Penulis: Rindu Sangmesih Wijayanti
Tanggal 17 Agustus merupakan hajatan akbar bagi negara Indonesia. Ada banyak perayaan di seluruh negeri yang dapat dikunjungi, mulai dari tingkat dusun hingga tingkat nasional. Semua beramai-ramai turut merayakan delapan dekade upaya Indonesia untuk berdikari. Satu hal yang tak bisa luput adalah berkumpulnya kembali mimpi-mimpi anak muda di hajatan ini. Ada anak muda yang kembali melawan panasnya sang surya untuk mewujudkan mimpinya menjadi pasukan pengibar bendera. Ada juga pemuda-pemudi di institusi musik formal maupun informal yang mendambakan menjadi bagian dari orkestra Gita Bahana Nusantara. Audisi Gita Bahana Nusantara (GBN) layak disebut sebagai ibadah tahunan yang mampu membangkitkan iman musisi-musisi muda untuk memperkaya keterampilan.
Gita Bahana Nusantara merupakan mimpi indah bagi musisi-musisi muda. Bermain musik orkestra di istana negara sering dipandang sebagai pencapaian yang akan membawa musisi-musisi muda ini ke petualangan yang baru. Mimpi ini juga selalu didambakan oleh kawan baik saya sedari putih abu, Ferdinan Fajar Ramadan yang saya panggil dengan Ferdinan. Ferdinan merupakan mahasiswa Prodi Penciptaan Musik ISI Yogyakarta angkatan 2022. Pertama kali saya bertemu Ferdinan ketika kami sama-sama menjadi siswa instrumen flute Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta 2019. Sejak saat itu, mimpi ini terus memupuk di benak Ferdinan hingga akhirnya di tahun 2025 ini, mimpinya berbuah dengan manis. Begini cerita Ferdinan:
Bagaimana proses audisinya?
“Waktu audisi ya awalnya, aku merasa audisi tuh waktunya mepet. Agak ragu tuh milih bahannya. Awalnya mau coba repertoar baru, tapi karena mepet ya sudah, pakai yang sudah aku kuasai saja, Concerto-nya Stamitz. Ini audisi aku yang kesekian kalinya. Tahun sebelumnya, aku gagal di audisi tahap dua. Setelah gagal itu, rasa sedih dan merasa kecil tuh ada banget. Tapi ya aku jadikan pelajaran aja, aku sudah paham proses audisi tahap dua itu seperti apa, ya dari situ aku kuatkan terus. Karena kalau audisi, sebenarnya yang paling utama adalah kesiapan mental ya, makanya yang penting aku siap aja. Akhirnya aku coba lagi di tahun ini dan keterima, rasanya tentu bahagia tak terkira, mimpiku dari lama akhirnya terwujud.”
Setelah dinyatakan lolos audisi, apa agenda selanjutnya?
”Akhirnya aku berangkat ke lokasi pemusatan latihan kami, tepatnya di Depok. Kegiatan di sana didominasi oleh latihan. Pagi-pagi biasanya diawali kegiatan senam lalu berlanjut dengan latihan seksional dan gabungan. Kayak music camp pada umumnya gitu.”
Bagaimana perasaan selama di camp?
“Seneng pokoknya. Seru banget. Karena ketemu sama banyak orang dengan latar belakang berbeda tapi sama-sama belajar musik. Jadi ketemu banyak perspektif dan cerita baru tentang teman-teman yang belajar musik di luar ISI Jogja khususnya. Pelatih instrumen tiup kami, Mas Bimo, bener-bener jadi inspirasi baru buat aku secara pribadi. Konduktor kami, Mas Eki Satria, juga seru banget, beliau bisa menempatkan suasana dengan baik kapan harus serius dan kapan bisa bercanda.”
Bagaimana persiapan saat hari-H Upacara Detik-detik Proklamasi di Istana Negara?
“Kami persiapan dari tengah malam. Teman-teman yang perempuan itu diminta siap dandan dari jam 12 malam, terus yang laki-laki ya jam 1an gitu. Sekitar jam 3 pagi kita berangkat dari Depok ke Istana di Bogor. Berangkat pagi-pagi buta demi menghindari macet sih kurasa, karena pasti banyak tamu undangan yang akan memenuhi Bogor. Jam 5 pagi kita mulai soundcheck, lalu nunggu di sana sampai sekitar jam 8 untuk penyambutan tamu-tamu undangan.”
Bagaimana perasaan kamu ketika akhirnya berhasil mewujudkan dan menghidupkan mimpimu untuk bermusik di Istana Negara?
“Intinya aku mau memberi yang terbaik untuk diriku sendiri. Karena ini mimpiku dari lama banget. Ada rasa bangga yang besar sekali untuk diriku sendiri. Rasanya seperti, ‘Wah, ternyata tercapai dan bisa ya aku tampil di atas sini.’”
Setelah selesai upacara di Istana Negara, apa agenda selanjutnya?
“Makan-makan gitu sih, terus ketemu sama temen-temen Paskibraka juga. Di acara ini semakin kenal juga sama temen-temen GBN yang lain. Sehari setelahnya kami diberi hadiah jalan-jalan ke Dufan. Di situ rasanya agak sedih, karena nggak lama lagi bakalan pisah sama temen-temen dari GBN yang sudah berproses bareng. Emang kadang gitu ya, kalau mau berpisah malah makin seru.”
Bagaimana rasanya ketika benar-benar berpisah dengan teman-teman GBN 25?
“Sedih banget sih. Kamu percaya gak kalau aku nangis waktu perpisahan itu? Hahaha. Kami selama ini berproses bersama jadi rasanya sudah seperti keluarga. Dekat sekali.”
Ada yang mau disampaikan buat teman-teman GBN 25?
“Ya, dariku mau menyampaikan terima kasih atas kerja keras dan proses teman-teman semuanya. Memori yang diberikan sangat berkesan untukku.”

Kisah Ferdinan hanyalah satu dari berjuta mimpi anak muda yang seharusnya dipelihara oleh negara. Kisah ini menjadi bukti bahwa musisi-musisi muda sejatinya tidak akan berhenti untuk meraih mimpinya jika lapangan kesempatan terus dijamin oleh negara. Mimpi tersebut harus disirami terus agar tak menjadi tandus.
Mimpi teman-teman musisi muda untuk terus berkarya adalah satu-satunya hal yang patut dirayakan dari kemerdekaan Indonesia yang terasa begitu semu bagi saya. Delapan dekade sudah negara ini menyia-nyiakan rakyatnya dengan tindakan-tindakan tidak terpuji. Berat hati saya melihat perangai para petinggi di istana yang menari-nari dan memperlihatkan sikap arogan. Sedang di luar istana, ada ribuan rakyat yang bahkan berdiri tegak pun tak sanggup karena lemas kelaparan. Ada ribuan mimpi yang hampir mati di tengah hingar bingar pesta istana.
Namun, dari cerita Ferdinan saya disadarkan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah tentang mimpi dan harapan rakyat itu sendiri. Merayakan Indonesia berarti terus mengimani mimpi-mimpi jutaan rakyat yang bisa mati kapan saja karena tak pernah digagas penguasa lalim yang sibuk memperkaya diri. Bersuara dan melawan adalah dua kata yang akan selalu ada di benak saya untuk Indonesia.
80 tahun kemerdekaan Indonesia adalah tentang mimpi rakyatnya, bukan impunitas yang dilakukan pelayan rakyat. Mari tetap melawan dan menjaga satu sama lain.

Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: Ferdinan Fajar Ramadan
