Penulis: Manda Marindaa Masseleng
Ketidakluputan sebuah musik dalam memultidayakan suaranya yang laras, sangatlah lazim untuk kita temui di berbagai sudut ruang dan waktu. Keberadaan musik turut diruangi oleh instrumen tiup, intensinya terus merambat ke ruang-ruang cendekiawan, hingga mengevolusikan konsentrasi instrumen tersebut. Musik diolah para pegiat musik kemudian menghasilkan warna sendiri, sehingga kebaruan musik terus teriringi. Kehidupan musik tiup yang begitu meluas, menjadi titik terang keberdirian wadah-wadah musik.
Symphonic Band menjadi salah satu perwujudan evolusi wadah musik tiup, ia menyajikan kompleksitas instrumen tiup dengan elemen instrumen tiup logam, instrumen tiup kayu, juga instrumen perkusi sebagai pelengkap nuansa ritmik. Penyajian repertoarnya juga linear dengan kompleksitas instrumen yang digunakan, sehingga musik yang umumnya disajikan memiliki skala kompleksitas yang lebih menantang dibanding ansambel musik tiup lainnya.
Symphonic Band yang menjadi salah satu bentuk ansambel musik tiup, turut diberi ruang hidup oleh jurusan musik di ISI Yogyakarta untuk berkreasi saling mengisi musisi tiup satu sama lain dalam berproses di Symphonic Band, yang terikat sebagai KKM (Komunitas Kreativitas Mahasiswa) dengan sebutan “Studsy Band”, akronim dari Student Symphonic Band. Para mahasiswa yang terlibat dalam band ini, begitu antusias dalam mengedepankan Symphonic Band di Indonesia. Semangatnya tercerahkan di tiap tahun melalui berbagai program kreatif mereka. Pada Oktober 2024 yang lalu, mereka menjalin kerjasama dengan Jovan Neo dan Brando Tan melalui kegiatan workshop juga masterclass. Sebuah kolaborasi yang menjadi langkah terdekat dengan harapan bahwa Symphonic Band dapat menjadi wadah musik yang inklusif baik bagi para musisi tiup pun karya musiknya di Indonesia. Dedikasi Studsy, Jovan, dan Brando tak hanya sampai di hari itu, keberlanjutan misi mereka diaktualkan dengan mengusung sebuah pertunjukan konser Symphonic Band.
Pada 18 Januari 2025, kolaborasi mereka dikumandangkan melalui berbagai karya Symphonic Band di dalam gedung Concert Hall ISI Yogyakarta. Pertunjukan ini dikemas dalam tema “Legatum Symphonia”. Di mana Legatum berarti warisan dan Symphonia berarti simfoni. Pemaknaan “Legatum Symphonia” menjadi bentuk penghargaan bagi warisan karya-karya Symphonic Band.
“Tahun ini kita tetap berkomitmen untuk bisa menyuguhkan karya-karya Symphonic Band lainnya. Aku rasa banyak banget karya Symphonic Band lainnya yang belum diperdengarkan ke publik, sehingga aku mikir kira-kira tema apa yang bisa menjadi warisan, akhirnya ketemu legasi kemudian ke legatum, terbitlah “Legatum Symphonia” sebagai warisan karya-karya simfoni dari komposer terdahulu”, terang Sefina Iswandana, sebagai penggagas tema “Legatum Symphonia”.
Dari kejauhan, di depan Concert Hall ISI Yogyakarta terdapat sepasang lampu sorot yang memancarkan cahaya berwarna biru sebagai warna tema Studsy dan menjadi penanda bahwa kehidupan band tersebut tengah meruang di Concert Hall. Memasuki lobby Concert Hall ISI Yogyakarta, suasana antrian yang padat, juga ramah, menjadi titik pandang pertama. Setiap penonton yang berkunjung tentu mendapati panitia-panitia di lobby dengan busana berwarna hitam, yang siap mendata sekaligus memberikan tiket kursi bagi penonton. Usai mendapati konfirmasi panitia, langkah penonton akan diarahkan menuju kursi yang telah diberikan. Sesampainya di tempat duduk, panggung terlihat dipenuhi kursi untuk para pemain, beberapa alat musik, juga podium sebagai tempat conductor memimpin Band.

Setelah menunggu beberapa menit, para pemusik yang akan menyajikan pertunjukan memenuhi kursi-kursi panggung, siap dengan partitur dan alat musiknya masing-masing. Pukul 18.58 suara pembawa acara terdengar melalui pengeras suara. Oca, sebagai pembawa acara “Legatum Symphonia” memperkenalkan dirinya dan menyambut para hadirin, sekaligus mengungkapkan suasana konser yang akan disajikan. Suaranya yang elegan, membangun atmosfir yang tegas dan hangat dalam mengawali acara. Tak lupa ia juga memberikan informasi terkait aturan selama konser dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak sponsorship dan media partner yang mendukung acara “Legatum Symphonia”. Setelah ia memandu mulainya acara, tepuk tangan diberikan menyemarakkan ruang pertunjukan. Selang beberapa detik, Concert Master malam itu masuk untuk memimpin tuning bagi seluruh alat musik tiup.
Setelah seluruh alat musik selesai tuning, tepuk tangan dimeriahkan sekali lagi ketika sosok conductor menampakkan diri menuju podiumnya. Jovan Neo sebagai pemandu repertoar memulai direksinya melalui repertoar “Symphonic Overture”. Karya ini terdengar begitu megah, namun tetap playful, berharmoni dengan ritme yang sangat hidup. Sebagai penanda awal pertunjukan, musik tersebut tak henti-hentinya membuat pendengar tersenyum. Penemuan keragaman tempo dan dinamika, merengkuh aliran harmonisasi yang membawa seluruh penonton terlibat dalam kompleksitas unsur musik dalam karya “Symphonic Overture”. Ini menjadi sambutan musik yang begitu berkesan dalam mengawali perkenalan Legatum Symphonia. Usai repertoar tersebut dimainkan, wajah Jovan terlihat penuh keringat saat ia membalikkan badan dan membungkukkan tubuh untuk memberikan penghormatannya, dibersamai tepuk tangan penonton. Jovan yang baru saja memimpin jalannya repertoar pertama dengan totalitas, kembali ke belakang panggung. Kemudian para pemain juga berganti posisi, siap menuju repertoar berikutnya.
Setelah para musisi berganti posisi, tepuk tangan kembali memeriahkan gedung pertunjukan ketika Brando Tan muncul dari belakang panggung dan berjalan menuju podium. Ia mengambil microphone untuk menyambut para penonton, dan melakukan interaksi singkat untuk memastikan penonton menyukai pertunjukan “Symphonic Overture” tadi. Brando juga mengungkap bahwa band dapat memainkan berbagai genre, maka di repertoar kedua mereka menyajikan concerto di mana pada malam itu mereka membawakan “Clarinet Solo with Band” dengan Danrathz sebagai soloist. Repetoar kali ini menyihir seluruh pendengar dengan ketenangan alunan nada yang ditiupkan oleh Danrathz Lukas Petrus. Tempo yang lambat dengan suara klarinet yang lembut diiringi oleh band, semakin memperkaya nuansa musik tanpa menutupi melodi utama dari solo klarinet. Pertunjukan karya tersebut diakhiri dengan tepuk tangan dan apresiasi dari Danrathz dan Brando yang saling menunjuk satu sama lain. Setelah tepuk tangan berhenti, posisi kursi yang kosong di repertoar sebelumnya kembali dipenuhi. Brando mengambil microphone lagi kemudian menerangkan alasan pengurangan pemain di repertoar sebelumnya untuk membuat suara klarinet lebih terdengar jelas.

Para penyaji kembali melakukan tuning untuk melanjutkan permainan pada karya ketiga, yakni “First Suite in E Flat for Military Band”. Karya Gustav Holst ini didireksikan lagi oleh Brando Tan, dengan sajian 3 movement. Movement pertama, chacone yang begitu hikmat, kemudian movement kedua, intermezzo dengan kesan yang ringan dan tempo lebih cepat, diakhiri dengan movement ketiga, yaitu march yang bersemangat seperti musik parade. Repertoar dengan karakter yang kompleks ini membawa kepuasan tersendiri bagi pendengar yang merasakan sajian-sajian Studsy bersama Brando. Setelah “First Suite in E Flat for Military Band” dimainkan, seluruh penyaji kembali ke belakang panggung dibersamai tepuk tangan dari penonton.
Memasuki karya berikutnya, berformat Clarinet Quintet membawakan “Serenade No. 11 in E-flat major, K.375” karya W.A. Mozart dan “Theme for Clarinet” karya Michelle Mangani. Dua buah karya yang disajikan dalam format ansambel yang lebih kecil dari ansambel sebelumnya. Kali ini musisi yang memainkan kedua karya tersebut terdiri sebanyak 6 orang. Karya repertoar Mozart memiliki melodi yang ringan juga menyenangkan, namun tetap tenang. Kemudian disusul oleh karya Mangani yang memiliki melodi yang lebih sederhana. Sajian quintet ini memberikan nuansa kontemplatif yang cukup kontras dibandingkan karya sebelumnya. Penonton tak lupa memberi apresiasi berupa tepuk tangan bagi keenam musisi yang telah memperdengarkan nuansa baru di pertunjukan saat itu.
Karya berikutnya juga berformat quintet lagi, lebih spesifik lagi yakni Low Brass Quintet dengan repertoar “The Times” karya Hiroki Takahashi. Karya sebelumnya menyuguhkan tempo yang tenang, kali ini temponya lebih cepat. Membawa pendengar mengitari suasana lebih ceria dengan kesegaran yang lebih baru dalam mengakhiri pertunjukan sesi pertama. Berakhirnya repertoar “The Times”, diapresiasi dengan baik oleh penonton kemudian diikuti sesi istirahat selama 15 menit.
Selepas waktu istirahat berakhir, pertunjukan dilanjutkan kembali dalam sesi 2. Woodwind Trio mengawali sesi kali ini dengan membawakan repertoar “Trio for Flute, Oboe, Bassoon” karya Julius Rontgen. Repertoar pembuka sesi kedua ini punya melodi yang lincah, dan dimainkan dengan tempo yang cepat. Begitu banyak dialog antar instrumen yang membuat musik ini berkesan interaktif. Penyaji “Trio for Flute, Oboe, Bassoon” mendapat tepuk tangan yang begitu gembira dari penonton.
Keberlanjutan karya berikutnya masih dalam format ansambel kecil, yaitu Horn Quartet yang membawakan repertoar “6 Horn Quartets” yang dimainkan dalam 6 movement. Musik karya Nikolai Tscherepnine tersebut mengeksplorasi kecanggihan instrumen horn melalui berbagai harmonisasi nada yang memberi tantangan bagi kompleksitas dinamika dan warna suaranya. Keenam movement tersebut memiliki ciri yang berbeda-beda, berbagai perubahan tempo dan dinamika disajikan yang memberi kesan sangat beragam dalam satu pertunjukan quartet. Setelah enam movement diperdengarkan, para musisi kembali mendapatkan antusias yang meriah dari tepuk tangan penonton.
Repertoar berikutnya siap digaungkan kembali. Seluruh musisi menampakkan diri dari belakang panggung menuju kursinya masing-masing. Seluruh kursi panggung kembali dipenuhi, tuning instrumen juga kembali dipimpin sebelum pengaba memasuki ruang pertunjukan. Di karya sebelumnya para conductor menggunakan pakaian formal dengan jas, namun mulai pada repertoar kali ini, Brando masuk menggunakan outer batik berwarna kuning. Sebuah busana yang senada dengan repertoar yang dimainkan saat itu, yakni “March Blue Spring”. Sebuah karya yang merepresentasikan warna suara musik yang terang, tentu dengan melodi dan tempo yang menyenangkan. Setelah karya ini selesai, Brando kembali berinteraksi dengan penonton. Dengan penuh semangat ia mengungkap harapnya agar para penonton menyukai penampilan mereka. Ia menjelaskan bahwa “March Blue Spring” ialah karya seorang composer Jepang yang aktif di sosial media, karena membagikan dokumentasi setiap band di berbagai wilayah yang memainkan karya tersebut. Studsy menemukan karya tersebut di sosial media yang kemudian memutuskan untuk membawa karya ini di “Legatum Symphonia”.
Saat itu, nada bicara Brando yang lantang dan penuh antusias berubah ketika ia menerangkan tentang repertoar berikutnya. “Why i speak like this? Because this piece is very quiet, it’s very nice. You are here to hear a wonderful Danny Boy. This is very beautiful, enjoy”, ujarnya. Sambil tepuk tangan penonton bergemuruh, Brando menuju ke belakang panggung, bertukar posisi dengan Jovan yang akan menjadi conductor untuk “Irish Tune from Country Derry”. Penulis merasa sebagian besar penonton pasti familiar dengan karya ini. Penulis sendiri sering mendengarkan melodi tersebut di dalam ibadah umat Kristiani. Jika sebelumnya telinga penulis familiar mendengar karya ini dalam bentuk nyanyian vokal, kali ini melodi tersebut dibawakan dengan instrumen tiup yang begitu indah. Setiap kalimatnya memberi nafas yang murni dalam balutan tempo yang tenang. Benar kata Brando, karya ini sangat menawan bagi saya di hari itu.
Setelah dipukau oleh “Irish Time from Country Derry”, Jovan kembali menjadi direksi sebuah karya yang berjudul “Raga Kala”. Sebuah karya magis yang dipenuhi dengan musik tiup yang nyaring. Karya ini sangat mengagumkan dengan permainan tema yang kontras dari repertoar sebelumnya. Karya musik dari salah satu anggota Studsy Band, yakni Antonius Arbi Cakrayudha Prasetya, menggema dengan gagah. Setiap bagian musiknya tersaji dengan megah, terurai dalam kemegahan yang nyaring, juga keheningan yang magis. Musiknya begitu lihai hingga membuat sorot mata penonton tetap fokus sampai akhir. Jovan mengapresiasi pemilik karya tersebut dengan memintanya berdiri, sembari dipenuhi tepuk tangan penonton. Kemeriahan tersebut mengiringi langkah Jovan saat kembali ke belakang panggung.
Sebelum memulai karya selanjutnya, pembawa acara kembali berbicara di microphone, memanggil player open call untuk ikut memainkan karya “The Lion March” dengan Brando sebagai conductor. Layaknya seperti march pada umumnya, musik kali ini sangat energik dalam membangun suasana. Melodi yang catchy membuat karya tersebut begitu memikat. Setelah karya ini berakhir, suara Brando kembali terdengar melalui speaker. Ia memberikan apresiasi terhadap karya “Raga Kala” milik composer muda anggota Studsy Band. Dengan penuh semangat, Brando juga mengungkap harapannya agar Studsy Band bisa semakin meluas. Ia menceritakan tentang proses perancangan pertunjukan malam itu, di mana ia meminta agar Studsy dapat mengundang musisi yang tidak terikat di dalam komunitas mereka, seluruh teman mereka yang ingin turut meramaikan “Legatum Symphonia”.
Mengakhiri penjelasannya, Brando memanggil Jovan untuk kembali ke panggung melanjutkan repertoar berikutnya. Kali ini, warna baru kembali diperdengarkan melalui repertoar “A Little Tango Music”, sebuah musik yang menyisipkan unsur tarian tango dengan ekspresi dan harmonisasi nada yang tegas, juga ritmik yang lebih dramatis. Setelah repertoarnya berakhir, tepuk tangan kembali meriuhkan gedung pertunjukan. Di tengah riuhnya suasana, suara Brando terdengar melalui microphone, memberi apresiasi bagi Studsy Band atas penyajian yang baru saja ditampilkan.
Brando tampak bersemangat melanjutkan repertoar berikutnya, yang sekaligus menjadi repertoar terakhir. Ia menekankan bahwa Symphonic Band tak hanya menyajikan karya musik klasik, tetapi juga menghadirkan karya musik pop yang begitu terkenal sebagai penutup pertunjukan malam itu. “Japanese Graffiti XIV” menggait instrumen gitar elektrik untuk memeriahkan repertoar penutup tersebut. Repertoar ini penuh dengan energi, dimeriahkan dengan ajakan tepuk tangan menyesuaikan ritme musik “Japanese Graffiti XIV”. Musik yang diawali dengan energi meluap-luap, kemudian direduksi perlahan ke nuansa musik yang tenang melalui melodi alat musik tiup. Kemeriahan malam itu dilanjutkan melalui energi musik yang membuat suasana antusias lagi. Instrumen saxophone juga menjadi sorotan dengan soloist yang memukau di tengah berjalannya repertoar. Sebuah penutup yang penuh semangat dan seru untuk mengakhiri malam itu.
Tak lupa, pembawa acara kembali memandu penyerahan buket bunga sebagai apresiasi bagi ketiga tamu kehormatan Studsy Band, yaitu Brando Tan dan Jovan Neo yang berperan sebagai conductor, juga Leslie Wong Kah Ho yang turut berpartisipasi menjadi pemain alto saxophone. Soloist dan composer dari Studsy Band yang telah mengambil peran dalam pertunjukan malam itu juga turut dibersamai dalam kehangatan apresiasi yang mengalir di detik-detik penghujung acara.
Usai apresiasi dihaturkan penonton, teriakan para panitia dari berbagai sudut menggema, meneriakkan “we want more”, yang membuat penonton ikut berteriak lebih kencang. Brando akhirnya keluar dari bilik panggung dengan terbirit-birit sambil berkata “okay, one more”. Sebagai extra sajian pertunjukan musik dengan irama penuh semangat kembali digaungkan, seluruh penonton bersorak. Layaknya menonton konser band di ruang terbuka, setiap kali saxophone mengambil alih sebagai melodi, antusiasme kembali menggemuruh. Musik menemani akhir acara hari itu, meninggalkan kesan penuh kegembiraan. Brando dan seluruh penyaji kembali memberikan penghormatannya bagi penonton. “Please support Studsy, see you next year”, pungkas Brando, menutup euphoria musik malam itu.
Dalam sesi wawancara, Brando dan Jovan memiliki spirit yang sama untuk memajukan dan mengedepankan Symphonic Band di Indonesia. Brando mengatakan bahwa pemilihan repertoar yang dikurasi dengan baik menjadi memori yang begitu spesial baginya. “We make sure that we have pieces from America from British to Japanese to local composition to solo work, so we make sure that we have all”. Pandangan Jovan sendiri dalam mengoleksi memori bersama Studsy terlibat dalam dunia komunitasnya, ia mengatakan “There’s a lot of good music, there’s a lot of excitement, it really brings people together and it really feels like a family when you actually perform as a wind band. I think there’s a different feeling from going to an orchestra concert actually. Because it’s really about the community, it’s about how we bring people together”.
Kedua conductor malam itu begitu berdedikasi sangat besar bagi Studsy Band. Jovan merasa bahwa begitu banyak orang yang memiliki semangat untuk belajar di dalam wind band, sehingga ia memberikan dedikasinya ketika Brando mengajak untuk kembali membersamai Studsy Band. Di hari itu, Danrathz, sebagai ketua Studsy juga mengutarakan bahwa Brando memberikan janji untuk bekerja sama selama 10 tahun kedepan. Sebuah jalinan kerja sama yang penuh kehormatan akan dedikasi satu sama lain. Brando dan Jovan berharap agar institusi yang membawahi komunitas ini untuk terus memberi dukungan bagi Studsy Band. Pengumandangan Symphonic Band terus melesat oleh semangat pegiat-pegiatnya.

Setelah mendengarkan berbagai karya warisan Symphonic Band, penulis berharap keberlanjutan komunitas ini terus menghampiri berbagai telinga pendengar. Mungkin saja berbagai karya bisa kita dengarkan di digital platform, namun ambient dari keberlangsungan musik di dunia nyata tidak akan ditemui di dalamnya. Seluruh getaran suara harmonis akan sanggup merasuk ke dalam setiap hati manusia, membuat mereka merasa lebih hidup. Semoga kehidupan Symphonic Band senantiasa tergenggam di celah hati para pendengar. Bersama menghidupi musik, kita menyingkap keindahan-keindahan atas seluruh nafas yang terhembus di dalam Symphonic Band.
Editor: Gilbert Natanael Pardosi
Foto Sampul: Studsy Band
