Teater Sari Almon Jeli: Tiga Perayaan dalam Satu Panggung

Penulis: Lintang Pramudia Swara

Aroma kulit jeruk menyatu dengan wangi tembakau, sang tokoh utama hadir tanpa jarak yang menjauhkan audiens dari panggung teater. Tekstur kulit dan gerak jemari dapat jernih terlihat. Saya masih ingat jelas ketika tokoh Sayoko mengupas kulit jeruk dan menghidupkan rokok—wangi yang khas menyeruak tapi entah itu bagian dari skenario atau kebetulan belaka. Kira-kira begitulah yang berlangsung dan ditangkap panca indera.

Malam itu tepat perayaan hari ibu22 Desember 2025—saya duduk menyaksikan rehearsal teater “Sari Almon Jeli” tanpa bekal apa-apa, hanya hati yang terbuka untuk menerima kejutan demi kejutan yang tak terduga. Teater dipentaskan di Auditorium Teater Rendra, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta.

Sayoko diperankan Juanita Elisabet Janis—atau bisa disapa Juju, kawan baik saya yang sedang menempuh ujian keaktoran untuk kelulusan gelar sarjananya di ISI Yogyakarta. Ia memilih naskah teater kontemporer Jepang “The Heart of Almond Jelly” karya Wishing Chong yang diterjemahkan oleh Teguh Hari Prasetyo—drama teater berlatar malam natal dengan dua tokoh yang bernostalgia tentang cinta mereka yang tak lagi sama. 

Juanita Elisabet Janis sebagai Sayoko (dok. @adith_thaariq)

Babak awal memperlihatkan Sayoko sedang melatih dialog sembari menggenggam buku di tangannya. Rokok menyala dan telepon berdering setelahnya. Ia perlahan menghisap sebatang rokok yang dinyalakan, juga menjawab panggilan telepon.

Rasa akrab dengan mudahnya menyelimuti suasana, hangatnya dialek Asia begitu kental saat sang tokoh mulai bercakap-cakap. Saya teringat cara tutur pengisi suara Indonesia untuk drama atau Anime Jepang yang menghayati pesona dan juga ekspresifnya suara para tokoh, sebut saja Doraemon, Ninja Hatori, atau Naruto. Di saat yang sama kita juga akrab dengan Studio Ghibli, pun dunia magis di baliknya yang dikisahkan menggunakan bahasa aslinya, dengan latar yang menembus batas budaya.

Sayoko dan Tatsuro yang diperankan oleh Kevin Abani (dok. @adith_thaariq)

Kembali pada teaternya, kita menjumpai sesosok lelaki. Tatsuro, protagonis kedua muncul dari balik pintu geser rumah mereka. Setting dirancang sedemikian rupa, dihiasi jendela, juga semacam kebun vertikal dalam ruangan, atap bocor yang menetes ke ember, wastafel yang airnya menyala, hingga microwave untuk memanaskan sake. Tatsuro diperankan Kevin Abani, pasangan Sayoko pada karya teater Sari Almon Jeli. Kedatangannya mengubah atmosfir, ia mengeluh dengan sikap dan perbuatan Sayoko. Mereka harus pindah dari rumah itu namun Sayoko tidak mengemas barang barang dengan rapi. Konflik utama memang belum terlihat jelas, tapi aura kedua aktor terpancar kuat. 

Setting rumah Sayoko dan Tatsuro (dok. @adith_thaariq)

Tatsuro digambarkan sebagai pria yang menjunjung tinggi kerapihan. Sebaliknya, Sayoko punya dunianya sendiri, begitu pun mimpi kecil untuk menjadi aktor terkenal. Percakapan tentang rumah tangga mengisi menit demi menit yang berjalan, termasuk memperlihatkan kedalaman karakter masing-masing. Penonton diajak mengenal Sayoko dan Tatsuro bukan dalam orientasi hitam dan putih. Mungkin awalnya ada rasa jengkel dengan Sayoko yang berantakan, tapi setelah itu Tatsuro juga punya sisi menjengkelkan yang membuat penonton ikut geram.

Kemistri dua aktor terbangun apik, termasuk di bagian komedi yang terasa hidup dan organik. Ancaman yang dilontarkan Sayoko, ia yang begitu cuek menendang-nendang kardus lalu mengendus kaos kaki saat hendak memotong kuku, celetukan Tatsuro, atau momen ketika mereka bernyanyi dan menari bersama—semua terasa alamiah dan mencairkan suasana. 

Sebagai seorang lulusan seni pertunjukan bidang musik, teater menjadi disiplin yang distingtif, wilayah yang tidak bisa begitu saja saya masuki. Elemennya begitu kaya untuk bisa ditelaah satu demi satu. Kedekatan idiom dan budaya justru saya rasakan resonansinya lewat pengalaman nostalgia dan keintiman atmosfir yang dibangun. Tanpa perlu adanya musik, bagi saya semuanya sudah terasa realis. Menangkap getir dan sakit yang justru tumbuh dari kedalaman kedua pemeran, dengan mimik wajah dan olah tubuh yang dipersiapkan secara matang. 

Dok. @adith_thaariq

Jebakan kelas menengah bawah menjadi potret cerita yang begitu dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari masyarakat urban. Dengan cara yang amat eksplisit, Tatsuro menunjukkan kegemarannya memilih barang-barang diskon, hingga menghafal jam maupun harinya. Pilunya hidup Sayoko karena ibunya menikah lagi, juga ayahnya yang abusif dan wafat meninggalkan hutang judi hingga rumah Sayoko harus disita—saya rasa itu sebenar-benarnya derita yang berelasi dengan segelintir atau bahkan mayoritas kehidupan kita. Realitas yang disimpan rapat-rapat atau terucap hanya dalam gelembung-gelembung yang bertiup di sekitar kita.

Di Malam natal yang seharusnya membahagiakan, Sayako dan Tatsuro beradu mulut tentang banyak hal, termasuk tentang titipan udon yang disubstitusi odeng, hingga obrolan tentang perpisahan mereka.

Dok. @adith_thaariq

“Kau seharusnya mengajak ibumu tinggal di sini saja supaya terhenti dan sembuh dari trauma masa kecilmu itu.” begitu kira-kira ujar Tatsuro.

“Kau tidak pernah benar-benar mengenalku.” sebuah kalimat yang sederhana tapi juga pahit. Mereka sudah menikah, memutuskan untuk berpisah namun menganggap belum sepenuhnya mengenal satu sama lain.


“Aku ingin bercinta sampai aku tua nanti, tapi kau tak pernah mau lagi bercinta denganku.”
“Tapi cinta itu tidak melulu harus diekspresikan dengan seks, ada banyak cara lain” Tatsuro mengatakan itu. Seks, mengingatkan saya pada Norwegian Wood dan Colorless Tsukuru Tazaki karya Murakami. Jepang selalu punya elemen menarik terkait imajinasi dan proyeksi soal seks. Ada sesuatu yang sakral dan sebidang teritori lain di sana. 

Percakapan itu kira-kira terjadi setelah paruh kedua babak teater berlangsung. Adegan terus berlanjut menuju perjamuan minum sake dan perseteruan lainnya. Latarnya tidak berpindah. Masih di ruangan rumah yang sama. Pelan-pelan saya mempelajari ada sesuatu yang janggal. Konflik yang dituai tak mungkin berpusat pada persoalan seks saja, pasti ada yang lebih dalam dari itu. 

Mengawinkan konteks Jepang dan Indonesia, serta menumbuhkan secara natural dalam wilayah penjiwaan—saya meyakini pertunjukan teater ini menjadi serangkaian kerja kreatif dan artistik yang berat. Memerankan tokoh berdarah Jepang, mengucap “itadakimasu” tanpa terdengar kaku, begitu pun menghormati tradisinya. Tantangan terberatnya, bagaimana konflik terbesarnya bisa perlahan mengemuka dan membuat audiens terhubung secara emosional?

Bukan kata-kata puitis dan melankolis yang kentara, ucapan-ucapan sederhana yang dilontarkan Sayoko, seperti “Kapan kau meninggalkan rumah ini?” sampai kepada “Saat memutuskan untuk berpisah kita malah lebih banyak bercakap-cakap ya?” yang justru bagi saya membangkitkan haru—dengan senyuman penuh arti dan mata berlinang, diperkuat oleh intensitas ekspresi dan intonasi seorang Juju—sang aktor utama yang dengan penuh daya menghidupi karakter Sayoko di tiap detiknya. 

Bagian terberat terjadi saat memasuki dialog tentang trauma masa lalu yang sedari awal belum kita tahu. Terutama bagi audiens yang belum pernah membaca atau menonton teater ini dalam pementasan di tempat lain. Transisinya cukup halus dan ditata rapi sebelum puncaknya benar-benar datang, Seketika hati saya tersayat, bukan hanya oleh kalimat demi kalimat yang terucap namun juga emosi yang terbentuk dari tiap garis wajah, tarikan nafas, hingga isakan dan ekspresi tubuh keduanya. 

Dok.@adith_thaariq

Begitu dekat, kami para penonton seolah diundang untuk mengalami apa yang diderita—sesuatu yang dipikul dengan teramat beratnya, juga apa yang dengan tragis menjadi luka menganga di sepanjang hidup Sayoko. Semua tercurah dalam penghayatan Juju di malam itu. Ia menjelma seutuhnya sebagai Sayoko yang mengalami duka, pedih, dan juga kehancuran. Sayoko—ia yang sama sekali tidak bisa lepas dari trauma keguguran yang bersemayam dari tahun ke tahun. Penonton tak bisa menahan isak, melihat Sayoko histeris dan juga kalut di saat yang sama.

Di tengah kegetiran yang dipentaskan, saya merasakan betapa rapuh sekaligus berharganya hidup. Perasaan itu kian dalam karena malam itu bertepatan dengan hari kelahiran saya, 24 tahun silam—sebuah kebetulan yang membuat pengalaman menonton terasa kian intim. 

Hari itu dirayakan dengan kado terbaik—sebuah pertunjukan teater yang semula hangat, diwarnai lika-liku, kemudian ditutup dengan haru membiru lewat adegan pelukan Sayoko dan Tatsuro yang bisa turut saya rasakan euforianya. Diiringi lagu latar berjudul Hawana Sakku atau “Flowers will Bloom”, dalam judul bahasa Inggris, karya Yoko Kanno yang lirih berbunyi—mengajak kita larut dalam perasaan nyaman yang hanya hadir dan dapat dirasakan saat itu saja. “Selamat Natal, Tatsuro.” Ujar Sayoko, begitu pun sebaliknya. 

Dok. @adith_thaariq

Pertunjukan ditutup dengan oleh-oleh kisah dan kesan yang kami jemput dan bawa pulang. Rasanya tak cukup seluruh catatan ini mewakili apa yang terjadi dan saya rasakan. Hari itu ada tiga perayaan menjadi satu; hari kelahiran, hari ibu, dan hari natal. Terlepas dari kondisi tempat duduk yang seharusnya bisa lebih nyaman, saya berbahagia bisa hadir di sana. Menyaksikan Juju dengan hasil jerih payahnya yang membanggakan, diperkuat oleh Kevin dengan perannya yang solid dan mendukung penyampaian cerita. Tak lupa performa visual yang ditopang oleh tata cahaya garapan Muhammad Hafidz, serta penyutradaraan oleh Jody Dewatama. Saya sungguh menanti pementasan teater ini kembali diinterpretasikan di kesempatan berikutnya. Biarlah catatan ini bersifat apresiatif, sebab yang ingin saya bagi adalah kekaguman, kebanggaan, juga pengalaman yang berarti.

Selamat untuk Juanita Elisabet Janis, juga Kevin Abani, Muhammad Hafidz dan Jody Dewatama. Tak lupa, juga kepada seluruh bagian tim di balik suksesnya Teater Sari Almon Jeli.

Editor: Rindu Sangmesih Wijayanti

Foto sampul: @adith_thaariq on instagram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *