Penulis: Alif Amin Arrofah
Siapa bilang hubungan persahabatan sejati hanya bisa dimiliki oleh antar individu maupun sekelompok kecil orang? Yogyakarta dan Kyoto membuktikannya dengan hubungan persahabatan ‘sister province’ yang kemudian diangkat menjadi tema Konser Serenade Bunga Bangsa XI 2025, Zuttomo – Mitra Sinarawedi (teman selamanya). SBB XI tahun ini diselenggarakan di gedung auditorium Universitas Sanata Dharma.
Konser Serenade Bunga Bangsa (Selanjutnya SBB) merupakan inisiatif kebudayaan dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta yang memadukan musik orkestra dan paduan suara untuk menginternalisasi nilai-nilai sejarah dan nasionalisme melalui pertunjukan musik. SBB XI 2025 dilaksanakan di awal bulan dan di awal minggu, yakni pada hari Selasa, 4 November 2025. Menurutku ini adalah waktu yang tepat, sehingga sebagian besar orang yang menonton konser ini jadi punya alasan untuk meninggalkan sejenak kegiatan mereka di hari kerja. Meskipun malam, kupikir setidaknya di konser ini para audiens bisa menemukan satu atau dua lagu yang membawa spirit untuk melanjutkan aktivitas hari esok.
Awan mendung memasuki gerbang malam. Konser akan dimulai pukul tujuh malam, saya berangkat pada pukul enam dari Negara Bagian Sewon, lalu mampir sebentar ke supermarket untuk membelikan buah tangan bagi beberapa teman yang ikut pentas pada konser malam ini. Saya menebak akan ada lebih dari delapan puluh persen bentuk apresiasi berupa bunga dari penonton untuk diberi kepada performer malam ini. Maka kuputuskan untuk membeli buah saja untuk teman-temanku yang tampil. Pilihanku jatuh kepada nanas, karena sama halnya dengan musik orkestra, nanas dahulunya hanya bisa dinikmati oleh kalangan bangsawan saja. Ini menjadi salah satu pengingat saya untuk bersyukur, karena hari ini kita semua sudah bisa menikmati keduanya: buah nanas dan musik orkestra.
Acara dimulai pada pukul 19:20. Laporan kegiatan, sambutan dari Wakil Gubernur Kyoto – Furukawa Hironori – dan sambutan dari Sekretaris Daerah DI Yogyakarta – Ni Made Dwipanti Indrayanti disampaikan 30 menit sebelum repertoar pertama dimainkan. Tapi entah mengapa, sesi prakata ini justru menjadi menarik bagi saya, karena pelaksana acara menghadirkan Wakil Gubernur Kyoto secara langsung. Hal ini membuat kesannya seperti hari jadi persahabatan ini tidak dirayakan satu pihak saja, sehingga tidak bertepuk sebelah tangan, meskipun agak disayangkan kehadiran Gubernur Jogja harus digantikan oleh Sekretaris Daerah.

Sambutan dari Wakil Gubernur Kyoto, Furukawa Hironori (dok. PDD SBB XI 2025: Harji)
Selepas beberapa sambutan hangat dari kedua perwakilan pemerintah daerah, lampu ruang konser perlahan meredup, meninggalkan cahaya biru lembut yang menyoroti panggung utama. Dari balik tirai hitam, muncul para pemain orkestra dengan seragam pink muda seperti kimono modern yang beraksen merah. Mereka menempati posisi masing-masing dengan tenang. Di momen ini, saya sempat menatap sekeliling. Beberapa penonton berdiri tegap tanpa diminta, seolah sedang menyambut sesuatu. Saat konduktor mengangkat baton-nya, suasana mendadak hening. Lalu lagu pertama pun mengalun. Repertoar pertama yang dimainkan yaitu Maju Tak Gentar karya Cornel Simanjuntak. Lagu yang teramat sangat familiar dan membangun suasana perjuangan yang sangat kuat, selaras dengan tujuan SBB itu sendiri, yaitu sebagai media internalisasi sejarah.
Repertoar berikutnya, “Kuwi Opo Kuwi” karya Ki Tjokrowarsito, menghadirkan warna etnik khas Jawa yang hangat. Lalu, suasana berubah total saat orkestra membawakan “Medley Anime” yang berisi potongan lagu dari serial Naruto, One Piece, dan Dragon Ball. Dentuman perkusi dan permainan brass section ini menjadi magnet tersendiri, khususnya bagi penonton yang tumbuh bersama film-film anime tersebut. Di titik ini, konser seakan menjadi ruang lintas generasi yang merayakan tiga elemen dalam satu waktu, yaitu musik klasik, budaya populer, dan semangat muda yang bersatu tanpa sekat.
Repertoar ke-empat, “Jogjakarta Kembali” karya Vishnu Satyagraha, membawa suasana berubah menjadi lebih tenang dan reflektif. Aransemen lembutnya menggambarkan perjalanan panjang Yogyakarta pasca-perjuangan. Saya membayangkan malam di kota ini: bintang-bintang di atas Tugu Jogja, suara becak yang melintas, dan kenangan masa kecil yang tiba-tiba muncul di antara nada-nada orkestra. Saya menobatkan repertoar ini sebagai repertoar favorit saya pada konser SBB ke-XI 2025.
Dilanjutkan dengan “Gembira” ciptaan H. Mutahar, lagu yang jarang terdengar karena tidak sepopuler “Maju Tak Gentar”, “Satu Nusa Satu Bangsa” dalam skena lagu nasional. Namun, puncak kejutan malam itu datang lewat repertoar keenam, “Rekishi Rasa” karya Eki Satria. Saya menduga, karya ini menjadi simbol paling konkret dari tema konser: Zuttomo – Mitra Sinarawedi, teman selamanya antara dua budaya. Part yang paling saya suka pada repertoar ini adalah bagian choir-nya. Saya takjub karena para vokalis yang hanya berjumlah 5 orang di setiap voice section ini harus beradu dengan harmoni yang tebal dari orkestra, namun mereka tidak tenggelam sama sekali. Bagiku, malam itu mereka tampil sangat memukau.
Lalu tibalah momen yang paling mencuri perhatian. Repertoar ketujuh, “Hotaru No Hikari.” Lagu ini dibawakan oleh seorang musisi cilik berbakat bernama Garda Gandara. Garda adalah putra dari seorang pemain cello asal Yogyakarta bernama Dimawan Krisnowo Adji. Kemahirannya memainkan alat musik, seperti piano, pianika dan vokal, tak lepas dari lingkungannya yang memaparkan musik sejak dini, sebab orang tuanya juga musisi. Garda juga aktif sebagai pemazmur dalam peribadatan agamanya.
Garda muncul dengan langkah yang tegap dan mantap, mengenakan baju dengan potongan kain khas jepang. Di tangannya, ia membawa pianika berbahan kayu yang sempat mencuri perhatian saya. Instrumen yang biasanya tidak disandingkan dengan orkestra yang megah, terlebih lagi desain kayu dari pianika yang dibawa Garda. Suara pianikanya sungguh hangat, bergetar lembut seperti seperti membisikan nikmat dunia. Garda membawakan lagu tersebut dengan penghayatan yang luar biasa untuk anak seusianya, seolah musik yang dimainkannya ialah bentuk cintanya terhadap musik itu sendiri. Saat ia bernyanyi sambil memainkan pianika, saya bahkan menahan napas saya sendiri, memastikan agar nafas saya sendiri tidak melewatkan sedetikpun nyanyian Garda.

Garda tampil sebagai solois vokal dan pianika (dok. PDD SBB XI 2025: Bangkit)
Ketika nada terakhir berhenti, seluruh ruangan meledak dalam tepuk tangan panjang. Garda menunduk sopan, wajahnya tersipu, lalu tersenyum kecil. Saya melihat beberapa penonton berdiri memberi penghormatan. Di momen itu, saya teringat pada konsep ichigo ichie dalam budaya Jepang. Artinya setiap pertemuan hanyalah sekali dalam seumur hidup. Dan mungkin, penampilan Garda malam itu adalah “sekali dalam hidup” bagi banyak orang yang menyaksikannya, termasuk saya.
Konser ditutup dengan encore “Sukiyaki”, lagu klasik Jepang yang terkenal dengan lirik penuh kerinduan. Aransemen akhir ini terdengar seperti ucapan selamat malam dari Yogyakarta untuk Kyoto dan sebaliknya.
Saya beruntung sekali, setelah konser bisa mengobrol sebentar bersama salah dua komposer yang karyanya dimainkan malam itu, di antaranya Vishnu Satyagraha dan Eki Satria. Awalnya saya mengobrol dengan Pak Eki. Beliau menjelaskan bagaimana konser Serenade Bunga Bangsa ini digelar setiap tahunnya sebagai upaya pemerintah DIY dalam menginternalisasikan sejarah. Maka dari itu, tahun ini hubungan sister province antara Yogyakarta dan Kyoto lah yang dijadikan tema utama konser SBB, karena bersamaan dengan ulang tahun empat dekade persahabatan antara keduanya.

Potret konduktor SBB XI 2025, Nabila Farazhafira (dok. PDD SBB XI 2025: Bangkit)
Selain itu saya juga sempat mengobrol sebentar bersama konduktor SBB XI, yaitu Nabila Farazhafira. Ia menyebut bahwa ini adalah kali pertama baginya menjadi pengaba di konser SBB, karena di konser SBB tahun-tahun sebelumnya ia berada di string section sebagai pemain viola. Ia menyampaikan juga bahwasannya pada pengalaman pertamanya dipercaya sebagai konduktor di konser SBB ini. Nabila juga dibimbing langsung oleh Eki Satria selaku konduktor di konser SBB tahun-tahun sebelumnya.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Vishnu Satyagraha dalam dialog saya bersama beliau, bahwa konser SBB tahun ini memberikan panggung kepada musisi-musisi muda, termasuk konduktornya, soloisnya, hingga hasil seleksi tim orkestranya yang berusia mulai dari 13 tahun. “Pergantian konduktor ini mungkin hanya satu perubahan, tapi sangat signifikan. Kami ingin mengenalkan musisi-musisi muda dan komposer-komposer muda yang ada di Jogja,” ujarnya.
Ketika saya berdiri dari kursi auditorium, saya sempat menyaksikan riuhnya apresiasi di atas pentas, sedangkan di tas saya masih ada buah nanas yang belum sempat saya berikan kepada teman-teman yang tampil saat itu. Mungkin, seperti nanas yang dulu hanya dinikmati kalangan bangsawan, musik orkestra pun dulu dianggap milik kalangan tertentu. Tapi malam itu menjadi salah satu bukti bahwa musik, pada akhirnya, adalah milik semua orang. Ia menembus batas usia, budaya, bahkan bahasa seperti halnya persahabatan antara Yogyakarta dan Kyoto yang tidak pernah lekang oleh waktu.
Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: Tim PDD Serenade Bunga Bangsa XI
