Trokamatra : Arah Baru yang Menautkan Musik dan Sastra

Penulis: Lintang Pramudia Swara

Meneropong proses singkat yang juga terasa panjang menuju harinya Trokamatra — terutama sebagai alumni ISI Jogja dan bagian dari Komunitas Sastra Jejak Imaji, ada kedekatan, perasaan sentimental, haru, begitu juga syukur yang begitu dalam. Sebuah panggung yang memang direncanakan hadir untuk mengakomodasi bukan hanya performa musikal namun juga pengalaman, respons atas lanskap geografis tiap daerah yang dinarasikan dari puisi lalu dialihwahanakan menjadi gubahan komposisi musik.

Trokamatra menjadi inti yang menautkan bukan hanya sastra dan musik, namun juga kata kerja meneroka dan juga matra yang sarat arti. Meneroka artinya membuka lembaran baru sementara matra berarti irama dan getaran yang menghidupkan makna. Trokamatra menjadi sebuah manifestasi yang mempertemukan sastra dan musik dalam proyek pertunjukan kolaborasi musikalisasi puisi.  Adapun proyek ini dikerjakan atas hibah proposal Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang dirilis perdana tahun ini oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Belum pernah sepanjang kaki saya menginjakan kaki di kampus Sewon, terjadi sinergi antara teman-teman dari domain musik dan sastra. Teman-teman musik yang notabene berkacamata kuda, begitu pun teman-teman sastra yang juga punya cara pandangnya sendiri terhadap dunia dan seisinya. Lahir perjumpaan hangat jauh sebelum panggung Trokamatra digelar. Kala itu 8 Oktober 2025. Setelah kabar baik lolos hibah proposal PISN, ada diskusi untuk menentukan arah kolaborasi seperti apa yang bisa dilakukan kedua bidang yang jarang mendapati titik temu ini. Keduanya sama-sama duduk dalam disiplin humaniora, namun memiliki dunia dan tradisi epistemik yang berbeda. 

Sowan teman-teman ISI Yogyakarta ke Sekretariat Jejak Imaji (Dok. Manik Wijatmiko)

Mula-mulanya, sebagai musisi yang juga bergumul dari panggung ke panggung sastra musikalisasi puisi bersama Jejak Imaji, sempat ada bayangan kecil di benak saya tentang bentuk pertunjukan. Sesederhana melagukan bait puisi—menjadikannya syair. Saya rasa itu yang biasa dikerjakan baik oleh AriReda, Banda Neira, atau malah tembang puitik seriosa yang banyak dipentaskan dalam proyek Ananda Sukarlan. Namun gagasan itu terbantah karena murni yang diangankan adalah komposisi instrumental. Dalam paradigma musik barat, baik Daniel de Fretes sebagai dosen yang juga menginisiasi program ini maupun Luqman yang kemudian menjadi komposer menyebut terminologi “Symphonic Poem”—secara literal berarti puisi simfonik. 

Idenya adalah membuat karya berformat orkestra simfoni, lengkap dengan instrumen gesek, tiup, perkusi, ditambah juga dengan etnik. Karya yang terlahir merupakan orkestrasi yang dikerjakan lewat proses pembacaan—telaah—analisis atas karya puisi orisinil yang ditulis oleh teman-teman penyair di Komunitas Sastra Jejak Imaji. Ada pula ide untuk menghadirkan deklamasi puisi bersama orkestra.

Jemi Batin Tikal — ketua Komunitas Sastra Jejak Imaji mengkurasi sebanyak 12 karya puisi untuk dipilih para komposer yang digandeng oleh tim dosen dalam program ini — tim dosen mencakup Daniel de Fretes, M. Yoga Supeno dan Sagaf Faozata Adzkia. Setelah itu ada 5 puisi yang kemudian menjadi karya yang siap dialihwahanakan menjadi musik. Saya dan rekan-rekan dari ISI Jogja berikrar bahwa komposer akan menjalin komunikasi intens dengan penyair. Komposer pun harapannya diberi kemerdekaan dalam mengolah bebunyian. Menariknya, ada proses yang berbeda ketika para komposer memiliki matriks, sebuah konstruk berpikir dan kerja yang matematis serta sistemik dalam menulis skor musik. Ada keterbatasan waktu dan limitasi kemungkinan kosabunyi. Sementara itu karya-karya penyair dilahirkan lewat perenungan panjang dan serangkaian proses mengolah pengalaman—tidak hanya ketubuhan namun juga spiritual. Tentu ada ketimpangan untuk menghadirkan representasi yang sama. Bagaimana langkah dan metode yang ampuh untuk menjaga ruh sastra tetap terakomodasi lewat ruh musikal yang digubah?

Dalam orkestra, musisi menerima direksi dari partiturnya. Teks diperlakukan sama halnya dalam dunia bahasa. Naskah musik menjadi sumber teks yang dibaca namun lewat skala bebunyian, spektrum sonik dan timbre dari tiap instrumen. Pengaba menjadi nahkoda yang memandu jalannya ekspresi, emosi, babak demi babak serta dramatik yang berjalan. Ada tradisi yang kemudian berbeda dari dunia sastra. Tiap kata terikat dengan konteks, barangkali juga trauma dan getir yang tertuang, terhubung dengan sejarah maupun perjalanan hidup— tak lupa perbendaharaan bacaan yang sudah dilahap dan diolah. 

Petunjuk ditangkap justru tidak lewat kata demi kata yang dibaca secara literal. Tidak seperti tanda crescendo menuju forte yang dapat secara relatif seragam diartikulasikan lewat tarikan nafas dan kekuatan menggesek bow, namun kemampuan untuk melambat dan menelaah teks lewat keteguhan dan keutuhan. 

Proses produksi siniar nada dan kata (Dok. Bowie Putra Bayu Mukti)

Sebelum Trokamatra, Ahayu Nurmalitasari memandu Siniar Nada dan Kata, sebuah percakapan antara komposer dan juga penyair dari Jejak Imaji yang juga menjadi bagian dari sub program dan pra-konser Trokamatra. Di sana kita melihat betapa puisi belum mendapat tempat seluas musik untuk menetap di hati banyak manusia. Ia berawal dari tradisi lisan, dekat dengan hidup yang terbiasa bercerita, namun terpinggirkan sama sekali seturut dikatakan Bayu Aji Setiawan. Ada pula peran sinema yang menurut Jemi Batin Tikal menaikkan derajat puisi lewat tokoh-tokoh pujangga karismatik. Perjalanan panjang Vishnu Satyagraha—komposer yang menggarap salah satu puisi—memaknai tentang romantisme suasana desa dari puisi Anak-anak Angin karya Ardy Suryantoko. Ia merealisasikannya ke melodi yang begitu tematik— menguatkan unsur tradisional sebagaimana pengalamannya terlibat di proyek kolaborasi Melbourne Symphony Orchestra. Siniar yang berlangsung menjadi perantara kisah antara pengkarya dan audiens menuju datangnya hari konser Trokamatra.

Audiens memenuhi auditorium (Dok. Tim Dokumentasi Trokamatra)

Bergerak maju ke harinya Trokamatra, antrian panjang audiens memenuhi Auditorium Musik ISI Yogyakarta. Tepat 28 November 2025, hari yang sudah dinanti akhirnya tiba. Diperkirakan 200 orang menghadiri venue. Teramat sederhana, tak ada baliho melainkan poster ukuran A3 yang tersemat di kaca pintu, tak lupa buku tamu dan juga suvenir kartu pos ilustrasi puisi karya Dia Ariesta dan Inas Husnun Nabila—dua kawan perupa dari Jejak Imaji. 

Ilustrasi kartu pos puisi Trokamatra (Dok. Inas Husnun Nabilah dan Dia Ariesta)

Saya yang kala itu mengenakan kalung panitia, secara alam bawah sadar tergerak untuk menyambut hangat tiap pengkarya yang bisa terlihat di peredaran jarak pandang. Termasuk Dadang Wahyu Saputra, Vishnu Satyagraha, dan Nabila Farazhafira, tiga dari lima komposer yang karyanya akan ditampilkan malam itu. Dari kalangan penyair, saya juga menyapa Jemi Batin Tikal yang berhari-ini rutin saya temui, lalu Achmad Sudiyono Efendi yang merupakan suami dari sahabat saya, juga Ardy Suryantoko untuk pertama kalinya—lagi-lagi hanya tiga yang bisa saya jumpai di sekitar pintu masuk.

Tak ada yang begitu istimewa dari sambutan, melainkan ucapan terima kasih secara berturut turut dari M. Yoga Supeno selaku ketua program, Jemi Batin Tikal dari Jejak Imaji, begitu pun Eli Irawati dari LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) ISI Yogyakarta. Saya sendiri mengamini harapan untuk bangkitnya segmentasi dan bentuk apresiasi baru di ranah kesusasteraan yang selama ini redup. Malam ini Trokamatra akan menjawabnya, begitu batin saya. 

Masuknya para personil orkestra dan kondakter ke atas panggung menyihir suasana. Wibawa sang kondakter begitu kuat. Dari tempat duduk saya membayangkan suasana yang menyelimuti hati tiap audiens. Mereka yang barangkali tak familiar dengan ruang ini, hawa dingin auditorium begitu pun keseriusan wajah para musisi. 

Orkestra mulai bermain di bawah baton Eki Satria (Dok. Tim Dokumentasi Trokamatra)

Pengantar tentang karya pertama dibacakan Puan Biru yang bertugas memandu acara. Karya musik gubahan Nabila Farazhafira dengan tajuk “Di mana Laut Menyembunyikan Putri” ditampilkan malam itu, setelah melewati proses alihwahana dari puisi milik Ilham Rabbani dengan judul asli “Pledoi Mandalika” yang berlatar geografis di Lombok. Di bawah baton Eki Satria—kondakter tunggal Trokamatra—sajian musik dibuka dengan manis dan kontur musik yang lembut. Tak lama muncul transisi menuju bebunyian yang lebih padat, bersatu padu antara perkusi, tiup, dan juga gesek. Tanpa berupaya mengaitkan dengan puisinya, saya menikmati karya ini sebagai komposisi yang otonom dan memiliki kebebasan suaranya, pun interpretasinya. Akhir dari repertoar ini mengganjal, juga mengundang keingintahuan.

Karya berikutnya diangkat dari puisi Hendrik Efriyadi dengan judul “Selemparan Batu Baba Ngofa” yang berlatar geografis Maluku. Komposisi musik digubah Mario Abraham Warouw, komponis dengan jejak panjang berkarya dalam musik gereja. Instrumen tiup terdengar mendominasi di awal. Nuansanya lembut, lalu berangsur menghasilkan perubahan mood. Ada momen ketika bunyi instrumen gesek diimitasi oleh instrumen tiup kayu dan tiup logam, ditemani perkusi. Bagian penghujungnya terasa hangat, ada yang terasa begitu spiritual, seperti menyambut sesuatu, ke sebuah negeri baru. Orkestrasinya terasa mewah, terutama instrumen tiupnya. Namun sayang, akhir yang resolutif ini tidak bertahan lama, saya berharap ia bisa muncul lebih banyak. 

Seksi peniup Orkestra Trokamatra (Dok. Tim Dokumentasi Trokamatra)

Seusai repertoar berakhir, kondakter meninggalkan panggung. Sesi doorprize dihadirkan di tengah acara, memanggil audiens untuk maju dan menceritakan buku dan penulis kesukaan mereka. Dalam pagelaran, seperti ada bentuk baru yang melepas sekat. Tiap audiens yang maju turut menjelma subjek performatif. 

Sesi doorprize di tengah konser Trokamatra (Dok. Tim Dokumentasi Trokamatra)

Riuh tepuk tangan meriah terdengar kala masing-masing dari mereka cerita, baik tentang Andrea Hirata, Ahmad Tohari, hingga Saman oleh Ayu Utami. Nama-nama yang kiranya tidak begitu familiar terdengar di kampus seni, namun kini menyuara di panggung orkestra puisi. Buku antologi puisi Jejak Imaji, antologi tunggal Ilham Rabbani, hingga antologi tunggal milik Jemi Batin Tikal, ketiga buku yang turut hadir sebagai memorabilia—menemani kartu pos puisi yang semula juga telah diserbu di gerbang masuk. Apresiasi yang bermakna besar, namun datang karena peristiwa sederhana, karena puisi, karena seni, juga kehangatan yang menembus sanubari. 

Memasuki repertoar ketiga, karya Luqman Satria Mursit Wicaksono—mahasiswa Jurusan Musik— mengalun dengan kejutan yang ditunggu. Kemaro—nama pulau yang dicuplik dari puisi berlatar geografis Palembang dengan judul Yang Tidak Mereka Bicarakan Ketika Mereka Berbicara Tentang Cinta, menjadi pesona sedari majunya Ahmad Syaiful Hadi—sang deklamator yang didaulat mendeklamasikan puisi milik Jemi Batin Tikal, juga sedari kilau putih dan langkah kaki violinis muncul dari balik tirai. 

Ahmad Syaiful Hadi dan Mevlied Nahla naik ke panggung Trokamatra (Dok. Tim Dokumentasi Trokamatra)

Suara orkestra menenang, menyambut Mevlied Nahla memainkan melodi solo biola yang mengiringi deklamasi. Kontak mata yang intens, penghayatan yang magis, gestur yang terlampau magnetis, keduanya tak ubahnya bintang yang diturunkan dari dinding tertinggi cakrawala. Teman saya Dhea sempat bilang “seperti bidadari”. Alunan biola bercengkok Melayu berbunyi lirih. Saat itu tribun hening dan kamera ponsel sibuk mengabadikan. Panggung sedemikian hidup, serupa momen bersejarah yang tak mungkin terulang di belahan bumi mana pun. Lengkap sudah riwayat Jemi, batin saya dalam hati. Tak hanya berdiri sebagai ketua Jejak Imaji, tak hanya sebagai penyair yang puisinya dibukukan, namun juga digubah dan ditampilkan di panggung orkestra yang kelewat megah.

Konser mengambil waktu istirahat sebelum melanjutkan babak selanjutnya. Selama 15 menit, obrolan dan canda tawa mengalir. Beberapa kawan dari Jejak Imaji mengalami syok kecil. Saya bilang kalau sangat lazim di konser orkestra diadakan jeda di tengah pertunjukan. Hal itu ternyata tidak terjadi pada panggung-panggung musik yang biasa mereka saksikan. Ada pertemuan dua tradisi yang kembali hadir, bukan hanya tentang nada dan kata, tapi sesederhana jeda konser yang tampak tidak biasa.

Deklamasi puisi karya Jokpin (Dok. Tim Dokumentasi Trokamatra)
Deklamasi puisi karya Chairil Anwar (Dok. Tim Dokumentasi Trokamatra)

Kejutan kembali hadir di sesi doorprize berikutnya. Audiens diundang naik panggung untuk membaca puisi yang disiapkan panitia. Panggung menjelma ruang partisipatif dan mengajak siapa pun untuk menjadi penampilnya. Seorang Ibu dari Magelang mendeklamasikan puisi Jokpin, sementara mahasiswi UGM menolak mikrofon dan membaca lantang Aku Ini Binatang Jalang hingga menyedot perhatian. Malam yang lagi-lagi hangat, penuh dengan hati dan ketulusan yang murni.

Puisi “Anak-anak Angin 1” adalah lineup yang berikutnya. Diciptakan oleh Ardy Suryantoko dengan latar Dieng-Wonosobo, lalu diorkestrasikan oleh YAL Vishnu Satyagaraha. Malam itu, lengkap dengan Ahmad Syaiful Hadi sebagai deklamator, disusul Arya Prabu pada kendang. Penonton dengan mudahnya terhanyut. Melodi riang dan menyenangkan, penuh dengan kebebasan dan perayaan, menjemput kenangan masa kecil, terasa magis. Melodinya begitu tematik, tersimpan kuat di memori berkat pengulangan motif yang begitu khas dan aksentuatif. Anak-anak Angin, diksi-diksi yang sedari awal mengandung idiom kebebasan, diolah sedemikian indahnya di tangan sang komposer. Tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat senyum audiens dan para musisi, begitu pun perasaan terhubung dengan alunan musik yang dekat dengan keseharian. Musiknya terdengar familiar, seperti tersimpan sesuatu yang mengajak kita beretrospeksi soal masa kanak-kanak yang penuh dengan permainan dan petualangan di bentang alam. 

Sesi pemberian buket (Dok. Tim Dokumentasi Trokamatra)

Begitu membius. Masih ada gebrakan lain. Peristiwa interaktif kembali hadir lewat pemberian buket. Ada obrolan tentang proses Ilham Rabbani dan YAL Vishnu Satyagraha dalam berkarya. Tentang uji coba berbagai metode yang dilakukan Vishnu dalam menerjemahkan puisi ke dalam bentuk komposisi, begitu juga Ilham Rabbani yang ternyata terlambat hadir saat karyanya dimainkan di urutan pertama. 

Vishnu dan Ilham bercerita tentang pengalamannya (Dok. Tim Dokumentasi Trokamatra)

“Romansa Sakera dan Marlena”, sebuah tragedi cinta dari judul puisi milik Achmad Sudiyono Effendi adalah urutan terakhir. Karya diolah Dadang Wahyu Saputra, komposer yang kini bermukim di Ponorogo namun malam itu datang dari jauh demi Trokamatra. Kami sempat mengobrol tentang latar puisi Madura yang harus ia terjemahkan lewat modal kulturalnya yang justru tidak terpapar banyak dengan kebudayaan di sana. Tak disangka, urutan yang ditata oleh kondakter cukup tepat menempatkan karya ini di paling akhir. Diawali dengan lirih dan mendayu saat oboe meniup, disusul instrumen gesek yang mempertebal pesan musikal yang kuat. Perkusi ikut bermain, emosi memuncak dan mengaksentuasi tragedi yang semula menjadi tajuk. Godaan mencipta komposisi yang begitu virtuosik memaksa kondakter mereduksi dan menyederhanakan beberapa pasase yang rumit. Meski begitu tetap sama kompleksnya. Ada idiom musikal yang mengalun agung dan sedapat mungkin dipertahankan. 

Orkestra Trokamatra (Dok. Tim Dokumentasi Trokamatra)

Karya tersebut menutup pertunjukan di malam itu. Audiens berhamburan menyerbu kondakter, solis, begitu juga para musisi orkestra. Masing-masing berpose, mengabadikan malam penuh haru yang sudah mereka persiapkan dalam 2 pekan yang sarat lika-liku. 

Pertemuan antara pencinta musik dan pencinta puisi, tak lupa warna-warni busana para musisi yang mencoba merepresentasikan kebebasan. Tiap komposer saling sapa, ada momen reuni insidental di antara mereka. Itu terjadi juga di antara para penyair dan sahabat-sahabat Jejak Imaji. Malam yang sederhana, tidak begitu sempurna namun mencetak sejarah baru berkat dedikasi para punggawa Trokamatra yang berproses tanpa kenal lelah. Saya menyalami musisi yang bisa saya temui, mengajak mereka berfoto, termasuk kondakter, Eki Satria yang juga dulu menjadi dosen wali dan dosen cello saya. Begitu pun solois biola, Mevlied Nahla yang sejak kedatangannya di ISI Jogja membawa rona dan aura yang berbeda.

Foto bersama Eki Satria dan Mevlied Nahla (Dok. Pribadi)

Panggung Trokamatra membuka kotak pandora yang lama terkunci. Di sana, terjalin pertemuan penuh antusias, bukan hanya dari pelaku musik dan sastra, tetapi juga dari pembaca dan pendengar yang baru menyadari adanya kemungkinan lain dari pertautan musik dan puisi. 

Puisi dan musik, saya melihat keduanya tak lain merupakan ekstraksi pengalaman yang telah diramu, dirakit, dan dipersembahkan kepada dunia. Tercipta ruang tempat keduanya saling membangun jembatan menuju jalan baru—jalan apresiasi yang lebih terbuka. Barangkali kisah ini terlalu personal bagi saya sendiri. Membersamai proses ini, begitu sarat celah yang belum mampu ditambal. Merawat perjalanan dengan ketulusan, setidaknya itu yang menguatkan Trokamatra hingga tiba di titik ini. Perjalanan ini belum selesai. Bait-bait puisi masih terus bersemi dan dimaknai, begitu pula detik demi detik kala musiknya mengaksentuasi, tak lupa denyut nadi para musisi dan penyair yang terus memberi nafas dan meniti perjalanan ini. 

Foto bersama Jejak Imaji (Dok. Tim Dokumentasi Trokamatra)

Editor: Rindu Sangmesih Wijayanti
Foto Sampul: Tim Dokumentasi Trokamatra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *