: Rindu Sangmesih Wijayanti
Foto Sampul: Press Kit Vortex of Hatred

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *