‘Legatum Symphonia’ dan Upaya Merawat Warisan Symphonic Band

Penulis: Rindu Sangmesih Wijayanti

Symphonic Band, format musik yang jarang lewat di telinga orang awam, terutama di luar iklim pendidikan musik formal. Jika penyebutannya diganti menjadi Marching Band mungkin akan terasa lebih familiar. Kedua format ini sejatinya bersaudara dekat. Perbedaan mereka terletak pada format penyajiannya. Marching Band disajikan dengan personil musisi yang berbaris, Symphonic Band disajikan dengan personil musisi yang duduk di atas kursi pada sebuah panggung. Terlepas dari perbedaan yang mengemuka, keduanya tetap menjadi format pertunjukan yang memiliki instrumen tiup dan perkusi di dalamnya. Nuansa patriotik adalah penawaran utamanya. Meski format musik tiup dan perkusi sering ditemui dalam satuan tentara, pertunjukan Symphonic Band masih menjadi hal yang asing bagi kebanyakan orang.

Ketika banyak orang tidak mengenal Symphonic Band, mahasiswa/i tiup ISI Yogyakarta yang tergabung dalam kelompok Studsy Band masih percaya bahwa masa depan format musik Symphonic Band ada di tangan mereka. Rasa percaya ini tumbuh dalam usaha mereka untuk kembali menggelar konser di 18 Januari, akhir minggu ini dan bertempat di Concert Hall ISI Yogyakarta. Studsy Band menggandeng Jovan Neo, Presiden Band Directors’ Singapore dan nama yang sudah tidak asing lagi bagi penonton konser Studsy Band tahun sebelumnya, Brando Tan, Wakil Presiden Band Directors’ Singapore sebagai konduktor tamu. Mengambil tema “Legatum Symphonia” Studsy Band mengajak penonton untuk merayakan kembalinya Studsy Band dan Symphonic Band.

Legatum Symphonia, Legatum memiliki arti warisan, tajuk ini dibawa untuk mempersembahkan warisan karya-karya Symphonic Band kepada penonton, masih dengan visi yang sama dengan konser mereka tahun lalu yang bertajuk “Symphonic Treasure”. Sebagai kelompok Symphonic Band pertama di Indonesia, Studsy Band merasa memiliki kewajiban untuk merengkuh pemain-pemain tiup.

“Harapannya, Studsy Band ya bisa jadi ‘lebarannya’ anak tiup.” Ujar Sefina selaku Direktur Program dari konser ini sekaligus sang pencetus tajuk konser.

Cita-cita yang sama disampaikan juga oleh sang ketua, dalam benak Danrathz, ia ingin menjadikan Studsy Band sebagai wadah bersama para pemain tiup. Tidak hanya di Yogyakarta akan tetapi juga dalam skala nasional.

Asa ini dinyatakan dengan diadakannya Open Call yang memberi kesempatan bagi pemain tiup yang bukan anggota Studsy Band untuk berpartisipasi dalam konser dan merasakan nuansa bermain dalam format Symphonic Band.

Dengan memasang harga tiket seratus ribu ke atas, Studsy Band dapat dikatakan berani mendobrak budaya konser musik klasik di Yogyakarta yang kebanyakan memasang harga tiket di nominal seratus ribu ke bawah. Danrathz mengungkapkan alasannya, “Di samping harga produksi untuk konser musik klasik itu tidak sedikit. Kami ingin menunjukan bahwa kami benar-benar menyajikan kualitas yang worth it untuk disaksikan penonton.”

Mahalnya harga produksi ini juga disampaikan oleh salah satu panitia, “Alat perkusi yang saat ini dimiliki kampus kualitasnya masih jauh dari harapan konduktor, makanya harus sewa sana-sini. Mungkin itu salah satu kesulitannya juga ya.”

Kesulitan dan tantangan tidak dapat dihindari, untuk terus berkembang hal-hal seperti itu lumrah untuk ditemui. “Akan tetapi hadirnya keluarga yang suportif dan memiliki satu mimpi yang sama memudahkan saya dan teman-teman Studsy Band untuk terus melaju.” Ucap Danrathz.

Latihan seksional instrumen flute (dok. penulis)

Aula Gedung Serba Guna ISI Yogyakarta menjadi saksi bisu proses para pemain Studsy Band menjalani latihan-latihan yang membuat pening dan mual. Semua itu bukan tanpa alasan, keyakinan akan masa depan Symphonic Band-lah yang menjadi energi mereka untuk terus menyempurnakan kesuksesan konser ini. Berdedikasi, satu kata yang dapat mendeskripsikan pemain-pemain yang penuh semangat ini. Ketekunan mereka terpancar dari bagaimana mereka merelakan waktu jeda latihan bersama untuk terus menyempurnakan permainan individunya. Di tengah riuhnya suasana Gedung Serba Guna malam itu, Jovan Neo, sang konduktor tamu bercerita tentang energi yang diberikan para pemain.

“Ada banyak perkembangan sejauh ini dalam persiapan. Semangat dan passion mereka dalam bermusik yang membuat saya betah di sini. Saya yakin semangat ini yang suatu hari akan menjadikan Studsy Band sebagai pioneer Symphonic Band di Indonesia, seperti menabur benih, lama kelamaan akan tumbuh menjadi sesuatu yang besar dan berdampak.”

“Dimulai dari sekolah ke sekolah. Saya rasa itu akan menjadi dampak paling signifikan dalam mempopulerkan Symphonic Band. Saya berharap Studsy Band pun dapat melakukan hal tersebut.” tambah Dr. Leslie Wong Kah Ho, dosen saxophone di Nanyang Academy of Fine Arts yang juga turut hadir dan membagikan ilmunya kepada pemain saxophone Studsy Band.

“Studsy Band harus terus memulai, memulai, dan memulai.” Tambah Brando Tan, teman dekat Studsy Band yang mengajak Jovan Neo dan Leslie Wong untuk turut bergabung membagikan ilmunya pada para pemain.

Potret teman-teman pemain Tuba (dok. penulis)

Kehadiran tamu-tamu istimewa dalam konser “Legatum Symphonia” kali ini memberikan nafas dan harapan yang baru bagi teman-teman tiup di sini. Dengan air muka yang memancarkan kebahagiaan Danrathz menerangkan, “Kehadiran mereka itu layaknya bintang jatuh. Dedikasi mereka menjadi harapan dan motivasi kami untuk terus berjuang.”

Kerlip bintang di luar Aula Gedung Serba Guna ISI Yogyakarta, menemani langkah Studsy Band kembali ke rumah masing-masing seusai pulang dari latihan yang selesai setiap malam. Beristirahat untuk esok merajut kembali warisan-warisan Symphonic Band. Memompa semangat untuk menyempurnakan misi “Legatum Symphonia”. Menabur benih-benih dedikasi untuk menuai regenerasi Symphonic Band di masa depan yang menanti. Konser Legatum Symphonia akan diselenggarakan pada 18 Januari 2025 di Concert Hall ISI Yogyakarta, tepatnya pukul 19.00 WIB.

Poster konser (dok. Studsy Band)

Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: Rindu Sangmesih Wijayanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *