Mallet’s Day #3 “Circle”: Menyatukan Pelaku Perkusi, Menyemai Perkawanan

Penulis: Hati Bening Asy Syahiidah

Pada hakikatnya, memperdengarkan bunyi adalah cara agar tujuan dari musik dapat tersampaikan. Akan tetapi, komunikasi musikal tak bisa lepas dari performa serta persepsi seluruh indrawi. Bagi saya, pertunjukan yang baik juga mampu menyampaikan maksudnya melalui ekspresi visual dan pergerakan, hingga membuat seluruh tubuh penampil turut “bermusik”. Komponen yang kerap terlupakan ini justru paling terasa dalam pertunjukan musik perkusi.

Sebelum menginjakkan kaki ke anak tangga Teater Arena ISI Yogyakarta, saya mengingat pertunjukan-pertunjukan perkusi yang pernah saya saksikan. Begitu meriah dan menggembirakan. Seakan semua partisipan merupakan sebuah keluarga yang sedang memestakan sesuatu, dan ajaibnya, para pendengar turut dapat menikmati kehangatan itu. Kami tidak hanya menjadi tamu yang datang, namun juga yang dirayakan. Barangkali itulah tujuan komunitas Total Perkusi mulai menyelenggarakan Mallet’s Day sejak 2023.

Komunitas Total Perkusi berdiri pada tahun 2013 oleh Bagas, Tony dan Deni. Pada mulanya komunitas ini dibuat sebagai pengarsipan perkusi Indonesia yang kurang mendapatkan atensi. Padahal, kualitas karya dan acara perkusi di negeri ini sudah mampu bersaing dengan yang ada di luar negeri. Total Perkusi akhirnya menjadi wadah bagi komunitas-komunitas perkusi untuk berkembang bersama melalui program lokakarya, festival, atau penerbitan buku. Dan pada 27-28 September 2025, pagelaran Mallet’s Day #3 berjudul “Circle” diadakan untuk mempersatukan pelaku perkusi sambil merayakan dentuman mereka. Kali ini, acara tersebut diproduseri oleh Algi Dilanuar.

Pranata acara Tony Maryana–salah satu pendiri Total Perkusi–memasuki area panggung sekitar pukul 14.20, dua puluh menit setelah waktu yang dijadwalkan. Saya dikejutkan dengan imbauan bahwa acara akan dibuka oleh sebuah lokakarya dari tamu undangan Adam Tan, pemain marimba dari Perth, Australia. Saya sempat beberapa kali memeriksa poster yang diunggah di akun Instagram Total Perkusi. Tidak ada keterangan mengenai lokakarya dari beliau, selain tulisan ‘‘Special Performance by Adam Tan’’.

Lokakarya Adam Tan (dok. @fiktifik/Fikri)

Kejutan lainnya adalah lokakarya yang disampaikan Adam Tan, yang ternyata begitu menyenangkan. Ia membawakan presentasi tentang pengalaman bermusik sekaligus kiat-kiat menjadi pemain perkusi dengan sangat energik. Energi itu menular pada audiens–termasuk para penampil konser “Circle”–yang turut antusias dan tak ragu berpartisipasi meski terhalang perbedaan bahasa. Keceriaannya mengingatkan saya pada teman-teman perkusi yang selalu tampil lepas dan gokil ketika membawakan musik. Adam Tan sungguh pilihan narasumber yang tepat untuk memperkenalkan instrumen perkusi.

Setelah sekitar satu jam kemudian, sesi berbagi berakhir diiringi riuhnya tepuk tangan. Beberapa pemain yang mulanya duduk di antara penonton, buru-buru berjalan keluar pintu untuk mempersiapkan diri. Adam Tan juga bertukar tempat dengan pranata acara, berpindah dari bangku penonton ke atas panggung. “Hidup perkusi!,” seru Tony, sebelum dengan lantang memanggil penampil pertama, Bekereng Percussion Ensemble!.

Lampu panggung perlahan-lahan menyala, memperlihatkan lima belas wajah segar dari komunitas perkusi asal SMM Yogyakarta. Mereka membawakan lagu berjudul “Journey with Love” ciptaan Revel Hansel, yang juga merupakan alumni Bekereng. Jantung lagu ini didetakkan oleh lompatan triol dari marimba yang halus nan stabil. Perlahan, dentingan melodi dari vibraphone, xylophone, dan glockenspiel menyusul dan menciptakan dialog-dialog polifonik. Suasana melankolis berubah menjadi riang dengan bergabungnya bass elektrik, tabuhan ritmik dari conga, bongo, dan instrumen-instrumen aksesoris seperti tamborin atau shaker. Sementara itu, baris melodi utama dipimpin oleh vibraphone dengan manis, bersama beberapa variasi harmoni di bawah melodi tersebut. Lagu ini juga dimeriahkan bagian-bagian solo timbales, conga dan bongo yang diimbuhi sorakan pemain. Setelah tema melalui variasi terakhir dengan modulasi, gemuruh tremolo menutup penampilan dengan meriah.

