Penulis: Gilbert Natanael Pardosi
Sadar atau tidak, selalu ada hal-hal baik dalam 12 bulan ini, namun kadang terlupakan atau sembunyi di balik rutinitas sehari-hari. Oleh karena itu, Aksaratala ingin merayakan tutup tahun 2024 dengan melihat kembali, memutar memori, dan mengapresiasi mereka yang telah berani menciptakan dan menyebarkan karya-karyanya melalui musik.
Perayaan tersebut dinyatakan melalui aktivasi perdana kami dalam bentuk rubrik, Svara dari Selatan. Rubrik ini merupakan pusat pendokumentasian produktivitas kerabat ISI Yogyakarta dalam koridor musik populer dan pertunjukannya. Saat ini, Svara dari Selatan menghasilkan sebuah proyek kompilasi yang merangkum rilisan musik populer, baik solo maupun kelompok. Proyek kompilasi ini menjadi inisiatif tahunan Aksaratala yang kiranya dapat memberikan informasi tentang riwayat kekaryaan mereka. Dicatatnya jejak mereka niscaya menjadi penular semangat baik untuk teman-teman agar ikut bergerak dan terus berkarya lewat musik.
Bersamaan dengan itu, tentunya Svara dari Selatan menjadi perwujudan dari kami yang bergerak secara independen, mencatat dengan percaya diri, dan berusaha menjaga peristiwa di dalam dan sekeliling kampus agar tidak hilang ditelan waktu. Kami mengakui kesempurnaan hanyalah milik kapital berdasi. Oleh karena itu, dalam tulisan ini kami hanya mampu mencatat beberapa musisi dan karyanya yang masuk dalam radar kami, dengan kualifikasi berupa rilisan tahun 2024 dan bernarasi Desember.
1. Nadhifa Nasution – “di ujung kisah”
(dok. Spotify Nadhifa Nasution)
Datang dari Prodi Penciptaan Musik, tembang patah hati diluncurkan oleh seorang singer-songwriter dengan karakter pop niaga yang kuat. Lagu “di ujung kisah” ini menceritakan sebuah akhir dari sebuah hubungan yang masih disertai rasa tidak percaya dan tidak rela melepaskan.
Kemunculan lirik masih kurangkah aku untuk kamu menjadi sangat powerfull untuk menjadi alasan yang mewakili kecenderungan wanita bila ditinggalkan pasangannya. Dengan yakin kami katakan bahwa lirik yang ringan, emosional, dan penuh kejujuran dalam lagu ini mampu membuat satu kampus merasakan galaunya seorang Nadhifa.
2. Afi Haura – “Wondering”
(dok. Afi Haura)
Lagu ini telah dirilis pada 8 Maret, dua minggu setelah hari sidang proposal skripsi Afi. “Wondering” menjadi cara Afi untuk bercerita tentang kehidupan cintanya yang dilanda kebingungan, karena setelah hubungannya berakhir tak bahagia, seseorang itu muncul kembali. Pertanyaannya, apakah orang itu gabut atau benar-benar ingin merajut kembali cintanya? Kalau ada yang relate, cobain sendiri deh.
Melalui musiknya yang bernuansa classical pop, “Wondering” mengingatkan kita dengan musik Laufey yang indah. Tentunya tidak kalah indah dengan Laufey. Tentang Afi Haura dan karyanya, kami pernah sedikit melempar tanya di https://aksaratala.com/2024/03/14/wawancara-afi-haura-dan-single-perdana-wondering/
3. Pandoora – “Slow Down”
(dok. Instagram Pandoora)
Lahir dalam rahim kampus ISI Yogyakarta sejak 2022, band ini dijalankan oleh Johannes Dredha Bhaswara a.k.a Dedo (Keys), Aristo Axel Tanor (bass), Pandu Sukarelawanto (gitar), Abror Samdya Agadi (drum), dan Emanuel Aji (vokal). Pandoora menjadi band rock yang lagu-lagunya merespon tantangan kehidupan modern, baik itu pelarian diri, frustasi, kecemasan, dan semacamnya.
Nah, setelah diajak berlari dalam ritme “Venus” dan “Dream Chaser”, mas-mas Pandoora dari Prodi Penciptaan dan Prodi Musik ini tidak lupa juga mengingatkan untuk “Slow Down” di akhir tahun 2024. Melalui “Slow Down” mereka ingin mengajak siapapun untuk tampil santai dalam merespon permasalahan kehidupan sosial yang sering kali tidak berkemanusiaan yang adil dan beradab. Mari kumpulkan cerita-cerita tahun ini dan menatanya sambil bersantai dengan “Slow Down”.
