Kembali ke Alam ala Vocalista Harmonic Choir ISI Yogyakarta : Resital Akhir Tahun bertajuk Voice in December  ‘Pugar’

Penulis: Luqman Wicaksono

“Musik di mana ia diperdengarkan di luar ruangan; alam bebas”- Felix Mendelssohn dalam lagu “Lerchengesang Op. 48 no.4”

Sejuk udara AC memenuhi Concert Hall ISI Yogyakarta. Sabtu (09/12/2023) merupakan malam minggu yang penuh energi dan kesejukan. Sebuah resital tahunan dari Unit Kegiatan Mahasiswa Paduan Suara Vocalista Harmonic Choir (VHC) ISI Yogyakarta yang bertajuk Voice in December (VID)“Pugar” terselenggara dengan meriah. Ratusan penonton berdatangan memenuhi kursi audiens di Concert Hall ISI Yogyakarta. Teman satu angkatan, kenalan lintas program studi, bahkan orang tua berdatangan demi menyaksikan sebuah pertunjukan musik paduan suara.

Suasana kursi penonton panggung (Gambar dari Tim Dokumentasi VID : Pugar)

Repertoar klasik

Tiga repertoar paduan suara klasik membuka pagelaran serba hijau ini. Penampilan pertama dibuka dengan lagu El Grillo dari Josquin des Prez yang bercerita tentang seekor jangkrik yang bunyinya tak kalah merdu dari suara kicau burung. Bunyi jangkrik yang selalunya cepat, singkat berpadu dengan komposisi musik paduan suara Renaisans yang kental dengan ciri polifoni dan hiasan nada yang sederhana ini. Pada The Silver Swan karya Orlando Gibbons bercerita tentang seekor angsa yang melankolis. Menurut lagu ini, seekor angsa akan menyanyi dengan indah pada usia menjelang akhir hayatnya. Melodi disonan memperkuat kesan nyanyian sedih seekor angsa yang akan segera terbang menuju keabadian alam selanjutnya.

Selanjutnya, Felix Mendelssohn dengan Lerchengesang yang menyajikan suasana tamasya yang riang gembira ke hutan atau padang hijau. “Mendengarkan musik bertema alam tidak pernah se-menyenangkan ini.” Seketika bunyi yang didengarkan memunculkan suasana warna hijau yang subur yang berpadu padan dengan warna tema pada konser VID : Pugar ini.

Archipelago dan Modernitas

Masih bertemakan alam, tiga repertoar modern disajikan juga pada pagelaran VID : Pugar ini. Eric Whitacre turut meramaikan acara ini dengan sajian karya “The Seal Lullaby” untuk suara wanita sejenis- dua penyanyi sopran dan dua penyanyi alto (SSAA). Menceritakan alegori tentang induk anjing laut yang menyanyikan sebuah lagu tidur untuk anaknya, dengan melodi yang lembut dan menenangkan seperti persis dengan yang diceritakan. Masih dengan suasana pantai dan laut, berpindah menuju bibir pantai dibawah sepoi-sepoi dan gemerisik daun kelapa. Da Coconut Nut dari Ryan Cayabyab asal Filipina ini menjabarkan secara jenaka tentang seribu fungsi “pokok kelapa” yang disusun dalam format suara campur sopran-alto-tenor-bass (SATB).

Selanjutnya kita mengheningkan cipta sejenak mengingat bencana laut yang menimpa Jepang pada belasan tahun silam yang diingatkan oleh Kentaro Sato dalam sebuah memoar kepada-yang-terkasih dalam lagunya yang berjudul “Mae-e”. Lagu ini dalam bahasa Jepang berarti “teruskan”, singkat saja—the show must go on. Lagu ini dimainkan dengan format SATB dengan iringan piano oleh Yupita Kristia.

Karya aransemen sendiri

Tentunya sebagai kampus seni, olah kreativitas yang orisinil menjadi sebuah ciri khas dan menjadi nilai tambah yang jarang mengemuka di tempat lain. Yang menjadi sorotan pada konser kali ini adalah tiga karya aransemen orisinil dari tim kepelatihan VHC ISI Yogyakarta ini. Serumpun Padi dari Maladi yang diaransemen oleh Mahardhika Simbolon adalah yang pertama dalam daftar. Sejatinya lagu ini sendiri menceritakan sebuah penghargaan tentang persawahan yang ada di Indonesia, termasuk padi yang diolah menjadi beras dan menjadi makanan pokok kita. Aransemen  ini melaju indah dengan iringan piano yang dimainkan oleh Riski Puluhulawa.

