Membebaskan Jiwa Bermusik di dalam Alunan Melodi: Workshop Symphonic Band dan Masterclass Conducting

Penulis: Manda Marindaa Masseleng

Dua puluh tiga tahun silam, Student Symphonic Band (Studsy Band) dirancang untuk menjadi bagian dari Kelompok Kreativitas Mahasiswa (KKM) jurusan musik, yang akan berkonsentrasi mewadahi para mahasiswa dalam bentuk Symphonic Band. Symphonic Band sendiri ialah bentuk kelompok ansambel besar seperti orkestra, namun di Symphonic Band instrumennya didominasi oleh musik tiup. Instrumen yang digunakan umumnya alat musik tiup kayu, tiup logam, serta dilengkapi kontrabas, dan perkusi. Student Symphonic Band kemudian diresmikan menjadi KKM pada tahun 2003. Keberdirian Studsy Band aktif melakukan berbagai giat melalui berbagi pengetahuan lewat teori maupun praktik. Salah satu realisasinya dilaksanakan pada tanggal 14 November 2024, di mana Studsy Band membuka ruang belajar mereka, melalui Workshop Symphonic Band dan Masterclass Conducting.

Kegiatan ini dilakukan secara terbuka untuk dihadiri publik. Dalam segmentasi yang lebih spesifik, hari tersebut menjadi momen dibagikannya ragam pengetahuan kepada seluruh peminat musik terkhusus di ranah Symphonic Band dan Conducting. Di awal kegiatan, Danratzh sebagai ketua Studsy Band menyampaikan sambutannya kepada seluruh hadirin. Ia mengatakan bahwa kegiatan Workshop tersebut adalah klinik untuk memeriksa kemampuan musikal para anggota Studsy Band. Lebih jauh lagi, Danrathz juga memberi jawabannya di sesi wawancara bersama aksaratala yang mengungkap “Kegiatan ini utamanya digunakan untuk memberi kesempatan belajar bagi mahasiswa baru tentang experience bermain di Symphonic Band yang ternyata tidak kalah menarik dan menantang”. Kesempatan ini menjadi ajang yang baik untuk peserta yang ingin belajar, begitu pun dengan penonton yang ingin mengulik lebih dalam kegiatan ini. Keberadaan kursi-kursi kosong di baris depan, tidak akan disia-siakan untuk mencuri seluruh sudut pandang. Mereka dapat memerhatikan lebih bebas, juga merasakan euforia musik yang dimainkan player dan conductor.

Brando Tan & Jovan Neo di hadapan peserta Workshop & Masterclass (dok. Studsy Band)

Workshop Symphonic Band dan Masterclass Conducting sore itu dibersamai tamu spesial undangan Studsy Band, yakni Jovan Neo dan Brando Tan dari Singapura. Mereka adalah para ahli yang begitu gemilang dalam karir musiknya. Jovan Neo adalah President Band Directors Association di Singapura dan Vice-President of the Asian Marching Band Confederation. Jauh sebelum menjadi pemimpin band, beliau mengawali karirnya sebagai Assistant Band Director di Anglo Chinese School dan Anglo Chinese School Military Band tahun 2003. Kemudian di tahun 2008 ia berperan sebagai Band Director di Tanjong Katong Secondary School Band yang begitu banyak meraih penghargaan. Tak hanya di situ, Jovan juga menjadi direktur band di Temasek Junior College Symphonic Bands, Resident Conductor di Montfort Alumni Wind Orchestra dan Tanjong Katong Alumni Band. Jovan juga pernah menjadi bandsman di Singapore Police Force Band atas kontribusinya terhadap perkembangan musik band dan bakatnya dalam komposisi serta aransemen yang menghasilkan banyak karya terkenal yang ditampilkan di acara-acara negara dan kepolisian. Kecintaannya pada musik membuatnya ingin terus belajar, kini ia sedang mengejar gelar Master of Music Leadership di Yong Siew Toh Conservatory of Music.

Saat ini, Brando Tan merupakan Vice President of the Band Directors Association di Singapura. Perjalanan musiknya dimulai dengan partisipasinya dalam Saint Patrick’s School Military Band pada tahun 1990. Ia pun mulai mengikuti Concert Band di Saint Andrew’s Junior College dan menjadi National Service dengan Singapore Armed Forces Central Band. Di tahun 1998, ia belajar sebagai direktur band di bawah bimbingan David Glosz di Band Militer Sekolah Saint Patrick. Brando juga berperan sebagai Assistant Conductor di Commonwealth Secondary School yang banyak memenangkan berbagai penghargaan. Pada tahun 2005 dan 2007, ia memimpin beberapa sekolah di Singapura meraih Gold Awards berturut-turut di Singapore Youth Festival. Brando juga memimpin Ang Mo Kio Secondary School (AMKSS) dan Xinmin Secondary School (XMS) di Singapore Youth Festival 2007, 2009, 2011 dengan meraih penghargaan tertinggi di tiap tahunnya. Pada periode yang sama, ia berhasil memimpin Nanyang Junior College Symphonic Band dan Singapore Chinese Girls School yang meraih penghargaan emas. Beliau juga berkolaborasi dengan beberapa tokoh band Asia seperti Dr. Douglas Stotter (AS), Bill Buchanan (Australia), Peter Francis (Australia). Ia dan timnya pun menjadi tuan rumah Asia Pacific Band Directors Association Conference pada tahun 2012 yang mempertemukan lebih dari 50 band di Singapura.

Demi memaksimalkan materi yang diberikan narasumber, terpililah karya Ammerland yang diciptakan oleh Jacob de Haan dan Memories of Friendship oleh Satoshi Yagisawa, yang diramu di dalam Workshop dan Masterclass. Nada dan harmonisasi kedua lagu yang terpilih, menggema di ruang Gedung Serba Guna Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Yedija sebagai direktur musik Studsy Band mengatakan bahwa alasan pemilihan repertoar tersebut karena pertimbangan grade yang belum terlalu tinggi, sehingga memudahkan pemain dalam membaca repertoar tersebut dalam jangka waktu yang terbatas. Selain itu, Studsy Band juga ingin melihat perbedaan antara kepemimpinan conductor di Singapura dan Indonesia, mengingat Singapura ternotabene sebagai negara yang lebih maju dalam lingkungan akademiknya.

Sebelum seluruh instrumen memainkan sebuah repertoar, tempo diinstruksikan lebih dulu, mulai dari tempo lambat untuk memainkan tangga nada bes mayor, es mayor, dan f mayor. Menaikkan para melodi di tiap tangga nada, kemudian turun melalui nada yang sama. Melodi pertama, kedua, ketiga hingga ia berhenti di tonalnya dijalani dan dilalui bersama-sama. Tak sekadar pemanasan teknis, Jovan Neo mendireksikan personil untuk saling mendengarkan dalam memosisikan suara agar berada di level yang sama. Tak ada teknik bermain solo, frekuensi yang dibutuhkan akan utuh bila saling mendengarkan. Ia mengucap, “listening to each other” dengan aksen Singapuranya, membawa energi para pemain untuk masuk di dunia yang sama. Evaluasi dilakukan di tiap-tiap nafas melodi oleh Jovan Neo dan Brando Tan.

Di dalam proses pemanasan, Brando Tan tak tinggal diam mendengarkan, kakinya begitu lugas berkelana mendatangi sumber suara yang dianggapnya membutuhkan bimbingan. Ia mendatangi seluruh section instrumen untuk memberikan resep bermain. Meniup dan meniup di tangga nada, hingga akhirnya sampai di titik ideal sonor suara yang diharapkan. “Beautiful” ungkap Jovan dengan acungan jempol.

Notasi balok dipampangkan oleh conductor dan player Symphonic Band di hadapan mereka masing-masing. Memainkan Ammerland karya Jacob de Haan, sebuah karya yang begitu mahir mencuri jiwa para pendengar, termasuk saya sendiri. Sebuah karya yang begitu melodius dan sarat dalam harmoni. Terpilih untuk dimainkan agar para pemain belajar untuk mengontrol emosinya. Jovan Neo selalu memenggal setiap bagian untuk ditelisik kembali ketika tiupan para pemain terhilang dari embusan jiwa Ammerland. Repertoar lagu ini dipenuhi tanya jawab para melodi yang dimainkan oleh instrumen berbeda, sehingga tantangan ini menjadi ambisi para penyaji musik untuk menyukseskan percakapan melodi. Birama dilewati satu per satu, melewati halaman-halaman kertas notasi, melewati hembusan dan hirupan nafas yang berharmoni di dalam nada-nada.

Betapa terhanyut para pemerhati di dalam petualangan pengaba dan pemain mengimajinasikan tentang kegelapan dan keheningan sebuah melodi, tentang terang dan kebangkitan harmoni, tentang suara yang tampak memuncak di atas gunung, dan tentang suara simbal yang memecah sebuah horizon. Sebuah kota dimantrakan oleh Study Band memasuki telinga pendengar bersama gelombang perjalanannya.

Potret Personil Studsy Band kala memainkan repertoar (dok. Studsy Band)

Ternyata proses pemeriksaan di klinik band ini dilalui dengan penuh kekuatan, mengumpulkan emosi bersama untuk saling bersisi, belajar saling mendengarkan mendukung satu sama lain melalui kekuatan bunyi. Menerima energi conductor dan mentransfer melalui tiupan, berdiri bersama demi keberhasilan sebuah repertoar. Warna suara yang tertiup hambar perlahan diperbaiki bersama-sama, memeluk hati begitu dekap, membebaskan jiwa yang terjerat kehampaan melalui melodi yang sejuk akan harmoni. Bahagia tak hanya tersalur bagi pendengar, pemain yang mengapresiasi satu sama lain dengan tepukan tangan membuat kebersamaan mereka begitu hangat.

Setelah banyak mencurahkan energi di dalam karya Ammerland, satu per satu kursi pun mulai dikosongi penduduknya. Panitia Studsy Band memberi waktu sejenak untuk beristirahat dan akan dilanjutkan dengan kegiatan tanya jawab di sesi berikutnya. Setelah istirahat usai, diskusi dimulai. Keingintahuan para hadirin tentang teknik bermain musik, dunia conducting, saran alat musik, keberadaan dan perbedaan antara orkestra dengan symphonic band diterangkan oleh Jovan dan Brando. Melanjutkan petualangan mereka di sebuah repertoar baru, yakni Memories of Friendship karya Satoshi Yagisawa. Karya ini diposisikan sebagai repertoar kedua, agar para pemain belajar untuk mengubah tone colour dari repertoar sebelumnya ke warna yang lebih terang. Nuansa musik ini memanggil spirit baru bagi kehidupan di ruang Gedung Serba Guna Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Musiknya membawa pendengar untuk bergembira di tiap lompatan ritmiknya. Conductor yakni Jovan mengevaluasi berbagai ritmis yang belum dibunyikan dengan tepat.

Mendetakkan langkah bersama, mengetukkan lompat di dalam nada, itulah khas ritmik Memories of Friendship. Tiap nada ditiup dengan warna, mengembus di udara, dan terhirup di jiwa para pendengar merasakan harmoni musik yang hidup.

Berakhirnya pemeriksaan Memories of Friendship, istirahat pun diberikan bagi para hadirin. Kursi kembali dikosongi, ditinggalkan bersama stand partiture. Detik menuju menit berlalu hingga akhirnya para peserta kembali memasuki ruangan, menandakan waktu Masterclass Conducting akan dimulai.

Jovan Neo membimbing Sara Gracintya Rhapsody untuk menggerakan baton (dok. Studsy Band)

Masterclass conducting membimbing satu-satu para pengaba yang akan memimpin salah satu repertoar yang telah dimainkan saat Workshop Symphonic Band. Empat orang conductor memimpin para pemain dengan kemampuan maksimal mereka. Jovan dan Brando memberikan dukungannya bagi para pengaba yang kurang percaya diri dalam mengekspresikan keinginannya. Seluruh conductor yang mengikuti kelas ini dibentuk dengan penuh wejangan. Memimpin ansambel musik tak hanya menggerakkan tangan untuk mengatur tempo, namun berbicara tentang keinginan pemimpin melalui seluruh bahasa tubuhnya. Menyorotkan mata, memberi kekuatan pada tangan, membentuk ekspresi melalui mulut, menyokong dinamika melalui gerak tubuh. Kekuatan energi conductor haruslah terlimpah untuk memberikan seluruh emosinya kepada para pemain.

Jovan dan Brando meminta para conductor untuk menjadi seorang aktor dan aktris. Kegiatan ini begitu penuh dengan kejutan. Brando tak segan membuang buku partitur para conductor ke lantai agar mereka lebih bebas berekspresi. Menyaksikan mereka diolah dalam waktu yang begitu singkat, terbentuk oleh setiap kritik dan saran para master di kelas conducting ini. Terdengar begitu jelas perbedaan musik yang dialunkan di tiap-tiap evaluasi. Percobaan awal hingga mencapai titik kemampuan maksimal, terjadi oleh dorongan Brando dan Jovan. Proses para pengaba mencoba melawan rasa takutnya untuk mengembara dalam menemukan hal baru di kepemimpinannya, akan terus terkenang.

Dedikasi Jovan dan Brando tidak berhenti hanya termanifestasi di bulan November 2024 ini. Akan ada kejutan baru bersama Studsy Band melalui pertunjukan konser di bulan Januari mendatang. Kehidupan ruang bermusik begitu dinafasi oleh Studsy Band. Meniup dan mengembus, melangkah dan melompat, bermelodi dan berharmoni akan terus mengalir.

Seluruh usaha peserta dan panitia akan abadi menyejarah. Kerja keras peserta yang dinyatakan di dalam workshop dan masterclass begitu mencuri perhatian. Melihat mereka harus berdiri sendiri dalam kemampuan bermelodinya, yang juga membutuhkan perhatian lebih untuk suara instrumen di sekitarnya agar dapat berharmonisasi. Teringat kembali akan keadaan dunia sekarang yang penuh dengan bantuan, sehingga terkadang kita tak sanggup untuk berusaha keras di masa kini. Melodi yang tertiup di Symphonic Band tak akan menafasiku dalam keindahan jika tak merasakan usaha mereka. Kurasa jiwa dan hatiku pelan-pelan kembali tersegarkan oleh musik yang diselidiki satu per satu di dalam kegiatan ini. Begitu banyak nafas yang terhirup yang menghidupkan kembali jiwaku untuk ingin terus hidup di dalam musik yang sempat terhilang. Kesetiaan mereka dalam bermusik, berhasil membawaku untuk ikut bertualang bersama mereka di dalam untaian nada yang diterangkan. Penuhilah seluruh penjuru dunia, bagi yang selalu rindu dengan embusan dan warna tiupan kalian. Meruanglah para pembelajar, menghiduplah hati bermusik.

Sesi foto bersama usai Workshop dan Masterclass (dok. Studsy Band)

Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: Studsy Band

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *