Penulis : Gilbert Natanael Pardosi
Mendatangi pertunjukan musik Welcome Party Concert di Auditorium Musik ISI Yogyakarta, mestinya sudah tertanam dalam benak bahwa akan bertemu dengan sajian musik yang menarik. Kenyataannya, tergambar pada Rabu malam (7/2/2024), ada banyak penonton yang hadir sampai melebihi kapasitas yang disediakan.
Semester awal ini menjadi tahun ke-23 bagi warga Kelompok Studi Perkusi ISI Yogyakarta, atau biasa disebut Kesper, dalam perhelatan Welcome Party Concert. Perhelatan ini dilangsungkan untuk menyambut mahasiswa baru melalui pertunjukan musik yang diisi oleh penampilan mereka (mahasiswa baru) perkusi dan drum set 2023.
Penonton di Auditorium Musik disuguhkan oleh tujuh penampilan yang terbagi menjadi dua sesi. Menampilkan karya-karya instrumental, mulai dari ritmis sampai melodis yang diciptakan oleh teman-teman mahasiswa baru setelah melalui proses pengenalan lingkungan, instrumen, dan selingkar wilayahnya.
Tahun ini Welcome Party Concert membawakan judul “Iridescent” yang memiliki arti warna-warni. Sebuah simbol untuk menggambarkan keadaan mereka yang memiliki banyak perbedaan. Namun dengan banyaknya perbedaan tersebut, mereka mencapai satu tujuan yang sama untuk menjadi keluarga perkusi yang solid.
Penuhnya kursi penonton menandakan bebunyian harus dimulai. Kumpulan nada dan ketukan mulai memecah keheningan. Dibuka oleh alunan musik latin dengan beat drum samba, bass yang aduhai, serta percussion in tone sebagai pemberi kenikmatan. Karya ini berjudul “Felicity”. Sebuah keputusan bijak mengawali penampilan mereka dengan mood yang riang.

Karya “Harmonice” mengambil alih pekerjaan selanjutnya. Menampilkan arpeggio sampai single dan double stroke. Ini adalah karya absolut berisikan teknik dasar permainan mallet. Dibawakan dengan suasana semi misterius yang sedikit nakal dari unsur kromatis di dalamnya. Hal ini memancing sorak pujian penonton. Dari dua penampilan tadi memberi bukti bahwa tahun ini ada yang meningkat, baik skill, pengetahuan, keakraban, dan kebebasan ekspresi.
Setiap tahun sudah menjadi template bagi mereka untuk menciptakan karya non-melodis. Maka untuk memberi daya tarik, “Afterschool” dibungkus dalam bentuk pantomim berlatar sekolah. Menariknya, momen ini terasa seperti berada di panggung komedi ritmikal. Patut diapresiasi melihat kreativitas dan eksplorasi ide mereka. Dilanjutkan oleh persembahan penampilan dari warga Kesper’22, yang membawakan “Sukma” dengan sentuhan rock.
Selain jumlah yang membludak, nampaknya teriak antusias penonton juga memberi efek kenaikan suhu pada ruangan Auditorium Musik. Sepertinya penonton tidak mau kalah ekspresif dengan para penampil. Oleh karena itu, sebelum memberikan kesempatan ruangan ini bernafas lega, Ayub Prasetiyo selaku pembina Kesper melakukan sesi pelantikan anggota baru kepada 18 mahasiswa perkusi dan drum set 2023.

Di sela-sela waktu istirahat, beragam percakapan mulai berseliweran. Berkumpul bersama kawan, saling menceritakan kesan melihat pertunjukan sesi pertama tadi. “Menurut saya Welcome Party tadi sangat meriah, Mas. Saya sebagai penonton bisa menikmati karyanya,” ujar Joam yang tengah menunggu acara selanjutnya.
“Saya bangga juga, mereka yg masih baru sudah menunjukkan skill yg luar biasa,” tambahnya dengan antusias.
Hal tersebut sejalan dengan perkataan yang disampaikan Ayub Prasetiyo saat sesi pelantikan, bahwa faktanya dari tahun ke tahun mahasiswa perkusi dan drum set berangkat dari titik nol atau tidak bisa bermain, kemudian berproses selama beberapa bulan, dan ditampilkan.
Bebunyian kembali menyala pertanda sesi kedua dimulai. Bisa dibilang kali ini adalah langkah terakhir menuju puncak acaranya. Juga biasanya, karya-karya hits, angguk-able, dan sarat akan sorak pujian, siap dipamerkan. Karya berjudul “Klesha” dengan gaya rock dan sentuhan half-time yang ‘wah’ menjadi pemanasan sesi kedua.
Dilanjutkan dengan karya fenomenal, dedikasi dari warga Kesper’17 berjudul “Tress Themata”. Berpondasi pada gaya salsa, dengan bass asoy dari timpani, serta beat drum yang joget-able. Hook yang hadir membuat kuping kepincut untuk ingin terus mendengarkan.

Pada puncaknya, penempatan karya kolaborasi yang powerful sebagai penutupan adalah keputusan yang arif. Suasana mewah dan megah terlihat jelas di atas panggung karena kehadiran alat musik gamelan Bali, meski tidak seperangkat. Para penampil pun datang menggunakan kostum daerah; Bali, Papua, juga Sumatera. Ajaibnya, tidak ada yang mengira bahwa unsur vokal akan dipertontonkan, sebelum nyaring kuningan tersiar.
Setelah itu, di tengah penampilannya, beberapa pemain berganti posisi ke arah gamelan Bali dan membunyikan Kempli untuk mengundang sekawanan pemain lainnya dari arah pintu masuk. Lengkap sudah komposisi pemain. Warna suara gamelan Bali berhasil menerobos telinga. Puncak acara diguncang oleh penampilan kolaborasi perkusi konvensional dan tradisional. Karya fenomenal berjudul “Triantara”. Merinding.
Bahkan saat seluruh karya telah habis dimainkan, penonton masih terduduk diam di kursi seperti sedang menagih karya lagi. Hari itu menjadi malam yang fenomenal. Penonton pulang. Ada yang membawa kegirangan, ada juga yang menyesal karena pulang duluan.
Editor: Aqilah Mumtaza
Foto Sampul: Wahyu Theodore
