Melihat Kartini dalam Titiek Puspa: dari Perempuan untuk Perempuan

Penulis: Rindu Sangmesih Wijayanti

Hari Kartini dirayakan setiap 21 April agar ingatan tentang emansipasi perempuan terus terjaga. Harapannya, emansipasi ini terus terjaga dan semakin mengakar dalam setiap lini kehidupan. Perjuangan Kartini pada masa ini terus digelorakan di setiap bidang, tak terkecuali musik. Banyak musisi perempuan yang menyadari betul bahwa perjuangan perempuan masih jauh dan panjang. Titiek Puspa, sang legenda, salah satunya. 

Titiek Puspa, penyanyi legendaris yang telah menghiasi belantika musik tanah air dari masa awal kemerdekaan. Sepak terjangnya dalam menjajaki ekosistem musik Indonesia layak menjadi inspirasi bagi setiap insan musik yang ingin mengembangkan sayapnya dalam industri musik negeri ini yang terus membarui dirinya. Berlimpahnya warisan yang diberikan Titiek Puspa pada musik Indonesia tidak lepas dari dinamika yang mengiringinya.

Titiek Puspa lahir dengan nama Sudarwati pada 1 November di Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan. Ia adalah anak dari pasangan Tugeno Puspowidjojo dan Siti Mariam yang keduanya merupakan orang berdarah Jawa. Sebelum menjadi penyanyi ternama, Titiek Puspa pernah bercita-cita menjadi guru taman kanak-kanak. Meskipun memilih jalan menjadi musisi, rasa cinta dan pedulinya pada anak-anak tak pernah lekang oleh waktu, hal ini ditunjukkan melalui lagu-lagunya, salah satunya “Gang Kelinci” yang paling terkenal, ia juga menciptakan grup bernama Duta Cinta pada 2014 yang terdiri dari 10 anak yang berasal dari berbagai latar belakang. Cita-citanya untuk menjadi seorang penyanyi pun tidak terlalu berjalan mulus karena orangtuanya tidak menghendakinya untuk menjadi penyanyi. Rasa percaya pada dirinya sendiri menjadi bahan bakar bagi Titiek Puspa untuk tidak berhenti menjadi seorang musisi. Demi mewujudkan cita-citanya Titiek Puspa tetap mengikuti lomba-lomba menyanyi dengan menggunakan nama samaran “Titiek Puspo” diambil dari nama panggilannya “Titiek” dan nama ayahnya “Puspowidjojo”. Nama ini yang akhirnya membawanya selalu harum di belantika musik Indonesia. 

Ratusan karya Titiek Puspa telah mengudara dalam khasanah musik Indonesia. Jika lagu “Marilah Kemari” dan “Apanya Dong” didengarkan, banyak orang akan turut bergembira menghentakkan kaki mengikuti irama. Era ketika musik Indonesia belum semasif masa kini, Titiek Puspa telah menjadi “artis istana” ketika dirinya tergabung sebagai penyanyi pada album “Mari Bersuka Ria Irama Lenso”. Tak hanya sebagai hiburan, Titiek Puspa melaluinya karyanya bersuara menceritakan kemalangan kaum marjinal melalui “Kupu-kupu Malam” lagu yang begitu berkesan bagi saya. 

Secara garis besar, struktur lagu ini cukup sederhana. Terdiri dari dua bagian yang repetitif. Lagu balada, dengan aransemen yang terdengar tidak muluk-muluk. Titiek Puspa menyanyikan lagu ini dengan warna suara yang berat, sama ketika dirinya menyanyikan “Bengawan Solo” bersama Bing Slamet di album “Mari Bersuka Ria Irama Lenso”. Warna suara ini terdengar begitu pas untuk mengiris hati pendengarnya. 

Salah satu landasan Titiek Puspa untuk menciptakan lagu ini adalah pertemuannya dengan Pekerja Seks Komersial (PSK). Saya jatuh cinta kepada bagaimana lagu ini menceritakan kegetiran yang dirasakan PSK. Kegetiran yang membingungkan, perasaan ingin bebas namun tak ada satupun yang menjamin kebebasan tersebut terutama sang faktor ekonomi. Kebingungan yang menyayat tersebut disampaikan dengan indah melalui lirik:

Oh apa yang terjadi, terjadilah

Yang dia tahu hanya Tuhan penyayang umat-Nya

Oh apa yang terjadi, terjadilah

Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa

Hidup dari Sang Pencipta yang begitu dicintai, dieksploitasi besar-besaran demi menyambung nyawa di tengah kondisi ekonomi yang carut marut. Tak banyak yang menggandeng, tak banyak yang hadir. Hanya air mata kesedihan yang menjadi kawan sejati. Saya rasa, itulah yang coba disampaikan Titiek Puspa atas nama perempuan yang dimarjinalkan oleh keadaan. Semua orang memandang hina, sulit untuk memahami bahwa kehidupan tersebut adalah kehidupan yang dipaksakan. Jika seperti ini, dimanakah seharusnya perempuan berlindung? Satu hal lain yang saya tangkap dari lagu ini adalah kerusakan yang diciptakan patriarkisme begitu besar dan menyakitkan. Memang benar perjuangan perempuan masih terlalu panjang. Kendati demikian, kesadaran bahwa ketidakadilan satu perempuan adalah ketidakadilan bagi semua perempuan akan menjadi bensin yang akan membawa kita semua, perempuan, untuk melangkah dan mewujudkan perjuangan emansipasi. 

Titiek Puspa menciptakan musik yang berperan sebagai suara perjuangan perempuan yang panjang ini. Basis daya cipta musik ini adalah perjuangan perempuan, Titiek Puspa berterima kasih akan hal tersebut melalui “Kupu-kupu Malam”. Suara perempuan yang berani memprotes ketidakadilan, bukti bahwa perjuangan perempuan untuk mewujudkan emansipasi dapat berbentuk karya seni dan tak akan pernah mati. Sekarang saatnya kita semua mengikuti keberanian yang diwariskan oleh Titiek Puspa dengan apapun yang kita punya dan kita bisa. 

Titiek Puspa adalah Kartini yang membuat saya percaya bahwa musik dapat hadir untuk perempuan. Terima kasih Titiek Puspa, warisanmu akan terkenang di setiap generasi musik Indonesia dan terukir di hati kami, yang berjuang untuk perempuan, dengan baik. Selamat jalan, perjuangan ini akan kami lanjutkan. 

Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: Gambar ini beredar luas di platform digital tanpa atribusi sumber (URL : https://pin.it/3LYpyVZ32)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *