Serenata dan Perjalanan Menyulut Do’a dalam Karya

Penulis: Alif Amin Arrofah

Pernahkah kamu membuat miniatur istana menggunakan lego? Bayangkan, kamu tahu persis bentuk dan warna balok lego itu satu sama lain. Pada masanya, kamu merasa dirimu adalah seorang arsitek handal yang telah berulang kali membangun berbagai miniatur dari balok-balok lego tersebut. Lalu suatu ketika, kamu tidak lagi memainkannya selama hampir dua tahun, karena meja tempatmu membuat miniatur kini dipenuhi tumpukan buku dan kertas tugas yang membuat jenuh pikiranmu. Akibatnya, beberapa dari balok andalanmu hilang, sehingga kamu harus menggantinya dengan yang baru. Maka tantangan baru yang akan kamu hadapi ketika kamu ingin membangun miniatur lego lagi adalah, kamu harus mengenali kembali karakteristik setiap balok lego baru yang kamu punya. Setelahnya kamu mendesain dan membayangkan, balok apa yang ditaruh di mana, hingga miniatur itu jadi. Perumpamaan ini menggambarkan betapa Gabriel, Ketua KKM Serenata, sedang berjuang merakit kembali KKM ini dengan ‘balok-balok’ baru yang harus ia kenali satu per satu.

Serenata, yang merupakan KKM bagi mahasiswa vokal klasik di Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta kini akan hadir kembali. Setelah menyelesaikan konser yang terakhir kali dilaksanakan pada tahun 2023, Serenata kembali hadir, menghidupkan lagi bait-bait sajak yang mendekap dalam kerinduan akan gemerlap pentas beserta prosesnya. Sebagai bagian dari KKM ini, bagiku, Serenata adalah proses panjang yang dijalin dengan perhatian, harapan, kerja keras, dan cinta yang disisipkan diam-diam oleh mereka yang sungguh-sungguh merawatnya.

Gerimis turun perlahan ketika saya dan Gabriel berjalan menyusuri lorong kawasan gedung jurusan musik. Sore masih malu-malu, menahan cahaya yang mulai tenggelam di balik atap-atap kelas yang lembab usai workshop seksi suara tenor dalam rangka persiapan konser Serenata 30 November 2025 mendatang. Sembari menunggu hujan reda, kami duduk sambil mengobrol di kursi koridor menuju tangga lantai dua jurusan musik, sembari menyaksikan rintik yang membasahi bumi.

Di sela percakapan kami yang sesekali terpotong suara rintik hujan, saya mendengar bagaimana Gabriel menyebut konser Serenata tahun ini sebagai konser “lahirnya kembali.” Namun, dari cara ia mengucapkannya, saya merasa kata lahir bukan hanya merujuk pada sebuah awal yang baru, tetapi pada sebuah nafas panjang yang ingin dikembalikan ke tubuh Serenata, nafas yang sudah lama ditahan oleh kesibukan, waktu, dan jeda yang tidak tertakar sebelumnya.

Menurut Gabriel, konser ini bukan hanya perayaan kebangkitan, melainkan ruang yang dirancang bagi para anggota, khususnya angkatan baru untuk tumbuh. Ia bercerita bagaimana ia mengakomodasi latihan dari awal, menangani langsung laporan perkembangan setiap anggota, menentukan partitur-partitur yang kelak mereka nyanyikan, hingga memastikan setiap langkah kecil mereka benar-benar mendapat perhatian. Ada cara lembut namun tegas dari seorang pemimpin yang tidak hanya ingin membuat konser berlangsung dengan baik, tetapi ingin memastikan bahwa setiap anggota merasa hadir, diperhatikan, dan dibentuk melalui proses yang jujur.

Dokumentasi workshop vokal soprano section (Dok. PDD KKM Serenata)

Dalam gerimis yang belum juga kian mereda, Gabriel menyebut Serenata sebagai “laboratorium.” Sebuah kata yang tidak saya duga akan muncul dari percakapan santai kala itu. Laboratorium, baginya, adalah ruang penciptaan standar hubungan antara senior dan adik kelas—hubungan yang tidak kaku, tidak timpang, dan tidak menghalangi potensi. Di tempat ini, ia ingin membangun lingkungan belajar yang adaptif dan aktif, tempat di mana setiap orang bisa bertanya, mencoba, bereksperimen, dan bahkan membuat kesalahan tanpa harus merasa takut. Saya merasakan betapa seriusnya ia memikirkan ekosistem ini—sebuah mimpi kecil untuk masa depan Serenata, namun dengan dampak yang panjang. Yang tak kalah menarik, Gabriel mengatakan bahwa repertoar yang ia pilih untuk konser kali ini tidak hanya berbicara tentang musikalitas. Di balik setiap lembar partitur, ia menyematkan doa-doanya untuk Serenata. Doa agar kelompok ini tidak hanya kuat secara musikal, tetapi juga tumbuh sebagai keluarga yang saling menopang. Doa agar setiap suara, baik soprano yang melengking tinggi maupun bas yang bergema lembut, dapat menemukan tempatnya masing-masing dalam harmoni yang lebih besar. Pernyataan ini menjadi refleksi bagi diri saya sendiri, bahwa bunyi dari sebuah repertoar dapat hidup, sebab ada niat-niat kecil yang kemudian tumbuh menjadi gumpalan nyawa yang besar di atas pentas kelak. 

Namun di antara semua doa itu, ada satu repertoar yang diceritakan Gabriel dengan cara yang paling personal—sebuah lagu yang pada akhirnya ia pilih sebagai bentuk terima kasih Serenata kepada musik itu sendiri. Lagu itu adalah An Die Musik. Ia bercerita bagaimana karya Schubert ini menjadi semacam cermin bagi perjalanan kami: perjalanan orang-orang yang memilih jalur musik bukan karena mudah, tetapi karena musik selalu menjadi tempat pulang. Di balik melodi lembutnya, kami seolah diingatkan pada malam-malam panjang latihan, pada langkah pertama yang gemetar saat memasuki ruang vokal, pada rasa takut yang perlahan hilang seiring suara-suara kami mulai matang. Musik, dalam lagu itu, digambarkan seperti sahabat lama yang setia—yang menghibur, menguatkan, dan membuka jendela kecil menuju harapan setiap kali dunia terasa menekan. Dan mungkin, dalam konser Serenata nanti, lagu inilah yang akan menjadi titik temu antara perjalanan kami masing-masing dan rumah besar bernama Serenata.

Di tengah perjalanan panjang bersama Serenata, saya sering menemukan diri saya berhenti sejenak hanya untuk bersyukur. Rasanya seperti Tuhan sedang membukakan pintu-pintu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Pintu yang mempertemukan saya dengan Gabriel yang memimpin dengan hati yang begitu besar, tak lupa juga ada kakak-kakak di Serenata yang penuh perhatian dan yang sabar membimbing kami. Mereka semua menjadi bagian penting dari proses pertumbuhan kami. 

Kegiatan Progress Report bersama Kakak-Kakak Serenata (dok. PDD KKM Serenata)

Setiap latihan, setiap koreksi kecil, setiap candaan ringan di antara sesi vokal, semuanya membuat saya merasa bahwa Tuhan telah menempatkan saya di lingkungan yang tepat. Sebuah lingkungan yang bukan hanya mengajarkan teknik bernyanyi, tetapi juga kehangatan persaudaraan. Saya menikmati setiap prosesnya—bahkan ketika lelah datang, bahkan ketika suara belum stabil, bahkan ketika langkah terasa ragu. Karena di dalam Serenata, saya tidak pernah berjalan sendirian. Ada tangan-tangan yang membantu, suara-suara yang mendukung, dan pemimpin yang percaya bahwa kami bisa tumbuh lebih jauh daripada yang kami kira.

German pronunciation class bersama Kak Josephine dan Kak Carlo (dok. PDD KKM Serenata)

Dan sekarang, ketika hari konser semakin dekat, saya merasa ada baiknya rasa syukur ini tidak hanya disimpan dalam hati. Saya ingin membagikannya kepada siapa pun yang membaca tulisan ini. Saya ingin mengajak kita semua untuk datang, dan menyaksikan bagaimana musik bekerja menyatukan kami menyaksikan sebuah ‘rumah’ menemukan bentuknya kembali. Duduklah bersama kami pada tanggal 30 November nanti di Auditorium Musik ISI Yogyakarta, dan biarkan kamu merasakan sendiri bahwa Serenata akan lahir kembali bersama bait-bait do‘a yang intim dalam setiap repertoarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *