Penulis: Azzahra Qurrata A’yun Adindya Irbah Ramadhani
Malam nan sunyi, dingin, dan gelap dipatahkan oleh cahaya yang bersinar terang di tengah-tengahnya. Lantunan nada-nada bergema mengisi ruang kosong. Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Tepat pada hari Jumat (12/09), perhelatan bertajuk Masa(k) Musik mengudara dan siap disaksikan khalayak. Acara yang diprakarsai oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini tergelar di bawah atap Pendopo Tari, kampus ISI Yogyakarta.
Para penonton duduk bersila, ditemani camilan sederhana seperti gorengan, kacang dan kopi. Kudapan hadir di tengah-tengah mereka dan menambah kesan kesederhanaan dalam acara tersebut. Sayangnya, terjadi keterlambatan melampaui satu jam dari jadwal yang direncakan. Kendati begitu, Masak(k) Musik tetap berlangsung untuk memenuhi ekspektasi para penonton. Penulis terpesona dengan acara yang begitu ‘baru’ karena mengusung tema tradisional namun juga dipadukan dengan instrumen modern seperti bass elektrik dan musik elektro. Penyajian acara ini membawa kesan yang berbeda bagi penulis.
Sebelum dimulai, acara diawali sambutan hangat MC yang berbusana santai. Kaos lengan pendek, celana pendek dan topi dikenakan menjadi ciri khas yang mendukung gestur maupun penampilannya. Pembawaan acara yang santai dihiasi dengan lighting oranye sehingga menambah kesan hangat dan mencairkan suasana. Kesederhanaan inilah yang menjadi keunikan dan ciri khas bangsa yang direpresentasikan dalam Masa(k) Musik.

Pembawa Acara membuka acara (Sumber: Masa(k) Musik)
Atmosfer yang tercipta begitu berbeda dari konser musik pada umumnya. Tiada kursi berjajar rapi atau panggung yang tinggi dengan jarak yang memisahkan audiens dan penampil. Sebaliknya, ruang yang intim tercipta di mana batasan antara penampil dan penonton seakan-akan terhapus. Hal ini mencerminkan filosofi acara yang ingin mendekatkan musik pada level yang paling mendasar dan personal.
Masa(k) Musik, sesuai namanya merupakan ruang yang menyimpan sisi tersembunyi dari pembuatan musik; bak mengajak audiens untuk mengendus, mencicipi, merasakan musik dari dasarnya. Dewasa ini, begitu jarang penikmat musik mengetahui karya sampai ke inti dasarnya, seperti ide di balik pembuatan karya dan aspek intramusikal lainnya. Digitalisasi dan globalisasi membuat dunia semakin ‘cepat’ sehingga tak jarang orang menjadi luput atas dasar dari pada seni. Dalam konteks musik, seni adalah ekspresi yang ditampilkan dalam wujud bunyi-bunyian. Ekspresi tersebut menyampaikan perasaan maupun pesan kepada pendengar dengan harapan mereka dapat ikut merasakan.
Pada era di mana musik dikonsumsi secara instan melalui platform digital, acara seperti Masa(k) Musik menjadi oase bagi mereka yang mendambakan pengalaman musikal yang lebih mendalam. Tidak sekadar mendengar, namun memahami proses kreatif, latar belakang ide, hingga teknik-teknik eksperimental yang digunakan oleh para komposer muda.
Berangkat dari keinginan ini, HMJ Etnomusikologi selaku penyelenggara berharap agar acara ini dapat dilaksanakan secara rutin setiap beberapa bulan sekali. Adapun acara ini menjadi perhelatan yang ketiga sejak pertama kali diselenggarakan. Masa(k) Musik menjadi penanda antusiasme yang terus bertumbuh dari komunitas musikal di ISI Yogyakarta.
Penampilan pertama menyuguhkan komposisi “Guyub” yang diciptakan oleh Alfian Maulana, mahasiswa Etnomusikologi angkatan 2022. Karya ini disajikan dengan berbagai instrumen, mulai dari sape, seruling, piano keyboard, drum, bass, klarinet dan biola. Harmonisasi pada semua instrumen memberikan kesan musikalitas yang mengendap dalam sanubari. Sebagaimana budaya kolektif bangsa, salah satunya guyub yang bermakna kebersamaan, persatuan, dan kerukunan dalam hubungan sosial. Didasari rasa saling menghormati, empati, dan gotong royong demi kebaikan bersama.

Penampilan Guyub karya Alfian Maulana (Sumber: Masa(k) Musik)
Alfian menjelaskan bahwa ide dari karya ini didapat ketika Alfian melihat arak-arakan mahasiswa baru ISI Yogyakarta, bagaimana mereka bersatu dalam keberagaman di suatu ‘negara kecil’ bernama ISI Yogyakarta. Perpaduan instrumen tradisional dan modern dalam karya ini bukan sekadar eksperimen musikal, tetapi representasi simbolis dari bagaimana tradisi dan modernitas dapat berdampingan secara harmonis.
Bagian menarik dari karya ini memperlihatkan setiap instrumen yang memiliki peran setara, tidak ada yang mendominasi atau menjadi latar belakang semata. Sampai dengan karakteristik gamelan Jawa berinteraksi dengan bass elektrik yang membawa nuansa kontemporer, sementara seruling memberikan melodi yang mengalir seperti nafas kehidupan yang menghubungkan semua elemen.
Penampilan dilanjutkan dengan karya kedua berjudul “Dark Light” oleh I Gede Mei Sutrisna atau kerap disapa Ukis. Ukis menampilkan karya dengan nuansa yang begitu mencekam bak kematian yang datang tanpa pernah salah mangsa. Tak elak, ia meluaskan cara bermain musik seperti memukul bagian bawah seruling seperti jalan si kematian yang mencekam, sampai pada klimaks kekacauan yang berakhir begitu abstrak.

Pemain memukul bagian bawah seruling (Sumber: Masa(k) Musik)
Dalam sesi bedah musik, Ukis menguraikan bahwasa alasan di balik pembuatan karya ini berangkat dari pengalaman rutinnya melewati persimpangan berlampu merah. Persimpangan tersebut memiliki lampu yang mati, tak sedikit dari kendaraan melaju bahkan mengklakson hingga menerobos. Menurutnya ini adalah fenomena sosial yang begitu unik dan ia menuliskannya dalam bentuk notasi grafis lalu diterapkan dalam instrumen yang dimainkan, yakni siter, seruling, juga floor tom.
Karya ini menunjukkan bagaimana musik dapat menjadi medium untuk mengkritisi kondisi sosial. Teknik extended technique yang digunakan Ukis, seperti memukul bagian bawah seruling, menciptakan tekstur suara yang tidak konvensional namun sangat ekspresif. Kekacauan yang terdengar dalam musik sebenarnya adalah refleksi dari kekacauan sosial yang ia amati, di mana aturan-aturan yang seharusnya memberikan ketertiban justru diabaikan demi kepentingan individualistik.
Karya terakhir berjudul “Calling the Unseen” diciptakan oleh Antologi yang kerap disapa Anto. Karya ini berdurasi sekitar 10 menit dengan tiga instrumen, yakni floor tom dan dua siter dengan teknik permainan yang tak kalah unik. Permainan salah satu siter dengan bow yang biasa digunakan untuk alat musik gesek, juga dinamika musikal yang berangsur cepat, sampai pada bagian satu persatu pemain meninggalkan panggung dan tersisa musik elektro dan kutipan lirik dari musik lengger yang dibawakan oleh Antologi. Penampilan berakhir setelah ia berorasi menyuarakan kritik dan bergegas pergi menuju belakang panggung seperti pemain lain.

Antologi mendekati akhir karya (Sumber: Masa(k) Musik)
Karya Anto menjelma sebagai yang paling teatrikal dari ketiga penampilan. Penggunaan bow pada siter menciptakan sustain yang panjang, memberikan dimensi baru pada instrumen tradisional tersebut. Aspek performatif yang kuat, di mana pemain satu per satu meninggalkan panggung, menciptakan narasi visual yang melengkapi narasi musikal. Kutipan dari musik lengger yang dihadirkan di akhir karya menunjukkan dialog antara tradisi dan kontemporer, sekaligus menjadi anchor yang mengingatkan audiens pada akar budayanya.
Sesi bedah musik dilakukan dengan para musisi dan pembawa acara duduk bersila ditemani segelas kopi juga asap rokok yang berembus, baik dari sisi penonton maupun musisi. Peristiwa yang agak disayangkan, namun notabene sulit terpisah dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Sesi diskusi dalam acara ini berlangsung sangat aktif dan membangun baik bagi audiens maupun musisi. Mereka bertanya dan bertukar pendapat seolah bagai belajar proses ‘memasak’ musik, terutama dalam konteks etnomusikologi. Suasana tercipta selayaknya di warung kopi yang terletak di sudut gang. Percakapan mengalir natural dan setiap orang merasa nyaman untuk berbagi pemikiran.

Sesi bedah musik yang interaktif (Sumber: Masa(k) Musik)
Diskusi diawali pertanyaan mengenai bagaimana musisi mentransfer ide ke karya dan apa jembatan atau medianya. Pertanyaan ini membuka ruang diskusi yang luas tentang proses kreatif, dari ide awal hingga realisasi dalam bentuk karya musik. Para komposer muda dalam Masa(k) Musik berbagi pengalaman mereka dalam menerjemahkan pengamatan sosial, emosi personal, hingga fenomena keseharian menjadi bahasa musikal.
Bagian yang tak kalah menarik adalah bagaimana setiap komposer memiliki pendekatan yang berbeda dalam proses kreatifnya. Alfian lebih mengandalkan pengamatan visual dan kemudian mentransformasikannya menjadi harmoni kolektif, sementara Ukis menggunakan notasi grafis sebagai jembatan antara pengalaman sosial dan ekspresi musikal. Anto, di sisi lain, lebih mengandalkan aspek performatif dan teatrikal untuk menyampaikan pesannya.
Masa(k) Musik sebagai acara ketiga dalam serangkaian kegiatan yang diinisiasi HMJ Etnomusikologi telah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Tidak hanya sebagai ajang showcase karya mahasiswa, tetapi telah berkembang menjadi platform edukasi dan diskusi yang mendalam tentang musik, budaya, dan masyarakat.
Besar harapan acara ini dapat dilaksanakan secara rutin. Pada era di mana musik seringkali dikonsumsi secara superfisial, kehadiran ruang seperti Masa(k) Musik menjadi penting untuk mempertahankan apresiasi yang mendalam terhadap musik sebagai wujud seni dan ekspresi budaya. Lebih dari itu, acara ini juga menjadi laboratorium bagi generasi muda untuk bereksperimen dengan bentuk-bentuk ekspresi musikal yang baru, sekaligus tetap terhubung dengan akar tradisinya.
Kesederhanaan yang menjadi ciri khas acara ini; mulai dari setting yang informal, camilan gorengan, hingga suasana diskusi yang santai justru menjadi ciri khas utamanya. Perbedaan pengalaman penulis yang berlatar prodi Musik dan menghadiri perhelatan milik Etnomusikologi menghadirkan refleksi mendalam tentang hakikat musik itu sendiri—di satu sisi ada penekanan pada penguasaan teknis dan standar formal yang ketat, di sisi lain ada apresiasi terhadap musik sebagai fenomena budaya yang hidup dalam konteks sosial tanpa dikotomi ‘benar-salah’.
Dalam kesederhanaan itu, musik dapat berbicara dengan lebih jujur dan autentik, tanpa terhalang oleh formalitas yang seringkali mengasingkan musik dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Formalitas menciptakan hierarki artifisial yang membuat masyarakat merasa terintimidasi, seolah musik tertentu menduduki wilayah eksklusif kaum elit. Setting konser konvensional dengan protokol kaku menjauhkan musik dari fungsi asalnya sebagai medium komunikasi komunal, sementara standarisasi berbasis tradisi Barat memarjinalkan teknik eksperimental lokal—seperti memukul seruling atau bow pada siter—justru menunjukkan kekayaan otentik. Masa(k) Musik membuktikan bahwa ketika batasan formal dihilangkan, musik kembali menjadi bahasa universal yang dapat dinikmati siapa saja tanpa mengenal latar belakang formal maupun informal.
Sintesis terbaik yang dapat dikemukakan adalah menghargai keahlian teknis sembari tidak melupakan jiwa dan konteks musik dalam kehidupan manusia. Penulis memahami bahwa otentisitas tak selalu berorientasi pada virtuositas, melainkan pada kemampuan musik untuk menyentuh dan bermakna bagi komunitasnya. Masa(k) Musik mengajak kita untuk berefleksi lewat rasa yang tersimpan dan terbagi langsung dari balik pintu dapurnya.
Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: Tim Dokumentasi Masa(k) Musik
