Penulis : Arinii ‘Ilmal Haqqi
Sabtu, 25 Oktober 2025, Auditorium SMKN 2 Kasihan Bantul malam terlihat ramai. Konser dengan tajuk “Jacquarie : Harmony Of The Unheard” gagasan Sawo Kecik String Orchestra atau kerap disapa SKSO digelar tepat di malam Minggu terakhir bulan Oktober. Pertunjukan ini mengarak kisah pergolakan kaum tertindas.

(Gambar 1, Panggung pertunjukan SKSO #8)
Sawo Kecik String Orkestra berawal dari gagasan siswa yang membentuk kelompok kwintet gesek lalu berkembang menjadi ansambel gesek beranggotakan lebih banyak siswa-siswi instrumen gesek. Sawo Kecik String Orkestra terinspirasi dari banyaknya pohon sawo kecik di lingkungan sekolah. Dalam filosofi jawa, nama “sawo kecik” memiliki makna “sarwo kecik” yakni berarti menghasilkan kebaikan. Sawo Kecik String Orkestra telah mengadakan total 7 pertunjukan konser orkestra. “Jacquarie : Harmony Of The Unheard” merupakan konser ke-8 yang disajikan.
Sesuai dengan tajuknya, .“Jacquarie : Harmony Of The Unheard” mengangkat latar belakang revolusi Perancis di tahun 1789-1799. Periode pergolakan politik, runtuhnya kekuasaan monarki absolut dan feodalisme. Konser SKSO #8 mencoba mengemas kisah penderitaan rakyat jelata dan kaum borjuis pada periode tersebut. Serta dikaitkannya pula latar “Jacquarie”, yaitu pemberontakan petani yang terjadi di daerah utara Perancis. Istilah “Jacquarie” digunakan sebagai lontaran cemooh bangsawan kepada petani yang mereka anggap sebagai kaum rendahan. Tema ini dilatarbelakangi oleh fenomena kontroversial dan menarik dalam pelajaran sejarah musik yang mereka pelajari.
Kala itu, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 19.00, kursi penonton cukup ramai. Saya duduk di kursi penonton, dengan dijamu oleh kuintet kontrabass sebagai pra acara. Saya kira pada saat itu sudah terlambat datang, namun ternyata acara masih belum dimulai. Sebelum trio kontrabas terdapat string kuartet – piutet yang juga menjamu para penonton. Sembari menunggu acara benar-benar dimulai, saya membuka booklet yang dikemas unik berbentuk tiket kecil dengan sebuah barcode dibaliknya, lalu terdapat sebuah pin berlukiskan instrumen cello yang dibungkus bersamaan. Merchandise dibagikan ketika registrasi tiket, kami penonton juga disambut dengan tata lukis dan instrumen gesek di depan pintu ruang pertunjukan. Setelah membaca booklet yang terlampir pada merchandise, saya mulai menerka-nerka, memandang sekeliling. Tata kursi format full orchestra sudah siap di panggung, terlihat pula meja di pojok kiri panggung dengan gelas-gelas yang tertata cantik bak dalam pesta. “Akan seperti apa ketika kedua latar belakang tersebut dikomunikasikan kepada penonton?” batin saya.
Seperti pada runtutan acara biasanya, acara pertunjukan dibuka dengan pranata acara yang menyambut hangat penonton lalu disusul ketua pelaksana serta kepala sekolah yang berbicara di atas panggung. Ketika runtutan sambutan selesai, lampu ruangan meredup, tanda pertunjukan dimulai. “Para bangsawan menari, sementara rakyatnya merunduk. Malam itu, di istana megah, tempat tawa dan musik berpadu. Dunia Nampak seolah milik mereka yang bermahkota” Peramu kisah pada pertunjukan ini menuntun penonton masuk ke dalam suasana. Harmoni gesek menggema dalam ruang, dimainkannya repetoar Pyotr Ilyich Tchaikovsky- Serenade for String Orchestra, Op. 48: II. Valse. Tempo di Valse. Kami penonton seperti diajak masuk ke dalam istana, menyaksikan bagaimana pesta berlangsung. Pada pertunjukan ini juga terdapat teater musikal. Tengah bagian repetoar, terlihat pasangan dengan busana mewah, lelaki dengan jas rapih dan perempuan yang bersolek anggun mengenakan gaun. Mereka menikmati jamuan, sementara orkestra tengah sibuk menggaungkan harmoninya. Bagian akhir violin dan cello bersahutan lalu ditutup dengan bagian melodi dari violin, denting gelas yang saling terbentur bersamaan menutup bagian allegro moderato dari repertoar Serenade gubahan Tchaiskovsky ini. Setelah itu salah satu lelaki berstelan jas rapih menghampiri konduktor seraya menyapa, dan ingin mendengar repertoar yang tak kalah indah untuk menikmati pesta. Konduktor mengangkat batonnya kembali, orkestra pun bersiap.

( Gambar 2. Orkestra dipimpin di bawah baton Febrilian Addinata)
Di bawah baton Febrilian Addinata , repertoire Antonin Dvorak – Serenade for Strings, Op. 22: II Tempo di Valse semerbak indah memanjakan telinga penonton dengan melodi khas romantiknya. Ketika repertoar Serenade Dvorak dimainkan terlihat empat pemeran bangsawan berakting menikmati pesta dan mulai berdansa seirama dengan tempo. Ketika alunan repertoar selesai, lampu meredup menyisakan orkestra yang tengah bersiap untuk membawakan karya selanjutnya. Kemudian Gesekan string dan pukulan timpani berpadu membuka repetoar gubahan Wolfgang Amadeus Mozart dengan tajuk Serenade No. 6 “serenata notturna” , K. 239: I. Marcia. Bagian solo violin dimainkan dengan lihai oleh jemari concert master, Florenza Ferre.
Berbeda dengan repertoar sebelumnya, petikan string atau teknik pizzicato terdengar membawakan suasana sumringah. Yakni dalam repetoar gubahan Johann Strauss II & Josef Strauss – Pizzicato-Polka. Tak hanya pizzicato string namun sahutan triangle membawa penonton mengikuti warna keceriaan. Setelah petikan string dan triangle yang bersahutan. Repertoar Jean-Philippe Rameau komposer Prancis periode barok dengan karya Danse du Sauvages mengiringi suasana pesta bangsawan. Setelah itu rakyat biasa tiba-tiba mendatangi mereka. Ketika repertoar selesai, cahaya kembali redup.“Hingga pintu besar itu terbuka, bukan oleh tangan pelayan melainkan oleh suara rakyat yang selama ini hanya bergema di kejauhan. Mereka berdiri diambang ruang pesta. Bukan sebagai tamu, tapi sebagai penggugat.” Peramu kisah kembali membawa kami larut dalam magisnya pertunjukan.

(Gambar 3. Pemeran bangsawan menyapa penonton dengan iringan karya Serenade gubahan Dvorak)
Gema suasana tegang dibawakan oleh string dan snare drum dalam repetoar Jean-Philippe Rameau – Danse du Sauvages. Dalam panggung pertunjukan dengan tata suasana istana tersebut, pemeran rakyat biasa mencoba masuk ke dalam lokasi eksklusif untuk para bangsawan. Tentu saja ini akan menciptakan perdebatan besar di antara para bangsawan dan rakyat biasa.
Selanjutnya gubahan Norman Leyden – Serenade for String Orchestra: IV. Cakewalk bagian bergema dalam ruang. Bagian ditutup oleh selingan frase melodi pizzicato dari cello bass dan alunan forte string. Orkestra lanjut memainkan karya Gyula Beliczay – Serenade for Strings Op. 36: I. Moderato ma non troppo.
Cahaya ruangan redup, samar-samar biru keunguan menyorot. Repertoar Wolfgang Amadeus Mozart – Symphony No. 25, K. 183: I. Allegro con brio terdengar miris, menyayat hati nan menegangkan dibawah baton konduktor Elgar Putrandhra sebagai bintang tamu pertunjukan ini. Elgar merupakan alumni siswa SMK 2 Kasihan. Selain menjadi player violin ia menjalani studi kondukting dengan mentor profesional seperti Budi Ngurah, Margherita Colombo, Aurelio Canonici, Sarah Curro dan dalam Melbourne Symphony Orchestra (MSO).

(Gambar 4. Orkestra dipimpin oleh Elgar Putrandhra selaku bintang tamu konser SKSO #8)
Melodi utama kembali bergema keras membangun suasana terlihat tidak kondusif. Di tengah menuju bagian akhir, terdengar teriakan, Dalam pesta tersisa seorang bangsawan yang terjatuh dan rakyat jelata. Hendak ditolongnya Ia yang jatuh tersungkur karena perkelahian tadi, namun dihempisnya juluran tangan dengan rasa benci tidak sudi. Suara tremolo violin lirih membersamai kemarahan rakyat jelata yang kian terbakar.
Kami sudah terlarut jauh dalam pertunjukan. Kemudian repertoar Masquerade Suite: I. Waltz gubahan Aram Khachaturian seorang komposer yang berpengaruh dalam ranah berkembangnya armenian folk music. Format orchestra yakni string dilengkapi tiup dan perkusi mengiringi tarian rakyat biasa di tengah panggung. Mereka dikagetkan oleh kedatangan bangsawan yang tidak terima dan hendak mengusir. Perdebatan kembali terjadi, frase akhir pada bagian lagu bersamaan dengan teriakan, bangsawan itu menusuk salah satu rakyat. Mereka terkejut, ketakutan, seakan keluar untuk mencari pertolongan. Namun apa daya, kawannya telah mati dibunuh bangsawan. Bangsawan tersenyum puas dan angkuh lalu meninggalkan ruang. Ruangan meredup, mayat rakyat itu dibawa, entah kemana.
Dominasi karya Serenade pada pertunjukan ini membawakan pesan, bahwa semua orang layak untuk dihormati. Serenade ialah sebuah karya yang biasanya ditujukan kepada kerabat, kekasih, ataupun orang yang dihormati. Konser ini menggagas akan hadirnya penghormatan dalam kesetaraan.

(Gambar 5. Pemeran rakyat biasa terlihat berdansa selaras dengan repertoar Waltz gubahan Aram Kachatuarian)
Konser Pertunjukan SKSO #8 ditutup dengan karya dari Georges Bizet – Carmen Suite No. 1: VI. ‘Les Toreadors’ sebagai encore. Para pemain dan panitia memasuki panggung mendekati kalimat akhir dari lagu. Perencanaan pertunjukan dimulai di bulan Juli, kepanitiaan dibentuk dari angkatan string 2023 yakni kelas 11. Kemudian mulai berjalan aktif di bulan September. “Yang jadi kepanitiaan rata-rata kelas 12 dan koor ada dari kelas 11 dan 10. Proses dari pertunjukan didampingi oleh guru-guru pendamping string serta mengobrol dengan para alumni” Jelas Eka Fidelia sebagai ketua pelaksana.
Seperti yang telah disampaikan oleh Bapak Turino S.Pd, M.Sn selaku kepala sekolah SMKN 2 Kasihan Bantul. Pada kalimat sambutannya menyampaikan “Mereka betul-betul bersiap untuk menyajikan sebuah pertunjukan yang saya yakini akan menjadi pertunjukan yang berkesan bagi penonton sekalian”. Ya, bagi saya konser SKSO #8 Jacquarie : Harmony Of The Unheard meninggalkan kesan manis juga dramatis. Tema konser menggagas sejarah sosial politik yang ternyata hingga saat ini pun harmoni yang tidak terdengar itu masih terjadi. Seseorang tanpa gelar dan kuasa tinggi yang menyuarakan hak suaranya terdengar lantang namun diabaikan.
Pada kuratorial repertoar, konser ini kurang merujuk kepada tema yang ingin dikomunikasikan. Sajian karya didominasi oleh repertoar populer seperti gubahan Mozart, Tchaiskovsky, dan Dvorak. Dari sekian banyak sajian tersebut, repertoar Masquerade Suite: I. Waltz gubahan Aram Khachaturian yang paling menggambarkan akan suasana kisah pertunjukan. Karena Aram Kachatuarian ialah komposer yang berpengaruh dalam pengembangan musik rakyat yakni armenian folk music. Latar Revolusi Prancis yang digambarkan melalui karya komposer Prancis Barok Jean-Philippe Rameau mungkin dapat dielaborasi kembali oleh karya yang meliputi era Revolusi tersebut. Agar terkomunikasikan dengan baik kepada penikmat pertunjukan, deskripsi pada booklet mengenai latar sajian karya yang akan dibawakan dapat dilengkapi oleh alasan relevan pembawaan karya-karya tersebut dengan latar belakang kisah yang diangkat.
Ini merupakan kali pertama saya mengunjungi SMKN 2 Kasihan Bantul dan menyaksikan konser yang mereka bawakan. Di bawah bimbingan dari Ibu Elok Shinta Meilina, konser SKSO #8 memberikan kesan akan rasa kagum saya kepada mereka siswa-siswi yang sangat bertalenta dan penuh semangat. Saya mengamati suasana ketika acara berakhir, sumringah para pemain dan panitia pertunjukan yang masih duduk di bangku sekolah menengah, merayakan kesuksesan pertunjukan yang telah lama mereka siapkan. Kegiatan berfoto ria dengan teman-teman dan keluarganya, ada yang memberikan hadiah, bahkan canda tawa sembari memainkan instrumen geseknya. Setiap netra mereka terlukis semangat dan keceriaan, harap putus asa tak menerpa mereka untuk selalu berkarya. Pertunjukan kali ini juga menyirat pesan bahwa terkadang dalam kehidupan manusia sulit menemukan kesetaraan. Bagian akhir pertunjukan menyampaikan pada penonton bahwa ego dapat menang mengalahkan diri manusia.
Editor: Lintang Pramudia Swara
Dokumentasi : Arinii Ilmal Haqqi & Tim Publikasi SKSO
