Penulis: Alif Amin Arrafah
Kurang seminggu menjelang semester genap tahun ajaran 2024/2025 dimulai, saya dihubungi oleh seorang rekan dari Unit Kegiatan Mahasiswa ‘Clavier’, wadah kegiatan mahasiswa peminat piano klasik. Ini pertama kali kami membaur dalam percakapan melalui pesan Whatsapp. Uniknya pada percakapan pertama ini, kami justru tidak saling berkenalan. Kami sudah mengetahui satu sama lain. Ketika itu kami justru menilik kembali Konser Perdana Clavier Muda 2024. Sebenarnya, di acara itu saya mengajukan diri untuk meliput mewakili Aksaratala. Namun, karena satu dan lain hal, tulisan itu tak dapat saya selesaikan.
Lania – selaku pimpinan produksi konser Clavier enam bulan lalu – pun mengirimkan sebuah tautan YouTube, lengkap dengan pesan singkat, “Arsip konser Subito sudah diunggah. Maaf, karena tidak ada kabar langsung ke kamu, karena kami juga masih menunggu tulisan kamu.”
Maka dengan penuh rasa bersalah sekaligus rasa penasaran, saya segera terbawa menekan tautan Youtube itu. Layar menampilkan kembali malam magis yang sempat saya saksikan langsung—momen ketika dentingan piano menyatu dengan atmosfer ruangan, ketika setiap nada yang dimainkan terasa begitu hidup. Saya tersadar, kini saya bisa mengulanginya kapan saja, menyelami kembali setiap detail yang mungkin terlewat dalam satu kali dengar. Akun Youtube ‘Clavier Student’ ini menjadi album arsip peristiwa bagi para punggawa Clavier.
Arsip konser ini menjemput saya untuk mengalami kilas balik ke malam itu. Di bawah temaram lampu gedung Concert Hall ISI Yogyakarta, saya dan seorang ‘sepuh’ jurnalis duduk di antara penonton undangan yang tengah menanti dengan harap. Suasana penuh bisikan lirih, seperti napas yang ditahan sebelum sebuah keajaiban terjadi. Judul konser malam itu — Subito — mengisyaratkan sesuatu yang datang tiba-tiba, sebuah perubahan yang tak terduga. Saya tak tahu pasti apa yang akan saya saksikan, tetapi begitu jemari pianis menyentuh tuts pertama, waktu seolah berhenti. Saya terseret dalam pusaran melodi, dalam harmoni yang mengalir tanpa aba-aba, dan seketika tersadar bahwa malam ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah perjalanan.
Layar menampilkan pianis pertama yang duduk tenang di depan piano, jemarinya melayang di atas tuts. Begitu Prelude in A minor karya Maurice Ravel yang cukup singkat namun memikat ini mengalun, suasana terasa syahdu. Nada-nada berbisik lirih, menyusup ke dalam hening. Saya terpaku, menikmati kelembutan yang mengalir sebelum akhirnya berganti dengan harmoni yang lebih melankolis dari Pathetique Sonata gubahan Ludwig Van Beethoven, gerakan kedua yang begitu hangat dan mendalam yang setiap nada seolah membawa kisah.
Lalu datang melodi-melodi yang akrab di telinga. Nocturne in E-flat Major karya Frederich Chopin yang membungkus ruangan dengan keindahan yang nyaris tak berwujud, seperti cahaya bulan yang merayap pelan. Kemudian, karya Joe Hisaishi membawa suasana menuju dunia fantasi dengan Merry-Go-Round of Life yang terasa ringan, mengalun seperti angin yang menari.

Ketenangan itu tak bertahan lama. Karya Liszt menghadirkan tantangannya lewat La Campanella, dengan dentingan nada tinggi yang berlari tanpa henti. Ketika saya mulai merasa perjalanan ini cukup akrab, tiba-tiba hadir gempuran intens dari karya Rachmaninoff dan Prokofiev. Prelude in C-Sharp Minor menggelegar dengan bobot yang dalam, sementara Suggestion Diabolique benar-benar menyalakan bara—ritme yang mendesak, gesit, dan nyaris kejam. Saya menahan napas, meresapi energi liar yang memenuhi udara.
Tepuk tangan meriah usai tiap repertoar disajikan meronce kemeriahan yang tersaji. Tangan kanan dan kiri pianis yang memainkan tuts kaya melodi dan harmoni dibalas dengan banyaknya sepasang tangan yang bertepuk penuh apresiasi. Layaknya petasan tahun baru, masa yang ramai malam itu merayakan sebuah awal dari petualangan baru bagi para Clavier Muda. Konsep yang mereka usung – ‘When Light and Dark Meets in Harmony’ – menurut saya sangat berhasil tersampaikan dalam konser ini. Perpindahan susasana yang secara ajaib membuat penonton merasakan transisinya, mulai dari repertoar bernuansa ‘light’ yang diinterpretasikan dengan layar biru dan sorot lampu hangat, repertoar bernuansa ‘intermezo’ yang diinterpretasikan dengan layar ungu dan sorot lampu semi dingin, hingga repertoar bernuansa ‘dark’ yang diinterpretasikan dengan layar merah gelap dan lampu sorot berwarna mencekam.
Akhir konser sekaligus bermulanya euforia menjadi kesempatan saya untuk bisa mengobrol dengan salah seorang performer malam itu. Dia menyampaikan bahwa, untuk tampil membawakan repertoarnya malam ini, dia (Manda) bahkan mempelajari sikap dan kebiasaan sang komposer agar dapat menampilkan persona komposer yang kuat, didukung dengan pertunjukan yang mumpuni. Manda juga menyampaikan bahwa sempat terjadi pengunduran tanggal konser beberapa kali, dan atas beberapa pertimbangan, akhirnya tanggal 8 Juni 2024 dipilih sebagai tanggal konser perdana Clavier angkatan 2023.
Namun sejujurnya, saya sempat mempertanyakan tentang kesiapan para performer di malam konser ini, karena ada beberapa performer yang sedikit tertatih ketika perform di atas panggung. “Sebenarnya tiga bulan sebelum konser ini diadakan kami sudah melakukan pembentukan panitia. Memang terjadi beberapa kali pengunduran. Tapi yang menjadi pertimbangan saat akhirnya memilih tanggal 8 Juni adalah karena ketersediaan slot peminjaman gedung Concert Hall, karena peminjaman gedung ini memang agak sulit utuk menemukan tanggal yang kosong. Selain itu masing-masing kami juga tengah sibuk mempersiapkan ujian mayor dan ansambel, sehingga waktu latihannya relatif singkat.” ujar Daniella Christy – salah seorang performer sekaligus panitia Subito 2024 – pasca konser. Hal ini membuat saya dapat memahami kausalitas dari pada opini saya sebelumnya.

Malam itu merupakan malam yang panjang bagi para Clavier Muda yang ikut tampil, mendebutkan diri di UKM Piano Klasik tercinta. Saya sungguh tidak sabar untuk mengulang kembali momen itu. Duduk di antara para penunggu dentingan ajaib yang bukan mistika. Saya saat ini menerka-nerka, kejutan apa yang akan datang setelah ini? Terlebih, Clavier sedang mengadakan rekrutmen terbuka untuk para pianis klasik di kampus ISI Yogyakarta. Namun pada pengkaderan tahun ini, Clavier juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa dengan minat piano selain klasik (termasuk pop dan jazz) untuk mendaftar di UKM ini untuk bersama-sama membangun keterampilan perform dengan framing piano klasik.

Hingga saya menulis paragraf ini, kanal Youtube Clavier masih bertengger di tab chrome akun google saya. Dengan tulisan ini saya tidak mengajak para pianis klasik di Kampus ISI Yogyakarta untuk bergabung dengan Clavier secara persuasif. Namun yang berusaha saya sajikan hanyalah informasi yang harapannya dapat membawa para pianis klasik yang tumbuh di lingkungan kampus ini menyusuri satu dari sekian agenda komunitas pianis klasik di Clavier yang benar-benar menjadi ‘rumah’ bagi setiap pasang tangan yang jemarinya diwadahi untuk terus berkembang dalam komunitas yang suportif dan sehat.
Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: Arsip Dokumentasi Konser Subito Clavier Student
