Sejak awal, Bekereng bukan hanya sekumpulan pelaku seni, mereka adalah sahabat yang tumbuh bersama dalam ruang – ruang sempit latihan. Hadir dan bertahan bukan karena gemerlap panggung, tetapi karena kasih musik dan kobaran solidaritas. Bekereng dalam seiring waktu, masih terdengar di antara tawa lama, tepuk tangan usai latihan, dan sorak setelah lagu terakhir selesai dimainkan. Selama sepuluh tahun, Bekereng telah menjadi rumah bagi banyak cerita, sebuah ruang hangat tempat bermusik, berlabuh, dan mimpi saling bersandar. Satu dekade bukan akhir, melainkan bagian dari langkah yang terus bertumbuh.
Month: April 2025
Melihat Kartini dalam Titiek Puspa: dari Perempuan untuk Perempuan
Titiek Puspa, penyanyi legendaris yang telah menghiasi belantika musik tanah air dari masa awal kemerdekaan. Sepak terjangnya dalam menjajaki ekosistem musik Indonesia layak menjadi inspirasi bagi setiap insan musik yang ingin mengembangkan sayapnya dalam industri musik negeri ini yang terus membarui dirinya. Berlimpahnya warisan yang diberikan Titiek Puspa pada musik Indonesia tidak lepas dari dinamika yang mengiringinya. Ratusan karya Titiek Puspa telah mengudara dalam khasanah musik Indonesia. Jika lagu “Marilah Kemari” dan “Apanya Dong” didengarkan, banyak orang akan turut bergembira menghentakkan kaki mengikuti irama. Era ketika musik Indonesia belum semasif masa kini, Titiek Puspa telah menjadi “artis istana” ketika dirinya tergabung sebagai penyanyi pada album “Mari Bersuka Ria Irama Lenso”. Tak hanya sebagai hiburan, Titiek Puspa memanfaatkan karyanya untuk bersuara menceritakan kemalangan kaum marjinal melalui “Kupu-kupu Malam” lagu yang begitu berkesan bagi saya.