“Alamku, Alam Kita” adalah medley lagu anak dengan tema alam yang diaransemen oleh Steven Petra, Carlo Gultom, dan Luqman Wicaksono. Tiga orang sekaligus! Lagu berikutnya adalah “Pemandangan” dan “Awan Putih” dari A.T. Mahmud dan “Menanam Jagung” dari Saridjah Niung atau kerap disapa Ibu Soed. Pada lagu ini, energi yang diciptakan cukup membangun suasana yang bersemangat, muda, dan sejuk. Bahkan pada akhir lagu ini terdapat sahutan “Bravo” dari kursi penonton yang takjub dengan penampilan yang rejuvenating ini.

Gunung Salahutu, lagu daerah Maluku yang diaransemen oleh RJK atau dengan nama asli Rafeel Juniar Krismanda. RJK mengaransemen lagu ini dengan format SATB acappella tanpa iringan. Suasana nostalgia di mana terdapat lirik yang berkesan, “Beta ingat, beta dahulu disitu” memberi memori tentang indahnya alam Gunung Salahutu, ketika ‘beta’ pernah berkunjung kesana.

Salah satu penampilan aransemen karya (Gambar dari Tim Dokumentasi VID : Pugar) .

Dibuka dengan serangga, ditutup dengan serangga

Pada puncak acara konser VID : Pugar ini, terdapat encore yang menutup kegiatan pagelaran konser resital VHC ISI Yogyakarta angkatan 2023 dengan buah aransemen lagu daerah Spanyol La Cucaracha yang diaransemen oleh Robert Sund. Lirik paling awal dari lagu tersebut menjadi asal mula namanya, berkisah tentang seekor kecoa yang kehilangan salah satu dari enam kakinya dan berjuang untuk berjalan dengan kakinya yang tersisa. Bagian langkah kecoa yang tidak rata dan berkaki lima kemudian ditirukan ke musik dengan sukat 5/4. Hal yang cukup menarik pada penyajian encore ini adalah kesamaan makna lagu pertama dengan lagu encore penutup ini, yakni sama-sama menceritakan tentang serangga, jangkrik dan kecoa.

Penulis sempat mewawancarai beberapa narasumber pada konser kali ini. “Konser VID ini adalah resital angkatan baru, dengan waktu persiapan 2 bulan atau sekitar kurang lebih 30 kali latihan.” ujar Josephine Christy selaku panitia konser ini. Pertunjukan ini merupakan konser resital angkatan baru VHC ISI Yogyakarta tahun 2023 dari berbagai program studi pada tiga Fakultas di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. “Semangat mereka dalam mempersiapkan konser patut diapresiasi, banyak yang antusias dalam mempersiapkan bahan repertoar dan penyelenggaran konser ini.” ucap Steven Petra selaku tim panitia konser.

Axel Nicholas Cornelius selaku ketua umum VHC ISI Yogyakarta menambahkan mengenai konsep tema pada konser kali ini, “Tema pugar dalam musik berfungsi untuk mengembalikan nada alterasi jadi nada natural. Lalu persepsi ini kita samakan menjadi konsep kembali ke alam; natural dan utamanya; mengingat konser ini adalah konser resital anggota baru VHC ISI Yogyakarta, maka konser kali ini mengusung tema demikian.” ujar Axel pada sesi wawancara. Konsep tema ini sangat menarik karena memiliki kesamaan makna yang lugasnya dapat diterjemahkan dalam bahasa awam; kembali ke alam dengan VID : Pugar.

Reaksi penonton pun cukup positif dalam menyambut konser VID : Pugar, ini. Seperti yang dituturkan salah satu penonton. ”Semangatnya angkatan 2023 kerasa banget sampai ke penonton, itu tu bener-bener konser hari ini kerasa menyenangkan, terutama energi Desembernya paling kerasa banget.” ucap Tiara Ricky yang menonton konser VID: Pugar di malam itu.

Editor : Lintang Pramudia Swara
Sumber Foto : Tim dokumentasi konser “Voice in December: Pugar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *