Penulis: Lintang Pramudia Swara
Konser Nostradamus tahun ini mewujud sebagai ruang pertunjukan yang membongkar tradisi maupun standar repertoar. Tidak mencapai selang satu tahun setelah debutnya, konser hasil pembelajaran ansambel di Program Studi Musik kembali digelar, tepatnya pada Jumat (17/11/2023) di Auditorium Musik ISI Yogyakarta. Ketika tahun 2022 konser “Nostradamus” mengudara di awal Desember, maka tahun ini segenap tim penyelenggara bergerak lebih cepat untuk mempersembahkan sajian karya-karya terbaik di waktu yang lebih dini.

Karya Orisinil “Concerto Grosso” gubahan Pipin Garibaldi telah mengubah wajah ansambel gesek pada konser malam itu. Mereka tidak lagi membawakan karya komponis tersohor dari zaman klasik. Sebagai dosen pengampu mata kuliah ansambel gesek, Pipin Garibaldi merancang komposisi ansambel yang diperuntukan bagi mahasiswa pemula. Penyederhanaan ini berangkat dari ketimpangan skill yang menurut sang dosen perlu diakomodasi dengan inovasi karya baru. Upaya ini dilakukan sebagai langkah adaptif yang mendukung keberlangsungan pembelajaran praktik ansambel gesek.

Tiara (piano), Timothy (biola), dan Arwina (cello) mempersembahkan Piano Trio in G Major K. 564 karya W. A. Mozart untuk mengakhiri tiga sajian four hands piano yang apik di sesi penampilan ansambel piano yang sebelumnya. Gesekan senar yang lembut dari Timothy dan Arwina berpadu dengan ketegasan Tiara dalam menekan tiap tuts pianonya, menciptakan dialog kecil yang intim di tengah jalinan nada-nada yang terus menyerbu membawa atmosfir yang menyenangkan.

Denting lembut bunyi piano mencuri hati audiens, iringannya membawa suasana manis yang dihadirkan ansambel vokal saat membawakan karya berjudul “For The Beauty of The Earth” dari John Rutter, seorang komposer era modern berkebangsaan Inggris. Sajian karya ini menjadi persembahan puncak yang menstimulasi mood audiens usai mendengarkan karya-karya yang cukup serius nuansanya.

Tak mau kalah untuk jadi sorotan, ansambel gitar menyuguhkan penampilan perkusif yang dipimpin oleh kondakter benama Putri Isydora. Karya berjudul “Tango for Four” gubahan Lou Warde mengajak audiens terlarut dengan irama tarian dan atmosfir yang dinamis, terutama berkat penggunaan teknik slapping, ketika gitaris menepuk body gitar untuk menghasilkan bunyi perkusi yang khas dalam variasi tertentu.

Sebelum memulai penampilan, terjadi percakapan antara MC dengan salah satu personil ansambel perkusi. Sang personil mengaku belum pernah menyentuh instrumen marimba, vibraphone, xylophone dan keluarga perkusi lain sebelum berkuliah di ISI Yogyakarta. Meski begitu, mereka tampil memukau dengan karya “Billy Jean” dari Michael Jackson. Teriak histeris penonton beradu dengan bebunyian instrumen perkusi yang mereka mainkan di atas panggung.

Merawat tradisi debut konser Nostradamus di tahun lalu, ansambel tiup kembali tampil di penghujung konser, menghadirkan klimaks yang magis dan megah dengan kumpulan instrumen brass, woodwind dan perkusi yang berpadu secara epik. Wahyudi Pinto, sang dosen yang menjadi pengaba di malam itu menahkodai perjalanan musikal gubahan Jacob de Han berjudul “La Storia” dan “Invicta Overture for Band” gubahan James Swearingen. Penampilan ansambel tiup menjadi penutup konser sekaligus membuka awal yang baru bagi segenap mahasiswa Program Studi Musik untuk terus mengeksplorasi kemampuan musikalnya.
Editor: Aqilah Mumtaza
Sumber Gambar: Gajah Bona Production
