Penulis: Azzahra Ramadhani
Di balik pintu gedung Teater Arena FSP ISI Yogyakarta, alunan musik berbunyi menyentuh hati. Audiksi, salah satu Kelompok Kreativitas Mahasiswa (KKM) program studi Penciptaan Musik menggelar acara perdana angkatan 2024 pada Jumat (21/11) malam. Acara hadir dengan tajuk “Kisah Cinta dalam 6 Bagian”, sebuah album yang mengisahkan perjalanan cinta muda-mudi masa kini melalui enam lagu yang memuat beragam cerita berbeda.
Acara berlangsung dalam dua sesi: Workshop pada pukul 15.30 dan Hearing Session pukul 18.30. Audiksi menghadirkan tiga panelis berpengalaman: Bambang Penumbra, Balance Putra, dan Salomo Albert Hutabarat. Dua di antaranya, Bambang Penumbra dan Albert Hutabarat, merupakan alumni ISI Yogyakarta yang sudah malang melintang di industri musik.
Album “Kisah Cinta dalam 6 Bagian” menawarkan konsep unik. Terdapat enam lagu yang berisikan empat fase utama. Dimulai dari “Dirimu” (Chill Hip-Hop) yang menggambarkan rasa penasaran yang berubah menjadi cinta, berlanjut ke “Denganmu” (Swing Jazz) tentang nostalgia kebersamaan di tengah kesibukan, hingga “Suar” yang mengisahkan pasangan LDR yang berusaha menjaga berkomitmen.
Enam trek dalam album ini merupakan kisah yang tidak berkesinambungan secara langsung, tapi relate terhadap percintaan muda-mudi dewasa ini. Interpretasi diserahkan sepenuhnya kepada pendengar, seperti yang disampaikan pembawa acara di awal.
Yang menarik, album ini menawarkan dua kemungkinan ending. Trek keempat, “Apa yang Kau Buat”, menggambarkan keretakan hubungan. Dari sini, pendengar bisa memilih trek kelima yang juga berjudul “Dirimu” yang berakhir bahagia, atau trek keenam “Antara” yang menceritakan perpisahan karena jarak.
Makna ini juga tersirat dalam logo album. “4 bagian melambangkan trek 1-4 yang merupakan perjalanan hubungan, sementara 2 bagian terpisah adalah dua ending—trek 5 atau 6—sebagai pelengkap cerita,” ujar Theodorus Nando P, Ketua Audiksi 2024 .
Sesi workshop menjadi momen penting bagi para komponis muda untuk mendapat masukan langsung dari panelis. Tak terduga apabila salah satu anggota kelompok komponis lagu “Dirimu”, I Pandhita Narapati, ternyata adalah anak kandung dari salah satu panelis, menciptakan suasana akrab sekaligus profesional.

Balance Putra, salah satu panelis sedang memberi masukan pada karya (Sumber: Audiksi)
Evaluasi panelis cukup detail, mulai dari aspek teknis hingga emosional. Pada lagu “Denganmu” contohnya, panelis memuji instrumentasi yang kaya dan tone nostalgis dengan eksplorasi reverb yang hangat. Sementara “Suar” mendapat banyak catatan terkait pembagian frekuensi, pengaturan vokal, dan lower balancing.
“Apa yang Kau Buat”, yang mengadopsi gaya Korean ballad mendapat masukan terkait mood lifting, yang menjadi kesulitan tersendiri dalam genre pop, terutama soal timing; juga referensi yang keberadaannya penting sebagai acuan. Lagu penutup “Antara” juga mendapat perhatian khusus. Panelis menyarankan agar interlude kick dikurangi karena terlalu bold (tebal), menambah sedikit bagian gitar pada musik, serta memperbaiki fill di menit 01.51 dan layering synth untuk memperkuat nuansa sedih di ending.

I Pandhita Narapati, Dimas Abindaru dan Satria Ludwig Virgana sedang mempresentasikan karya mereka (Sumber: Audiksi)
Setelah sesi workshop yang padat, acara dilanjutkan dengan hearing session pada pukul 19.15. Berbeda dengan workshop yang formal, sesi ini lebih santai. Para hadirin diajak mendengarkan keenam lagu lengkap dengan video lirik sambil menikmati snack yang disediakan. Ruang yang gelap dengan layar tancap di tengah disertai camilan adalah yang disuguhkan pada tiap pengunjung, sebuah cara yang unik untuk menikmati musik, terlebih secara bersama.
“Rasanya seperti menonton sound horeg, tapi dengan pengalaman yang lebih personal. Ini benar-benar pengalaman baru bagi saya,” ungkap salah satu pengunjung.
Di balik kesuksesan acara ini, tersimpan proses kreatif yang tidak mudah. Nando mengungkapkan bahwa tim berproses selama satu semester penuh untuk mewujudkan album ini. “Yang paling susah itu menemukan ide yang berjalan dan menyatukan gagasan dalam kelompok. Kami menggunakan sistem mentor, tapi dibebaskan dalam pembuatan lagu. Itu tantangan tersendiri,” jelasnya.
Meski waktu satu semester tergolong singkat untuk menghasilkan enam lagu dengan kualitas layak panggung, Nando memberikan rating 10/10 untuk acara perdana ini. Patut diapresiasi bahwa Audiksi berhasil mencetak angkatan barunya dengan baik sehingga acara dapat terselenggara dengan waktu yang cukup singkat.
Acara berlangsung kondusif, namun ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan untuk ke depannya. Audiens terlihat kurang aktif—tidak ada pertanyaan yang diajukan selama sesi workshop. Selain itu, presentasi terasa cukup formal dengan fokus pada aspek teknis seperti genre, instrumentasi, dan modulasi. Padahal, salah satu tujuan acara ini adalah untuk berbagi proses pembuatan karya secara lebih mendalam. Penjelasan yang lebih subjektif tentang inspirasi, perjalanan emosional, atau cerita di balik setiap lagu bisa membuat workshop lebih hidup dan relatable bagi audiens.
“Kisah Cinta dalam 6 Bagian” adalah bukti bahwa Audiksi 2024 mampu menghadirkan karya yang matang dalam waktu relatif singkat. Dengan konsep yang kreatif, eksekusi musik yang solid, dan dukungan panelis berpengalaman, penampilan perdana angkatan 24 ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan mereka.
Harapan penulis ke depan, Audiksi bisa terus berinovasi, tidak hanya dari sisi musikal, tapi juga dalam cara berinteraksi dengan audiens dan berbagi cerita di balik karya. Penulis percaya bahwa pada akhirnya, musik bukan hanya soal teknik, tapi juga tentang emosi dan cerita yang ingin disampaikan.
Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: Audiksi 2024
