Malam itu tepat perayaan hari ibu, 22 Desember 2025, saya duduk menyaksikan rehearsal teater “Sari Almon Jeli” tanpa bekal apa-apa, hanya hati yang terbuka untuk menerima kejutan demi kejutan yang tak terduga. Teater dipentaskan di Auditorium Teater Rendra, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta.
Author: Lintang Pramudia Swara
Trokamatra : Arah Baru yang Menautkan Musik dan Sastra
Trokamatra menjadi sebuah manifestasi yang mempertemukan sastra dan musik dalam proyek pertunjukan kolaborasi musikalisasi puisi. Belum pernah sepanjang kaki saya menginjakan kaki di kampus Sewon, terjadi sinergi antara teman-teman dari domain musik dan sastra. Teman-teman musik yang notabene berkacamata kuda, begitu pun teman-teman sastra yang juga punya cara pandangnya sendiri terhadap dunia dan seisinya.
Hakikat Sangga Praja : Sebuah Catatan untuk Hajatan F-Hole Concert ke-13
Sebuah adagium besar menggema, terucap “Adat sebagai penopang Nusantara” selaku tajuk konser F-Hole String Orchestra yang ke-13. Malam itu hari terakhir di bulan Februari tahun 2025. Concert Hall ISI Yogyakarta terpantau ramai. Teman-teman pemain violin, viola, cello dan double bass tampak mengamplifikasi pesona itu karena atribut di busananya. Baik terletak di penghias kepala, begitu pun di bagian tubuh yang lain.
Ulasan Video Klip “Mencekik Doksa”: Rilisan Termutakhir dari Vortex of Hatred
Tanpa memilih diksi-diksi frontal yang agresif, Vortex of Hatred justru memilih menunjukan amarah, pesimisme, dan gugatan lewat agresivitas di ruang performatifnya. Vocal scream dan musiknya yang terlampau garang tampil sebagai sintesis atas apa yang ditampilkan lewat idiom visual maupun penggunaan bahasanya. Di sisi lain, imaji frontal yang barangkali sudah menjadi kekhasan bagi band-band metal tampak diingkari dan didandani dengan narasi implisit yang butuh ditelaah secara semiotis. Maka menjadi penting untuk melihat bahwa ada varian artikulasi yang perlu dinegosiasikan dan diterima. Bahwa ruang bagi resistensi dan suara perlawanan juga boleh mewakili kalangan intelektual, begitu juga mereka yang bersetia pada nilai-nilai artistik.
Dari panggung Freestyle Hingga ke Perilisan Karya: Mengurai Sepak Terjang KXZA dan Debut Single Perdananya
Kedekatan kita dengan musik barangkali sudah menyamai, atau bahkan melampaui persahabatan kita dengan hal-hal lain dalam keseharian. Sebagaimana adagium bahwa musik adalah simbol dari ekspresi manusia, tiap tradisi menawarkan artikulasi yang khas dan menarik. Menyelami betapa masifnya genre musik yang beredar, hip-hop punya suara dan kekuatan tema yang digulirkannya sendiri. Bersentuhan dengan skena hip-hop secara lebih intens bertepatan dengan masa penulisan tugas akhirnya, Kiza mengalami pergumulan yang serius melampaui persoalan identitas dan jati diri. Percakapan kami benar-benar seru dan mengulik banyak soal Kiza dan dunianya di skena hiphop.
Meraih Ruang Hidup dan Berterima Kasih Kepada Pohon: Kolaborasi hara & Nosstress dalam Single “Raih Tanahmu”
Di sebuah pagi sendu yang tak terlalu cerah, jemari saya langsung ternavigasi untuk membuka pemutar musik. Ia sudah tahu lagu apa yang harus dimainkan. Detik pertama, “Raih Tanahmu” memperdengarkan petikan gitar yang mengalun merdu. Spontan saya langsung bergumam, “Ini Nosstress banget”. Ada juga sejumlah fragmen musikal dari album Kenduri milik hara yang mengemuka di sepanjang lagu. Para pendengar setia hara mungkin bisa merasakannya.
Berkawan dengan Alam dan Menuai Benih Baru dalam Tur Kenduri Rara Sekar
Kembali mengingat perjalanan mudik saya pasca idul fitri, Album Kenduri dari hara menjadi teman terbaik. Ada kalanya kita ingin membunuh waktu. Ada kalanya ia terbunuh tanpa diminta. Selain novel fiksi sejarah yang saya simpan di pangkuan, Rara Sekar dan project tunggalnya menjadi sang penakluk waktu paling ajaib. Tidak riuh dan masif, mini album bertajuk ‘Kenduri’ menghadirkan musik yang selaras dengan alam, membuatnya subur dan mekar sebagai pemberi nafas kehidupan.
Diksi “hara” melekat dengan kebutuhan hampir semua makhluk hidup di muka bumi. Seperti air, musik juga membawa alirannya sendiri. Sebagai penghalau resah. Sebagai pengusir gundah dan penghasil jawaban atas segala pertanyaan.
Berbincang dengan Adriyan Setiawan, Menengok Masa Depan Luthier Gitar di Indonesia
Terbentang luas sub-bidang keilmuan yang bisa dipilih sebagai keahlian spesial. Musik tak melulu perihal virtuositas atau kepiawaian. Tidak juga ihwal transmisi pengetahuan demi penguasaan teknik dan ketajaman primavista. Sebagian insan bernegosiasi mati-matian melawan kerasnya hidup di dunia seni. Termasuk ribuan mahasiswa pejuang di kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Bertepatan ketika menunaikan ibadah santap sahur, tak sengaja saya berjumpa dengan Adriyan, mahasiswa Prodi Penciptaan Musik yang kini duduk di bangku semester delapan.
Potret Kemeriahan Konser Nostradamus
Penulis: Lintang Pramudia Swara Konser Nostradamus tahun ini mewujud sebagai ruang pertunjukan yang membongkar tradisi maupun standar repertoar. Tidak mencapai selang satu tahun setelah debutnya, […]
Symphonic Treasure “Euforia Symphonic Band yang Sesungguhnya”
Judul “Symphonic Treasure” Nissi pilih karena kesadarannya tentang fenomena musik dalam hidupnya yang terasa berharga, layaknya sebuah harta karun. Pengalaman para musisi yang berproses di Studsy menjadi sesuatu yang bermakna luas untuk mengutamakan kebersamaan, membangun kegiatan yang positif, dan serta lebih bersinar di berbagai konser yang berikutnya. Dari konser ini, Nissi berharap audiens dapat menikmati “treasure” nya dan Symphonic Band semakin digemari oleh lintas kalangan.
