Oleh: Lintang Pramudia Swara
Sebuah adagium besar menggema, terucap “Adat sebagai penopang Nusantara” selaku tajuk konser F-Hole String Orchestra yang ke-13. Malam itu hari terakhir di bulan Februari tahun 2025. Tak ada media partner yang bersinergi menyiarkan gelaran konser. Meski begitu, Concert Hall ISI Yogyakarta terpantau ramai. Alih-alih sebagai penopang Nusantara, saya rasa adat menjelma elemen atributif. Pesona eksotisme yang ditempatkan demi sebuah daya pikat. Teman-teman pemain violin, viola, cello dan double bass tampak mengamplifikasi pesona itu karena atribut di busananya. Baik terletak di penghias kepala, begitu pun di bagian tubuh yang lain.
Hampir 45 menit lamanya audiens dibuat menanti. Berdasarkan estimasi, seharusnya pukul 7 malam tepat konser sudah dibuka oleh pidato-pidato dan sambutan. Mendekati pukul 8, pranata acara baru membuka konser, mempersilakan para pemegang jabatan struktural untuk menyampaikan pidato mereka. Cukup lama setelah bagian seremonial yang bertele-tele, konser akhirnya dimulai. Pertunjukan terbagi menjadi dua segmen, menawarkan kontras yang serius dan agak beresiko. Ada kesadaran tematis yang agak dipaksakan sejak membaca tajuk “Sangga Praja” dan sub-tajuk “Adat sebagai penopang Nusantara.”

Saya sendiri bertanya-tanya, mengapa hari ini semuanya harus serba programatik jika landasannya belum kuat? Apakah tidak ada tempat bagi musik absolut untuk menduduki tahtanya dan bersuara lantang sebagai seni untuk seni? Mengutip Hugh M. Miller dalam buku Introduction to Music: A Guide to Good Listening, musik absolut dalam kacamata musikologi diartikan sebagai musik instrumental yang secara utuh berdiri untuk kepentingan musiknya dan tidak memiliki kaitan apapun dengan unsur non musik di luar dirinya. Berbeda dengan musik programa yang berusaha menyampaikan ide-ide nonmusikal dengan memberi penjelasan terutama dari judul karya yang deskriptif.
Fase pertama berjalan rapi di bawah baton Nabila Farazhafira – seorang anggota F-Hole dengan instrumen viola yang baru diwisuda dari Program Studi Penciptaan Musik bulan September lalu, dan dikenal luas di media sosial sebagai seorang gitaris yang terampil. Mungkin ini kesempatan keduanya menjadi pengaba setelah melakukannya di konser ujian tugas akhir penciptaan musik tahun lalu. Tidak begitu terasa ada gejolak dinamika yang berarti. Karya-karya yang dibawakan mengeksplorasi bebunyian pentatonik, dihiasi pizzicato kecil di beberapa pasase. Karya orisinil dari Abdul Azis, Luqman Wicaksono, Nicholas Evan Herdian dan Nabila Farazhafira belum dengan kuat mengaksentuasi kuratorial yang dikonsep. Meskipun saya akui ada pasase menarik ketika karya Nabila mencoba mengimitasi bebunyian laut dan burung-burung di pantai untuk karyanya yang berjudul “Menau Balikpapan.” Entah apakah ada penggalian etnografis yang para komponis muda ini lakukan untuk menaruh jiwa pada karyanya.

Seperti ada keterpisahan antara narasi yang tertulis dan komposisi yang dihasilkan. Saya sendiri agak terusik dengan “Sangga Praja”, atau “Songgo Projo” yang diucapkan Ayub Prasetyo S.Sn., M.Sn. saat berpidato mewakili fakultas. Jika mau memperdengarkan Nusantara, mengapa menjadi jawasentris? Mengapa tidak memilih terminologi yang universal sebagaimana Nusantara yang secara etimologis berasal dari bahasa Sansekerta? Tahun ke-13 belum sepenuhnya menjadi representasi kematangan kinerja tim produksi F-Hole dalam memasak menu pertunjukan mereka. Fase pertama yang cenderung datar rampung dengan harapan akan ada tawaran yang lebih baik di fase kedua. Sebagaimana video teaser, akan ada kolaborasi lintas seni pertunjukan yang diintegrasikan.
Waktu berselang, satu set instrumen tifa disimpan di bagian paling belakang panggung konser. Perkusi lazim disimpan di posisi belakang dalam format orkestra dengan mempertimbangkan produksi bunyi. Di area depan tepatnya sebelah kiri panggung, ada gong dan gendang yang diposisikan dan siap memberi kejutan.
Memasuki fase kedua, kejutan yang dinanti tiba. Komposisi bertajuk “Mangongkal Holi” gubahan Dheva Clavinova dimainkan bersama instrumen perkusi. Tifa dimainkan pada komposisi kedua, ketika repertoar berjudul “Dani Etai” dimainkan, dibersamai lantunan vokal nyanyian suku Dani. Karya ini digubah oleh Mario Abraham Warouw. Menyadari kompleksitas musik hibrid yang menggabungkan dua perbedaan idiom estetis, Budhi Ngurah berdiri sebagai pengaba di keseluruhan fase dua. Sebagai salah satu dosen di Program Studi Penciptaan Musik, Budhi Ngurah atau Dr. I Gusti Ngurah Wiryawan Budhiana dikenal memiliki pengalaman panjang sebagai seorang pengaba orkestra profesional. Sejak muda, ia menekuni studi kondakting di bawah bimbingan pengaba bertaraf Internasional, termasuk Fumiyoshi Maezawa, hingga Dr. Alec Roth.

Perubahan dinamika mulai terasa, tatapan mata audiens seketika tertuju pada distingsi spektrum sonik yang dibunyikan para musisi gesek. Di beberapa pasase, ada pemberian ruang bagi nyanyian suku Dani maupun perkusi untuk tampil menonjol. Bagian yang dipusatkan untuk mereka. Suara orkestra seketika tenggelam dan beralih sebagai penjaga ritme. Komposisi “Gendinge Sang Gandrung” karya Reynold Rayllaya menjadi penutup sajian, menawarkan klimaks dengan melibatkan nyanyian gending, biola melayu, juga perkusi dari instrumen gendang.
Sebelum benar-benar berakhir, penari datang dari tribun penonton. Gerakan tubuhnya dibersamai iringan orkestra gesek yang berbunyi lembut, beralih tegas dan bersesuaian dengan gerak tari yang dibawakan. Panggung berubah magis ketika sang penari dan orkestra gesek saling mengaksentuasi, hingga akhirnya ia pamit dengan gerak tubuh menuju belakang panggung, dibersamai bunyi orkestra yang perlahan memudar.

Bergerak melihat komposisi pemain, saya rasa jumlah violin bisa diperbanyak. Di sisi lain double bass dengan ajaibnya berisikan empat pemain. Selain itu, pelibatan alumni sebagai pemain menjadi tanda tanya tentang kuantitas dan kualitas sumber daya manusia yang masih aktif sebagai mahasiswa. Kontras yang serius antara kedua fase ditandai lewat perbedaan energi yang tercurah baik dari para pemain, respons audiens, hingga kapabilitas pengaba dalam memberikan direksi. Ketika orkestra dipimpin Budhi Ngurah, ada perbedaan energi yang keras, interpretasi dan atmosfirnya lebih terasa dari pada di fase Nabila. Resikonya, audiens yang sudah terlanjur kecewa dengan performa fase pertama terburu-buru menarik kesimpulan, bahkan undur diri lebih dulu. Ini menjadi alur program yang beresiko.
Setidaknya, kolaborasi lintas disiplin seni pertunjukan, begitu juga original artwork karya Ardhayu yang menjadi latar pertunjukan menjadi pelipur lara, mengobati beberapa catatan yang sedari awal sudah diuraikan. Pelibatan Nabila Farazhafira menjadi angin segar untuk pembentukan potensi pengaba muda, begitu pun inisiatif F-Hole untuk melibatkan Ikatan Keluarga Mahasiswa Timur dan Sanggar Sritanjung.
Konser yang baik juga merupakan konser yang menghargai waktu. Ketidaktepatan waktu menjadi penanda profesionalisme yang tidak bekerja. Sesi pidato panjang dan pembacaan sinopsis karya menjadi distraksi yang seharusnya bisa diukur ulang batasan waktu dan muatannya. Bila perlu, pidato cukup diwakilkan oleh satu orang saja dan pranata acara tidak perlu terlalu banyak mendeskripsikan repertoar. Biarkan musiknya yang berbicara sendiri dan diinterpretasikan oleh pendengarnya selagi mereka sudah memegang booklet program. Terlepas dari ketiadaan media partner, apakah F-Hole tidak berkenan menerima ulasan? Setidaknya ulasan ini menjadi uraian dialektis yang dapat dibaca dan direfleksikan oleh sejawat personil F-Hole, begitu juga civitas akademika dan audiens yang budiman.
Nusantara baru benar-benar teramplifikasi ketika medley lagu wajib nasional dimainkan sebagai encore, membingkai ulang apa yang sesungguhnya menjadi khasanah bagi Indonesia yang diperjuangkan oleh para pendiri bangsa, pahlawan devisa, dan pejuang kemerdekaan. Semoga konser serupa tidak hanya menjadi pemenuhan formalitas birokratis. Tidak juga menjadi ajang memamerkan semboyan, namun mampu merespons persoalan sosio-kultural di arena yang lebih membumi dan kontekstual.
Editor: Rindu Sangmesih Wijayanti
Foto Sampul: F-Hole String Orchestra
