Penulis : Latifah Arlita Wirawan
Pada tanggal 24 November 2023, di Tembi Rumah Budaya, telah diadakan sebuah pertunjukan musik bertajuk “Artificial Intelligence (Respon terhadap masa depan komposer)”. Para penonton duduk berdekatan di bawah pendaran lampu yang hangat dengan atmosfer yang hangat pula. Hal ini menjadi nyata dengan apa yang dikatakan oleh Sophian M Kolinus, selaku pimpinan produksi, “Kami memang ingin menyajikan sebuah konser yang intimate”.
Sebuah konser yang begitu kreatif dan unik. Konser ini sebagai gambaran tentang sebuah penerimaan dan persahabatan yang terjalin di antara para komposer muda dengan sistem kecerdasan buatan atau biasa disebut artificial intelligence (AI).
Konser Artificial Intelligence: Respon terhadap Masa Depan Komposer, merupakan sebuah pertunjukan komposisi musik berbasis laboratorium yang berkolaborasi dengan AI. Konser tersebut merupakan sebuah proyek independen dalam Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang dilaksanakan oleh mahasiswa Prodi Penciptaan Musik ISI Yogyakarta. Dalam kata sambutannya, Sophian M Kolinus mengatakan bahwa ide dari konser tersebut pada mulanya berangkat dari keresahan mereka terhadap masa depan para komposer serta para kreator musik akibat sistem kecerdasan buatan yang kini makin populer. Seperti yang telah tertera dalam sub-judul konser, konser ini merupakan sebuah respon terhadap masa depan para komposer.
Konser ini disajikan dengan konsep yang sangat matang dan menarik. Pasalnya pada sesi pertama menampilkan komposisi musik orisinil yang dibuat selama dua minggu oleh para mahasiswa Prodi Penciptaan Musik, dan dibuat secara spontan oleh AI, hanya dalam dua menit saja. Komposisi orisinil karya para mahasiswa Prodi Penciptaan Musik ditampilkan dengan format double kwartet dengan tambahan contrabass.
Ada tiga buah komposisi orisinil yang ditampilkan pada sesi pertama, yakni Divertimento No. 1 in C Major: “Pelog” karya Eggy Rusmin, “The Adventure” karya Delano Christian, dan “Indonesia FPV Bali Java” karya Sophian M Kolinus. Juga, ditampilkan pula pembuatan komposisi musik yang dilakukan oleh AI secara spontan, beserta hasilnya. Kedua hal tersebut dilakukan secara bergantian guna memperlihatkan perbandingan antara komposisi yang dibuat oleh manusia dengan komposisi yang dibuat oleh AI. Ini menjadi sebuah pengalaman mendalam yang mampu membuat para penonton merenungi perkembangan teknologi dan peradaban.
Sementara itu pada sesi kedua, ditampilkan dua buah komposisi musik orisinil yang berkolaborasi dengan AI. Dalam sesi ini, karya-karya tersebut ditampilkan dengan format band, dan merupakan sebuah bentuk penerimaan kepada teknologi yang terus berkembang seiring dengan berkembangnya peradaban. Dua karya yang ditampilkan dalam sesi ini yakni, “Orained Melody” karya Stefan Arnold W. W, dan “Takkan Gapaimu” milik Joshua Sibuea. Karya Josua menjadi penutup yang meriah, serta sebagai pemberi gagasan yang bagus. Josua sebagai seorang komposer mengatakan, “apa yang dimiliki manusia tidak dipunyai AI, begitupun sebaliknya”. Sophian M Kolinus berharap bahwa hal tersebut dapat menjadi himbauan terhadap para komposer agar dapat mencari peluang dari teknologi yang semakin canggih serta tidak menolak perkembangan.
Konser ini menjadi sebuah bukti bahwasanya manusia dapat bersahabat dengan AI, bukan menjadikan AI sebagai musuh ataupun ancaman. AI dibuat oleh manusia dan ia akan terus berkembang apabila manusia sendiri yang mengembangkannya. Mengenai peradaban manusia yang tanpa kita sadari terus menjadi kekhawatiran, adalah sebuah renungan tersendiri untuk kita semua. Kehidupan memang tak lepas dari kepunahan. Namun pertanyaannya, akankah peradaban manusia punah oleh sebab perkembangan sebuah sistem yang dikembangkan oleh mereka sendiri? Mari kita renungkan!
Editor : Gilbert Natanael Pardosi
Sumber Foto : Tim Dokumentasi AI Concert