Penampilan Bekereng Percussion (dok. @fiktifik/Fikri)

Penampilan kedua disebut pranata acara sebagai ‘lagu langganan’, yaitu karya solo minimalis, “Rhythm Song”, gubahan Paul Smadbeck. Melalui pukulan malletnya, Alifah Rumaishah Indi asal Jakarta menciptakan letusan-letusan kecil di antara dengung marimba yang terus mengalir. Dengan tangkas ia bergerak ke kanan dan kiri untuk meraih semua register bunyi, seakan seluruh tubuhnya ditenggelamkan musik. Lagu ketiga dengan format yang sama dibawakan oleh mahasiswa baru ISI Yogyakarta, bernama Yuka Narendra. Praeludium und Allegro ciptaan Fritz Kreisler–yang semula ditulis untuk piano dan biola–terdengar berkilau melalui karakter yang dihasilkan sentuhan mallet dan bilah marimba.

Geo, peserta termuda dalam konser ini membawakan lagu “Maple Leaf Rag” oleh Scott Joplin untuk marimba dan piano upright. Meskipun baru duduk di bangku SMP, Geo mampu menggerakkan malletnya dengan lincah sambil tetap menikmati suara yang ia ciptakan dengan goyangan kecil di kepalanya. Kemudian, masih dengan format solo marimba, Juan Arief kemudian memainkan karya kontemporer Kazunori Miyake berjudul “Chain”. 

Perubahan suasana dan tekstur melalui dinamika serta warna suara membuat karya ini terasa seperti rangkaian monolog yang berpadu menjadi satu. Selain aspek bunyi, pergerakan tubuh juga menjadi bagian penting dari penampilan ini sebagaimana tercantum pada bagian atas partitur lagu. Miyake menuliskan keterangan “the performer is allowed to ‘swing slightly’ if they want to” untuk menciptakan kesan rileks dan tenang. Arahan ini membuat Juan Arief mampu menyelesaikan karya rumit tersebut dengan lancar dan penuh kendali.

Setelah unjuk kemampuan marimba lintas generasi berakhir, panitia mulai menata timpani di tengah panggung. Sambil menyiapkan kabel-kabel untuk musik elektronik, Ridhlo Gusti Pradana menceritakan bahwa komposisi “Hero’s Journey” karya Jarryd Elias–yang akan ia bawakan–sudah pernah dimainkan sebelumnya sebagai resital untuk mengambil pascasarjana di ISI Yogyakarta. Sesuai judulnya, karya ini terdengar heroik sekaligus ‘gila’, seperti diakui Ridhlo sendiri. Ia menunjukkan eksplorasi teknik melalui pergantian pemukul/mallet, perubahan tuning timpani menggunakan pedal, hingga penggunaan tangan kosong. Dentuman timpani terus menggetarkan ruangan selama sembilan menit penuh, berpadu dengan bunyi instrumental dari playback yang menuntut pukulan timpani untuk terus stabil.

Solo marimba oleh Adam Tan (dok. @fiktifik/Fikri)

Konser “Circle” hari pertama akhirnya ditutup dengan suara sirine TOA yang menandai dimulainya penampilan Kesper (Kelompok Studi Perkusi) ISI Yogyakarta. Di bawah suara sirine, satu per satu pemain masuk dengan gestur-gestur agresif. Pukulan garang grand casa dan floor tom menentukan tema lagu “1935” karya Juan Arief. Melodi tema mulanya dipegang oleh glockenspiel. Kemudian secara bergantian, instrumen melodik perkusi lainnya ikut bernyanyi di atas pukulan drum set dan timpani. Bagian yang paling berkesan bagi penonton adalah melodi kromatik dari xylophone yang dimainkan oleh Reffnaldy dengan berapi-api. Setelah jeda pendek melalui vibraphone dan glockenspiel yang lebih kalem, pukulan floor tom dan drum kembali menggelegar, kini lebih kencang dari sebelumnya. Penampilan ini merupakan final yang sangat memuaskan. Para pemainnya seakan menghajar habis-habisan instrumen yang ada di depan mereka. Bahkan ketika mallet dan stik drum diangkat, gaungnya masih mengisi ruang selama beberapa detik sebelum digantikan oleh riuhnya tepuk tangan.

Pada hari kedua, saya kembali datang ke Teater Arena dan mendapati penonton yang lebih ramai. Acara dibuka dengan sambutan dari perwakilan dekan yang dipenuhi guyonan internal, membuat separuh audiens–yang sebagian besar pelaku atau penikmat perkusi–ikut tergelak. Penampilan pertama hari itu kembali menghadirkan komposisi Juan Arief, berjudul “A Gift From The Sky”. Lagu ini dimainkan oleh keempat anggota dari Quadra Percussion yang mengeroyok dua marimba dengan memainkan register yang berbeda-beda. Ketiga bagiannya, yang ditransisikan oleh pergantian mallet, dipenuhi oleh ketukan harmonik yang  memberi kesan surgawi. Kemudian, sederet xylophone dan vibraphone ikut dimainkan oleh Quadra Percussion untuk lagu kedua, “Metric Lips”, karya Bela Fleck.

Kembali ke format solo–kali ini dengan vibraphone–Mahsa Hassan Bakti mendentingkan malletnya dengan lembut untuk repertoar “Suomineito” karya Nebojsa Jovan Zivkovic. Gema yang diciptakan dengan suspensi tarikan mallet ditonjolkan, sehingga tak ada kesunyian dalam bagian istirahat. Kemudian, Bayu Dwi Pamungkas asal Bandung membawa kami semua menuju sebuah kapsul waktu dengan tiga karya Bach, “Prelude in B Flat Major”, “Suite ‘Bouree’ in E Minor”, dan “Suite ‘Gigue’ in E Minor” dengan permainan marimba.

“The Wave” dimainkan oleh ADA Perkusi (dok. @fiktifik/Fikri)

Penampilan berikutnya merupakan format masif dengan melibatkan total 9 instrumen dan media elektronik, semuanya dimainkan seorang diri oleh Alfin Satriani. Judul “Concert To?” atau “Konser Kepada?” dijawab lewat bagian awal komposisi ini, yang menampilkan suara playback, memperdengarkan seorang presenter Inggris menceritakan akhir hidup Elgar, dan dilanjutkan dengan pembukaan “Cello Concerto in E Minor” yang ikonik. Mulanya, ia menambahkan dentuman dari gran cassa dan beberapa gong-gong kecil di atas suara gesekan cello yang sama agresifnya. Di sela-sela itu, decitan musik elektronik juga turut memeriahkan. Fase kedua dimulai dengan awal yang sama, sang presenter mengisahkan tentang Rachmaninoff dan membunyikan bagian awal “Piano Concerto No. 2” karyanya. Beralih ke timpani, Alfin mengubah-ubah tuningannya dengan terus menginjak pedal sehingga ia dapat memainkan sebuah melodi utuh. Ia juga melakukan eksperimen pada batas-batas suara yang dihasilkan instrumen dengan cara menggesekan bow pada vibraphone dan glockenspiel, menghasilkan bunyi yang asing namun memikat.

Nama Adam Tan yang dinanti-nanti akhirnya disebutkan kembali oleh pranata acara untuk membawakan penampilan istimewanya. Dengan senyum yang seakan tak pernah lepas dari wajahnya, Adam Tan membawakan tiga karya solo marimba. Lagu pertama diberi judul “Joy”, dilanjutkan dengan aransemen “Bengawan Solo” olehnya dan komposisi terakhir berjudul “Happiness”. Mallet di tangannya menari di atas kotak-kotak bar, diikuti oleh seluruh tubuhnya yang mengikuti irama, mengetuk lantai. Seluruh raga Adam Tan turut berbahagia bersama rasanya yang diterbangkan melalui suara. 

Perayaan yang telah berlangsung selama dua hari itu ditutup dengan magis oleh kelompok ADA Perkusi–yang terdiri dari empat pemain perkusi, termasuk sang produser Algi Dilanuar dan Rana Keenan, yang pada hari pertama menerjemahkan presentasi Adam Tam. Komposisi yang mereka mainkan adalah “The Wave” oleh Keiko Abe, dengan solo marimba yang memimpin belasan instrumen perkusif ritmik dan aksesoris yang dimainkan oleh tiga orang. Penampilan ini terasa brutal. Harmoni-harmoni disonan dari marimba berpadu dengan eksplorasi bunyi dari banyaknya kombinasi instrumen perkusif, sementara teriakan-teriakan agresif para pemain membuat jantung saya sebagai pendengar turut berdebar.

(dok. @fiktifik/Fikri)

Riuh tepuk tangan dan siulan dari penonton tak terputus hingga tiga menit lamanya. Tony, sang pranata acara, menyelipkan candaan kecil saat mewawancarai pemain dan produser, membuat seisi ruangan kembali tergelak. Setelah dua hari mendengar semua rasa, saya merasa seperti terhubung dengan komunitas Total Perkusi, sambil berharap konser Mallet’s Day akan terus diadakan setiap tahun. Seremoni pemukulan gong oleh sang produser menandakan konser Mallet’s Day #3 “Circle” resmi menutup lingkaran mereka. Momen ini membuat saya turut merasa bangga dan haru.

Pelajaran terakhir dari lokakarya Adam Tan berbunyi, “Ingatlah mengapa kamu mencintai musik.” Pesan itu membuat saya merefleksikan jawabannya saat menyaksikan konser Mallet’s Day “Circle”. Jawaban itu, bagi saya, adalah ketika melihat gejolak api sukacita di mata setiap musisi saat mereka membiarkan suaranya menggema.

Editor: Gilbert Natanael Pardosi
Foto Sampul: @fiktifik/Fikri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *