Penulis: Lintang Pramudia Swara
Terbentang luas sub-bidang keilmuan yang bisa dipilih sebagai keahlian spesial. Musik tak melulu perihal virtuositas atau kepiawaian. Tidak juga ihwal transmisi pengetahuan demi penguasaan teknik dan ketajaman primavista. Sebagian insan bernegosiasi mati-matian melawan kerasnya hidup di dunia seni. Termasuk ribuan mahasiswa pejuang di kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Bertepatan ketika menunaikan ibadah santap sahur, tak sengaja saya berjumpa dengan Adriyan, mahasiswa Prodi Penciptaan Musik yang kini duduk di bangku semester delapan.
Tahun lalu kami pernah ambil kelas yang sama di mata kuliah musik multimedia, maka tidak ada keraguan untuk saling bertegur sapa. Tersiar kabar bahwa ia sedang merintis cita-cita sebagai seorang luthier gitar. Selang dua pekan (5/4/2024), saya menyambangi kediamannya untuk menengok langsung pekerjaannya. Kala itu di bawah langit kecamatan Pelemsewu, Kabupaten Bantul, obrolan kami ditemani satu dus martabak coklat kacang dan teh hangat. Bukan hanya Adriyan yang saya temui, Hansen dan Januar, sang gitaris jebolan ISI Yogyakarta turut berkumpul meriahkan obrolan.
Sejak SMA, Adriyan mulai berkenalan dengan gitar klasik dalam artian yang sesungguhnya. Bermodal menonton video youtube, ia belajar teknik fingerstyle untuk pertama kali. Keberhasilan memainkan lagu bintang kecil dalam variasi fingerstyle membuka pintu menuju pencarian jati diri dan musikalitasnya. Kiprah seorang Jubing Kristanto dan sejumlah gitaris klasik kawakan mendapat tempat teristimewa di hati. Indonesian Guitar Fingerstyle Community menjadi selayaknya perguruan dunia maya yang ia masuki untuk mendalami gitar klasik dan seluk beluknya. “Dengan segala panduan yang disediakan oleh komunitas ini, gitar klasik bisa dipelajari secara otodidak.” ujarnya. Di sinilah perkenalan dengan Hansen bermula, salah seorang bintang yang disegani dalam komunitas tersebut. Keberadaan kampus bernama ISI Yogyakarta diketahui lewat kiprah akademis Hansen.
Geliat komunitas gitar klasik di Yogyakarta yang begitu hidup, bergairah, dan gegap gempita meyakinkan Adriyan untuk menobatkan kota ini sebagai destinasi nomer satu dalam menempuh studi sarjana. Segala persiapan ia upayakan sejak kelas 2 SMA hingga akhirnya berhasil diterima sebagai mahasiswa di ISI Yogyakarta melalui jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Obrolan kami berlanjut kian seru saat memasuki topik yang sudah ditunggu-tunggu. Awal kedekatan dan persahabatannya dengan dunia luthier.

Lintang (L): Riyan, dari sekian banyak hal di dunia musik, kok bisa kamu terjerumus ke dunia luthier? Boleh diceritakan?
Riyan (R): Jadi begini, aku tuh sebenernya dari dulu ingin banget punya gitar yang bagus. Soalnya gitar pabrikan itu nggak bisa mengakomodasi permainan kita sebagai gitaris klasik. Untuk mencapai permainan gitar klasik yang ideal, perlu dicapai dengan menggunakan gitar full solid. Aku sangat ingin punya gitar buatan luthier, bukan buatan pabrik.
(L): Tapi tentu untuk mewujudkan itu dananya nggak main-main kan?
(R): Buat ngeluarin misalnya delapan juta untuk satu gitar saat itu memang terbilang mahal dan aku nggak ada budgetnya. Suatu ketika di semester empat, tahun 2022, Mas Budi Budaya, seorang luthier gitar dari Balikpapan, alumni ISI Yogyakarta datang ke sini (Jogja) ngasih workshop tentang pembuatan gitar. Nah aku tertarik banget. Aku jadi bisa mengerti bagaimana gitar buatan luthier. Tentu saat itu belum ada niatan lebih jauh, hanya mau tau aja–seperti orang penasaran pada umumnya.