4. Floo – “Blooming”
(dok. Florisia Revanya Josephine)
Seorang dara dari Kota Palangkaraya yang telah berhasil menembus Prambanan Jazz 2021, dan menjadi line up penutup di hari ketiga Batang Fest 2024, hadir dengan album penuhnya yang berjudul “Blooming”. Melalui album penuhnya itu, perempuan bernama lengkap Florisia Revanya Josephine ini ingin menunjukkan bahwa dirinya serius dalam industri musik tanah air. Tidak diragukan lagi bahwa Floo adalah salah satu aset berharga yang dipunyai Prodi Musik.
5. Steven Simanungkalit – “Kira-Kira”
(dok. Steven Simanungkalit)
Pria berdarah Batak ini merupakan mahasiswa Prodi Musik yang membawa hasil dari penjelajahan batin pada karya-karyanya. Semester awal di 2024, ia meluncurkan “Kira-Kira” sebagai bentuk refleksi terhadap situasi quarter life crisis yang sedang dihadapinya. Dibalut musik yang groovy, lagu ini menceritakan betapa seringnya kita membandingkan pencapaian orang lain dan berujung kekecewaan pada diri sendiri.
Tentang Steven dan “Kira-Kira”, kami juga pernah sedikit melempar tanya di https://aksaratala.com/2024/04/16/wawancara-steven-simanungkalit-dan-single-terbarunya-kira-kira/
6. Minorways – “Pulau Bintan”
(dok. Minorways)
Dari kancah punk yang membahas tragedi cinta dan persahabatan, kampus kita punya Minorways. Pada tahun 2023 mereka telah merilis album penuh dengan tema relationship in general yang menghasilkan 5 nomor di dalamnya. Untuk menandai keberlanjutannya, “Pulau Bintan” yang merupakan lagu daerah asal Riau, mereka adaptasi dengan arransemen yang maskulin, ganas, penuh distorsi dan teriakan. Lagu ini dirilis pada 20 September, bertepatan dengan Hari Bersih-bersih Sedunia.
Bagi #KaumMacala pecinta riuhnya distorsi musik kencang, kami sarankan untuk coba dengarkan Minorways. Tentang “Pulau Bintan”, abang skena kami juga pernah sedikit membahasnya di sini https://aksaratala.com/2024/11/09/ketika-punk-enerjik-dipaksa-kawin-dengan-melodi-melayumelahirkan-pulau-bintan-ala-minorways/
7. Bernardus Yofan – “Rumah ‘Tuk Ku Kembali”
(dok. Spotify Bernadus Yofan)
Solois berikutnya datang dari Prodi Etnomusikologi. Pria yang berasal dari Sintang, Kalimantan Barat ini pernah bergabung dalam Gita Bahana Nusantara 2024 sebagai pemain alat musik tradisional Sape. Di tahun yang sama, ia meluncurkan single perdananya pada 17 November lalu, yang dibersamai dengan Barata Gabrie (Penciptaan Musik) sebagai produser.
Melalui bangunan musiknya yang sederhana, dipenuhi kemegahan strings, dan dengan vokalnya yang lembut, menjadikan lagu ini tampil syahdu dan tenang. “Rumah ‘Tuk Ku Kembali” akan sangat cocok didengarkan ketika kopi, senja, hujan, semerbak petrikor, atau kursi Indomaret ada di hadapanmu.
8. Abil Thufail – “In Every Smile”
(dok. Spotify Abil Thufail)
Nomor selanjutnya datang dari mahasiswa Prodi Penyajian Musik. Abil Thufail adalah seorang drummer dan singer-songwriter yang sejak tahun 2022 sudah aktif meluncurkan karya-karyanya. Pada 15 November, “In Every Smile” diluncurkan untuk menutup tahun 2024. Selain itu, produktivitas Abil juga ditunjukkan melalui foto panggung ke panggung yang disebarkan di Instagram pribadinya.
Musik yang Abil punya cenderung menggunakan bahasa Inggris dalam bait-bait lagunya dan dipenuhi dengan cita rasa R&B, soul, dan pop. Didukung dengan fashion dan desain artwork-nya yang kalem, bernuansa cerah, dan mencolok, membuat Abil menjadi solois yang patut diperhitungkan. Apalagi kalau kamu suka lagu-lagu Paul Partohap, atau Pasilyo dari SunKissed Lola, atau musik ala-ala drama Korea, maka lagu-lagu Abil ini wajib masuk playlist kamu.
9. Kinosure – “Sea of Grief”
(dok. Spotify Kinosure)
Band dengan spirit pop rock Jepang ini beranggotakan Daffa Tjikdun (vokal), Layung Jingga Artista (drum), Pandu Nanta (gitar), dan Willy Anath (Bass). Mereka adalah orang-orang dari Prodi Musik dan Prodi Penyajian Musik. Mereka menjadi band yang menyegarkan aura kampus yang didominasi musisi-musisi pop dan distorsi kencang. “Sea of Grief” menjadi awalan yang endikup (enak di kuping) sebagai pembuka proses berkarya Kinosure.
Ketika mendengarkan “Sea of Grief”, rasanya akan terbayang nuansa cerita fiksi dari sebuah animasi Jepang. Mungkin inilah yang membuatnya tidak asing dan mudah diterima. Lirik-lirik yang tersaji pun mempunyai pesan penuh makna yang menjadi pegangan dalam menjalani realita kehidupan. Lagu ini hendak mengajak untuk berefleksi bahwa selalu ada harapan dalam situasi yang sulit. Sangat cocok untuk menemani perenunganmu tentang perjalanan selama tahun 2024.
10. KXZA – “AXE”
KXZA’s Showcase (dok. Arsip Panggung KXZA)
Siapa yang menduga kalau di sudut kampus kita menyimpan berbagai aliran musik, salah satunya hip hop. KXZA adalah nama panggung sang rapper muslimah dari Prodi Animasi. Dengan aliran new school yang menggabungkan Trap dan Drill, ia meluncurkan karyanya pada pertengahan tahun 2024 yang berjudul “AXE”. Rasa-rasanya, lagu ini berbicara tentang perasaan dendam yang tak bisa ia lakukan dengan cara konfrontatif. Oleh karena itu, dengan lantang ia menyatakan perasaannya melalui “AXE”.
Lagu ini diciptakan memakai idiom musik ritual dari negara berpiramida dan ditambah sedikit penggalan kata berbahasa Jawa. Ini menjadi elemen yang kuat dalam lagunya. Dentuman bass dan perkusi yang catchy, disambut artikulasi raping dan verbalnya yang rapi, dapat menyita perhatian kita. Selamat mendengarkan karya KXZA atau Kiki atau Kiza atau Rizki Kurniawati (banyak banget namanya). Semoga kalian tidak lupa bernafas, karena ini orang keren banget. Perbincangan salah satu punggawa Aksaratala dengan KXZA bisa kalian baca selengkapnya di sini https://aksaratala.com/2024/12/24/dari-panggung-freestyle-hingga-ke-perilisan-karya-mengurai-perjalanan-kxza-dan-debut-single-perdananya/
11. Mada Panglima – “Circle of Life”
(dok. Spotify Mada Panglima
Bagi kalian yang suka dan merasa tenang ketika mendengarkan musik berdistorsi kencang, album “Circle of Life” adalah pilihannya. Album ini diluncurkan oleh alumnus Penciptaan Musik, Mada Panglima pada 2 April lalu. Jiwa metalnya yang tidak terbendung ia representasikan dalam album ini. Album ini juga menjadi panji yang ditancapkan sebagai simbolisasi keseriusannya dalam bermusik. Oleh karena itu, hal ini menjadi afdol bagi mereka yang mengambil keputusan untuk berkarir sebagai musisi atau pelaku musik.
12. Matthew – “But It’s Christmas”
(dok. Matthew Timung)
Desember adalah hari di mana semua orang berbahagia dengan Natal dan cuti bersamanya. Namun, kita melupakan satu hal bahwa sebagian orang merayakan Desember dengan kehilangan. Inilah yang diceritakan oleh singer-songwriter / producer dari Prodi Musik, Matthew Timung dalam singlenya, “But It’s Christmas” yang dirilis pada 8 Desember 2023.
Sudah setahun berlalu lagu ini dirilis, tapi rasanya masih sama. Pilu dan masih membiru. Lagu ini menggambarkan suasana Natal yang kontras dengan kenyataan pahit yang dialami oleh beberapa orang. Atau, bagi sebagian orang, Desember menjadi alasan untuk pulang ke rumah bersama orang-orang tersayang, namun bagi orang lain, mungkin rumah menjadi tempat mengingat kehilangan.
Kecakapan Matthew yang melukiskan bulan Desember dalam lirik-liriknya, mampu mewakili perasaan orang-orang yang tidak terwakili, bahkan mampu menembus hati orang-orang yang tidak sadar dengan hal ini. Kalian wajib dengarkan lagu ini sampai mendengar It’s christmas / But my father’s died / He’s not here tonight / Whose fault?.
Menutup tulisan ini, kami ucapkan, “Jika tidak mampu disembuhkan, mari kita rayakan. Mari rayakan segalanya, walaupun kesedihan adalah tajuknya”.
Salam hormat, Aksaratala !
Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: Redaksi Aksaratala
