Gelaran Kolaborasi Total Perkusi dalam Mallet’s Day III: Circle

Merawat tradisi tahunannya, Total Perkusi kembali menggelar Mallet’s Day – sebuah perayaan sekaligus pesta ritmik yang sudah dinanti. Perayaan ini memasuki edisi ketiga dengan tajuk Mallet’s Day III: Circle. Tepat hari Sabtu (27/09) kegiatan ini berlangsung di Teater Arena ISI Yogyakarta, menghadirkan kolaborasi sejumlah kolektif perkusi yakni Bekereng Percussion dari SMM Yogyakarta dan KESPER dari ISI Yogyakarta. 

Masa(k) Musik: Mencicipi dan Merasakan Musik dari Dapurnya

Masa(k) Musik, sesuai namanya merupakan ruang yang menyimpan sisi tersembunyi dari pembuatan musik; bak mengajak audiens untuk mengendus, mencicipi, merasakan musik dari dasarnya. Dewasa ini, begitu jarang penikmat musik mengetahui karya sampai ke inti dasarnya, seperti ide di balik pembuatan karya dan aspek intramusikal lainnya. Digitalisasi dan globalisasi membuat dunia semakin ‘cepat’ sehingga tak jarang orang menjadi luput atas dasar dari pada seni. Dalam konteks musik, seni adalah ekspresi yang ditampilkan dalam wujud bunyi-bunyian. Ekspresi tersebut menyampaikan perasaan maupun pesan kepada pendengar dengan harapan mereka dapat ikut merasakan.

Menghidupi Mimpi Kemerdekaan: Kisah Ferdinan Fajar Ramadan, Flutist Gita Bahana Nusantara 2025

Gita Bahana Nusantara merupakan mimpi indah bagi musisi-musisi muda. Bermain musik orkestra di istana negara sering dipandang sebagai pencapaian yang akan membawa musisi-musisi muda ini ke petualangan yang baru. Mimpi ini juga selalu didambakan oleh kawan baik saya sedari putih abu, Ferdinan Fajar Ramadan yang saya panggil dengan Ferdinan. Ferdinan merupakan mahasiswa Prodi Penciptaan Musik ISI Yogyakarta angkatan 2022. Pertama kali saya bertemu Ferdinan ketika kami sama-sama menjadi siswa instrumen flute Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta 2019. Sejak saat itu, mimpi ini terus memupuk di benak Ferdinan hingga akhirnya di tahun 2025 ini, mimpinya berbuah dengan manis.

Pancawarna Tersirat Melalui Denting Piano Konser Varichiavi : Menuai Imaji Sinestesia Musik

Konser Varichiavi mengangkat konsep independen dimana para pianis ingin menunjukkan pandangan dari setiap karakter individu lewat karya yang disajikan. Selain itu, Varichiavi terinspirasi dari konsep sinestesia, di mana warna tidak hanya muncul dari apa yang kita lihat namun juga dari apa yang dapat dirasakan melalui indera pendengaran. Dengan membawa aspek pluralitas indera, Varichiavi menyajikan visualisasi warna melalui musik. Perpaduan antara konsep independen dan sinestesia membuat Varichiavi seolah-olah menjadi kunci untuk membuka pintu imajinasi. “Karena kekaguman kami pada synesthesia music, maka dari itu pada kesempatan debut konser kali ini bertajuk Varichiavi: Finding Colors Trough Music.” Papar Valen sebagai ketua pelaksana.

Candramawa: Setiap Kita Punya Ritma Tuk Tumbuh Lebih Baik

Ritmadaya merupakan nama proyek yang diusung oleh tim MBKM dari Program Studi Musik angkatan 2022 yang menggabungkan dua unsur, yaitu ritma yang berasal dari kata ritme, menggambarkan pola teratur dalam musik, gerak, maupun kehidupan dan daya yang berarti kekuatan atau energi. Jika digabungkan, Ritmadaya mencerminkan semangat akan kekuatan ritmis dan energi yang mengalir harmonis dalam keteraturan. Nama ini merepresentasikan keseimbangan, kreativitas, serta daya tahan yang hadir dalam perjalanan bermusik dan menjalani kehidupan. Tajuk konser malam ini pun melingkupi esensi yang sama, “Candramawa” memiliki makna hitam bercampur putih, simbol harmoni dan keseimbangan dalam kehidupan.

Candramawa: Kilauan Kerinduan untuk Berpentas

Saya rasa selalu ada kerinduan alamiah yang tak terlihat— kerinduan yang mewujud dalam raga dan sanubari setiap musisi untuk berpentas. Menunjukkan sesuatu kepada khalayak. Memberikan apapun yang dipunya. Menumpahkan asa untuk menjadi sumber kebahagiaan bagi penontonnya. Kompas tersebut menavigasi menuju arah mata angin yang mampu membawa mereka mengutarakan apa yang menjadi kehendak. Saya menyadari fenomena unik ini ketika malam-malam berbincang dengan salah satu kawan baik saya, yang kebetulan menjadi Ketua Pelaksana MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) Prodi Musik, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta angkatan 2022, Muhammad Dika Aldhiansyah.

Satu Dekade dalam Nada, Satu Malam Untuk Menebar Rasa: Journey With Harmony dari Bekereng Percussion

Sejak awal, Bekereng bukan hanya sekumpulan pelaku seni, mereka adalah sahabat yang tumbuh bersama dalam ruang – ruang sempit latihan. Hadir dan bertahan bukan karena gemerlap panggung, tetapi karena kasih musik dan kobaran solidaritas. Bekereng dalam seiring waktu, masih terdengar di antara tawa lama, tepuk tangan usai latihan, dan sorak setelah lagu terakhir selesai dimainkan. Selama sepuluh tahun, Bekereng telah menjadi rumah bagi banyak cerita, sebuah ruang hangat tempat bermusik, berlabuh, dan mimpi saling bersandar. Satu dekade bukan akhir, melainkan bagian dari langkah yang terus bertumbuh.  

Melihat Kartini dalam Titiek Puspa: dari Perempuan untuk Perempuan

Titiek Puspa, penyanyi legendaris yang telah menghiasi belantika musik tanah air dari masa awal kemerdekaan. Sepak terjangnya dalam menjajaki ekosistem musik Indonesia layak menjadi inspirasi bagi setiap insan musik yang ingin mengembangkan sayapnya dalam industri musik negeri ini yang terus membarui dirinya. Berlimpahnya warisan yang diberikan Titiek Puspa pada musik Indonesia tidak lepas dari dinamika yang mengiringinya. Ratusan karya Titiek Puspa telah mengudara dalam khasanah musik Indonesia. Jika lagu “Marilah Kemari” dan “Apanya Dong” didengarkan, banyak orang akan turut bergembira menghentakkan kaki mengikuti irama. Era ketika musik Indonesia belum semasif masa kini, Titiek Puspa telah menjadi “artis istana” ketika dirinya tergabung sebagai penyanyi pada album “Mari Bersuka Ria Irama Lenso”. Tak hanya sebagai hiburan, Titiek Puspa memanfaatkan karyanya untuk bersuara menceritakan kemalangan kaum marjinal melalui “Kupu-kupu Malam” lagu yang begitu berkesan bagi saya.