(L): Berarti itu adalah pertama kalinya kamu mencoba gitar full solid? Gimana pengalaman perdana yang kamu rasain?
(R) : Ternyata beda betul dengan gitar pabrikan seperti yamaha–kenyamanannya–semua terasa beda pokoknya. Selanjutnya, Mas Budi ternyata mau menetap selama 3 bulan di Jogja. Ia mencari mahasiswa yang mau diajak untuk berproses dalam pembuatan gitar. Akhirnya aku diajak belajar sama dia, kita bikin gitar bareng-bareng.
(L): Kok akhirnya bisa kamu yang terpilih itu gimana ceritanya? Apakah ada kriteria tertentu dari Mas Budi?
(R ): Saat itu aku yang tampak paling antusias di antara temen-temen peserta workshop yang lain. workshopnya sendiri cuma didatengin kurang dari sepuluh orang. Padahal yang dia sampaikan itu bermanfaat kalau menurutku. Karena apa? Kita jadi tahu dan nantinya nggak lagi dibodoh-bodohi soal gitar yang bagus itu kayak gimana, ada edukasinya. Dikasih pengetahuan bagaimana memilih gitar yang baik.
(L): Karena beliau memang pakarnya langsung ya, jadi harus diserap segala ilmunya. Terus gimana persiapannya? Perlu dana dong pasti dalam rangka mengawali pembuatan gitar pertamamu?
(R): Aku akhirnya bertelfon sama orang tua dan dapat dana untuk membeli bahan. Baru setelah itu aku belajar bikin gitar sama Mas Budi. Aku pokoknya berunding sama orang tua kalau ini kesempatan langka dan nggak bakal dateng dua kali. Makanya mereka setuju untuk dukung.
(L): Lalu berapa lama sampai gitar pertamamu akhirnya jadi dan bisa dimainkan?
(R): Selama tiga bulan lah kira-kira aku mengerjakannya bersama Mas Budi. Di antara itu dalam sebulan aku kerja sendiri karena sudah mendapat supervisi dari beliau di dua bulan sebelumnya. Di samping itu aku cari inspirasi dari internet.
(L): Itu semua kayu-kayunya kamu potong dan kamu bentuk sendiri?
(R): Nah itu ada bantuan pastinya. Aku ngerjain kira-kira 70% dan 30% bagian lain dikerjakan Mas Budi, terutama di bagian-bagian yang aku dirasa belum bisa untuk ngerjainnya.
(L): Lalu material wajibnya apa sih untuk membuat gitar itu? Jenis kayu yang dibutuhkan untuk tiap bagian di body gitar pasti beda-beda kan?
(R): Yang paling penting dalam konstruksi gitar itu bahan untuk bagian back, side sama top. Bagian top itu dari kayu spruce dan itu harus impor, dari Eropa atau negara-negara empat musim. Lalu back dan side itu pakai rosewood, kalau di Jawa itu pakai kayu sonokeling. Back juga bisa memanfaatkan kayu lain kayak ebony, atau brazilian rosewood, maple, pokoknya berbagai macam kayu keras. Pokoknya untuk bagian top itu wajib kayu spruce atau cheddar. Antara dua itu pilihannya untuk top.

(L): Artinya material kayu itu ada yang lokal dan ada yang impor ya. Untuk perkakasnya sendiri gimana mendapatkannya?
(R): Untuk gitar pertama aku masih numpang di tempat Mas Budi. Untuk pembuatan gitar kedua aku akhirnya beli dan punya alat sendiri. Di depan kos, kalau tadi melihat, aku bikin workshop kecil-kecilan. Jadi alat yang kubeli itu digunakan untuk menciptakan alat lainnya juga. Contohnya seperti cetakan body, dan alat-alat lain untuk mendukung pekerjaan.
(L): Habisin berapa lama waktu untuk membuat alat-alat pendukungnya? Alat-alatnya berarti memang nggak ada barang jadi ya dan wajib custom?
(R): Kurang lebih satu bulan hanya untuk membuat alat-alat persiapan pembuatan gitar. Sebenernya ada yang barang jadi kalau mau, tapi harus impor dan mahal. Kadangkala juga belum tentu cocok, seperti gitar yang satu ini kan bentuknya unik, mau nggak mau harus bikin cetakan sendiri. Untuk memotong kayu sendiri–kayak menipiskan kayu–aku pakai alat yang manual.
(L): Berarti serba menggunakan tangan dan itu menjadi faktor lamanya produksi satu unit gitar?
(R): Betul, pengerjaannya relatif lebih lama saat semuanya serba manual.
(L): Untuk itu logika matematika seorang luthier harus kuat dan menghitungnya harus akurat ya.
(R): Bener banget, kita dipaksa untuk berpikir ke depan. Dengan membuat ukuran tertentu misalnya, hasil akhirnya nanti ketika disatukan akan bagaimana, harus matang. Salah sedikit saja soalnya bisa berpengaruh pada suara gitarnya. Apa lagi kalau ngerjain fret itu harus presisi, penyusunan kawat-kawatnya agar pitch nya nggak lari-lari.
(L): Sejauh ini, berkaitan dengan hitung-hitungan dan proses mengerjakan gitar dari paling pertama hingga sekarang, apakah pernah gagal? Atau selalu berjalan mulus?
(R): Alhamdulillah belum ada kegagalan. Ini aku baru bikin gitar ketiga, dan mau jalan pembuatan gitar yang keempat. Sejauh ini aman dan belum ada kendala.
(L): Kita kembali ke langkah-langkahnya. Mulai dari mencari kayu dan seterusnya, dari nol, bisa diceritain lagi nggak?
(R): Untuk langkah dari nol, pertama membuat perkakas. Dalam istilahnya luthier itu alat bantu yang dibikin dinamakan jig, termasuk cetakan gitarnya, dan berbagai alat untuk pekerjaan spesifik. Baru setelah itu mulai membuat gitarnya. Dimulai dengan persiapan bahan, menipiskan kayu, membentuk dan segala macam, kemudian tahap penyatuan, atau konstruksinya.
(L): Oke, lalu apakah bisa diacak urutannya? Misalnya membuat neck dulu yang paling pertama, atau wajib bagian top duluan, mungkin?
(R): Soal itu tergantung cara kerja seorang luthier, karena berbeda-beda. Kalau aku dengan cara tradisional mengawali dengan bikin top dan side, lalu digabungkan dengan neck, kemudian back yang terakhir. Lalu habis itu dilanjutkan tahap pekerjaan-pekerjaan detail seperti pemasangan fretboard dan yang lainnya.
(L): Untuk komposisi kayu gitar selalu harus spruce sebagai top dan sonokeling atau rosewood di bagian lain, atau bagaimana ketentuannya?
(R): Sifat kayu yang dibutuhkan itu ada ketentuannya. Untuk bagian top gitar harus kaku dan ringan, misalnya. Sifat itu cuma bisa didapatkan dari spruce dan cheddar. Sementara untuk back dan side syaratnya kayu yang keras. Tujuannya apa? Untuk memantulkan suara yang dihasilkan oleh top yang berperan sebagai sound board, sang penghasil suara utama.
(L): Menurut kamu apa sih nilai pembeda dirimu dengan organolog dan luthier lain?
(R): Berkenaan dengan itu, dalam proses pembuatan gitar keduaku, aku mencoba melibatkan teknologi dalam tuning system. Bagian top ini ketika diketuk pasti mengeluarkan pitch, dan aku akan mengukurnya menggunakan komputer satuan hertznya. Dengan itu aku punya value tersendiri.
(L): Tujuannya sendiri untuk apa pengukuran pitch dari bagian-bagian gitar yang belum disatukan ini? Cara mengontrolnya gimana?
(R): Itu ada resepnya sendiri, ketebalan dan ketipisan kayunya. Frequency response nya diukur. Apa tujuannya? Untuk menghindari hal yang nggak diinginkan seperti fenomena wolf tone. Itu sering terjadi di gitar-gitar yang nggak mempertimbangkan frequency response. Wolf tone itu kecacatan dari string instrument. Dalam pitch-pitch tertentu pasti ada. Maka dari itu supaya nggak kentara aku sembunyikan wolf tone dengan mengatur pitch di bagian-bagian gitar untuk frequency response itu tadi.

(L) : Lantas jadi lebih sulit dong ya?
(R): Membedakan sekecil dua hertz itu menggunakan telinga manusia tidak bisa. Makanya aku pakai teknologi supaya akurat dan efektif. Aku menikmatinya dan nggak menganggap itu sebagai kesulitan besar.
(L): Pembedamu berarti lebih kepada pendekatan yang melibatkan teknologi ya, aku bisa sebut kamu sebagai luthier yang technology oriented. Dan kamu tau betul apa yang kamu kerjakan. Lalu tanggapan teman-teman gimana tentang kamu yang bisa concern ke hal seperti ini?
(R): Kalau temen-temenku di kampung, di Maninjau, Sumatera Barat, malahan pada nggak percaya. Kok bisa bikin gitar dan hasil gitarnya bagus dengan harga jual yang mahal? Yang jelas aku bangga bisa membuat gitar sendiri dan menghasilkan uang dari itu. Sementara temen-temen di kampus ya tentu support, yang temen-temen dari (prodi) komposisi pun nggak menyangka. Padahal dulu–dari semester awal hingga semester tiga–hidupku nggak ada hubungannya dengan organologi. Lalu tiba-tiba sekarang semester empat, lima, dan enam, sudah terjun aja ke dunia perluthieran dan bisa jual gitar.
(L): Nggak disangka-sangka ya berarti jalanmu di dunia luthier ini. Lalu orang profesional pertama yang mencoba gitarmu siapa? Gimana komentarnya?
(R): Mas Eka Jardika. Dia sangat selektif dalam urusan memilih gitar. Dia nggak pernah menemukan gitar buatan luthier Indonesia yang menurut dia bagus. Jarang dia beli gitar buatan lokal dan semua gitar lokal baginya punya kekurangan tersendiri. Ketika aku bikin gitar kedua, dia melihat pekerjaanku dan sering main ke tempatku. Dia melihat aku sebagai pembuat gitar yang lebih teliti dan banyak perhitungan. Lantas dia tertarik mau lihat proses dan hasilnya ke sini. Ketika gitarku selesai, dia mencobanya. Akhirnya dialah pembeli pertama gitarku. Saking sukanya dia sampai beli gitar keduaku.
(L): Mas Eka ini gitaris klasik ya?
(R): Betul, dan dia mengajar di Purwacaraka.
(L): Lalu kunci untuk konsisten dan tidak pernah menyerah menurutmu apa?
(R): Karena mungkin aku melihat prospeknya. Aku punya skill dan kapabilitas di dunia perluthieran dan pengrajin kayu. Lalu aku melihat peluangnya di Indonesia masih sangat luas. Jarang sekali luthier gitar Indonesia yang sampai ke luar negeri. Sementara itu peminat gitar klasik di Indonesia semakin bertambah, tidak diimbangi dengan produksinya yang tidak bertambah juga, hanya orang yang itu-itu aja. Di Indonesia sendiri sering terjadi ketidak puasan, karena ada aja permasalahan pada gitar buatan lokal. Baik itu dari gitar maupun dari lingkungan pemasarannya. Aku yakin ada kesempatan untukku, maka aku semangat untuk terjun serius ke sini. Sejauh ini perjalanannya lancar-lancar saja.
(L): Artinya memang menjadi sebuah masa depan cerah ya bagi luthier di negeri ini? Hanya belum ada yang sadar atau tidak se-passionate kamu ya.
(R): Kalau untuk sekarang sudah mulai ada yang tertarik, terutama murid-muridnya Mas Budi. Beliau bikin workshop lagi setahun kemudian setelah mengajariku. Jadinya bertambah orang-orang yang belajar bikin gitar dan terjun ke dunia perluthieran. Semakin ke sini aku lihat semakin tumbuh. Ketika semakin tumbuh, persaingannya bakal lebih ketat, dan itu sebuah langkah baik yang memajukan pergitaran di Indonesia.
(L): Tapi itu bukan menjadi ancaman juga ya ketika banyak yang mulai menggelutinya?
(R): Kita justru jadi bisa bersaing secara sehat. Itu yang dibutuhkan, jadi nggak ada yang memonopoli sendiri. Berkompetisi, dan berlomba-lomba menuju arah yang lebih baik.
(L): Saat ini kamu punya ketertarikan nggak untuk berguru kepada seseorang, atau sekolah ke Eropa sana?
(R): Untuk saat ini belum ada terpikir, tapi mungkin iya suatu saat nanti. Sejauh ini mencari referensi saja dari buku-buku luthier di internet dan dari para ahli. Bila nantinya memang ada kesempatan berguru ke luthier hebat di luar negeri, aku akan ambil kesempatan itu.

(L): Tidak menutup pintu kepada peluang-peluang yang menanti ya berarti. Boleh promosikan produk gitarmu? Ada nama khusus?
(R): Nah perbedaan luthier dari pekerja workshop dan pabrikan yang lain adalah dari penggunaan nama. Pabrik pasti mewakili merek dagang perusahaan. Sedangkan produk para luthier selalu diberi merek menggunakan namanya sendiri, karena merupakan pekerjaan personal. Maka nama produk gitarku Adriyan Setiawan.
(L): Wah menarik nanti kalau kamu bisa bikin merchandise juga. Kebetulan ini aku punya gantungan kunci berbentuk bridge cello, dan memang di bridge-nya tersemat nama sang luthier. Lumayan buat promosi alternatif.
(R): Ada satu hal yang belum terucapkan tadi. Aku sebetulnya punya dasar-dasar soal pengerjaan kayu karena orang tuaku bekerja mebel, maka aku terbiasa dengan perkayuan. Setidaknya walaupun aku nggak yang terjun mengerjakan, aku terbiasa melihat langsung dan nggak asing dengan hal ini. Jadi ketika mengerjakan perkayuan nggak kaku lagi.
(L): Jadi kamu secara nggak langsung sudah ditempa dengan perkayuan ya sejak kecil sehingga nggak susah untuk beradaptasi. Berbeda halnya ketika harus memulai dari nol ketika pembuatan gitar dan serba-serbinya.
(R): Bahkan kalau bicara kampungku, se-Maninjau raya itu sama sekali nggak ada yang melek tentang gitar klasik selain diriku. Makanya aku pergi ke ISI Jogja untuk menjemput itu dan menjadi pemain profesional. Niatnya mau belajar menjadi gitaris tapi akhirnya jadi terjun ke pembuatan gitar.
(L): Artinya kamu meninggalkan mimpimu sebagai professional player? Atau menjalani keduanya secara seimbang?
(R ): Semakin ke sini rasanya aku semakin realistis. Kalau mau menjadi seorang professional player kayaknya yang lebih jago dari aku sudah banyak sekali dan itu sangat sulit untuk mengejarnya. Di saat yang sama aku punya skill bikin gitar, maka aku memilih konsentrasi di situ. Itu yang berusaha aku bangun terus menerus.
(L): Karena memang kalau ingin bersaing di dunia praktik itu sudah berat ya? Kita buat persaingan itu jadi tidak relevan dengan menjadi beda, menekuni hal yang nggak banyak orang lain tekuni.
(R): Betul, dari pada kita bersaing di tempat yang sama, Lebih baik coba di tempat yang lain yang membuatku bisa lebih menonjol.
Obrolan malam itu belum sepenuhnya selesai. Diskusi mengenai dunia luthier akan terus mengemuka di berbagai penjuru. Masa depan luthier gitar di tanah air telah menemukan jalan terang, terutama melalui semangat generasi muda yang kian bertumbuh subur dan sadar akan pentingnya instrumen musik yang berkualitas. Termasuk di benak Adriyan Setiawan, yang dapat kalian sapa di https://instagram.com/adriyan_setiawan/. Hasil pekerjaan dan produk gitar terdokumentasikan dengan rapi, termasuk berbagai konten kolaborasi dengan sejumlah gitaris muda kebanggaan ibu pertiwi.
Editor: Gilbert Natanael Pardosi
Foto Sampul: Lintang Pramudia Swara
